(Mona) Sang Penakluk 1

(Mona) Sang Penakluk 1
Ternyata begal itu?


__ADS_3

Hari berganti pagi, udara sejuk di pagi hari membuatku merasa nyaman. Setelah solat Subuh, aku mengajak Ani untuk berjalan jalan mengelilingi kampung.


" Teh Mona, mau diantar kemana?" tanya Ani yg sudah siap dngan pakaian olah raganya.


" Aku pengen keliling desa, udara pagi di desa akan membuat pikiran kita menjadi jernih karena disini udaranya masih jernih belum terkena polusi seperti di kota kota " ujarku sambil mulai berlari. Kali ini kami cuma berdua karena Nisa masih sakit akibat dikejar begal semalam.


Kami berjalan melewati pekarangan rumah rumah tetangga.


" ...Brugg...aduh." tiba tiba saja tubuh ku tertabrak seseorang hingga membua ku terjatuh.


"Marni?" Sahut laki-laki yang tadi menabrakku. Dan yang membuatku terkejut, Ia memanggilku dngan nama ibuku, yaah wajahku sekilas memang mirip dengan ibuku.


" Maaf Pak Lurah, ini bukan Uwa Marni, ini teh Mona anaknya," sahut Ani menimpali laki laki paruh baya dihadapan kami.


Laki laki ini berumur kira kira lebih tua sedikit dr ibuku namun dia masih terlihat gagah dan tampan.


" Oh, Ma sya Allah jdi Marni sudah punya anak sebesar ini?" Timpal laki laki itu dengan sumringah. Dia tersenyum ke arrahku sambil mengulurkan tangan nya. Aku hanya menjawab dngan senyum sekilas sambil menangkupkan kedua tanganku, sbgai isyarat salam dr jauh karena kami bukan mahram.


" Ya sudah nanti kapan kapan mampir kerumah bapak ya, skrang bapak buru buru, bapak mau melayat pak Kasmin" Jawab laki laki yang ternyata pak Lurah Desa Cikoneng itu.


" Maksud bapak, pak Kasmin yang kmaren hilang itu ya?" Tanya Ani keheranan.


" iya betul An,Pak Kasmin yg kmaren hilang sudah ditemukan, tapi dalam keadaan tak bernyawa" Jawab pak Lurah menampakkan rasa duka yang teramat dalam.


" Innalillahi Wa inna ilaihi Rojiun" jawab aku dan Ani bersamaan.


Ani terlihat semakin ketakutan, mungkin akibat kejadian kejadian menyeramkan yg terjadi di Desa ini.


" An,kita ke rumah pak Kasmin juga yu.. ikut melayat" Aku menarik pelan tangan Ani.


" Eh, gak ah Teh, saya pulang aja takut dimarahi Bapak," tolak Ani yang membuatku sedikit gusar.


" Kalau kamu mau, ikut aja bareng Bapak, Neng Mona," Sahut pak Lurah sambil menebarkan senyum yang menurutku terasa aneh.


Tapi karena aku tak tau rumah pak Kasmin, aku terpaksa ikut dengan nya.


(#Cerbung_Misteri

__ADS_1


Judul :Sang Penakluk


Part 4b: Ternyata Begal itu..


Sesampai nya di rumah pak Kasmin, kami di sambut oleh tangisan emak emak yang menangisi kepergian pak Kasmin.


"Assalamualaikum. Erni, kamu yang sabar Ya menerima cobaan ini" ujar Pak lurah sambil menyalami seorang perempuan yang ku taksir adalah istri pak Kasmin. Wanita itu tergugu


" Pak lurah, Sekarang Kang Kasmin yang meninggal ..kapan pak Lurah akan bertindak pak ? Hu hu hu..., apa nunggu smua pendukung pak Lurah habis smua pak? ..hu hu hu...?" Lirih bu Erni dihadapan pak Lurah yang membuat air muka pak Lurah berubah seketika.


" Halah ..mana mungkin dia akan bertindak, dia ini kan pengecut. Dia ini cuma menginginkan jabatan aja, setelah jadi dia akan lupa daratan..ni buktinya dia diam aja walaupun warga nya bnyak yg mninggal. Untung aja kami dulu gak milih dia, iya kan kang Simon?" timpal salah seorang wanita sambil menyenggol seorg laki laki yang ku taksir adalah suami nya.


Tapi yang membuat ku terkejut, dia menyebut nama Simon dan..


"Astagfirullah, laki laki itu ..dia bnar2 Simon salah satu begal itu" Gumamku dalam hati namun tak kutampakkan keterkejutanku.


Karena tak mau ketauan Simon, aku berusaha ingin kluar tapi keburu disapa oleh yang punya rumah.


"Eh, ini siapa?ko mirip dengan Marni?" Tanya Bu Erni padaku sehingga membuat semua orang menoleh kearahku termasuk pak Simon. Simon terlihat terkejut dan air muka nya berubah menjadi pias, sepertinya dia mengenaliku.


Aku tersenyum simpul dan ingin menjawab tapi sebelum aku menjawab, Paman Ahmad yg ternyata berada disitu terlebih dahulu menjawab.


Mendengar penjelasan pamanku, para warga desa itu mengangguk angguk, sementara pak Simon kulihat semakin ketakutan.


#Cerbung_misteri


Judul; Sang Penakluk


Part 5: Santet


Setelah sampai di rumah Parmin, paman Ahmad segera menuju ruangan dimana Parmin berada.


Kulihat Parmin berbaring diranjang nya sambil meraung raung kesakitan, di antara dua pahanya terlihat menggelembung sebesar buah kelapa, bahkan semakin bertambah besar seiring jeritan kesakitan Parmin.


"Ya Allah, ampuni hamba.. hamba tak bermaksud menyakiti orang, hamba hanya membela diri" Lirihku dalam hati.


"Parmin begitu karena Santet" Ujar paman Ahmad sambil menepuk bahuku, seakan beliau faham apa yg kurasakan.

__ADS_1


" Bu Jasnah, ambilkan air bersih ya. Dan kamu Mon, ayo bantu paman mengobati Parmin!" Setelah selesai berucap, Paman segera mendekati Parmin dan mulai membacakan ayat ayat Alquran dan doa doa penangkal Sihir.


Paman Ahmad selain terkenal sebagai guru ngaji, beliau juga sering dipanggil untuk mengobati orang yang kesurupan dan kena sihir, selain itu paman Ahmad juga memiliki ilmu bela diri yang cukup mumpuni. Alhamdulillah dari beliau lah aku belajar bela diri dan ilmu tenaga dalam.


" Kang Parmin, sebaiknya akang jangan hanya menjerit jerit begitu, akang harus banyak istighfar dan mohon pertolongan pd Allah biar akang diberi kesembuhan. Bu Jasnah, bantu suami ibu agar mau beristigfar" perintah paman pada kluarga Parmin.


Bu Jasnah segera membantu Parmin agar istighfar, sementara aku segera melaksanakan solat sunnah dan membantu paman dg doa yg sudah diajarkan padaku.


#Cerbung_misteri


Judul: Sang Penakluk


Part 5b: Santet


Ku lihat keringat paman mengucur deras dipelipisnya, mulut nya tak henti henti nya melantunkan doa dan ayat Alquran, hingga akhirnya tubuh Parmin terguncang hebat dan kluar lah asap hitam dari tubuhnya.


" aaaaa" Parmin menjerit histeris seiring keluarnya asap hitam itu, asap hitam itu bergulung dan mau menembus atap.


"Mon, cepat kejar asap hitam itu dn lihat ke arah mana dia pergi" mendengar titah paman ku aku segera melompat kluar dan mengikuti kemana asap itu pergi.


Kulihat asap itu masuk ke atap sebuah rumah yang paling mewah diantara rumah warga desa lain nya. Setelah memastikan kemana asap itu masuk, aku segera kembali ke tempat Parmin.


" Alhamdulillah santet nya sudah berbalik pada yang mengirim" ujar paman sambil mengelap keringat nya.


"Alhamdulillah, terimakasih pak Ahmad. Pak Ahmad bnar2 hebat" jawab Bu Jasnah dan beberapa orang lainnya.


" Jangan begitu bu, bukan saya yg hebat ini semua anugrah Allah,saya hanya bantu doa saja. Oh ya


gimana skrg keadaan kang Parmin? Apa masih ada yang sakit kang?" Ujar paman sambil tersenyum kearah Parmin yang sudah mulai sadar sepenuhnya.


" Alhamdulillah udah gak sesakit tadi, terimakasih pak Ahmad dan ah a a kkkaam kamu ..?" Parmin tak kuasa melanjutkan kata kata nya ketika melihatku yang kini sudah berada di samping pamanku.


Wajah Parmin kembali memucat dan menampakkAn ketakutan yg luar biasa.


" Ah.. ini Mona keponakan saya yang baru datang dr kota tadi malam. Katanya dia juga dicegat begal semalam, tapi Alhamdulillah berhasil kabur" mendengar penjelasan paman, wajah Parmin semakin pias dan ketakutan. Aku yg faham hanya tersenyum simpul.


" Pak Parmin tidak usah takut, saya tidak akan membocorkan rahasia bapak, asal bapak beritahu kami ttg dalang dibalik teror yg melanda desa ini" bisikku didepan Parmin dan istrinya.

__ADS_1


" maksud Neng Mona bagaimana neng?, emang nya suami saya knapa?, pak..ada apa sebenarnya?" Tanya istri Parmin keheranan.


Bersambung


__ADS_2