
" Kamu pasti mengenali wajah perempuan difoto ini kan?" Tanya nya sambil mengelus foto mamah dibagian wajahnya.
" Tentu saja aku knal, tapi knapa pak Lurah berbohong pada nenek itu? Kenapa pak Lurah bilang pada nenek itu bhwa photo itu adalah photo mantan kekasih bapak, sedang kan mamah saya bilang bhwa beliau tak pernah pacaran, dan saya yakin mamah saya gak akan boong pak" ujar ku panjang lebar. Tanpa kuduga bulir bening menetes deras dari mataku.
Dia tersenyum melihat ku berurai air mata.
" Ibu mu memang gak bohong, tapi aku juga gak berbohong" jawab nya misterius.
"Ku bilang dia kekasihku, krn aku sangat mencintai nya bhkan sampai detik ini.
Tapi ibu mu gak bohong karena kami gak pernah pacaran krn ibu mu tak pernah mencintaiku dan memang dia tak pernah mau pacaran " jelas nya panjang lebar. Aku tersenyum lega krn aku tau mamahku memang tak berbohong.
Tapi senyumku kembali pudar saat ingat tujuan ku kerumah ini.
" Lalu apa alasan pak Lurah melakukan teror si kampung ini?" Tanya ku spontan setelah teringat bahwa dia adalah dalang dibalik smua ini. Tapi aneh nya dia malah tertawa.
"Haha neng ..neng, emang nya kapan bapak bilang bahwa bapak lah dalang dari teror di Desa ini?" Ujarnya sambil tertawa lepas. Aku memberanikan diri untuk mendekat kearah nya.
" Tpi semua bukti mengarah pada anda, jangan anda fikir saya tidak tau" bisikku didepan nya. Dia tersenyum menyeringai.
"Bukti yang mana neng? Lagi pula, kalau pun bapak dipenjara, Teror itu akan terus berlanjut bahkan akan semakin mengerikan." Ucap nya datar.
" Astagfirullah, apa maksud pak Lurah?" Aku kembali bertanya.
" Pokoknya begitu.. kecuali kalau kamu bersedia membantu bapak agar bersatu dengan ibu mu, bapak pasti menjelaskan ttg teror ini" ujarnya lagi. Aku terperangah mendengar kata kata nya. .
"Anda bnar2 Kurang ajar, kenapa anda membawa bawa ibuku..heh?" Teriakku sambil meengarahkan tinjuku ke wajahnya. Dia hanya menghindar tapi tiba tiba saja ada orang yang menyerangku dari belakang.
__ADS_1
" Gadis kurang ajar, berani nya kamu buat keributan dirumah orang..
Kamu dan nenek moyang mu memang pantas mati" ..bugh..
Aku yang terkejut mendapat serangan dari belakang segera menghindar dan berbalik untuk melancarkan serangan .
" Kurang ajar brani kau serang aku dari belakang ..hah" aku berteriak lagi sambil mengarahkan tinjuku ke wajah sipenyerang..
"..heep....Hah..astagfirullah nek?" Tinjuku menggantung diudara.
Mata ku membulat sempurna ketika melihat ternyata yang menyerangku adalah nenek nenek tadi.
" Nek, knapa nenek menyerangku?" Tanyaku keheranan. Nenek itu malah makin murka .
" Dasar anak kurang ajar, kamu yang pertama menyerang cucuku tpi masih bertanya knapa aku myerangmu. Rasakan ini..!" Nenek itu berteriak sambil mengarahkan tongkat nya ingin memukulku.
" Nek, sudah nek.
Tolong jangan serang dia. Nenek kan sudah berjanji pada Arman bahwa nenek gak akan menyakiti Marni dan anak nya..nek" Ujarnya memelas.
Namun si nenek tadi masih saja berapi api, dia ingin menyerangku lagi namun berhasil ditahan pak Lurah.
" Neng Mona, sebaiknya neng pergi dari sini dulu..
Ingat kata kata bapak tadi, Minta ibumu kesini nanti bapak akan jelaskan semua nya. Kalau ibu mu tidak datang..maka akan ada teror lebih mengerikan lagi" Teriak pak Lurah masih sambil memeluk nenek nya yang aneh itu. Tapi aku masih tetap berdiri,
Aku masih penasaran dan sekaligus geram dengan kata kata nya tentang mamah. Knapa bisa bisa nya dia bawa bawa mamah dalam teror ini.
__ADS_1
" Aku tak akan pergi sblum and ajelaskan knapa anda bawa bawa ibu saya " jawabku lugas.
" Tidak mon, kamu harus pergi..cepat pergi! ..ini bahaya bagi kamu..cepat pergi!" Teriaknya semakin kencang karena si nenek itu masih memberontak dalam pelukan nya. Dia masih bernafsu ingin menyerangku.
Aku yang bingung akhirnya terpaksa pergi dari rumah psikopat itu.
Aku segera bergegas pulang ke rumah pamanku. Hatiku benar benar geram pada pak Lurah yang membawa bawa nama ibuku dalam masalah di kampung ini.
" Dasar pak lurah ngapain dia bawa bawa mamah sgla..dan itu lagi si nenek nenek .Knapa dia sepertinya sangat membenciku?. Kalau saja dia bukan nenek nenek, udah ku hajjar dia..akhh tapi sayang nya dia udah nenek nenek, takut dosa kalau menyerang nya.
Pada zaman dulu, Rasulullah dan para sahabat nya juga sangat menghormati orang orang tua yg sudah jompo walaupun orang tua itu bukan muslim" Aku terus menggerutu sepanjang jalan sampai sampai aku tak sadar berpapasan dengan Paman.
" Mon, kamu dari mana ? Dan knapa wajah mu sprti penuh amarah gitu, dan paman lihat kamu trus menggerutu? " Tanya pamanku yang sudah berada didepan ku.
" Eh paman, Mona dari rumah pak Lurah. Oh ya paman, ada yang ingin Mona bicarakan bisa gak kita pulang sekarang paman?" Bisikku didepan nya.
Paman hanya mengangguk kemudian segera berpamitan pada warga desa yang bersama nya.
" Apa yang terjadi Mon,?" Pamanku kembali bertanya setelah kami sampai dirumah. Aku pun menjelaskan semua yang terjadi dirumah pak Lurah. Wajah paman terlihat memerah ketika mendengar ceritaku tentang pak Lurah yang sangat membawa namà mamah.
" Knapa si Arman itu berani sekali menyebut nyebut nama teh Marni" ujarnya dngan tangan terkepal.
" Arman itu dulu sangat mencintai teh Marni" timpal bi Mirah yang tiba tiba hadir diantara kami.
" Apa? Lalu apa maksud dia melakukan teror ini dan apa hubungan nya dngan teh Marni?"
Paman terlihat semakin geram.
__ADS_1
" Sebaiknya kita bicarakan ini dngan Teh Marni, mungkin dia tau solusi nya" usul bi Mira itu kami terima dan paman pun segera menelfon mamah.