
Bu Yati menangis sambil memeluk suaminya ..tapi lama lama suara tangis nya menjadi berbeda.
" Pak, bapak knapa..?hik hik hik.. .hik..akhhhh..hmmm" suara tangis bu Yati berubah menjadi geraman yang menyeramkan.
" Astagfirullah, rupanya Jin nya berpindah ke tubuh bu Yati" Aku yang sudah menyadari keadaan bu Yati segera memegang kepala bu Yati dan membacakan doa.
Setelah bu Yati siuman, Aku segera berpamitan dan menuju ke rumah bi Narsih untuk menemui paman. Namun ditengah perjalanan aku melihat warga berkumpul dirumah Pa Saman, dan terdengar tangis histeris dari sana.
" Dita Anakku..kenpa kamu pergi secepat ini naak? Siapa keparat yang meneror Desa kita ini..hu hu hu.." Jerit bu Sinta memilukan hati ..
" Paman, apa yang terjadi ?" Tanya ku pada Paman yang ku lihat duduk di samping jasad anak kecil yang terbujur kaku dengan wajah membiru.
"Dita meninggal, tadi mereka menyusul Paman ke rumah bi Narsih, tapi paman terlambat datang kesini." Jawab paman dengan raut sedih yang mendalam.
" Innalillahi Wa inna ilaihi rojiun..ini tidak bisa dibiarkan..hmm" tukas ku sedih bercampur geram atas kelakukan orang yang meneror kampung ini.
Pikiranku pun tertuju pada pak Lurah yang memang tak kliatan batang hidung nya meski warga nya sedang mengalami musibah.
Tanpa berkata lagi aku bergegas keluar.
" Mon, kamu mau kmna? Tanya Paman.
" kerumah pak Lurah" jawab ku singkat
" Tunggu Mon, paman akan ikut kamu" Jawab paman.
Setelah berpamitan pada kluarga pak Saman, kami segera berangkat menuju rumah pak Lurah, tapi ditengah jalan kami dikejutkan oleh sebuah bola api yang terbang diatas kami.
" Astagfirullah apa itu, knapa sprti bola api?" Aku terperangah melihat bola api itu.
" Ayo kita ikuti bola api itu Mon!" Jawab paman yang ku balas dngan anggukan.
Kami pun langsung mengikuti kemana arah bola api itu terbang..
"..Duarr.." bola api itu meledak diatap sebuah rumah.
"Innalilahi, bola api itu meledak tepat dirumah paman"
Kami pun segera bergegas pulang kerumah paman.
" Astagfirullah, ayo kita cepat pulang Mon"
Paman dan aku segera berlari kencang menuju rumah paman.
Dan bnar saja Ketika kami sampai dirumah, kami lihat Nisa dan Mona sedang menangis memegangi bi Mira yang tergeletak dilantai.
" Innalillahi, Mira..kamu knapa Mir?" Paman segera bergegas mendekati bi Mira .
" Bapak, tadi tiba tiba ibu pingsan saat kami mendengar suara ledakan diatas atap " Ani menjawab sambil sesegukan.
__ADS_1
" Mon, paman akan meruqyah bibimu, dan kamu..tolong kelilingi rumah paman sambil baca doa"
Aku segera bergegas kluar mengelilingi rumah paman sambil melantunkan ayat Alquran dan doa .
Seketika ku lihat ada bayangan hitam berkelebat.
"Siapa disitu?" Teriakku pada laki laki yang memakai masker dan berbaju serba hitam itu.
Orang itu hanya menoleh sebentar kemudian dia bergegas pergi, namun ku tahan dia dngan berusaha memukul nya.
"Hep..bugg.."
Dia pun menghindar dg cepat, aku langsung meneruskan serangan ku tapi aneh nya dia hanya menghindar dan tak mau membalas serangan ku.
" heh, kenapa kamu cuma menghindar? Siapa kamu sbnar nya?" Tanya ku berulang ulang, namun dia tetap membisu.
Aku pun segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang wajah nya dan menarik masker nya..
"..bugg....brett" akhir nya aku berhasil membuka masker nya dan..mataku terbelalak ketika melihat wajah laki laki itu.
" Hah.
Anda ..jadi dugaan ku selama ini bnar. Anda lah dalang semua teror di Desa ini, pak Lurah?" Tutur ku dengan penuh amarah, namun laki laki itu malah tersenyum menyeringai..
"Hehe..kalau andai nya iya, neng mau apa? " Jawab nya sambil tersenyum menyeringai
" Anda bnar2 bajingan, tentu saja saya akan membuat anda mempertanggung jawabkan perbuatan keji anda didepan masyarakat"
Dia mendekat kearahku dan dengan bantuan sinar rembulan aku dapat melihat senyum tersungging dibibirnya yang menghiasai wajah nya yang masih terlihat tampan..eh.." Astagfirullah knapa aku jadi melantur begini?"
Lirihku dalam hati.
" Kalau neng mau tau banyak ttg bapak, besok pagi neng datang aja kerumah bapak. Tapi neng harus datang sendiri"..ucapnya sambil mengerlingkan mata nya, membuatku semakin muak padanya.
Setelah berucap begitu, dia melenggang pergi begitu saja. Dan aku, entah apa yang terjadi padaku? Aku malah tetap berdiri mematung sprti terhipnotis oleh nya.
Aku masih mematung saat paman datang menghampiriku.
" Mon, kamu knapa?" Tanya Paman membuatku tersentak.
" ah paman, tadi..tadi..ada pak Lurah, tapi dia sudah pergi" Jawabku gelagapan.
"Oh terus dimana dia sekarang ?" Tambah nya lagi sambil celingukan.
"Dia sudah pergi, oh ya bagimna keadaan bi Mira skrg?" Aku balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
" Bibimu sudah tenang , sekarang dia sudah tidur. Ayo kita masuk Mon"
Aku pun menuruti paman untuk masuk kerumah tapi fikiran ku tak lepas dr pak Lurah.
__ADS_1
Malam telah berganti pagi, Mentari diufuk timur muncul dengan sinar terang nya menghangatkan bumi dan isi nya yang hampir membeku karena dingin nya udara malam.
Pagi ini sangat cerah, namun tak mampu mencerahkan hati penduduk Desa Cikoneng yang kini sedang dirundung duka.
Setelah selesai wiridan pagi, aku segera berkemas untuk pergi ke rumah pak Lurah.
" Mon, kamu mau kmna? Kalau mau jogging, aku ikut ya." Seru Nisa tiba tiba ada didepanku.
" iya teh, Ani juga ikut ya sekalian kita melayad juga, krna aku mewakili ibu yang gak bisa pergi melayat kerumah Dita" Timpal Ani dengan penuh semangat.
" Maaf ya Nis, An, aku ada urusan penting jadi aku akan pergi sendiri. Maaf ya, bay..assalamualaikum?" Jawabku sambil melangkah pergi tanpa menunggu jawaban mereka.
" Tok tok tok..Assalamualaikum" Aku segera mengetuk pintu sesampai nya didepan rumah pak Lurah yang terlihat sepi.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat seorang wanita yang sudah tua renta. Umur nya sekitar 70an tapi dia masih terlihat tegak dan yang lebih aneh adalah sorot mata nya yang begitu tajam dan terlihat penuh dendam.
" Masuklah ! Silahkan tunggu didalam, Arman masih diluar" ujar nya tanpa menjawab salam ku. Dia langsung menyuruhku masuk seolah dia sudah tau kedatangan ku.
Dengan masih keheranan aku pun melangkah masuk kerumah pak Lurah.
" Arman, maaf nek Arman itu siapa?" Tanyaku heran karena aku masih asing dngan nama itu.
" Arman itu ya pemilik rumah ini, itu kan pak Lurah nama nya Arman. Masa kamu gakk tau" Tukas nya dngan nada ketus.
" oh" aku hanya membulatkan bibirku tanpa membalas lagi karena kesal dngan sikap nenek nenek ini.
" Duduk disitu, jangan kemana mana !... Aku mau buatkan minum" Ujar nya masih dngan nada tinggi.
Aku hanya diam dan menuruti nya untuk duduk.
" Astagfirullah, aneh ni nenek nenek. Knapa dia galak sekali? Apa salahku padanya ya, aku kan baru ketemu dia hari ini..atau orang dirumah ini psikopat smua ya..iih ngeri" gumamku dalam hati.
Aku bergidik ngerj mengingat bahwa pak Lurah adalah dalang dibalik teror selama ini.
Karena kesal menunggu, aku bangun dan berjalan mengitari ruang tamu yang cukup luas untuk ukuran rumah Di kampung.
Mataku menyipit melihat sebuah figura yang berisi sebuah Poto perempuan yang memakai seragam putih abu.
Aku mendekat untuk melihat nya dan ..
" ah ya Allah..poto ini..knapa wajah prmpuan difoto ini mirip dengan ku?..hanya saja gaya kerudung nya itu mirip seperti gaya tahun 80an.. apa ini berarti...ahh.apa mungkin ini ibuku?"Gumamku dalam hati..
" itu poto mantan kekasih Arman" ucap nenek tadi mengagetkan ku
" Apa nek? Tadi nenek ngomong apa? Tanya ku spontan karena aku tak percaya bahwa mamah ku pernah pacaran karena setauku mamah dulu pernah bilang bahwa beliau tak pernah pacaran bahkan sama papah juga cuma knal sebentar setelah itu papah langsung melamar mamah.
" Eh dasar tuli, masih muda sudah tuli " Jawab nenek itu dngan nada kasar nya.
" Neng Mona, neng udah datang to? Suara bariton milik pak Lurah itu mengagetkan aku dan nenek galak yang disampingku.
__ADS_1
Mendengar pak Lurah datang, nenek itu langsung pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
Pak Lurah mendekat kearahku dan mengambil figura poto dari tanganku