
Di dalam sebuah tenda, seorang perempuan mengguncang tubuh rekannya yang masih tidur di saat yang lain telah penuh kesibukan di pagi hari. Dia berusaha membangunkan teman perempuannya yang tidur seperti orang mati tersebut.
"Bangun!" Ucap perempuan tersebut.
Orang yang dia bangunkan membuka matanya sedikit malas. Dia melihat temannya sedang membangunkannya namun, dia malas bangun. Dia berbalik membelakangi temannya itu untuk tidur kembali.
Dengan rasa kesal, temannya itu langsung memukul gadis tersebut. Tanu yang merasa sakit dipukul tidak merespon, dia tetap ingin tidur lagi karena dia masih merasa nyaman, lagi pula dia masih mengantuk. Saat dia memejamkan mata lagi tiba-tiba otak gadis bernama Tanu ini teringat sesuatu yang membuat matanya langsung kehilangan kantuk.
Dia duduk dengan cepat mengagetkan teman wanita yang baru saja memukulnya. Temannya pikir Tanu akan membalas pukulannya barusan.
Hampir satu menit mereka hening dan tidak terjadi apa-apa. Temannya melihat Tanu dengan heran yang terlihat seperti orang linglung di pagi hari.
"Kesadaranmu sudah berapa persen?" Tanya perempuan di depannya sambil melambaikan tangan di depannya.
"Aku bermimpi didatangi dua pria tampan aneh," langsung racau gadis itu benar-benar seperti orang lunglai. "Mereka ingin membawaku pergi," katanya kemudian dengan serius dan menghembuskan nafas yang terdengar kecewa.
Wanita di depannya tidak memberi respon apa-apa selain ternganga dan menganggap temannya ini yang aneh.
"Cepat bangun sebelum Ketua Umum yang mendatangimu. Kita harus beres-beres. Semua orang sudah sibuk, tapi kau malah sibuk bermimpi dua pria tampan," kata temannya.
Tanu sedikit cemberut. "Tapi aku benar-benar bermimpi pria tampan," kata Tanu dengan nada yang tak bersemangat.
"Siapa yang peduli dengan mimpimu itu?" Temannya itu masa bodo, dia kemudian keluar dari tenda meninggalkan Tanu.
"Jarang sekali aku bermimpi pria tampan," gumam Tanu sendirian. "Kenapa mimpinya harus aneh seperti itu?" Tambahnya dengan wajah cemberut.
Tanu menghembuskan nafas agak kasar sebentar. Dia menyentuh jantungnya yang masih berdebar gugup dan takut. Rasanya benar-benar seperti bukan mimpi. Tapi dengan dirinya bangun sekarang, semua itu jelas-jelas adalah mimpi.
Tanu menarik nafas lalu menghembuskannya kembali. Dia harus menenangkan dirinya sekarang. Dia kemudian siap untuk keluar tenda. Namun ketika dia melihat telapak tangan kanannya, dia terkejut. Ada yang tidak biasa. Sebuah bekas luka bakar yang berbentuk aneh menyerupai seekor burung. Tanu langsung memeriksa luka bakar tersebut. Dia menyentuhnya, tidak ada rasa sakit tapi benar-benar nampak seperti baru. Tanu teringat pada burung yang menyerangnya di dalam mimpi.
"Itu tidak mungkin," katanya sambil berpikir lagi.
Tanu tahu mimpi itu tidak mungkin benar-benar nyata. Pikiran Tanu seketika menjadi tidak tenang setelah menyadari dimana mereka saat ini. Di sebuah hutan lembat.
Gadis itu merasa ada hantu di hutan tempat mereka berkemah. Tanu mengingat apakah kemarin dia melakukan sesuatu yang menyinggung penghuni hutan ini sehingga dua orang dikirim untuk mengambil jiwanya. Dia tidak yakin dan tidak ingat.
Tanu segera memohon pengampunan dan meminta untuk dilepaskan.
Seseorang dari luar tenda memanggil namanya dengan cukup keras. Tanu kaget. Dia menghentikan doanya dan segera keluar. Dia melihat semua orang yang tampak sibuk dan tampak hanya dirinya memang masih santai.
Tak jauh dari lokasi orang-orang itu berkemah, empat orang berada dalam sebuah pesawat yang berbeda dari pesawat biasanya telah bersiap untuk pendaratan mereka. Seorang wanita dan seorang pria menjadi pengendali dari benda. Pesawat itu telah masuk mode tidak terlihat sejak awal tiba di planet ini.
Mereka tidak mengenakan jubah hitam mereka lagi. Mereka berpenampilan berbeda dengan orang pada umumnya. Mendaratkan benda tak terlihat itu di kawasan yang cukup lapang.
__ADS_1
Baru mereka keluar, muncullah dua sosok pria yang telah lebih dulu sampai di tempat ini sejak tadi malam.
"Ketua," sapa mereka pada salah satu pria tersebut.
"Gadis ini bermimpi," kata pemimpin tersebut. "Kita tidak boleh membiarkan dia mendapatkan mimpi," tambahnya yang menyadari dengan betul dia gagal tadi malam karena dunia mimpi gadis itu.
Orang-orang itu tampak terkejut. Mimpi adalah sesuatu yang tidak biasa bagi mereka dan orang-orang yang memiliki mimpi memiliki keistimewaan tersendiri bagi keyakinan mereka.
"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya salah satu wanita.
"Aku sudah mempelajarinya. Kita bisa mengatasi yang lain dengan mudah. Mereka lemah, mereka mengandalkan pengetahuan, mereka tidak memiliki kekuatan," katanya.
"Kita harus menyelesaikan misi dan segera pulang sebelum semuanya menjadi lebih buruk. Lakukan sekarang," kata pemimpin mereka memberi perintah.
Mereka semua mengangguk secara serentak.
Mereka lalu berjalan lurus ke tempat orang-orang berkemah yang sibuk beres-beres untuk pulang.
Semua orang tercengang oleh kemunculan sekelompok orang asing tersebut. Awalnya mereka berpikir orang-orang baru ini datang untuk berkemah seperti mereka, tapi melihat orang-orang tidak membawa apa-apa, pikiran mereka berubah.
Mereka langsung ke tujuan utama mereka. Mendekati Tanu. Gadis yang mengingat dua wajah di antara orang-orang itu adalah dua orang yang dia lihat tadi malam langsung merasakan kaki dan tubuhnya gemetar. Pikirannya telah menuju pada makhluk alam sebelah yang ingin mengambil jiwanya.
"Ikutlah dengan kami. Kami memerlukan kekuatan dan bantuanmu," ucap pemimpin mereka.
Tanu tidak bisa bicara apa-apa. Dia melihat satu persatu orang tersebut. Hanya matanya yang bergerak saat ini. Dia kemudian mengambil langkah mundur pelan menjaga jarak.
Kedatangan pria itu langsung dihadang oleh wanita yang berdiri di belakang pemimpin mereka. Wanita itu langsung menggunakan kekuatannya membuat pria itu membeku di tempat tidak bisa bergerak.
Semua orang mendadak ketakutan namun mereka seperti tidak ingin memiliki pilihan untuk lari. Para pria mengambil senjata apa saja yang mereka miliki.
Namun dengan mudahnya orang-orang asing ini membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyisakan Tanu yang gemetar sekujur tubuhnya.
"Seharusnya kita tidak perlu membuang-buang kekuatan kita untuk hal semacam ini. Kita masih harus melakukan perjalanan pulang, kita benar-benar harus menghemat kekuatan kita," ucap pria lain di antara orang-orang asing tersebut.
"Apa yang kalian lakukan pada mereka!? Kalian mau apa?" Tanya Tanu panik, gemetar juga marah.
Wanita di belakang pemimpin mereka maju. "Mereka akan baik-baik saja. Mereka akan kembali seperti semula setelah beberapa saat. Kami membutuhkan bantuanmu untuk menolong dunia kami dari kehancuran," ucap wanita yang terdengar lebih sopan.
"Bantuan?" Tanya Tanu tampak ragu.
"Kami tidak bisa menjelaskannya sekarang. Intinya kami ingin kau ikut dengan kami. Sebenarnya meski kau tidak ingin pergi bersama kami pun, kami tetap akan membawamu," kata yang lainnya.
Wajah Tanu langsung pucat layak mayat hidup. Dia tidak mengerti apa yang dilihat oleh orang-orang ini dari dirinya. Yang lebih menakutkan lagi mereka berasal dari alam yang Tanu yakin itu adalah alam makhluk halus.
__ADS_1
"Kupikir kalian salah orang. Aku tidak bisa apa-apa. Kalian jauh lebih hebat dariku. Kalian sama sekali tidak memerlukanku," kata Tanu dengan kata-kata seriusnya.
Pemimpin mereka seperti telah menduga akan terjadi hal seperti ini, tidak akan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun setelah usaha yang mereka lakukan sejauh ini dan mengingat mereka sangat memerlukan Tanu untuk membantu mereka, dia tidak bisa mundur. Dia langsung mengambil langkah cepat sebanyak tiga langkah ke depan gadis itu tidak ingin bertele-tele dan membuang lebih banyak waktu lagi.
Tanu membulatkan matanya lebar mencoba menebak apa yang akan dilakukan oleh orang ini padanya. Membekukan dirinya seperti semua orang?
Pria itu langsung menggendong Tanu dan menculik gadis itu. Semua rekan-rekannya terlihat kaget dan ini benar-benar diluar kepribadian pemimpin mereka. Walau terlihat terkejut, orang-orang asing ini tidak membahasnya atau protes. Mereka hanya perlu harus kembali sekarang.
Tanu berontak, mengomel, marah-marah, meminta tolong dan meminta dilepaskan. Semua itu tidak membuat sesuatu terjadi lebih baik selain dirinya tetap dibawa. Orang-orang yang beku tersebut melihat peristiwa penculikan itu tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Mereka semua kemudian pergi kembali ke pesawat tidak terlihat mereka. Tanu tidak berhenti berteriak. Pria itu membawa Tanu ke sebuah ruangan. Dia melempar Tanu di tempat tidur. Lalu menguncinya di ruangan tersebut.
Tanu berlari ke arah pintu, namun telah terlambat. Dia mencoba membuka pintu namun tidak bisa. Tanu berteriak meminta dibukakan pintu, tidak ada yang menanggapi teriakannya.
Pesawat itu kembali terbang. Tanu semakin menggila di ruangan terkunci. Dia melihat ke bawa yang seperti menginjak udara kosong. Jantungnya benar-benar kacau oleh ketakutan.
"Sepertinya kamar itu harus di buka. Aku tidak tahan dengan suara berisiknya. Ini tidak biasa bagi kami. Dia tidak akan bisa kabur lagi sekarang. Biarkan dia bebas di pesawat ini. Kita juga mencarinya karena perlu bantuannya. Sebaiknya kita tidak memperlakukannya seperti tahanan," kata pilot wanita yang sejak mereka terbang sampai sekarang suara teriakan Tanu seperti musik keras di telinga mereka.
Yang lain setuju. Ketua itu diam saja. Dia memberikan kunci kamar kepada wanita lain. Wanita tersebut tersenyum ramah lalu pergi.
Dia kemudian pergi kepada Tanu. Membuka pintu. Tanu langsung melewati wanita itu mencari jalan keluar.
"Tidak ada jalan keluar," kata wanita itu memberitahu seolah tahu apa yang dicari oleh Tanu. "Kalau pun ada, kalau kau keluar kau akan mati," tambahnya.
"Aku tidak tahu siapa kalian, bisakah kalian melepaskanku? Aku hanya orang biasa," kata Tanu.
Wanita itu tersenyum. Dia melihat pemandangan indah dari dunia Tanu.
"Bagimu, kau mungkin hanya orang biasa. Tapi bagi dunia kami kau sangat berharga. Kami mempertaruhkan nyawa kami datang jauh-jauh kemari untuk menjemputmu. Dunia kalian sangat indah, aku iri. Dunia kami sedang sekarat sekarang. Kau tenang saja, kami akan mengantarmu pulang kembali setelah kau membantu menyelamatkan dunia kami. Tentu saja kami akan melindungimu dengan nyawa kami," kata perempuan tersebut.
Tanu menggeleng tidak tahu menahu. "Bagaimana caraku menyelamatkan dunia kalian? Ini terlalu fantasi dan aku tidak percaya. Pemimpin negara saja kesulitan mengatur negaranya dan kalian ingin aku yang rakyat biasa menyelamatkan sebuah dunia?" kata Tanu mengeluarkan isi pikirannya. "Entah kalian bercanda atau terlalu memaksa," kata Tanu bersama perasaan gundah dan tak tenang.
Wanita itu diam. Dia melihat kepada Tanu seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Tanu barusan. "Sebenarnya kami juga tidak yakin kau bisa. Tapi kami tidak punya pilihan lagi selain mencobanya," kata wanita tersebut. "Ikutlah denganku. Akan ku perkenalkan pada semua orang di sini. Mereka bertanggung jawab atas keselamatamu. Kalau kau tidak mempersulit, semua orang akan bersikap baik padamu dan kau bisa segera kembali ke duniamu. Ketua juga akan menjelaskan semuanya padamu," katanya.
Tanu masih ingin meminta dipulangkan, namun melihat situasi saat ini dia tahu itu sudah menjadi tidak mungkin. Dari atas langit Tanu tidak bisa melihat bentuk benda di tanahnya lagi selain terlihat seperti pulau-pulau saja.
Dia pun ikut dengan wanita tersebut. Beberapa orang langsung memberikan senyuman ramah mereka kepada Tanu. Tanu merasa agak canggung untuk tersenyum pada mereka.
"Sage, ketua kami," kata wanita tersebut. "Mereka Terala dan Shawa (menunjuk pria dan wanita yang mengendalikan kapal) Johan (tunjuknya berubah ke arah pria duduk membaca buku) Marsel (pria yang Tanu temui di dalam mimpinya selain Sage) dan aku Vinus," katanya mengakhiri perkenalan singkat.
Setelah Vinus memperkenalkan semua orang hanya Johan yang melambaikan tangan sebagai sapaan sederhana.
"Lalu kau? Siapa namamu?" Marcel bertanya.
__ADS_1
Tanu tidak langsung menjawab. Dia masih sangat ragu apakah baik-baik saja dia bersama orang-orang ini. Dia tidak tahu siapa mereka sebenarnya dan mereka berasal dari mana. Tanu melihat pada Vinus, dia ingat bagaimana Vinus membekukan semua orang, dari itu Tanu yakin, tanah mereka tidaklah sederhana seperti buminya.
"Tanu," ucap Tanu kemudian.