18 Dan 19

18 Dan 19
Telaga Air Terjun


__ADS_3

"Apa maksudmu akan mengantarku pada mereka? Kau tidak serius kan!?" Tanya Tanu yang mengikuti Nev.


Nev yang tidak mengatakan kemana dia akan pergi itu terus berjalan dengan bantuan tongkatnya di dalam hutan ini.


"Berapa lama kau akan mengikutiku?" Tanya Nev yang balas bertanya. "Apa kau tidak ingin kembali ke dunia mu?" Tanya Nev lagi.


Tanu terdiam. "Bagaimana caraku kembali? Aku bahkan tidak tahu," kata Tanu.


Nev yang berekspresi datar tersebut tetap berjalan di tengah percakapan mereka. Di memiliki langkah yang lambat dan tidak leluasa karena gelapnya penglihatan yang dia miliki, untuk itulah dia tidak bisa berhenti terlalu sering atau perjalannya akan memakan waktu lebih lama.


"Di istana, ada kapal tersembunyi yang bisa melintasi ruang dan waktu antar dunia. Mengikuti akan membawamu menjauh dari istana," kata Nev memberitahu.


Tanu seketika terhenti. Dia langsung menoleh ke belakang seolah memiliki harapan pulang ke dunianya. Pikiran Tanu benar-benar kacau sekarang. Begitu dia mengingat apa yang terjadi pada pohon itu dan bagaimana Sage murka, Tanu tidak memiliki minat apa pun untuk kembali ke tempat tersebut, dia sangat yakin hal buruk akan terjadi padanya, tapi jalan pulangnya juga ada di sana. Tanu tidak tahu bagaimana cara dia mengatasi kegelisahan ini.


"Butuh dua orang untuk mengemudikannya, selain itu juga butuh seseorang yang bisa membuka portal dunia lain. Minimal kau butuh tiga orang untuk mengantarmu kembali," kata Nev lagi yang telah berjalan cukup jauh.


Tanu kembali melihat kepada Nev yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya. Tanu terlihat syok. Wajahnya menjadi pucat. Dia benar-benar tidak memiliki cara untuk kembali, semakin sulit.


"Selain itu, untuk mengendalikan pesawat itu, perlu kekuatan yang besar dan sumber kekuatan mereka sudah kau hancurkan," kata Nev lagi mengingatkan.


"Cukup!" Kata Tanu. "Itu tidak membantu sama sekali. Itu justru membuatku semakin tertekan," kata Tanu yang merasa ditampar secara tidak langsung beberapa lagi. "Aku benar-benar akan berlibur di negeri orang," keluhnya dengan frustasi lalu segera menyusul Nev.


Dia tidak mengenal tempat ini, setidaknya dia harus memanfaatkan keberadaan Nev, terlebih Nev tidak menuju arah untuk menyerahkan dirinya ke orang-orang itu. Tanu bisa pelan-pelan memikirkan cara dia untuk kembali, yang terpenting dia harus selamat dan bersembunyi terlebih dulu dari orang-orang itu sampai waktu yang tepat untuk beraksi penyelamatan dirinya.


"Sebenarnya kau ingin kemana?" Tanya Tanu yang sudah mengikuti Nev beberapa jam tanpa henti.


Meski jalan Nev cukup lambat, tetapi Nev tampak tidak memiliki kesulitan berjalan di area yang tidak teratur dengan pohon dimana-mana, Nev juga tidak berhenti berjalan sebentar saja, sedangkan Tanu sudah merasakan kakinya hampir mati rasa.


Setelah tidak memberi Tanu jawaban satu huruf pun, Nev akhirnya berhenti di sebuah telaga air terjun. Mata Tanu langsung berbinar kagum dengan telaga yang mengagumkan tersebut.


Di sisi air terjun tersebut terlihat banyak warna pelangi hasil pantulan air dan matahari, selain itu, warna air telaga yang jernih itu juga tampak seperti warna pelangi tapi sebenarnya tidak.


Tanu ingin duduk mengistirahatkan kakinya tapi telaga air terjun itu melenyapkan segala kelelahannya. Dia berlari kecil mendekati tepi telaga air terjun tersebut.


Dia kagum. Selama dia hidup, ini pertama kali dia melihat secara langsung pemandangan yang menawan seperti ini. Sangat di sayangkan dia tidak memiliki ponsel untuk mengambil foto.


Benar-benar menyenangkan mata dan hati. Tanu menyentuh air yang jernih. Sangat sejuk. Dia bahkan bisa melihat ikan-ikan berenang.


Dalam kesenangan tersebut, Tanu menoleh kepada Nev yang dia yakin ada sedikit tak jauh di belakang. Tanu kaget. Pria itu melepas pakaian atasnya


"Apa yang kau lakukan!?" Tanya Tanu yang berdiri menghadap Nev seraya salah tingkah.


Nev yang tidak melihat itu seperti biasa tidak memiliki apa-apa di wajahnya. "Aku akan mandi," ucap Nev dengan datar.


Tanu benar-benar tercengang dan tidak percaya. Dia berjalan begitu jauh mengikuti Nev hanya untuk melihat Nev mandi di telaga ini?


"Kenapa kau tidak mengenakan pakaianmu dan berenang di sana?" Tanya Tanu yang melihat Nev yang telanjang dada perlahan memasuki air. "Kau bisa mengganti pakaianmu dengan mudah tanpa khawatir memerlukan pakaian ganti," tambah Tanu.

__ADS_1


Pria yang telah menceburkan dirinya sepinggang di air itu. "Apa kau suka mengintip pria mandi?" Tanya Nev.


Seketika mata Tanu melotot mendengarnya, untung hal itu tidak dilihat oleh Nev. Tanu sedikit malu, dia dengan cepat mengendalikan dirinya kembali.


"Apa kau tidak malu mandi di depan seorang gadis!?" Tanu balas bertanya dengan kesal.


Nev tidak merespon kalimat Tanu. Dia pelan-pelan menenggelamkan dirinya ke dalam air yang jernih tersebut.


Tanu yang menunggu duduk di pinggiran tepi sambil membiarkan kakinya terendam air yang sejuk itu selain mengganggumu telaga ini, diam-diam juga mengagumi pria yang berendam membelakanginya.


Punggung putih Nev yang terendam air itu tampak berkilau ketika berpantulan dengan cahaya matahari. Tanu tersenyum suka melihatnya.


Tanu tidak mengira akan memiliki kesempatan semacam ini. Melihat pria yang suka rela mandi di depannya. Tanu tidak bisa di tuduh mengintip, dia tidak merasa salah. Nev lah yang dengan sengaja mandi di depannya.


Seekor ikan besar lebih besar dari ukuran manusia berwarna merah muda cantik yang tampak berbeda dari ikan biasanya muncul balik air terjun bergerak mendekati Nev yang sedang menenggelamkan dirinya sendiri.


Tanu yang melihat ikan tidak normal itu langsung berdiri sedikit takut. Dia segera memperingati Nev tetapi Nev yang di dalam air tidak mendengarnya.


"Nev!" Panggil Tanu yang sudah panik dan ikan itu sudah sangat dekat.


Nev yang ada di dalam air tidak mendengar panggilan Tanu. Tanu yang awalnya ragu-ragu akhirnya memutuskan untuk menceburkan diri mendekati Nev. Dia segera mendatangi Nev dengan terburu-buru sampai kakinya terluka oleh batu yang dia injak. Tanu berenang ke arah Nev meraih pundak pria tersebut berniat untuk menyeretnya keluar dari air, bagaimana pun melihat ikan sebesar itu menakutkan, ikan itu tampak bisa memakan manusia.


Pria yang masih ada di dalam air menahan nafas itu membuka matanya begitu dia merasakan ada tangan yang menyentuhnya. Dengan cepat dia berbalik dan lagi-lagi dia bisa melihat wajah Tanu di depannya dengan sangat jelas tanpa kegelapan.


Mata mereka bertemu. Tanu tiba-tiba merasa gugup dari melihat mata Nev, entah kenapa dia merasa Nev bisa melihatnya.


Tanu semakin bereaksi melihat ikat besar itu ada di jarak yang sangat dekat dengan mereka. Nev dengan cepat meraih tangan Tanu, menarik gadis itu dan memeluk gadis itu menghilangkan jarak. Saat itu juga ikan besar dengan cepat berenang mengelilingi mereka beberapa putaran. Tanu yang takut tanpa sadar melingkarkan tangannya dan memeluk Nev dengan kuat seraya memejamkan mata.


Ikan tersebut kemudian berhenti di depan Nev. Tanu memeluk pria itu dengan erat bersama rasa takutnya. Mata pria itu dan mata ikan tersebut saling memandang. Ikan itu kemudian memuntahkan sesuatu. Nev menerimanya dengan tangan kanan.


Ikan besar itu menatap Nev sebentar lalu kemudian meninggalkan mereka dan kembali ke balik air terjun.


Nev dengan cepat membawa Tanu ke permukaan. Tanu yang masih memeluk Nev menghirup udara dengan sangat cepat merasa dirinya hampir kehabisan nafas.


Begitu merasa lebih baik Tanu membuka matanya yang tertutup rapat. dia kaget melihat Nev di depannya tanpa jarak. Tanu segera mendorong Nev melepas pelukan.


Kemudian Tanu terpikir oleh ikan besar tersebut dan menjadi takut lagi. Tanu melihat ke sekeliling, tidak ada ciri-ciri ikan itu masih ada.


"Ayo kembali," ajak Nev yang begitu santai sambil berenang ke tepi.


"Apa itu tadi!?" Tanya Tanu yang masih terlihat pucat.


"Tadi? Kau mencoba mangambil kesempatan dariku," kata Nev pura-pura tidak tahu maksud Tanu.


Wajah Tanu yang telah pucat itu malah memerah. "Omong kosong! Itu ikan besar," ucap Tanu yang bingung harus bicara seperti apa. Yang jelas Tanu merasa sangat syok.


Tanu buru-buru berenang menyusul Nev. Nev berjalan lebih dulu ke daratan mendapati penglihatannya kembali menghitam. Ya, pemandangan matanya kembali menjadi gelap seperti seharusnya.

__ADS_1


Di tangannya Nev bisa merasakan apa yang dia dapatkan dari ikan tersebut. Dia kemudian meletakkan telapak tangannya yang berisi barang tersebut ke dadanya. Benda di tangannya itu lenyap seolah diserap oleh tubuhnya.


Tanu kembali ke daratan dengan gemetar. Tentu saja bukan karena kedinginan, namun perasaan ketakutan seperti mimpi. Baru saja Tanu kembali ke darat, Nev sudah menggunakan kemampuannya kepada Tanu tanpa mengatakan apa-apa.


Pakaian Tanu berganti seketika dengan pakaian yang dia pakai saat dia bangun. Awalnya Tanu membeku sesaat karena kaget. Gara-gara ikan besar yang hilang entah kemana itu Tanu menjadi kembali tidak terbiasa dengan hal-hal aneh di luar nalar.


Seluruh tubuh Tanu kering bersama dengan pakaian kemunculan pakaian gantinya. Itu tidak hanya terjadi padanya juga pada Nev.


Tanu orang pertama yang tidak ingin berlama-lama di dekat telaga ini. Dia ingin segera pergi. Saat mereka meninggalkan telaga air terjun tersebut, Nev kembali membimbing perjalanan mereka dengan kesunyian. Bahkan kemana tujuan Nev Tanu tidak tahu, dia hanya mengikuti Nev daripada pergi sendirian di dunia asing.


"Sebenarnya kau ingin kemana?" Tanya Tanu yang merasa Nev cukup terburu-buru untuk sampai di tempat tujuannya sampai tidak meluangkan waktu untuk istirahat.


Nev ragu-ragu untuk menjawab karena itulah dia memilih tidak menjawab dan mendiamkan Tanu untuk waktu yang lama. Tanu yang merasa jengkel pertanyaannya diabaikan bertekat ingin memulai pembicaraan.


Setelah berjalan sejauh ini, Tanu merasa kakinya tidak sanggup lagi berjalan meski Nev tidak memiliki ciri-ciri akan berhenti, bahkan keadaan sekarang sudah cukup gelap. Tanu ingin berhenti tapi dia khawatir dia akan kehilangan jejak Nev dan tersesat sendirian. Tanu meraih ujung lengan pakaian Nev untuk dia pengang menjaga agar Nev tidak kehilangan jejak Nev.


Nev yang menyadari Tanu memegang ujung pakaiannya segera berhenti berbalik ke arah Tanu.


"Kau lelah?" Tanya Nev.


Tanu menarik nafas lega mendengar pertanyaan tersebut dan segera mengambil duduk sembarang tempat. "Ada bagusnya juga kau bertanya. Ya, aku lelah, sangat lelah. Aku juga tidak bisa melihat jalan. Kau berjalan seperti tidak ada rintangan di depanmu, sedangkan aku harus meraba-raba seperti orang buta," ucap Tanu tanpa sadar dia bicara dengan orang buta.


Tanu tiba-tiba terdiam sadar dengan kalimat yang dia keluarkan. Tanu melihat pada Nev berharap pria itu tidak tersinggung dengan ucapannya.


"Apa ini sudah malam?" Tanya Nev.


"E? Sudah sejak tadi," jawab Tanu pelan. "Aku lelah dan lapar. Sepanjang jalan tidak melihat ada buah terlebih, melihat kau tidak memiliki rasa lelah, aku tidak bisa berhenti, aku khawatir kau akan meninggalkanku di hutan," kata Tanu jujur dengan derita yang dia alami.


Nev menarik ujung jubahnya yang masih di pegang Tanu. Dia menemukan tangan gadis itu dan memegangnya.


Tanu bisa merasakan rasa hangat, nyaman dan aman dari tangan tersebut. Dia melihat pria itu dan terpesona olehnya. Nev membantu Tanu berdiri. Entah kenapa Tanu menurut dan ikut.


"Kita istirahat di sini," kata Nev kemudian.


Tanu melihat ke sekelilingnya. Tidur di tenda lebih baik daripada alam terbuka seperti ini. Apa boleh buat.


"Lepaskan," kata Nev pada tangannya yang masih di pegang oleh Tanu.


"Aku tidak bisa melihat. Ini sangat gelap. Bisakah biarkan aku memegang tanganmu?" Tanya Tanu.


"Lepaskan," ucap Nev lagi.


Tanu memasang wajah cemberut sadar Nev tidak bisa dibujuk. Dia kemudian melepaskan tangan Nev. Baru sebentar dia melepaskan tangan Nev, tiba-tiba di depannya sebuah api unggun muncul. Tanu bisa melihat lagi, dia melihat Nev lah yang membuat api ini dengan kekuatannya.


Ini tidaklah begitu buruk. Dia bisa menahan tidur di alam terbuka dan tidak ada makanan yang mengisi perutnya.


Seketika Tanu seperti bermimpi, makanan dan minuman dengan ajaib muncul di depan mereka.

__ADS_1


"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Tanu yang bergerak cepat mengambil satu makanan untuk memenuhi rasa laparnya. Nev tidak repot-repot menjelaskan. Dia memilih untuk banyak diam.


Seharian Tanu menghabiskan waktunya di hutan mengikuti pria yang berjalan entah kemana. Di malam hari Tanu juga menghabiskan waktunya di hutan. Walau ada saat-saat tidak menyenangkan tapi tidak begitu buruk juga.


__ADS_2