18 Dan 19

18 Dan 19
Dua Orang Asing


__ADS_3

Tanu yang telah tidak sadarkan diri dalam beberapa hari akhirnya membuka matanya. Matanya merasa tak nyaman dan tidak terbiasa dengan cahaya yang baru dia lihat. Tanu memejamkan mata sejenak untuk menenangkan matanya.


Dia membuka matanya lagi setelah cukup terbiasa baru kemudian duduk. Siang. Itu yang Tanu rasakan dari kehangatan ini.


Gadis itu melihat pakaiannya berbeda, dia tidak terkejut. Tanu juga menyentuh luka di dadanya. Tidak ada rasa sakit. Dia kemudian mengintip, baru Tanu bisa kaget. Bahkan tidak ada bekas yang terlihat di sana seolah dia tidak pernah terluka.


Setelah terkejut Tanu akhirnya menyadari sesuatu. Dia menghembuskan nafas lemah juga tampak kecewa.


"Jadi aku sudah benar-benar mati?" Tanya Tanu pada dirinya sendiri ingin protes tapi apa gunanya semuanya sudah terlanjur.


Perlahan wajah Tanu berubah frustasi. Dia kemudian memeluk dirinya sendiri frustasi benar-benar ingin protes. Gadis itu kemudian menangis, sangat disayangkan dia harus mati di usia muda saat banyak mimpi yang ingin dia wujudkan. Yang paling memalukan dia mati di negeri orang dan alasan kematiannya sangat sederhana, untuk dijadikan bahan pengorbanan pada sebatang pohon mati.


Saat Tanu menangisi nasibnya, seseorang yang mendengar suara tangisan Tanu membuka pintu dan masuk . Tanu terkejut oleh kemunculan orang asing. Seketika Tanu berhenti menangis seolah dia tidak ingin diketahui sedang menangis.


Pria tampan yang tinggi memegang tongkat kayu. Sekali lihat Tanu tahu pria di depannya buta. Melihat pria buta di depannya, seketika Tanu lupa dengan kemalangan mati muda yang dialaminya. Dia menjadi kebingungan sendiri saat melihat pria tersebut.


"Aku mati sebagai seseorang yang jomblo. Apa karena itu aku diberi jodoh pria buta di alam akhirat ini?" Gumam Tanu seorang diri.


Tanu segera berdiri. Dia mendekati pria tersebut. Melihatnya dengan lebih teliti.


"Benar-benar bukan karateriaku," ucap Tanu syok sendiri sambil mengukur tinggi pria tersebut dengan tingginya. "Wajahmu bisa menutupi semua kekurangan," racau Tanu. "Juga tidak bisa pamer pada siapa, kita berdua sudah mati," kata Tanu yang mulai menerima kematiannya dengan lapang dada.


Nev yang berdiri diam itu mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan oleh Tanu. Dia mengerti kesimpulan apa yang sedang diyakini oleh Tanu.


Tanu meraih tangan pria tersebut dan menariknya untuk duduk di tepi tempat tidur kayu beralaskan tikar tersebut. Pria bahkan tetap menurut, dia belum mengatakan apa-apa tetapi Tanu memang sudah membuat banyak kesimpulannya sendiri.


"Aku Tanu. Namamu? Lalu bagaimana kau mati?" Tanya Tanu padanya


"Aku belum mati dan kau belum mati," kata pria tersebut dengan nada yang datar menjawab pertanyaan Tanu.


Tanu diam sesaat menatap pria di dekatnya. Dia kemudian tersenyum lebar yang tampak aneh dan ganjil. "Dingin seperti tokoh di drama dan novel," ucap Tanu.


Pria itu menarik nafas tetap sabar dengan kelakuan Tanu


"Aku tahu tidak mudah menerima kematian. Aku juga belum mau mati, tapi mau bagaimana lagi," kata Tanu yang sangat menyayangkan kematiannya.


Ketika dia mengingat Sage, dia merasa cukup emosi.

__ADS_1


Pria itu yang lebih banyak diam itu akhirnya memutuskan untuk pergi. Dia berdiri dan pergi keluar tanpa meninggalkan kata-kata.


Tanu tampak bingung melihat pria asing yang baru keluar itu. Dia telah bertemu beberapa orang yang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi tidak ada yang seperti pria asing ini.


Tanu kemudian teringat Sage lagi. Dengan kesal dia mengutuk orang itu dalam hati sambil kakinya menendang tembok.


Dari luar Nev menoleh sebentar ke pondok asal keributan. Tanu yang terduduk kesakitan meniup-niup ujung jari kaki kanannya yang sakit.


"Aku merasakan sakit," ucap Tanu dengan wajah yang tiba-tiba serius dan sedikit heran.


Dia mulai memikirkannya lagi. Orang mati yang merasakan sakit hanya orang yang disiksa.


Tanu buru-buru berdiri dan berlari menyusul Nev tidak peduli kakinya masih merasa sakit. Tanpa aba-aba begitu Nev tersusul, Tanu langsung mencubit pinggang pria tersebut tanpa aba-aba. Pria itu tidak hanya terkejut tapi juga kesakitan.


"Apa yang kau lakukan!?" Dia bertanya dengan nada yang sedikit tinggi.


"Kau juga merasakan sakit?" Tanya Tanu serius. "Dunia kematian yang merasakan sakit hanya neraka. Tapi ini tidak seperti neraka," gumam Tani yang belum selesai dengan drama kematiannya.


"Apa aku berengkarnasi?" Gumam gadis itu lagi antara syok dan kagum.


Dia kemudian melihat pakaiannya yang memang sudah berbeda dari pakaian yang dia kenakan sebelumnya.


Tanu terdiam dihadapan Nev yang jelas tidak bisa melihat Tanu. "Bagaimana kau tahu tentang orang itu!?" Tanya Tanu sedikit gugup, khawatir dirinya masih akan dijadikan tumbal.


"Tidak ada yang tidak ku ketahui segala hal yang terjadi di Aro? Kau masih di Aro. Tidak di neraka atau di surga," kata Nev memberitahu yang sebenarnya.


Tanu perlu waktu untuk mencernanya. Memikirkannya ulang dengan perlahan-lahan.


"Tapi lukaku!?"


Tiba-tiba pria di depannya mengeluarkan sebuah pisau yang dia sembunyikan di balik jubahnya dan selalu dia bawa kemana-mana. Dengan pisau tersebut Nev melukai dirinya sendiri. Tanu sedikit kaget melihat darah berjatuhan. Namun hanya dalam waktu singkat muncul sesuatu seperti bubuk aneh yang menyembuhkan luka di tangan pria tersebut sampai tak ada bekas sedikit pun.


"Ini mudah," kata Nev seraya memperlihatkan tangannya yang sembuh dari luka kepada Tanu.


Mata Tanu membulat terkejut tapi dia juga tidak menolak untuk percaya kalau Nev bisa melakukannya.


"Kau yang menolongku?" Tanya Tanu dengan nada yang sedikit pelan dari bicaranya sebelumnya.

__ADS_1


"Anggap saja begitu," katanya.


Tanu ingin berterima kasih namun dia teringat pada pakaiannya yang sudah diganti. Dengan ragu-ragu Tanu melihat pada pria tersebut. Dia melihat pria buta dengan pikiran aneh. Tanu merasa malu mengambil satu langkah mundur sambil memeluk dirinya sendiri.


"Kalau kau yang menolongku berarti kau juga yang mengganti pakaianku?" Tanya Tanu yang sudah lebih dulu takut dengan jawaban yang akan dia dengar.


Pria ini mungkin tidak melihat dirinya telanjang, tapi untuk melepas kancing pakaiannya pria ini pasti meraba tubuhnya. Tanu tidak bisa membayangkan betapa memalukannya dirinya.


Seperti bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Tanu, pria itu memperlihatkan trik yang lain. Hanya satu gerakan, pakaian Tanu kembali tertukar dengan pakaian Tanu sendiri yang dia kenakan saat tiba di Aro, pakaian yang memiliki lubang kecil dari pisau Sage. Tanu membatu kagum dengan sulap Nev.


"Aku memberimu kesempatan untuk pergi sekarang," kata Nev yang kemudian melanjutkan jalannya dengan bantuan tongkat.


Tanu segera mengejar pria itu. "Terima kasih telah menolongku. Aku memang tidak siap mati," kata Tanu. "Di dunia kalian memang mengagumkan." Tanu menggerak-gerakkan tangannya seperti mencoba sulap tapi tak terjadi apa-apa. Tanu menyerah, selain dia tidak memiliki kemampuan seperti orang-orang di dunia ini, pria di depannya juga tidak akan melihat apa yang coba dia perlihatkan.


"Siapa namamu?" Tanya Tanu.


Pria itu tampak terdiam beberapa detik. "Nev," jawabnya kemudian.


"Nev," ucap Tanu mengulang pengucapan tersebut sambil ikut berjalan lambat di dekat Nev.


Pria itu berhenti dan membuat Tanu juga berhenti. "Kenapa kau mengikuti ku? Kalau kau mengikuti ku, orang-orang yang menjemputmu dari jauh akan mengira aku menculikmu," katanya.


"Kau juga tahu tentang itu?" Tanu tersenyum hambar.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Tanu. Dia mengatakan hal lain. "Aku akan mengantarmu ke perbatasan. Kau bisa menemukan seseorang yang bisa mengantarmu atau kau ikuti," kata Nev yang kembali berjalan.


Tanu segera meraih tangan Nev menghentikannya. "Bisakah aku ikut denganmu?"


"Tidak. Aku tidak suka mengambil apa yang pertama kali mereka ambil," kata Nev sambil melepas tangan Tanu.


"Mereka menculik ku. Mereka bahkan tidak memberiku pilihan untuk menolak. Aku menganggapmu telah menculik ku dari mereka. Apa kau sampai hati membiarkan orang yang kau tolong berkeliaran tanpa tujuan di dunia yang tidak dia kenal?" ucap Tanu.


Tanu merasa sedih. "Benar, aku hanyalah orang asing di sini. Meski aku menghadapi bahaya tidak akan ada tempatku meminta tolong," katanya.


Nev tidak langsung bicara. Dia memejamkan matanya lalu membuka matanya lagi. Dia melihat wajah Tanu di depannya dengan sangat jelas.


Dia memejamkan matanya kembali. Saat dia membuka matanya lagi, penglihatannya sudah menjadi hitam kembali.

__ADS_1


Sikap pria ini masih sama. Tidak banyak informasi yang bisa di dapatkan dari mata, ekspresi atau gerakan tersembunyi tubuhnya.


__ADS_2