18 Dan 19

18 Dan 19
Tugas yang Gagal


__ADS_3

Dari tanah yang mereka pijak, sesuatu yang seperti benang-benang tipis berwarna keemasan bergerak mendekati pohon dengan cepat. Tanu sedikit terkejut. Dia melepas tangannya dari menyentuh pohon suci namun tiba-tiba sesuatu menarik tangan Tanu kembali menyentuh pohon tersebut. Tanu akhirnya melakukannya sambil mencoba tenang.


Benang-benang tipis keemasan itu tidak hanya muncul di sekitar mereka tapi juga di seluruh tanah di Aro sampai semua tanah tidak terlihat lagi seperti tanah melainkan seperti emas.


Semua orang dapat menyaksikan hal tersebut. Di tempat Marchel dan yang lain, kemunculan benang-benang keemasan yang bergerak tersebut menyembuhkan mereka dan menyelamatkan Marchel bahkan kekuatan mereka seperti sedang diisi ulang.


"Berhasil?" Ucap Vinus merasa sangat bersyukur.


Rasa lelah semua orang benar-benar terasa dibayar tuntas. Marchel bangun dan langsung mendapat pelukan dari semua orang.


"Kita harus kembali. Nev masih di sana," kata Marchel mengingatkan teman-temannya.


Mereka melepas pelukan mereka pada Marchel sambil mengangguk.


Bahkan di tempat yang saat ini sedang terjadi perang besar antara ras iblis, raksasa, siluman melawan ras manusia yang mendapat bantuan dari ras peri itu terhenti sesaat ketika tanah yang mereka pinjak berubah menjadi keemasan.


Di medan perang tersebut, seorang pria buta dari pihak para iblis menyentuh tanah dan merasakan kekuatan besar tersebut menuju ke pohon suci. Dia kembali berdiri dan berkata ringan pada iblis jelek di dekatnya.


"Perintahkan semua pasukan mundur," ucapnya dengan nada yang datar.


"Apa!? Itu tidak mungkin! Ini sudah dekat dengan tujuan!" Kata iblis tersebut tak terima.


"Kalau begitu lakukan sesuka kalian. Kalau kalah mundur kelembah siluman," katanya.


Dia kemudian dengan tongkatnya tersebut berjalan menjauh dari arena tersebut.


Iblis itu tampak geram dengan pria buta dari ras manusia tersebut tapi dia tidak melakukan apa-apa pada pria buta tersebut.


Iblis itu kembali melihat pada pertempuran di depan matanya yang kembali berlanjut setelah terhenti sejenak. Tidak mungkin bagi mereka untuk mundur. Dia berteriak lantang dengan suara yang serak dan terdengar menyeramkan memberitahu semua pihaknya untuk kembali bersemangat, kemenangan dipihak mereka, munculnya benang-benang keemasan dengan kekuatan besar ini tidak akan mempengaruhi apa pun.


Saat pria buta terus berjalan untuk keluar dari medan pertempuran, tiba-tiba sebuah anak panah dengan kecepatan tinggi mengarah ke padanya dari samping. Ketika panah tersebut telah begitu dekat dengan pria buta tersebut, panah itu seketika terhenti dan jatuh.


Pria buta tidak berhenti berjalan dengan menggunakan tongkat untuk membantunya tanpa peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


Peri muda menarik kembali anak panahnya mengincar pria buta. Saat dia ingin melepaskan anak panahnya lagi, peri lain menghentikannya.


"Kau bisa mengarahkan panahmu ke musuh mana pun kecuali Nev," kata peri yang menghentikannya.


"Tapi dia juga musuh dan dia adalah pemimpinnya," kata peri muda.


"Ya, dia memang musuh dan memang kau tidak akan bisa mengalahkannya. Sebagai gantinya biarkan dia meninggalkan medan ini, itu akan memberi kemenangan untuk pihak kita," kata peri.

__ADS_1


Dia melihat kembali ke arah Nev. Dia akhirnya melepaskan anak panahnya ke arah musuh yang lain.


Tiba-tiba secara ajaib sebuah pancaran cahaya keemasan dengan cepat membentuk pilar keemasan menyentuh langit.


Semua orang dapat melihatnya dan mereka semua yakin bahwa pohon tersebut telah berhasil dipulihkan. Di saat itu juga, Sage merasakan kekuatannya sepenuhnya telah diisi ulang.


Di langit pilar cahaya tersebut kemudian membentuk sebuah pohon besar setinggi langit.


Dari tangannya yang memiliki lambang burung itu Tanu bisa merasakan suatu energi besar yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya memasuki tubuhnya.


Dalam kesilauan oleh cahaya keemasan tersebut, Tanu membuka matanya dan mengintip dengan perlahan. Seorang wanita cantik layaknya Dewi Yunani berjalan begitu anggun ke arahnya.


Dia meraih tangan Tanu dengan senyuman indah. Dia kemudian meletakkan punggung tangan Tanu di atas telapak tangannya lalu menutupi telapak tangan Tanu tersebut dengan telapak tangannya yang lain.


Tanu hanya melihat perempuan cantik tersebut tersenyum. Tidak ada pembicaraan apa pun.


Sage merasa lega melihat pilar cahaya keemasan yang tinggi dan membentuk pohon besar seperti pohon suci saat baik-baik. Dia sama seperti orang lain yakin pemulihan pohon suci telah berhasil.


Belum lewat lima detik Sage berpikir seperti itu. Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Cahaya keemasan dari pohon yang tampak agung tersebut tiba-tiba pecah menjadi pecahan kecil yang kemudian sirna bersama udara. Orang lain yang melihatnya hanya berpikir proses penyembuhan pohon suci telah selesai.


Berbeda dengan Sage yang ada di tempat kejadian. Tidak hanya itu, bentuk pohon suci yang kering juga berubah bentuk menjadi setumpuk abu.


Tanu terkejut. Ketika perempuan seperti Dewi Yunani itu melepas tangan Tanu dan kembali pergi menjauh, hal yang mengejutkan ini terjadi.


Dengan takut-takut Tanu menoleh pada pria tampan di sana. Benar saja, pria itu memasang wajah dingin yang terlihat marah dan tampak gelap.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sage yang berdiri dengan menakutkan.


Tanu gemetar melihat Sage yang tampak kehilangan akal. Dalam sekejap, Sage muncul di depan Tanu dan langsung mencekik Tanu dengan kuat dan penuh kemarahan.


Gadis tersebut kesakitan. Tangannya meraih tangan Sage berusaha melepas.


"Aku meminta bantuanmu untuk memulihkannya. Kenapa kau justru melakukan sebaliknya?" Tanya Sage dengan matanya yang sangat tajam.


Tanu memukul-mukul tangan Sage tanda dia kesulitan untuk bernafas.


"Kau tidak memberitahuku bagaimana cara memulihkannya," ucap Tanu membela dirinya dengan susah payah sambil menjatuhkan air mata. "Bukankah sudah kukatakan aku hanya orang biasa. Aku tidak punya kekuatan seperti kalian. Aku tidak tahu apa-apa tentang semuanya," kata Tanu dengan semakin sulit membela dirinya.


Sage seolah tersadar. Dia tahu Tanu bukan orang dari dunia mereka dan memang Tanu tidak begitu mengenal Aro. "Kenapa api suci miliki para pria memilihmu!?" Tanya Sage yang kemudian memaksa melihat telapak tangan kanan Tanu yang memang ada tanda itu.


Sage kemudian melepaskan Tanu. Tanu langsung terduduk batuk-batuk seraya memegang lehernya yang sakit. "Aku juga ingin tahu kenapa aku yang dipilih," kata Tanu yang sendiri sangat bingung.

__ADS_1


Jika bisa memilih, Tanu ingin orang lainlah yang berada di posisinya saat ini untuk menyelamatkan pohon suci.


Sage mengacak-acak rambutnya dengan gila dan panik. Situasinya sudah menjadi seperti ini. Bisa-bisa dia sungguh gila dengan kenyataan ini. Api suci tidak mungkin salah memilih. Tapi bagaimana caranya agar pilihan itu menjadi benar dan memang sesuai dengan tujuannya.


Di dalam kepalanya yang panik itu, Sage berusaha mencari sesuatu yang bisa dia jadikan jalan keluar. Ekspresinya lalu berubah lebih gelap, dingin dan datar. Dia melihat Tanu yang masih duduk dan abu pohon suci secara bergantian.


Tanu merasa takut. Dia merasakan firasat yang cukup buruk dari ekspresi gelap Sage. Pria itu sudah seperti iblis dengan bentuk nyata di depan Tanu.


Sage berdiri tegak. Sebuah pisah yang terbentuk dari kekuatan yang ia miliki muncul dalam genggamannya. Tanu menjadi lebih takut.


"Mungkin darahmu bisa mengembalikan kehidupan jantung Aro tumbuh," ucapnya dengan kegelapan.


Untuk kali ini Tanu tidak bisa diam. Dia harus menolong dirinya sendiri dari ritual pengorbanan yang ingin dilakukan oleh Sage.


"Ini berlebihan," ucap Tanu gemetar.


Konyolnya, Tanu telah memikirkan diri mati saat ini dan dia tidak bisa kembali pulang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sage seolah dia tidak bisa kabur kemana pun.


Sage yang sudah kehilangan akal itu tidak memiliki pemikiran lain lagi selain tujuan untuk mengembalikan bentuk abu tersebut kembali ke bentuk semula. Dia benar-benar serius dengan ingin mengorbankan Tanu.


Tanu tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat Sage mensejajarkan tinggi mereka. Seluruh tubuh Tanu mati rasa dalam sekejap.


Dengan mata yang berbinar Tanu melihat mata Sage yang sudah bukan Sage lagi.


Satu tusukan langsung mengenai dada kiri Tanu. Di depan pria itu, Tanu melihat mata dingin yang tidak berperasaan. Air mata Tanu jatuh. Dia benar-benar akan mati.


Tanu melihat sekali lagi pada pria yang menusuk dirinya itu. Kali ini seolah keberanian tiba-tiba berkumpul untuk gadis itu. Gadis itu tersenyum kecil dengan aneh tak kalah gilanya dengan Sage. Entah gadis itu memiliki penyesalan atau tidak telah ada di tempat ini, itu tidak lagi penting.


"Jika kau menggunakan kematianku untuk mencapai tujuanmu," Tanu bicara lemah sambil menangkap tangan Sage yang masih memegang pisau yang menancap di dadanya tersebut. "Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang di duniamu ingin capai. Aku hanya ingin, kematianku ini tidak akan membantumu mendapatkan apa pun," kata Tanu yang langsung mencabut pisau tersebut dari dirinya dan menancapkannya dengan cepat di paha Sage.


Sebelum Sage menjerit kesakitan, Tanu sudah lebih dulu mendorong Sage dan langsung melompat ke sungai dan menghilang di antara empat anak sungai.


......


Seorang pria yang sedang mandi di sungai mencium bau darah. Dia yang hanya telanjang dada itu menggunakan penciumannya untuk membimbing dirinya menemukan sumber darah tersebut.


Dia menemukan seseorang terdampar di tepi sungai tak sadarkan diri dengan luka serius. Meski matanya tidak memiliki penglihatan, dia tetap tahu cara memeriksa kehidupan gadis yang dia temukan. Gadis itu masih hidup setelah mengalami luka serius di kepala dan dadanya.


Selain luka yang diberikan oleh Sage, Tanu juga mengalami luka serius di bagian kepala yang dia dapatkan dari menghantam batu di sungai ketika hanyut.


Pria itu mengangkat Tanu ke daratan. Dia kemudian mengenakan pakaiannya. Setelah selesai dia baru menggendong Tanu di atas punggungnya.

__ADS_1


Dengan tongkat yang menjadi pembimbing jalannya, dia berjalan lambat dan hati-hati membawa Tanu bersamanya.


__ADS_2