
"Ada sebuah mitos yang mengatakan jika kau memberi makan ikan koi yang berada di taman belakang sekolah dan selama 26 hari melihat koi hitam dan putih keluar bersamaan maka cintamu akan terbalas." Saya bercerita sambil menggigit batang coklat yang di belinya dari kantin.
Di sampingnya Akari mendongkak dari bentonya dan melihat langsung ke arah Sayaka. "Darimana kamu tahu?" Sebenarnya Akari adalah gadis yang tidak terlalu percaya dengan mitos atau hal mistik lainnya yang tidak pasti namun jika itu adalah hal yang membuatnya tertarik tidak peduli jika itu mitos, mistik ataupun ketidakpastian.
"Dari nenekku, dia dulu kan sekolah disini." Akari mengangguk mengiyakan jawaban Sayaka.
"Kenapa tidak dicoba?" tanya Akari lagi, bukankah jika mitos itu memang benar itu akan bagus, cinta yang terbalas itu pasti sangat indah bukan? Jadi kenapa tidak?
"Aku kan sudah punya pacar." Jawab Sayaka acuh mengangkat bahunya, Akari hanya mengatakan 'oh' saja dia lupa kalau Sayaka sudah memiliki pacar yang bernama Sai, sebenarnya Akari cukup iri dengan sahabatnya ini yang sudah memiliki pacar, tidak seperti dirinya yang sekarang sudah berusia tujuh belas tahun masih belum pernah merasakan sesuatu yang bernama pacaran.
Menghilangkan pikiran negatifnya dengan mengelengkan kepalanya yang membuat rambut gelapnya terlihat melambai karena gerakan ini terlebih lagi dengan hembusan angin yang cukup kuat karena mereka berada di atap sekolah terlebih lagi sekolah mereka berada di kaki gunung.
"Kenapa tidak kau saja?"
"Hah?" Akari mengerjap bingung dengan kedakan tiba-tiba dari sahabatnya, Sayaka dengan senyuman jahil menarik tangan Akari untuk membuatnya berdiri. Karena tubuh Akari yang terbilang kecil membuat Sayaka dengan mudah membawa Akari menuju ke arah pagar. Dia dengan antusias menunjuk ke bawah, di sana terlihat seorang piria yang sedang tertawa bersama teman-temannya. "Kamu dan Taki kan sudah berteman sejak kecil, jadi mungkin saja kau menyukainya bukan?"
Akari menahan diri untuk tidak memerah mendengar ucapan sahabatnya itu, dia tersenyum ketika melihat Taki berlari ketika dikejar oleh temannya yang terlihat marah. "Kau tahu sendiri bukan?" Ucap Akari tanpa mengalihkan perhatiannya dari pria yang disukainya. Sayaka memang sudah mengetahui naksirnya dan Akari tidak masalah dengan itu, lagi pula Sayaka adalah sahabatnya yang sangat dipercayai nya tentu saja Taki yang merupakan temannya dari kecil juga sangat dipercayai oleh nya namun untuk hal ini Taki masih belum tahu dengan perasaan Akari kepadanya.
__ADS_1
Namun sesekali Akari menyesal telah memberitahukan rahasia kecilnya ini kepada Sayaka, pernah sekali Sayaka mendorong Akari ke arah Taki namun bukannya jatuh ke pelukan Taki, Akari malah jatuh terjungkal di depan Taki. Setelah hari itu Akari benar-benar malu bertemu dengan Taki, hingga selama seminggu Akari mencoba mati-matian menghindari Taki.
"Jadi bagaimana?"
"Hah?" Sayaka memutar matanya jengah dengan sifat Akari ini, jika sudah memikirkan tentang Taki semua hal akan dilupakannya. "Tentang mitos itu."
"oh" Akari mencoba memikirkan keputusannya apakah dia akan mempercayai hal seperti itu, namun jika pun mitos itu tidak benar juga Akari tidak akan mendapatkan banyak masalah. "Baiklah." Ucap Akari sambil mendesah pelan berharap keputusannya ini kelak tidak akan membuat dirinya menyesal.
"Yosh, ayo ke sana." Dan Akari hanya pasrah ketika dirinya ditarik oleh Sayaka, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Akari dan Sayaka tiba di halaman belakang sekolah, di sana Akari langsung berjongkok di depan kolam melihat seekor koi hitam yang berenang berputar-putar. Mencoba melihat dan mengamati bagian lain dari kolam Akari berbalik dan menatap Sayaka yang juga berjongkok di sampingnya. "Kamu bilang ada koi hitam dan koi putih, tapi aku tidak melihat yang putihnya."
Sayaka mengerjap beberapa kali kemudian dia melipat dua lengannya di depan dadanya berusaha mengingat apa yang dilupakannya untuk di katakan kepada Akari. "Ughh" Sayaka menjadi gelisah ketika dia melupakan satu hal penting yang di beritahukan neneknya. "Maaf Akari-chan, nenekku bilang kedua ikan ini mee gantian munculnya, yang putih di malam hari dan yang hitam di siang hari."
"Meski begitu aku tidak akan menyerah, semagat Akari." Akari mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas, melihat tingkah Akari membuat Sayaka terkikik geli meski Akari itu lembut dan juga sedikit pemalu namun dia juga memiliki sisi jenaka nya yang sesekali keluar yang merubah suasana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akari menatap jarum jam dinding dengan gelisah, dia sudah benar-benar kehilangan kesabarannya menunggu waktu pulang yang rasanya sangat lama. Terlebih lagi saat ini dia sedang menghadiri kelas matematika yang sangat menyebalkan. Karena tidak melakukan apapun selain menatap jarum jam, pikiran Akari bergeriliya jauh mengingat pembicaraannya dengan Sayaka.
__ADS_1
Dirinya memang sudah menyukai Taki sudah sejak lama bahkan jika kau bertanya kepadanya sejak kapan maka dia tidak akan bisa menjawabnya. Semuanya berawal ketika Akari berusia enam tahun yang baru pindah ke rumah baru karena ayahnya yang pindah tugas. Karena Akari kecil yang memiliki penasaran yang sangat besar membuatnya menjelajahi desa barunya hingga akhirnya dia tersesat. Gelisah, takut dan sedih itulah perasaan Akari saat itu. Dia tidak tahu bagaimana cara pulang, yang dilakukan Akari adalah satu-satunya yang dia bisa 'menagis' dan di sanalah Taki datang dan menghantar Akari pulang. Pertemanan keduannya pun semakin erat semenjak itu, mereka selalu menghabiskan waktu bersama untuk bermain dan belajar, awalnya Akari sangat mengagumi Taki dengan sikap penyayang nya dan juga kepeduliannya, namun perasaan itu perlahan tumbuh menjadi mencintai.
"30 menit dan 23 detik." Akari sedikit tersentak kaget mendengar sebuah suara di sampingnya, di sana Akari menatap pria berambut pirang, pria itu menatap ponsel di tangannya sambil mengelengkan kepalanya dan menoleh ke arah Akari. "Ini rekor melamunmu yang paling tinggi." Akari hanya memutar matanya mendengar gurauan pria di depannya yang merupakan Taki Tachibana pria yang selalu di kagumi dan dicintainya.
"Kemana semua orang?" Tanya Akari akhirnya menyadari hanya mereka berdua yang berada di kelas. "Sudah pulang kau saja yang terlalu banyak melamun."
"Lalu kenapa kamu masih belum pulang?" Tanya Akari lagi sambil memasukan semua buku-bukunya kedalam tas. "Dan membiarkan kau pulang sendirian?" Akari menoleh menatap ke arah Taki yang juga menatapnya dengan tatapan serius. "Kupikir tidak, lagi pula ini adalah tugasku." Pada awalnya Akari merasakan lonjakan kebahagiaan mendengar ucapan Taki, namun pada akhir kalimat Taki perasaan itu menghilang secepat dia muncul.
Setelah selesai memasukan semua barangnya kedalam tas, Akari dan Taki pergi meninggalkan sekolah. Keduanya berjalan berdampingan, kepala Taki selalu menatap ke langit yang sudah mulai menggelap, dia memang sangat menyukai keindahan langit. Tidak jarang Akari melihat Taki termengung menatap ke langit, namun saat di tanya kenapa Taki selalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, namun Akari tahu bahwa senyuman itu palsu. Dia telah mengenal Taki sejak kecil, dan karena itu Akari dapat membedakan senyuman tulus dan palsu.
Mengabaikan Taki yang terus menatap ke langit Akari melihat di samping jalan terdapat sebuah toko hewan yang sering dikunjunginya. Mempercepat langkahnya Akari berhasil mendahului Taki dan segera masuk ke dalam toko. Taki hanya mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dilakukan Akari, dia menunggu beberapa saat hingga Akari akhirnya keluar dengan kantong hitam di tangannya. "Beli apa?" Taki bertanya kepada Akari yang langsung membuka kantong hitam di tangannya, di sana Taki dapat melihat kalau itu adalah makanan ikan.
"Kau punya peliharaan?" Taki bertanya lagi bingung, yang di tahunya Akari tidak memiliki hewan peliharaan. Akari hanya mengelengkan kepalanya pelan dan keduanya melanjutkan perjalanan mereka. "Aku membelinya untuk koi yang ada di halaman belakang sekolah, kasihan tidak ada yang menjaganya." Mendengar itu Taki tersenyum dan meletakan tangannya di atas kepala Akari sambil mengacak-acak rambut Akari sebuah kebiasaan yang selalu di lakukan oleh Taki semenjak mereka masih kecil.
Setelah sepuluh menit kemudian akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang memiliki gaya tradisonal ala Jepang, Akari beegeser dan menghadap ke arah Taki, dia menundukan kepalanya sedikit. "Terima kasih sudah mengantarku." Taki hanya tersenyum dan melambaikan tangannya tanda tidak perlu, dia memang payah dengan sesuatu yang berbau formal namun Akari sesekali melakukan hal ini karena dia sudah di ajarkan sejak kecil oleh ayahnya. "Ini sudah malam aku langsung pulang saja ya." Taki berbalik dan beranjak pergi, namun baru hanya satu langkah dirinya dan Akari dikejutkan dengan suara dari balik pintu. "Kenapa pulang terlambat?"
Taki berbalik dan melihat seorang pria paruh baya yang menatap tajam ke arahnya. "ah paman maaf, tadi aku kebagian tugas piket kelas jadi Akari juga harus menungguku selesai." Jelas Taki dengan kebohongan agar Akari tidak mendapatkan masalah dari ayahnya. "Kalau begitu aku langsung pulang paman." Ayah Akari mengangguk dan menerima kebohongan yang di berikan oleh Taki.
__ADS_1
Setelah masuk kedalam rumah Akari langsung menuju ke kamarnya, di sana dia meletakan makanan ikan di atas meja sambil mengulas senyuman di wajahnya. "Jadi besok hari pertama ya, aku tidak sabar menunggunya."