26 Hari

26 Hari
Hari ke-2: Bebas


__ADS_3

...Berbicara tentang kata bebas membuatku bertanya-tanya apa arti kata bebas itu yang sebenarnya dan apakah aku sudah memilikinya atau belum? Apakah bebas adalah suatu kata yang merujuk diriku yang bisa melakukan apapun dan kemanapun yang ku inginkan. Ataukah ada arti lain di balik kata ini, dan apakah kebebasan yang ku rasakan ini bukanlah arti bebas yang sesungguhnya....


...⚫26 Hari ⚫...


Akari mengerjapkan matanya pelan ketika sinar matahari menembus celah-celah jendela dan masuk ke indra pengelihatannya. Setelah mulai terbiasa dengan cahaya, mata Akari mulai terbuka dan dia segera bangkit berdiri untuk melakukan ritual paginya. Akari keluar dari kamarnya dengan seragam yang telah lengkap, dia melangkah menuju ke arah dapur dan melihat Kai sedang berkutat dengan masakannya di atas meja, karena memang hari ini Kai bertugas untuk membuat sarapan. Keluarga Akari memiliki giliran untuk membuat sarapan, seperti kemarin Hanabi yang bertugas kemudian hari ini tugas Kai untuk membuat sarapan. "Selamat pagi kakak." Sapa Akari dengan senyuman lembut di wajahnya.


Kai menaikan alis bingung melihat Akari mulai memotong sawi dan sosis. "Bukanlah hari ini giliranku untuk membuat sarapan." Tanpa menoleh ke arah Kai, Akari berjalan meninggalkan Kai dan pergi ke wastafel untuk membersihkan sawi yang baru saja di potongnya. "Hari ini Taki-kun ada ekstrakulikuler, dia tidak pernah membawa bento sendiri, ku pikir mungkin dia akan kelaparan setelah latihannya. Jadi aku mau membuatkan Taki-kun bekal." Kai hanya mengangguk kecil dan melanjutkan kembali memasak. "Kau benar-benar menyukainya ya?"


"Eh?"


"Semua orang dirumah ini sudah tahu, bahkan ku pikir ayah juga mengetahuinya." Wajah Akari memucat ketika memikirkan rahasia kecilnya sebenarnya sudah di ketahui oleh semua anggota keluarganya. Dia takut jika Taki tahu tentang perasaannya dari orang lain, entah bagaimana reaksi Taki ke padanya nanti adalah satu hal dari banyaknya pertanyaannya, namun ucapan Kakaknya yang selanjutnya sedikit mengurangi kekhawatirannya. "Tentu saja kita tahu kau ingin merahasiakan hal ini dari kami semua, jadi kami tidak akan membicarakan hal ini dengan orang lain."


"Terimakasih." Ucap Akari kepada kakaknya.


Setelah sarapan, Akari segera berangkat menuju ke sekolahnya dia menyapa orang-orang yang bertemu dengannya dalam perjalanan dengan senyuman. Saat tiba di persimpangan arah rumah Taki, Akari secara tidak sengaja bertemu dengan Taki yang juga sudah akan berangkat ke sekolah. "Selamat pagi Akari." Sapa Taki dengan riang dan berjalan berdampingan dengan Akari yang menjawab sapaannya dengan anggukan persetujuan.


"Apa kamu membuatkanku bekal lagi?" Taki bertanya dengan harapan Akari akan mengangguk, dia masih seminggu yang lalu Akari pernah mengatakan dia akan membuatkan makanan untuk Taki lagi minggu depan, dan itu adalah hari ini. Setelah melihat Akari mengangguk Taki tersenyum bahagia karena bisa merasakan masakan enak Akari, dia selalu berpikir siapapun yang menjadi suami Akari nanti pasti akan beruntung karena memiliki istri yang sangat pandai memasak seperti Akari.


"Mau di ambil sekarang?" Taki mengelengkan kepalanya ketika Akari akan meraih tasnya. "Nanti saja, oh ya apa kau akan pulang malam lagi hari ini?" Akari mengangguk, membuka tasnya dan memperlihatkan sekantong pelastik hitam. "Lihat aku sudah membawanya."


Namun Taki tidak hanya melihat bungkusan itu saja dia juga melihat sebuah buku berwarna merah di dalam tas Akari yang membuatnya teringat sesuatu, dia menghentikan langkahnya yang diikuti oleh Akari. Akari memiringkan sedikit kepalanya bingung dengan tingkah Taki yang tiba-tiba berhenti dan wajahnya memucat. "Aku ketinggalan buku PR ku." Akari mengangkat tangan kirinya sebatas perutnya, dia memperhatikan jarum arloji yang menunjukan masih ada waktu setengah jam sebelum pelajaran pertama di mulai. "Ku pikir masih sempat untuk pulang dan mengambilnya, terlebih lagi Taki-kun sangat cepat."


Tanpa menungu Akari mengatakannya dua kali, Taki mulai berlari dengan cepat untuk kembali ke rumahnya. Akari tersenyum kecil ketika melihat Taki hampir saja terjatuh saat akan berbelok di persimpangan. Mencoba mengabaikan Taki, Akari mulai melangkahkan kakinya menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah Akari sepertinya masih memiliki waktu beberapaenit sebelum pembelajaran dimulai, oleh karena itu dirinya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.


Setelah berada di dalam perpustakaan Akari melihat-lihat dengan teliti buku-bukunya yang tertata dengan rapi, matanya terpaku kepada sebuah buku berwarna hitam yang terlihat tua. Mengambil buku yang usang itu Akari mulai melangkah menuju ke meja, di sana Akari mendudukan dirinya di kursi dan mulai membaca judul buku di tangannya 'Yin dan Yang' pada awalnya Akari hendak mengembalikan buku itu, namun sesuatu di sampul buku itu menarik perhatiannyaa. Dia melihat sebuah lingkaran yang sempurna, lingkaran itu terbagi menjadi dua warna yaitu hitam dan putih, kemudian kedua warna itu membentuk sebuah pola yang menyerupai simbol koma yang begitu mirip dengan bentuk buah kalungnya.


"Magatama?" Akari berbicara sendiri sambil mengeluarkan kalungnya dan memperhatikan bentuk kalungnya kemudian ke bentuk gambar di buku. "Jika kalungku di satukan dengan gantungan kunci Taki-kun maka akan membentuk lingkaran ini." Akari bermonolog lagi mengingat kembali sesaat dirinya mendapatkan kalung magatama itu dari Taki, saat itu keduanya berusia delapan tahun dan Taki menemukan dua buah batu dengan pola magatama. Satu yang berwarna hitam Taki berikan kepada Akari dan dia menyimpan yang berwarna putih. Semakin tertarik dengan konsep Yin dan Yang ini, Akari memutuskan untuk membaca jauh lebih dalam lagi, namun sepertinya aktivitasnya ini harus terhenti oleh suara bel tanda masuk.


...⚫26 Hari ⚫...


"Menggambar itu merepotkan, tapi juga menyenangkan dalam satu sisi. Harus membentuk setiap detil kecil untuk menjadikannya lebih ekspresif, tapi ketika gambar atau lukisan yang kita buat telah jadi kita akan mendapatkan kepuasan dari hasil yang diperoleh dan itu adalah sisi menyenangkannya namun prosesnya yang merepotkan." Sayaka membentturkan kepalanya di atas meja cukup keras hingga membuat suara keras dan menarik perhatian seisi kelas.

__ADS_1


Akari hanya terkikik geli melihat kejenakaan sahabatnya, dia tahu Sayaka adalah orang sangat menghargai hasil ketimbang jalan untuk mendapatkan hasil itu sendiri. Pelajaran seni memang identik dengan menggambar atau semacamnya yang Akari tahu bukanlah suatu bidang yang dikuasai olehnya, namun tidak seperti Sayaka, dia selalu berusaha melakukan apapun agar dirinya bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukannya, mereka berdua sudah seperti kebalikan yang bersingungan namun keduannya bisa membuat perbedaan itu menjadi pelekat bagi persahabatan mereka.


Mengingat tentang perbedaan membuat Akari kembali mengingat lambang dari Yin Yang, lambang itu terdiri dari dua warna berbeda yang saling bertolak maknanya. Namun dengan perbedaan itu membuat sebuah keseimbangan, keseimbangan? Mungkin saja Yin Yang adalah sebuah keseimbangan yang...


Tingggggg


Lamunan Akari terputus ketika mendengar suara bel tanda pelajaran telah berakhir, semua siswa segera memasukan buku-buku mereka kedalam tas dan berlalu meninggalkan ruangan kelas Seni mungkin pergi ke kantin atau segera menuju ruang kelas pelajaran berikutnya.


Akari juga bangkit berdiri dan membuka tasnya untuk mengambil sebuah bento, Akari segera berlari mengejar Taki yang akan meninggalkan kelas tanpa ingat bentonya. "Taki-kun bentomu." Taki berbalik dan tersenyum kepada Akari, dia mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil bento yang dibalut dengan kain berwarna ungu mengunakan tangan kanannya, dan tangannya yang lain di letakannya di atas kepala Akari dan mengusapnya pelan. "Terimakasih Akari, kamu akan makan di mana?"


"Di halaman belakang sekolah." Jawab Akari dengan pasti, kemudian dia memiringkan kepalanya sedikit kesamping bingung mengapa Taki bertanya. "Kenapa?"


"Ah, tidak-tidak nanti aku kembalikan tempatnya ya." Taki berbalik dan mengejar teman-temannya yang telah lebih dahulu berjalan setelah menerima anggukan dari Akari.


"Oh jadi kau membawa dua bento untuk satu di berikan kepada Taki ya?" Akari sedikit terkejut ketika mendengar sebuah suara suram di belakangnya, dia berbalik dan melihat Sayaka yang menatapnya dengan pandangan terluka. "Kau bisa membuatkan Taki bento tapi kenapa aku tidak kau buatkan?"


Akari menelan ludahnya dengan gugup, bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Sayaka. "A-Aku t... tidak tahu Sa... Sayaka-chan mau juga." Akari memaksa kata-kata itu keluar dari mulutnya meski dengan gagap. Namun bukannya membuat Sayaka tenang, hal ini malah membuat Sayaka semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Akari, Akari mundur selangkah dan memejamkan matanya dengan erat bersiap untuk menerima ledakan Sayaka. Tapi bukannya kemarahan yang di dengar oleh Akari, itu adalah sebuah suara tawa keras dan melengking. Akari memberanikan dirinya untuk membuka matanya dan melihat Sayaka yang tertawa teebahak-bahak sambil memegang perutnya. Akari mengerjap pelan kebingungan dengan perubahan sikap Sayaka. "Aku hanya bercanda saja kok, ayo ke sana."


...⚫26 Hari⚫...


Setelah paduan suara kecil mengucapkan rasa syukur Akari dan Sayaka mulai makan bento milik mereka masing-masing, keduannya makan dengan tenang dan dengan kecepatan relatif pelan. Karena menurut Akari, makanan adalah suatu hal yang harus di hargai tidak setiap hari ataupun setiap orang dapat merasakan nikmatnya makanan seperti yang di lakukannya saat ini, oleh karena itu Sayaka dengan pelan menikmati setiap gigitan dan tekstur renyah bentonya.


Akari adalaah orang yang pertama menyelesaikan makanannya, sambil menunggu Sayaka Akari membuka tasnya dan mengambil buku berwarna hitam yang dipinjannya dari perpustakaan tadi pagi.


_________________________________________


"Yin-Yang atau Yin dan Yang adalah konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain. Konsep tersebut didasarkan pada asal muasal dari banyaknya cabang ilmu pengetahuan klasik dah filosofi Tionghoa serta dapat digunakan sebagai pedoman pengobatan Cina dan menjadi prinsip dari seni bela diri yang ada di Tiongkok, sebagai contoh Tai Chi dan Chi Kung.


Yin dan Yang saling berlawanan dalam interaksi dengan dunia yang lebih luas dan sebagai bagian dari sistem yang dinamis. Semua hal memiliki kedua aspek tersebut yakni Yin dan Yang, tetapi tidak setiap aspek tersebut memiliki perwujudan yang jelas pada objek dan mungkin pasang surut atau mengalir dari waktu ke waktu. Konsep Yin dan Yang sering dilambangkan dengan berbagai bentuk yang bervariasi dari simbol taijitu, yang mana lebih umum dikenal pada kebudayaan barat.


Ada beberapa persepsi (terutama di barat) yang mengatakan bahwa Yin dan Yang selalu dihubungkan dengan sesuatu yang baik dan jahat. Namun, filsafat Taoist biasanya tidak memperhitungkan sesuatu yang baik atau jahat dan penilaian moral, dalam kaitannya dengan konsep keseimbangan. konfusianisme tidak melampirkan dimensi moral dari Yin dan Yang. Tapi dalam istilah modern, istilah ini sebagian besar telah teradaptasi oleh filosofi Budha Taosit.

__ADS_1


_________________________________________


Akari begitu tenggelam dalam bacaannya hingga dirinya tidak menyadari Sayaka telah memanggil namanya berulang kali. Merasa kesal Sayaka merebut buku di tangan Akari membuat Akari kaget dan langsung menatap langsung ke mata Sayaka. "Bel sudah berbunyi, kita harus kembali ke kelas secepatnya." Ucap Sayaka menjawab kebingungan di mata Akari.


Akari berdiri setelah memasukan kembali kotak bentonya kedalam tasnya, dia berjalan di samping kiri Sayaka yang sibuk memainkan ponselnya yang katanya ada pesan dari pacarnya. Dalam perjalanan menuju ke kelas Akari sempat mendengar pertengkaran antara Taki dan sebuah suara yang dikenalinya adalah seseorang pria bernama Arashi, terdengar Arashi yang marah kepada Taki karena dia tidak mau memberi bento yang diberikan Akari kepadanya. Wajah Akari memerah padam ketika mendengar Taki yang mengatakan tidak akan membagikan apapun yang diberikan Akari kepadanya, dan terlebih lagi bento lezat dari Akari, dia tidak mendapatkannya setiap hari jadi dia tidak akan memberikan hal seperti itu kepada siapapun.


Akari berpikir-pikir jika Taki sangat menikmati bento yang diberikannya, bagaimana jika dirinya membuatkan Taki bento setiap hari. Tapi sepertinya itu akan sulit untuk meminta izin kepada ayahnya untuk membuatkan Taki bento setiap hari, lagipula seperti yang dikatakan oleh Taki itu adalah bento istimewa darinya, jika bento itu dibuatkan setiap hari mungkin saja keistimewaannya akan menghilang. Mungkin pilihan yang terbaik adalah membuatkan Taki setiap dua minggu sekali saja, seperti jam pelajaran olahraga pada hari senin dan ketika ada ekstrakulikuler biasanya sih hari rabu seperti sekarang ini. Dan lagi pikiran Akari teraesat lagi hingga dia tidak menyadari telah melewati pintu kelasnya, Sayaka hanya mengelengkan kepalanya melihat sikap Akari yang tidak akan pernah berubah.


...⚫26 Hari⚫...


Dengan lampu penerangan kecil di atas kolam, Akari duduk di kursi terpaku dengan buku yang ada di tangannya. Sesekali wajahnya mengeras kemudian alisnya terangkat ketika mencoba memahami makna kalimat yang sulit di artikan olehnya. Sekarang telah lewat pukul tujuh, Sayaka telah pulang setidaknya setengah jam yang lalu dia benar-benar membenci peraturann ayahnya yang membatasi jam malamnya namun dia juga tahu ayahnya melakukan itu untuk membuatnya tetap aman. Sedangkan Taki dia baru saja mengabari Akari lewat chat, dia mengatakan mungkin akan sedikit terlambat untuk menyusul Akari ke kolam karena dirinya sebagai ketua klub lari harus melakukan beberapa pendataan barang-barang yang digunakan selama kegiatan.


Akari bergerak dengan gelisah dan menoleh kebelakang untuk melihat apakah Taki sudah datang atau belum, namun yang dilihatnya hanyalah kegelapan malam. Menghela nafas kecil Akari kembali melanjutkan bacaannya.


_________________________________________


"Yin adalah sisi hitam dengan titik putih pada bagian atasnya dan Yang adalah sisi putih dengan titik hitam pada bagian atasnya. Hubungan antara Yin dan Yang sering digambarkan dengan bentuk sinar matahari yang berada di atas gunung dan di lembah. Yin (secara harafiah yaitu tempat yang teduh) adalah daerah gelap yang merupakan bayangan dari gunung, sementara Yang (secara harafiah yaitu tempat yang terang atau cerah) adalah bagian yang tidak terhalang oleh gunung. Saat matahari bergerak, Yin dan Yang secara bertahap bertukar tempat satu sama lain, mengungkapkan apa yang tidak jelas dan menyembunyikan yang sudah terungkap. Yin ditandai dengan sesuatu yang lambat, lembut, menghasilkan, menyebar, dingin, basah, dan pasif. Berhubungan dengan air, bumi, bulan, feminitas dan malam hari. Yang sebaliknya ditandai dengan cepat, keras, padat, fokus, panas, kering, dan agresif. Berhubungan dengan api, langit, matahari, maskulinitas dan siang hari.


" Yin-Yang? Bacaan yang menarik." Akari tersentak kaget mendengar suara tepat di sampingnya, di sana dia melihat Taki yang duduk di kursi tepat di sampingnya, lehernya sedikit memanjang untuk melihat isi buku Akari. "Sejak kapan Taki-kun ada di sana?" Akari bertanya bingung sejak kapan Taki ada di sana bahkan dirinya tidak menyadarinya.


Taki menaikan salah satu alisnya mendengar pertanyaan Akari, kemudian dirinya teringat dengan kebiasaan melamun Akari saat sedang membaca. "Kau tidak menyadarinya karena kau terlalu sibuk dengan bacaanmu, lagipula kau tidak bisa bebas jauh dariku."


"Aku tidak bebas ya?" Akari bermonolog sendiri, mengingat kata-kata yang sebelumnya pernah dipikirkan olehnya tentang kebebasan. "Menurutmu apa itu bebas?"


"Eh?"


"Coba lihat ikan kecil itu, apa menurutmu dia merasakan bebas berada di dalam kolam itu?" Akari mengarahkan tatapan nya ke arah kolam yang jika diperhatikan nya itu terlihat kecil. "Sepertinya tidak, dia seharusnya bisa berenang dengan bebas di sungai bukan di kolam kecil ini."


"Tapi baginya dia telah mendapatkan kebebasan di sana, dia bisa berenang dan bermain semaunya tanpa ada ketakutan kepada predator di alam liar." Akari memperhatikan raut wajah Taki yang begitu fokus dalam menuturkan perumpamaan nya, raut wajah ini begitu berbeda dengan Taki yang selalu nakal dan periang yang kekanakan dari yang diketahui oleh Akari. Akari tersenyum lembut, melihat Taki-nya kini telah merangkak menuju kedewasaan.


"Kebebasan itu dilihat dari sisi mana kamu memandangnya, karena akan ada hal baik dan buruk, positif dan negatif, cahaya dan gelap semuannya di dunia ini diciptakan saling berpasangan sama halnya dengan manusia yang memiliki dua jenis kelamin sama halnya dengan berbagai hal lain di dunia ini diciptakan dengan mempertimbangkan yang satu dengan yang lainnya. Dan ini adalah perinsip dari Yin Yang." Akari mendengar penuturan Taki dengan terpesona di wajahnya, dia tidak menyangka Taki ternyata telah berubah sejauh ini.

__ADS_1


"Taki-kun ternyata banyak tahu juga tentang Yin Yang." Taki menoleh ke arah Akari sambil menyeringgai malu dengan pujian Akari, dia mengangkat tangannya ke atas kepala Akari dan perlahan membelai nya dengan lembut. "Sudah malam ayo pulang." Akari tersenyum mengangguk dan keduannya mulai bangkit berdiri dari kursi dan mulai meninggalkan kolam.


Di perjalanan Akari tidak bisa menahan senyuman di wajahnya mengingat hari kedua yang dijalaninya hari ini, dia bertanya-tanya apakah di hari ketiga nanti koi hitam dan putih akan keluar bersama, tapi yang jauh lebih penting lagi apakah di hari ketiga nanti dirinya akan semakin dekat dengan Taki. Apapun yang akan terjadi keesokan harinya Akari sudah tidak sabar untuk besok.


__ADS_2