
...Embun adalah titikan-titikan air sisa penguapan air yang membentuk kabut yang akhirnya masanya bertambah dan membuatnya terjatuh di tanah dengan bentuk cair, kadang mereka juga menetes di dedaunan hijau. Ketika daun itu terkena cahaya matahari akan menghasilkan sinar yang begitu indah....
...⚫26 Hari⚫...
"Jadi yang dikatakan Taki-kun memang benar ya?" Akari merenung memandang dedaunan hijau yang terlihat mengkilap terkena sinar matahari, dia saat ini sedang duduk di kursi plastik berwarna hijau berhadapan langsung dengan jendela kamarnya yang menampilkan daun darii pohon di depan rumahnya. Ajari begitu terllarutt memandang embun yang menempel di daun tanpa menyadari bahwa sudah sejam dirinya berada di sana.
Setelah merasa puas memandang embun Akari bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, setelah menuruni tangga Akari langsung menuju ke dapur untuk membuat sarapan mengantikan tugas Hanabi yang sebelumnya juga menggantikannya saat Akari demam.
"Selamat pagi, hommmm" Hanabi melangkah masuk ke dapur sambil mengosok matanya lembut, dia berjalan ke arah kamar mandi dan beberapa menit kemudian dia keluar dengan kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. "Mau ku bantu?" Hanabi bertanya penuh harap ketika dirinya telah berdiri di samping Akari yang sibuk membalik telur dari wajan. "Tidak perlu, hampir selesai kok." Hanabi hanya mengerucutkan bibirnya dan berlalu meninggalkan Akari pergi ke sisi lain dapur. "Apa kakak sudah sembuh?" Hanabi bertanya setelah menegut air dari gelas kaca.
Akari mengangguk antusias tanpa mengalihkan perhatiannya dari masakannya. "Kurasa begitu."
Setelah menyelesaikan membuat sarapan Akari memasukan beberapa bola nasi, sayuran dan telur gulung kedalam mangkuk kemudian menutupnya dengan rapat. Tindakannya ini menarik perhatian untuk Hanabi yang penasaran dengan tindakan kakaknya. "Kenapa kakak membuat bekal? Bukankah hari ini hari sabtu?"
"Akari mau pergi ke sekolah untuk mengembalikan buku yanng dipinjam kemarin."
"Apa perpustakaan tetap buka di hari libur ya?" Akari mengangguk menjawab pertanyaan Hanabi, dia melangkahkan kakinya bersiap meninggalkan rumah namun sekalii lagi Hanabi berlari mendahuuluinya dan menghadangnya dengan merenntangkan kedua tangannya di depan pintu. "Tunggu sebentar." Hanabi berlari meninggalkan Akari yang kebingungan. Setelah beberapa menit kemudian Hanabi muncul dengan membawakan jaket tebal di tangannya. "Sebentar lagi musim dingin akan datang, lebih baik one-chan (Kakak) memakainya takut kedingiinan nanti, terlebih lagi one-chan baru saja sembuh dari demam." Akari tersenyum senang melihat kepedulian adiknya.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah." Ucap Akari sambil mengambil jaket yang diberikan adiknya lalu memasangnya.
"Akari! Akari! Kamu ada di rumah?"
'Taki-kun? Tapi mengapa dia datang sepagi ini kesini? Apa ada perlu ya?' Akari benar-benar kebingungan mengapa Taki datang kerumahnya sepagi ini dan terlebih lagi sekarang adalah hari libur, baru saja dia hendak keluar suara teriakan amarah dari ayahnya telah menggelggar di dalam rumah.
"Siapa sih yang ribut-ribut begini di rumah orang." Ayah Akari membuka pintu rumahnya dengan keras sehingga menimbulkan suara yang sangat keras. Namun hal ini tentu saja tidak membuat Taki merasa takut dengan tindakan ayahnya Akari yang memang sudah seperti ini sifatnya. "Om Akari-nya ada?"
"Tidak ada." Ayahnya Akari langsung menjawab pertanyaan Taki dengan berbohong, matanya yang sedikit melotot itu sedikit membuat Taki takut. "Masak?" Tanya Taki dengan nada tidak percaya.
"Baiklah." Ucap Taki dan bergegas masuk ke rumah Akari, tapi sekali lagi Ayahnya Akari menghadangnya dengan memblokir pintu menggunakan tangannya. "Kamu benar-benar tidak sopan, seenaknya saja masuk ke rumah orang tanpa ijin."
"Loh tadi-kan om yang bilang cari Akari sendiri, om lupa ya?" Ayahnya Akari berkedip beberapa kali mendengar ucapan Taki, dia bertanya-tanya mengapa dirinya biasa mengatakan hal seperti itu. Sepertinya pekerjaannya yang sangat melelahkan itu membuatnya sedikit linglung dan membutuhkan istirahat. "Akari-nya tidak ada." Sekali lagi Ayahnya Akari berbohong, namun kebohongannya ini tidak dapat diperpanjang lagi karena orang yang di bicarakan muncul di belakangnya. "Ada apa ribut-ribut begini?"
...⚫26 Hari⚫...
"Sepertinya ayahmu benar-benar membenciku ya?" Taki cemberut sambil menendang kerikil di jalan yang mengenai tong sampah di pinggir jalan. "Tidak seperti itu kok, ayah hanya khawatir aja." Akari berusaha membantah ucapan Taki dengan melambaikan kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
"Tapi dia selalu saja menatapku seperti itu." Ucap Taki lagi tanpa mengalihkan perhatiannya dari kerikil-kerikil kecil yang tergeletak begitu saja di atas aspal.
"Tapi sifat ayah kan memang seperti itu." Taki akhirnya mendapatkan sedikit kepercayaan dirinya setelah mendengar ucapan Akari, dia melipat kedua tangannya dan kemudian di letakan di belakang kepalanya sambil tersenyum. "Sepertinya begitu, oh ya kemarin aku benar kan akan turun hujan." Akari mengangguk membenarkan ucapan Taki tentang ramalan cuacanya yang tidak pernah meleset. "Dan sekarang juga embunnya masih terlihat."
"Yah mereka sangat cantik."
"Kau tahu, kemarin saat Akari pingsan aku bertemu dengan Kimi-chan. Bagaimana menurutmu bukankah dia sangat cantik?" Akari tiba-tiba menghentikan langkah kakinya kaget mendengar ucapan Taki, Taki yang sudah berjalan mendahului Akari berbalik dan menatap wajah Akari yang seperti sedang kerasukan. "Ada apa Akari?"
Akari mengelengkan kepalanya pelan menjawab ucapan Taki, dia tidak mungkin mengatakan kepada Taki kalau dia merasakan sakit di hatinya ketika mendengar ucapan Taki. Dia berjalan lebih cepat dari sebelumnya meninggalkan Taki yang kebingungan dengan tingkah Akari.
Sesampainya di sekolah Akari langsung menuju ke kolam ikan koi, di sana dia menduduakn dirinya di bangku taman. Suasana yang begitu sepi itu membuat perasaan sedih Akari semakin besar, dia ingin mengungkapkan semua keluh kesahnya namun harus kepada siapa dia mengadu sekarang? Akari tidak tahu jawabannya.
"Apa Akari lebih baik menyerah saja ya?" Akari menarik lututnya untul lebih dekat lagi ke dadanya, dia meletakan dagunya di atas lutut sambil memandang ke arah kolam ikan koi.
Setelah perasaannya mulai sedikit tenang Akari membuka kotak bekalnya dan melahap makanannya. Waktu terasa begitu cepat berlalu bagi Akari, dia sebelumnya telah pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku pinjamannya sekaligus untuk membaca buku-buku baru yang menarik minaatnya. Dan sekarang matahari telah mulai terbenam yang membuat suasana malam menjadi semakin dingin, salju juga perlahan mmulai turun di malam yang gelap tidak menunjukan bulan ataupun bintang. Akari tetap menunggu, menunggu kedatangan Taki yang mungkin akan muncul dan pulang bersamanya lagi. Tapi Sekarang waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, tidak mungkin bagi Akari untuk menunggu lebih lama lagi. Mengingat tentang Taki, Akari bertanya-tanya mengapa Taki pergi kesekolah hati ini dan lagi mengapa Taki datang kerumahnya? Meski Taki mengatakan kalau dia memiliki urusan di sekolah dan tahu kalau dirinya ada keperluan juga di sekolah Taki memutuskan untuk pergi ke sekolah bersama agar lebih menyenangkan dari pada sendirian.
Memutuskan untuk pulang, Akari berdiri dan membersihkan barang-barangnya dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke rumah. Akari bertanya-tanya apa yang akan terjadi besok? Apakah kejadian ini nantinya akan membuat Taki perlahan menjauh darinya. Firasat Akari benar-benar buruk untuk saat ini.
__ADS_1