
...Demam mungkin adalah suatu hal yang biasa untuk di alami oleh semua orang, biasanya ini disebabkan oleh perubahan cuaca atau terkena hujan. Demam sendiri sagat di benci oleh Akari, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dan harus selalu merasakan perasaan yang tidak nyaman di tubuhnya....
...⚫26 Hari⚫...
Akari perlahan membuka matanya ketika cahaya matahari mulai masuk ke celah-celah kamarnya, dia merasakan kepalanya sangat sakit dan tubuhnya sangat lemah. Mencoba untuk bangun Akari malah terjatuh kembali ke kasurnya namun dia tetap memaksakan kakinya untuk melangkah meski dengan gemetar. Dengan susah payah Akari melangkah ke dapur dan menuju ke lemari es untuk mengambil bahan masakan. Ketika lemari es dibuka tubuh Akari mengigil kedinginan saat udara dingin lemari es bersentuhan dengan kulitnya. Dia dengan cepat mengambil beberapa sayuran, sosis dan telur yang di bawanya di atas meja.
Mengambil panci dan mengisinya dengan air Akari melangkah dengan pelan, meletakan panci di atas tungku kompor, kemudian dia meninggalkan kompor setelah menyalakan apinya. Akari kembali ke atas meja, dia mulai memotong-motong sayuran dan sosis kemudian mencucinya di atas wastafel.
Akari melirik ke arah wajan berisi air yang dia masak, tapi sepertinya air yang di masaknya masih belum mendidih. Jadi dia memutuskan beristirahat sebentar, dia mendudukan dirinya sambil memijit kepalanya yang terasa sangat berat. Akati tidak pernah menyangka dirinya akan demam hanya karena terkena hujan kemarin. Merasa kepalanya semakin sakit dan tubuhnya juga mulai lelah Akari memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar selagi menunggu air yang di masaknya mendidih, namun karena kantuk yang mulai menganggunya Akari tanpa disadarinya malah tertidur.
"Hwaaaaaaaaaa, wajannya gosong." Hanabi berteriak kaget ketika dia melihat asap mengepul dari wajan yang sudah mulai menghitam, dia langsung berlari ke arah kompor untuk memastikan api kompor. Hanabi mengerutu pelan melihat wajan yang masih baru dibeli harus gosong secepat ini, kemudian dia mulai mencari siapa orang yang bertanggung jawab atas hal ini.
Mata Hanabi berrkedut kesal ketika melihat kakaknya yang malah terlelap tidur di kursi. Dia mendekat untuk memarahi kakaknya namun setelah melihat wajah kakaknya yang memerah Hanabi langsung khawatir, dia dengan cepat menempelkan tangannya di kening kakanya dan kaget ketika merasakan kening kakaknya sangat panas. Dia segera berlari naik kembali ke tangga untuk memanggil ayahnya dan Kai.
Terdengar suara hentakan kaki yang saling bersahutan membuat tidur Akari terganggu, dia perlahan membuka matanya kemudian teringat dia sedang memasak air, Akari segera menoleh ke kompor dan melihat wajannya sudah gosong. Dia ingin segera berlari kesana namun tubuhnya tidak menyetujui keinginannya ini.
"Kalau demam sebaliknya kau tidak memasak." Akari menoleh ke sampingnya dan melihat semua anggota keluarganya menatapnya, Akari menunduk menyesalo perbuatannya. "Maafkan Akari ayah." ayahnya hanya mengangguk kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Hanabi yang berdiri di sampingnya. "Hanabi apa kamu bisa mengantikan tugas kakakmu hari ini?" Hanabi mengangguk patuh dan mulai berjalan ke arah kompor untuk mengambil wajan yang telah gosong. "Sebaiknya kamu segera minum obat dan juga ayah akan memberitahu gurumu kalau kamu tidak bisa bersekolah hari ini."
Akari segera mendongkak mendengar ucapan ayahnya. ''Tidak perlu Ayah, Akari pasti akan sembuh setelah minum obat." Ayahnya menatap Akari dengan pandangan menuntut tidak ingin ucapannya di bantah. "Bagaimana jika terjadi sesuatu nanti di sekolah."
Akari menundukan kepalanya dengan sedih, dia harus memberi makan ikan koi di sana atu tidak pertaruhan dengan peruntungan-nya akan batal. Ayah Akari adalah orang yang keras namun melihat anaknya yang terlihat sedih seperti itu membuat dirinya merasa bersalah. Dia sangat tahu Akari memiliki sifat yang tidak mau mengalah yang diturunkan dari sifatnya sendiri, benar yang dikatakan orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. "Baiklah, tapi setidaknya ayah akan menelpon Taki dan memintanya untuk menjagamu."
__ADS_1
"Tidak ku mohon jangan Ayah, Akari tidak apa-apa kok, jangan membuat Taki-kun keerepotan." Dan sekali lagi Akari membantah ucapan ayahnya, ayahnya hanya mengeleng pelan sambil berlalu meninggalkan Akari. Tidak lama setelah kepergian Ayahnya, Kai datang dengan membawakan segelas air dan sebutir obat. Setelah mengucapkan terimakasih Akari meminum obat yang di berikan oleh kakaknya. "Apa perlu di antar saja, kakak takut Akari merasakan pusing di jalan, itu bisa bahaya."
"Tidak apa-apa, Akari udah sehat kok." Kai meski tidak percaya dengan ucapan Akari namun dia tetap mengangguk pelan sambil bangkit berdiri dan meninggalkan Akari untuk membantu Hanabi memasak.
...⚫26 Hari ⚫...
Akari berjalan dengan lambat, matanya terasa sangat berat untuk di buka dia sangat membenci keadaannya ini, di dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah Taki juga terkena demam karena dia juga bersamanya main air hujan kemarin. "Selamat pagi Akari." Taki tiba-tiba muncul dari belakangnya mengejutkan Akari, ekspresi ceria Taki berubahenjadi kekhawatiran katika dia melihat wajah Akari yang sedikit merah. Dia menempelkan punggung tangannya di dahi Akari. "Seharusnya kau tidak perlu ke sekolah jika demam."
Akari tidak menggubris ucapan Taki, dia malah memperhatikan keadaan Taki yang sepertinya baik-baik saja berbeda dengannya. "T-taki-kun tidak demam?" Taki mengangkat salah satu alisnya kaget dan bingung dengan pertanyaan Akari. "Maksudnya?"
"Kemarin Taki-kun juga main hujan bersama Akari, tapi hanya Akari saja yang demam." Taki tersenyum kecil ketika mendengarkan penjelasan Akari, dia meletakan tangan kanannya ke atas kepala Akari dan mengacak-acak rambut Akari. "Tentu saja benda Akari, imun laki-laki dan perempuan itu berbeda tahu, Laki-laki biasanya jauh lebih kuat dengan anak perempuan." Akari mengangguk mengerti, namun sebelum dirinya berbicara lagi dia merasakan kepalanya semakin pusing pengelihatannya serasa berputar dan akhirnya mengelap.
Taki yang melihat Akari semakin linglunh dengan cepat meengambut tumbuh Akari sebelum membentur tanah, dia berusaha memanggil Akari dan mencubit pipinya untuk menyadarkan Akari namun sepertinya semua usahanya tidak berguna. Sempat terpikir oleh Taki untuk mengandung Akari dan membawanya pulang ke rumah, tapi rumah Akari terlalu jauh dari sini dan sekolah sudah tidak terlalu jauh lagi. Mengambil keputusan Taki mengangkat Akari di depan dadanya dan perlahan mulai berlari menuju ke sekolah. Tubuh Akari terasa begitu ringan bagi Taki hingga dia bisa berlari dengan cepat ke sekolah, setibanya di sekolah Taki langsung menuju ke ruang kesehatan. Tindakannya ini menarik beberapa pasang mata yang penasaran dan juga khawatir dengan keadaan Akari, banyak para siswa dan siswi mengikuti Taki dari belakang.
"Dia demam tinggi suhu tubuhnya sangat panas, aku sudah memintanya untuk tidak sekolah hari ini, tapi bukan Akari namanya jika tidak keras kepala." Gadis iitu terkik geli melihat Taki yang merunggut mengoocsh tentang kebodohan Akari atau semacamnya. "Tidak perlu khawatir Taki-kun, Tano-san akan baik-baik saja jika dia istirahat sebentar."
Taki menghela nafas lega mendengar ucapan gadis cantik di depannya ini. "Terima kasih Nishimiya-san." Gadis itu mengangguk sambil tersenyum kepada Taki. "Panggil saja aku dengan nama kecilku."
"Baiklah Kimi-san." Ucap Taki tapi gadis di depannya hanya memutar bola matanya bosan dengan panggilan formal Taki. "Aku tidak setua itu tahu." Taki menghela nafas pelan memandang Kimi. "Baiklah Kimi-chan."
"Nah itu baru benar." Ucap Kimi dia berbalik meninggalkan Taki ketika teman-temannya telah selesai merawat Akari dan mulai meninggalkan ruangan Akari. Kimi melambaikan tangannya dengan riang saat dia akan menghilang di balik pintu. "Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? sudahlah semua gadis memang merepotkan."
__ADS_1
...⚫26 Hari⚫...
Akari mulai membuka matanya perlahan, dia merasakan sesuatu yang basah menempel di keningnya mengangkat tangannya Akari menyentuh keningnya dan menemukan kain menempel di keningnya dan menyadari bahwa itu adalah kompres yang digunakan untuk meringankan panas kepalanya. Dia bingungengapa dirinya ada di sini, yang dia tahu dia baru saja dalam perjalanan ke sekolah bersama Taki daan selanjutnya dia tidak mengingat apapun.
Akari melirik ke kiri dan menemukan Taki tertidur di atas kasur yang berbeda dengannya namun masih berada di ruangan yang sama, Akari berkesimpulan Taki yang membawanya ke ruang kesehatan saat dia kehilangan kesadaran. Wajah Akari tiba-tiba memerah namun kali ini bukan karena demamnya, dia memerah ketika memikirkan Taki msnggendongnya hingga ke sini.
Mata Akari tertuju ke arah peegelangan tangan kirinya dimana dia memasang jam tangan kecil berwarna pink. "Sudah hampir waktunya pulang, aku terlambat memberi makan ikan koi." Melirik lagi ke kiri Akari melihat Taki masih tertidur pulas, dia tidak memiliki niatan untuk mengganggu tidur Taki, karena itu Akari memaksakan dirinya untuk duduk namun sepertinya kepalanya sudah tidak pusing lagi, tubuhnya juga terasa lebih ringan untuk digerakan. "Sepertinya aku sudah sembuh." Akari bangkit berdiri mengambil tasnya di atas meja dan berjalan dengan pelan meninggalkan ruang kesehatan agar tidak membuat keributan yang nantinya akan membangunkan Taki.
Tidak lama setelah Akari meninggalkan Taki tidur sendirian di ruang kesehatan, pintu berderit terbuka dan memperlihatkan Sayaka memasuki ruangan tempat Taki tidur. Namun Sayaka hanya menemukan Taki saja yang berbaring di atas kasur.
"Heyyy Taki dimana Akari?" Taki yang kaget langsung bangun dari tidurnya, dia langsung melirik ke arah kasur Akari dan tidak mendapati Akari di sana. "Mungkin di di kolam." Taki langsung berlari secepat mungkin meninggalkan Sayaka yang jauh tertinggal di belakangnya.
"AKARI!" Taki memanggil Akari yang berjongkok di depan kolam, dia tersentak kaget dan berbalik menatap Taki yang terlihat khawatir dan ketakutan. "Ada apa Ta..."
"MENGAPA KAMU MALAH KELAYAPAN SENDIRI SAAT KAMU MASIH SAKIT HAH...?" Taki berteriak marah kepada Akari yang dalam kondisi sakit dia malah berpergian sendiri seperti ini, Taki sangat ketakutan jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Akari. Mendengar ledakan Taki mata Akari membulat kaget, dia menundukan kepalanya penuh penyesalan telah membuat Taki khawatir seperti itu. Selama yang pernah dikenal oleh Akari, Taki tidak pernah membentak nya seperti ini.
Akari mendengar helaan nafas panjang Taki yang kemudian berjongkok di sampingnya. "Sebenarnya apa yang membuatmu begitu tertarik dengan kolam ini, kemarin Akari bahkan sampai kehujanan dan sakit karena berada di sini kan? Dan sekarang ku tebak Akari pasti nekat datang ke sekolah karena kolam ikan ini, apa aku benar? " Akari tetap menundukan kepalanya, dia masih belum siap untuk melihat Taki untuk saat ini. Dia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Taki, keduanya terdiam dengan nyaman menikmati suasana sore hari yang membawa seminar angin lembut karena ini sudah bulan November dan sebentar lagi akan turun salju.
"Akari kamu kemana saja? Kita sangat khawatir kepadamu tahu."
"Sudah sore kita pulang saja ya, tidak baik jika orang sakit keluar malam-malam."
__ADS_1
"Hey apa kalian mendengarku?" Akari mengangguk antusias sambil berdiri dan berjalan beriringan dengan Taki tanpa mengabaikan suara teriakan Sayaka. Setelah Akari dan Taki meninggalkan area sekolah suara teriakan Sayaka perlahan mulai tidak terdengar lagi. ''Sepertinya besok pagi embun akan muncul."
"Embun?" Taki menoleh ke arah Akari yang menatapnya dengan bingung. "Yah embun itu sanggat indah, mereka memancarkan sinar matahari di pagi hari mereka bercahaya dengan anggun menempel di dedaunan." Akari sekarang sangat tertarik untuk melihat sendiri embun yang dikatakan oleh Taki besok pagi, dan dia sangat yakin kalau apa yang dikatakan oleh Taki itu benar karena tidak sekalipun Taki salah dalam penalarannya tentang cuaca. Taki dari kecil sangat tertarik dengan alam dia bahkan belajar meramalkan cuaca, mungkin itulah penyebab setiap malam Akari melihat Taki selalu tersenyum dan menegadah melihat bintang-bintang.