26 Hari

26 Hari
Hari ke-3: Cahaya


__ADS_3

...Akari, nama itu sebenarnya berasal dari kata Hikari yang berarti cahaya. Keluargaku memberikan nama itu dengan harapan diriku menjadi cahaya yang terang dan memberikan kehangatan untuk semua orang di sekitarku, namun kenyataannya dialah yang menjadi cahaya ku, penuntun setiap langkahku, arah masa depan kebahagiaanku yang selalu ingin ku gapai. Namun cahaya bukanlah wujud benda bermassa, dia adalah sebuah susunan dari berbagai gelombang yang secara fisika tidak bisa si pegang atau di sentuh. Cahaya juga sangatlah cepat bahkan kecepatannya banyak dikatakan sebagai suatu hal yang tercepat di alam semesta. Hal ini tentu saja sama dengan cahaya ku, dia sangat cepat dalam arti harfiah, dia dikatakan sebagai seorang pelari tercepat di sekolah yang sekarang di angkat menjadi ketua klub lari....


...⚫26 Hari⚫...


"Kakak bangun!" Hanabi bertariak kencang sambil mengedor pintu kamar Akari, namun dia tidak mendapatkan jawaban dari kakaknya. Memutuskan untuk masuk, Hanabi memutar kenop pintu dan mengintip ke dalam tapi di dalam kamar, kakaknya sudah bangun dan sedang sibuk membalik halaman bukunya tanpa memperhatikan adiknya yang telah masuk ke kamarnya.


"Kakak ayo turun sarapan!" Setelah adiknya memanggil lagi barulah Akari menoleh ke arah adiknya yang menyandarkan kepalanya di pintu. "Baiklah, baiklah aku datang." Kemudian keduannya muali berjalan menuruni tangga untuk menuju kke ruang makan, di sana sudah ada ayahnya yang sedang menata meja dengan makanan dan Kai yang juga baru keluar dari kamar.


Setelah selesai sarapan, Akari segera memakai seragamnya dan mulai berangkat kesekolah. Melihat ke langit Akari tersenyum lembut ketika cahaya matahari menerpa wajahnya hembusan angin pula ikut memainkan peran dengan menerbangkan helaian rambutnya. "Dilihat dari arah angin dan cuaca yang panas di pagi hari begini, kemungkinan besar sore nanti akan hujan. Sebaiknya kau membawa payung jika benar hujan."


Akari menoleh ke kiri dan melihat Taki yang sedang menatap langit. Entah bagaimana caranya Taki bisa mengetahui hal seperti ini namun Akari selalu dapat mempercayai Taki dengan ramalan cuacanya karena tidak pernah meleset sekalipun semenjak dirinya mengenal Taki. "Tapi aku tidak bisa kembali ke rumah, jika ku lakukan mungkin saja akan terlambat."


"Tidak perlu dikhawatirkan, aku membawa payung untuk kita berdua nanti." Akari tersenyum senang ketika mendengar ucapan Taki, "Syukurlah" Tuturnya.


"Sepertinya nanti malam aku tidak bisa menemanimu pulang, aku diberikan shift jaga dari pukul tujuh malam nanti. Tapi jangan khawatir tentang hujan, aku akan meminjamian payung ku padamu." Akari sedih mendengar ucapan Taki yang tidak bisa menemaninya hari ini, padahal dia sangat ingin Taki menemaninya dan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Namun Akari mengerti dia tidak boleh egois, Taki juga harus bekerja untuk membiayai dirinya sendiri. Sambil tersenyum Akari menoleh ke arah Taki. "Taki-kun bekerja saja, Akari bisa kok jaga diri. Jadi tidak perlu khawatir ya."


Taki hanya mengangguk setuju namun dia juga sangat menyesal tidak bisa menjaga Akari malam ini. Meski Akari meyakinnkannya mengatakan dia bisa menjaga diri tapi tetap saja Taki khawatir, Taki tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Akari jika dia pulang sendirian di malam hari. "Tapi tetap saja, sebaiknya Akari tidak pulang terlalu larut malam ini."


Taki mendesah kesal melihat Akari tidak menanggapi ucapannya yang artinya Akari tidak mau mendengar ucapannya. "Sebenarnya apa sih yang terjadi jika kau tidak memberi makan ikan itu satu hari saja? Bukannya dia akan mati atau bagaimana kan? Sebenarnya ada apa di sana hingga kau ingin di sana setiap hari? Apa kau melakukan ritual atau mungkin mengetahui mitos yang ingin kau buktikan kebenarannya."

__ADS_1


Mata Akari sedikit melotot kaget mendengar ucapan Taki, dia tidak ingin Taki sampai tahu kalau dirinya mempercayai mitos itu, dan bagaimana jika Taki tahu tentang perasaannya kepadanya. Apa mungkin itu akan membuat persahabatan mereka runtuh dan Taki akan membencinya, Akari mengelengkan kepalanya tidak mungkin seseorang akan membencimu jika mereka tahu kau mencintainya bukan? Akari berharap itu benar.


"Yah mau bagaimana lagi kau pasti tidak mau menuruti perkataanku, kau harus bisa menjaga diri." Kali ini Akari tidak menjawab ucapan Taki, keduannya berjalan dengan diam yang nyaman membuat perjalanan mereka menjadi terasa sangat panjang.


...⚫26 Hari⚫...


Akari tiba di sekolah dan segera memasuki ruang kelas, dia melihat Sayaka sedang duduk di kurainya terlihat sedang menulis sesuatu di atas bukunya. "Ada PR ya?" Akari bertanya ketika dirinya telah duduk di kurainya smping Sayaka. Dengan gelengan kecil Sayaka menjawab. "Tidak, aku hanya menyusun rencana untuk kencan ku dengan Sai, sebentar lagi kan akhir pekan."


"Oh" Akari mendekatkan sedikit kepalanya dan mengintip tulisan Sayaka, dia sedikit menyirit bigung mengapa ada acara ciuman di dalam daftar Sayaka.


"Apa ciuman itu harus?" Sayaka tidak berbalik untuk menjawab pertanyaan Akari, dia tetap sibuk dengan memikirkan membuat jadwal kencannya. "Tentu, itu adalah cara mengungkapkan perasaanmu kepada pasanganmu." Akari tidak tahu harus bagimana membantah ucapan Sayaka, namun menurutnya itu tidak benar jika salah satu dari pasangan itu tidak ingin melakukan hal seperti itu maka lebih baik lagi pasangannya akan mengerti bukan? Bukan malah paksaan seperti yang di katakan Sayaka. Namun Akari tidak dapat menyuarakan pendapatnya karena dalam hal percintaan, Sayaka jauh lebih berpengalaman daripada dirinya.


"Sebenarnya ada apa dengan Arashi-san? Di terlihat sangat baik dan ramah kepadaku tidak seperti kepada orang yang lainnya." Sumpit Sayaka yang sedang ddalam perjalanan menuju mulutnya berhenti ketika Akari bertanya. Dia kembali meletakan sumpitnya di atas kotak bentonya dan menatap ke arah mata Akari. "Jika kau sangat penasaran kenapa tidak bertanya kepadanya langsung."


Akari cemberut, dia meletakan kotak bentonya di atas tasnya dan mulai berjalan kemudian berjongkok di bibir kolam. Dia melihat Koi hitam yang sedang bermain-main berenang dengan bebas di dalam kolam. "Itu tidak mungkin tahu."


Sayaka hanya mengangkat bahunya tidak perduli, dia kembali melanjutkan memakan bentonya. Dia sebenarnya telah mendengar rummor yang berkembang di sekolahnya semenjak tahun pertama mereka, orang-orang mengatakan Arashi menyukai Akari sejak saat itu. Sayaka tidak dapat menyangkal rumor itu karena dia dapat melihatnya dengan jelas dari pandangan mata Arashi kepada Akari, namun Sayaka tahu gadis seperti Akari tidak akan menyadari hal-hal seperti itu, dia juga tidak ingin memberitahukan hal ini kepada Akari karena bagaimanapun jika Arashi masih belum siap memberitahukan perasaannya kepada Akari, maka bukan tempatnya untuk Sayaka berbicara.


"Taki-kun hari ini..." Akari terdiam di tengah kalimatnya, dia memikirkan kembali untuk memberitahu Sayaka kalau Taki tidak akan bisa mengantarnya pulang malam ini, namun jika Sayaka mengetahuinya mungkin saja Sayaka tidak akan mengizinkannya berada di sini sampai malam. "Gak jadi."

__ADS_1


Alis Sayaka sedikit terangkat melihat perubahan di wajah Akari, dia bisa tahu klau Akari menyembunyikan sesuatu darinya namun dia tetap menghargai privasi Akari dan tidak akan memaksa Akari untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin dikatakannya. memejamkan matanya Sayaka menghela nafas panjang. "Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi pelajaran akan dimulai."


Sekali lagi waktu berlalu begitu cepat bagi Akari, jam pelajaran terakhir berakhir begitu saja tanpa terasa baginya. Sayaka baru saja pulang begitu juga dengan Taki, sekarang Akari sendirian duduk di kursi taman belakang sekolah. jam di tangannya telah menunjukkan pukul enam namun matahari masih bersinar karena sebentar lagi musim panas akan tiba. Namun sinar matahari itu tidak bertahan lama karena awan gelap mulai muncul menutupinya dan menumpahkan air dalam jumlah brton-ton. "Sepertinya Taki-kun benar lagi." Akari bermonolog sambil tersenyum menengaddah ke langit mlihat air hujan yang mulai semakin lebat.


Di tempat lain Taki duduk di teras rumahnya menatap air yang sudah mulai berjatuhan. Sesekali dirinya meyesap kopi hitam di cangkirnya dengan tenang, namun pikirannya tetap gelisah bertanya-tanya apakah Akari sudah pulang atau belum. Baginya Akari jauuh lebih penting dari pekerjaannya, namun untuk mencari pekerjaan sampingan lain jika dirinya sampai di pecat nanti pastii tidak akan mudah. Tapi dengan cuaca seperti ini membuat Taki kesulitan untuk pergi berangkat bekerja, terlebih lagi dirinya yang tidak memiliki kendaraan seperti mobil akan tiba dengan keadaan basah saat sampai di coffe.


"Hihihihihi" Taki menoleh ke atas meja dan melihat ponselnya bergetar dan dari nada ponselnya membuatnya berpikkkir bahwa itu adalah panggilan masuk. "Halo paman ada perlu apa?"


"Apa Akari sekarang bersamamu?" Taki semakin gelisah ketika memikirkan perkataan lawan bicaranya yang merupakan ayahnya Hikari. "Tidak ada paman, apa dia masih belum pulang." Terdengar helaan nafas dari seberang telpon membuat Taki memijit keningnya yang mulai pusing dan gelisah. "Tidak diaa masih belum pulang."


"Paman tenang saja, Taki pasti akan segera menemukan Akari." Taki bangkit berdiri dan berlari menuju kamarnya mengambil jaketnya dan segera berlari meninggalkan rumahnya menuju ke arah sekolah.


Dengan nafas tersengal-sengal Taki mendorong gerbang sekolah yang tidaak dikunci karena tidak memiliki kunci entah itu hilang atau bagaimana. Setelah saaampai dii taman belakang sekolah Taki harus dipaksa untuk tersenyum ketika dia melihat Akari yang sedang berlarian di taman dan sesekaali melompat ke atas genangan air hujan sambil tertawa lepas suatu hal yang sudah tidak pernah dilakukan oleh Akari semenjak masuk Sekolah menegah.


Taki melepaskan jaketnya dan juga meeembuka bajunya kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Akari. Mendengar langkah kaki di belakangnya Akari berbalik dan ketika melihat Taki menuju ke arah nya dia menjerit kaget dan berbalik lagi melihat Taki bertelanjang dada.


Di belakangnya Taki menaikan salah satu alisnya ketika melihat Akari berteriak dan berbalik. "Bukankah kita sudah biasa mandi hujan bersama sejak kecil, kenapa kamu malu melihat aku begini."


"I-Itu beda Ta... Taki-kun." Taki menyeringgai ketika dirinya mendapatkan sebuah ide di kepalanya dia kemudian berlari ke arah Akari, memeluk pinggang Akari dari belakangnya dan mulai mengamkatnya dan membawanya berputar. Akari berteriak ketakutan ketika Taki memutarnya di udara, dia merasakan dunianya berputar dan kepalanya pusing dengan tindakan Taki. Taki juga meerassa begitu, dia berhenti dan melepaskan Akari kemudiaan keduannya terjatuh, terbaring di tanah beralas akan rumput karena pusing. "Itu tadi menyenangkan." Ucap Taki dengan nogos-ngosan di setiap katanya. Akari mengangguk menyetujui ucapan Taki, mereka sudah lama tidak melakukan hal seperti itu.

__ADS_1


"Sekarang ayo pulang." Ajak Taki yang mendapatkan anggukan lagi dari Akari, keduannya bangkit berdiri lalu membersihkan pakaian mereka. Saat berjalan menuju ke kursi Akari teringat dengan pekerjaan Taki. "Bukankah Taki-kun harus bekerja, lalu kenapa ke sini?" Taki mengabaikan pertanyaan Akari, dirinya memberikan jaketnya kepada Akari dengan alasan takut Akari kedinginan, n.amun sebenarnya Taki ingin menutupi bra hitam Akari yang terlihat tembus pandang dari seragamnya uang tipis terlebih lagi terkena air. Tapi bukan berarti Taki akan mengatakannya karena dia tahu Akari pasti akan sangat merasa malu, dan jika orang-orang bertanya mengapa Taki tidak melakukannya sejak awal maka Taki akan menjawab. 'Tidak baik membuang-bung kesempatan untuk cuci mata' terlebih lagi Akari memiliki dada yang terbilang besar untuk anak SMA biasanya.


__ADS_2