26 Hari

26 Hari
Hari ke-1: Abadi


__ADS_3

...Cinta abadi adalah suatu perasaan yang begitu di dambakan setiap orang, dengan cinta ini kebahagiaan suatu pasangan sudah dipastikan akan terjadi. Namun tidak jarang Cinta abadi menempuh jalan yang panjang hingga mencapai satu kata abadi. Seperti yang di jalani oleh Akari, dia mencintai teman masa kecilnya sudah selama satu dekade lebih. Banyak permasalahan mencoba untuk meruntuhkan cintanya dengan ketidaktahuan Taki terhadap perasaanya, namun meski menjalani cinta sendiri Akari tetap merasakan kebahagiaan dengan kasih sayang dan perhatian yang di berikan Taki kepadanya. Hingga saat ini Akari masih memiliki perasaan kepada Taki, malah mungkin saja perasaan itu semakin besar semakin bertambahnya waktu. Tapi kisah Akari baru saja dimulai dan akan ada lebih banyak tantangan baginya untuk terus mempertahankan Cintanya, namun Akari tahu dia pasti dapat mengatasi segala masalah ini....


...⚫26 Hari⚫...


Sinar matahari muncul dari celah-celah pentilasi membuat Akari berguling tengkurap berusaha untuk tidur lagi namun dia tidak bisa melakukannya karena cahaya itu sangat menganggu dirinya. Perlahan bangkit untuk duduk, Akari mengucek matanya yang masih belum terbiasa menerima sinar, setelah pengelihatan nya mulai jernih indra pengelihatan nya menangkap sosok seorang pria duduk di tepi kasurnya. "Ohayo" Pria itu menyapa dengan senyuman tulus di wajahnya.


Setelah mendapatkan semua kesadarannya Akari cemberut melihat pria di depannya ini. "Kan sudah Akari bilangin jangan masuk ke kamar Akari tanpa permisi, kakak ini gimana sih." Pria yang telah diketahui adalah kakaknya Akari hanya terkekeh pelan sambil mengusap lembut rambut adiknya. "Sudah di bilang bukan Kakak suka melihat wajah bangun tidurmu itu." Akari malah semakin cemberut mendengar penjelasan aneh kakaknya ini, memangnya apa yang menarik dengan wajahnya ketika dirinya baru bangun tidur, bukan hanya sekali kakaknya ini masuk ke kamarnya di pagi hari untuk melihat wajahnya, dan bukan hanya kakaknya saja Hanabi juga, gadis kecil imut yang merupakan adiknya.


"Sekarang cepat bagun Hanabi sudah selesai menyiapkan sarapan." Akari mengangguk patuh dan ketika Kakaknya telah pergi meninggalkannya sendiri di kamarnya Akari bangkit berdiri dan memulai ritual hariannya.


"Selamat pagi kakak!!" Akari tersenyum sebelum menjawab sapaan antusias Hanabi, dia mendudukan dirinya di kursi kosong tepat di sampingng ayahnya. Acara sarapan itu berlangsung dengan tertib dan tenang tanpa ada percakapan sedikitpun karena keluarga Akari begitu menjunjung tinggi nilai kesopanan dalam hal apapun termasuk tata cara makan suatu hal yang sederhana.


Setelah selesai sarapan, keluarga Akari segera berpisah untuk melakukan rutinitas harian mereka masing-masing. Kai yang merupakan kakak laki-laki Akari juga merupakan anak SMA sama halnya dengan Akari, namun keduannya menempuh pendidikan di tempat yang berbeda sedangkan Hanabi dia masih seorang anak SMP. Karena hal inilah Akari berangkat sendiri menuju sekolahnya, jarak sekolah dari rumahnya juga tidak terlalu jauh mungkin sekitar 12 menit berjalan kaki.


"Ohayo Akari." Akari sedikit tersentak kaget ketika Sayaka tiba-tiba melompat menghadangnya dari persimpangan jalan. Setelah selesai mengatasi keterkejutan nya Akari tersenyum dan membalas sapaan sahabatnya.


Keduannya berjalan berdampingan dengan tenang, Sayaka tentu saja berjalan dengan sedikit berlari, kaki-kakinya melompat sesekali dengan tangan yang di ayunkan di samping tubuhnya. "jadi, kau sudah meneguhkan tekatmu?" Akari mengangguk antusias atas pertanyaan sahabatnya itu. "Yah ini demi perasaanku bukan?" Tanya Akari kembali dengan senyuman yang tidak pudar dari wajahnya.


"Perasaan apa?" Akari dan Sayaka berbalik kaget ketika sebuah suara serak berbicara di belakang mereka, di sana mereka menatap Taki yang juga menatap langsung ke mata Akari dengan tatapan bertanya-tanya. wajah Akari memerah malu, dia bingung harus menjawab bagaimana namun berterimakasih kepada Sayaka yang menjawab pertanyaan Taki karena Sayaka sendiri tahu Akari pasti tidak bisa menjawabnya sendiri. "Tentu saja tentang perasaan seperti itu, kau tahu maksudku kan? Seperti perasaan seorang gadis kepada pira." Namun bukannya membuat keadaan membaik, jawaban Sayaka semakin membuat Taki tertarik.


Mengalihkan perhatiannya dari Sayaka ke Akari, Taki menatap serius ke arah mata Akari. "Apa itu benar?" Sekarang Akari benar-benar ketakutan, dia tahu betul Taki adalah orang yang keras kepala, dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apapun yang diinginkannya. Tidak mempercayai suaranya Akari hanya mengangguk lemah.


Taki menghela nafas pelan kemudian meletakan kedua tangannya di saku celananya dan menatap kedepan dengan pandangan tegas. "Kalau begitu aku duluan saja." Dengan itu Taki mempercepat langkahnya meninggalkan Akari dan Sayaka yang mematung menatap punggungnya yang perlahan menghilang. "Apa hanya perasaanku saja atau memang dia agak aneh hari ini?" Sayaka bermonolog sendiri dengan kebingungan menatap Taki yang sudah menghilang di balik simpang jalan berikutnya, Akari tidak menjawab pertanyaan Sayaka namun dia tahu kalau Sayaka benar.


Keduanya berjalan dengan diam yang menenangkan terjebak dalam pikiran mereka sendiri. Sayaka mengingat kembali tatapan gelisah dan penasaran yang diberikan oleh Taki kepada Akari saat mengetahui Akari memiliki seorang pria yang dicintainya, Mungkin saja, mungkin saja Taki merasa cemburu, gelisah dan takut untuk mendengar Akari menyebutkan nama pria yang dicintainya dan ternyata bukan dirinya. Mungkin karena itulah Taki memutuskan untuk pergi tanpa mendengar jawaban dari Akari. Dengan pemikiran itu Sayaka tersenyum, sepertinya Akari memiliki kesempatan untuk perasaannya itu.

__ADS_1


Namun kerutan kembali muncul di kening Sayaka ketika mengingat tatapan kekhawatiran yang diberikan oleh Taki kepada Akari, dan tatapan itu sangat sering dilihat oleh Sayaka dari Kakak laki-lakinya. Mata Sayaka membulat dia berbalik menatap langsung ke mata Akari.


Di sisi lain Akari kebingungan, Sayaka tiba-tiba saja tersenyum sendiri namun kemudian matanya melotot hampir sebesar piring. Sayaka mengambil tangan Akari dan mengatakan keduanya harus mempercepat langkah mereka. "Tidak panas." Gumam Akari merasakan suhu tubuh Sayaka ketika tanganya di genggam oleh Sayaka, dia benar-benar kebingungan dengan tingkah aneh kedua temannya ini. Dan untuk sekali ini Akari benar-benar merutuki otaknya yang lemot.


Setelah melewati gerbang sekolah Sayaka langsung berlari meninggalkan Akari yang kebingungan dengan apa yang di lakukannya. Akari memutuskan untuk tidak terlalu membebani otaknya dengan memikirkan Sayaka. Setelah berada di dalam kelas Akari hanya menemukan Taki yang duduk melamun menatap jendela di samping kirinya yang memperlihatkan halaman sekolah yang masih kosong karena saat ini memang masih awal untuk para siswa datang ke sekolah. Mencoba mengoda Taki, Akari duduk di depan Taki melipat tangannya di atas meja dan kemudian meletakan dagunya di atas tangannya itu.


Satu menit, dua menit entahlah Akari sudah tidak tahu seberapa lama Taki melamun, ini adalah hal yang tidak biasa baginya. Yang diketahuinya Taki adalah orang yang selalu teguh dan kuat dalam menghadapi tantangan, hal ini terbukti dengan dirinya yang bisa membiayai dan menyekolahkan dirinya sendiri tanpa bantuan. Sebenarnya Taki adalah seorang anak yatim, kedua orang tuannya meninggal pada saat kelahirannya dia dititipkan di panti asuhan di desa ini namun Taki memutuskan untuk keluar dari panti pada usia 12 tahun dan tinggal di kediaman lama orang tuannya. Melihat Taki melamun seolah sedang memikirkan beban hidupnya, ini bukanlah Taki yang di kenal oleh Akari.


"Taki-kun!" Akari akhirnya memutuskan untuk memanggil Taki karena dia sudah lelah menunggu terlalu lama. Taki yang namanya di panggil tersentak kaget dan menolehkan kepalanya mendapati Akari yang wajahnya tidak jauh darinya. Taki spontan mendorong meja di depannya membuat tubuhnya terdorong kebelakang hingga membuatnya jatuh ke lantai.


Akari yang khawatir langsung berlari dan memutari meja untuk membantu Taki berdiri, Taki menerima uluran tangan Akari dan kemudian memperbaiki kursi yang jatuh, dia mendudukan dirinya di kursi sambil mengusap bagian belakang kepalanya yang terbentur dengan lantai.


"Sebenarnya apa yang Taki-kun pikirkan hingga melamun begitu?" Taki menghentikan mengusap kepalanya dan menatap Akari dengan pandangan serius. "Aku memikirkan siapa laki-laki yang kau sukai itu." Akari hanya menatap Taki dengan bingung memikirkan apa maksud perkataan Taki, setelah setengah menit memikirkannya mata Akari melebar dan menundukan kepalanya menyembunyikan rona merah yang perlahan menjalar di wajahnya.


"Aku hanya khawatir, jika kau sampai memilih pria yang salah sebagai orang yang kau sukai itu, aku ingin tahu siapa pria yang kau sukai ini tentu saja sebagai sosok seorang kakak sudah wajar bagiku untuk khawatir bukan." Sebelum Akari menyelesaikan ucapannya, dia telah dipotong oleh Taki. "Kau tadi mau bilang apa?" Tanya Taki setelah menyadari dirinya memotong ucapan Akari.


Akari yang sebelumnya menundukan wajahnya yang memerah kini harus menatap wajah Taki dengan tatapan kaget. "Kakak?" Akari bertanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


Taki hanya tersenyum lembut dan meletakan tangannya di atas kepala Akari sambil mengusapnya pelan. "Tentu, memang sih hanya beda dua bulan saja." Biasanya Akari akan senang dengan belaian tangan Taki di rambutnya, namun tidak dengan kali ini. Perasaannya benar-benar hancur mendengar ucapan pria yang dikaguminya itu. Dia menepis tangan Taki dan menjauhkannya sambil berdiri "Aku akan pergi ke kamar mandi dulu." Ucap Akari tanpa menatap wajah Taki dan langsung berlari meninggalkan Taki yang kebingungan. Dalam perjalanannya Akari menabrak seorang pria yang berdiri di depan pintu masuk, Akari tahu bahwa pria ini telah menyaksikan adegan kecilnya dengan Taki namun dia tidak peduli, yang diinginkannya hanya segera menghilang dan melampiaskan kesedihannya.


"Ada apa dengan Akari-chan?" Tanya pria yang di tabrak oleh Akari tadi, Taki hanya mengelengkan kepalanya juga tidak tahu mengapa Akari bersikap begitu. "Entahlah, PMS mungkin. yah mungkin kita bisa merayakannya Arashi yang suka terlambat sekarang datang lebih awal."


...⚫26 Hari⚫...


"Jadi dia hanya menganggapmu sebagai adiknya saja?" Sayaka menyimpulkan informasi yang diberikan Akari kepadanya, dia memang memiliki pemikiran seperti itu sebelumnya namun tidak berani untuk memberiahukannya kepada Akari karena dia tahu ini pasti sulit di Terima bagi Akari. Akari hanya mengangguk lemah sambil menaburkan pelet ikan ke dalam kolam, dia tersenyum kecil ketika koi kecil berwarna hitam itu bernenang mendekat dan mulai memakan pelet.

__ADS_1


"Jadi kau akan terus melanjutkannya?" Tanya Sayaka lagi, berusaha untuk memastikan sahabatnya ini tidak kehilangan semangat atas berita yang baru diketahuinya. Tanpa mengalihkan perhatiannya dai kolam Akari menganggukan kepalanya. "Aku sudah sejauh ini dengan perasaanku tidak mungkin aku bisa menghilangkan ataupun menghentikan perasaanku. Karena aku yakin dengan cinta abadi ku ini aku pastinya akan bahagia suatu hari nanti." Akari menjawab sambil memberikan senyuman menyakinkan yang membuat Sayaka menghela nafas lega mendengar sahabatnya tidak patah semangat.


"Aku akan di sini sampai malam nanti, aku harus memberikan koi putih juga." Sayaka kaget mendengar ucapan Akari, sontak saja dia berdiri sambil memberikan tatapan menuduh. "Kau pikir aman bagi seorang perempuan keluar malam-malam sendiri hah? Terlebih lagi kau itu gadis yang manis dan juga lemah lembut sudah pasti pria hidung belang akan menganggumu." Sayaka cemberut setelah mengungkapkan ketidaksetujuannya, dia kemudian kembali berjongkok di samping Akari yang juga sama berjongkok. Akari tidak bereaksi berlebihan ketika mendengar Sayaka membantah keinginannya karena dia sudah tahu pasti Sayaka akan marah kepadanya.


"Aku tidak bisa menemanimu sampai malam, kau tahu sendiri bukan aku memiliki waktu malam hanya sampai jam tujuh saja, setidaknya kau meminta Taki untuk menemanimu saja, aku takut terjadi apa-apa dega.."


"Jangan beritahu dia kumohon, aku tidak ingin membuat Taki-kun kerepotan terlebih lagi dia harus bekerja lagi setelah ini." Akari langsung memotong uapan Sayaka, dia melambaikan kedua tangannya di udara dengan panik. Sayaka hanya menghela nafas pasrah, dia tahu berdebat dengan Akari tidak ada gunanya meski Akari kelihatannya gadis yang lembut namun di dalam dirinya dia memiliki kepala yang keras, namun tetap saja Sayaka masih khawatir kepada Akari setidaknya dia masih memiliki rencana cadangan.


"Kalau begitu aku pulang dulu." Ucap Sayaka dan perlahan berdiri dan meninggalkan Akari namun saat dia akan berbelok di persimpangan dia kembali berbalik menghadap ke arah Akari. "Jaga dirimu baik-baik." Ucapnya sebelum akhirnya menghilang di balik gedung kelas.


Setelah memastikan dirinya sudah jauh dari Akari, Sayaka merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Dia langsung membuka aplikasi Chat dan mencari nama Taki di sana, setelah mengetik beberapa kata Sayaka akhirnya bisa pulang dengan tenang setelah membaca balasan dari Taki.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Sebuah suara manggil di belakangnya membuat Akari menoleh dan melihat sesosok pria jakung tinggi berjalan ke arahnya. Dia benar-benar ketakutan ketika suara langkah kaki itu semakin mendekat, namun menghela nafas lega ketika sosok itu masuk ke tempat yang memiliki pencahayaan yang cukup dan memperlihatkan sosok Taki yang perlahan melangkah ke arahnya.


''Kenapa Taki-kun masih berada di sekolah?" Taki menaikan salah satu alisnya ketika mendengar pertanyaan Akari. "Seharusnya aku yang bertanya begitu."


"Ah, aku hanya memberi makan ikan koi ini, kau sudah ku beritahu sejak malam sebelumnya kan?" Taki hanya mengangguk dan kemudian melangkah ke arah kusi yang berada tidak jauh dari bibir kolam, dia sedikit menggeser tas Akari untuk membuat cukup ruang untuknya duduk. "Kenapa tidak diberi tadi saja agar tidak kemalaman begini." Bantah Taki jelas tidak menyukai gagasan Akari hingga malam masih berada di sekolah.


"Sini lihat ini." Akari menunjuk ke dalam kolam tanpa menjawab pertanyaan Taki, Taki yang penasaanapun segra menghampiri Akari dan melihat koi putih berenang di bawah sinar bulan. "Uwahhhh, koi nya berubah warna ini sangat keren." Taki berteriak kaget setelah melihat koi putih di sana sedangkan yang di ingatnya koi itu berwarna hitam.


Akari terkikik geli melihat ketidaktahuan Taki. "Tidak koi nya tidak berubah warna hanya saja di kolam ini ada dua ekor ikan koi, yang satu putih dan yang lainnya hitam. Keluarnya juga bergantian loh, yang hitam saat siang dan yang putih saat malam." Setelah mendengar penjelasan Akai membuatnya dapat menyimpulkan alasan Akari masih di sini hingga malam. "Jadi ini alasan mengapa kamu masih di sini, tapi mengapa tidak diberikan sore tadi lebih banyak."


Akari mengelengkan kepalanya mendengar ucapan Taki yang mirip dengan perkataan Sayaka tadi. "Koi hitam itu rakus, dia pasti menghabiskan semuannya dan tidak membiarkan koi putih kebagian."


"Sudahlah sekarang sudah malam lebih baik kita segera pulang." Akari mengangguk patuh dan berjalan di samping Taki yang membawakan tasnya.

__ADS_1


__ADS_2