
Sang surya nampak malu-malu menampakan cahaya nya di ufuk timur, langit biru tak begitu cerah karena awan tebal dan kelabu bertebaran menutupi sebagian cakrawala.
Suasana pagi datang dengan di temani semilir angin yang menusuk kulit, hawa dingin menyapa.
'' Bu, kita jadi ziarah ke makam Jeni dan Medina kan ? '' tanya Maura.
Khadijah menatap putri nya dengan penuh kecemasan.
'' Kamu yakin mau pergi hari ini ? Ibu kira keadaan mu belum memungkinkan untuk bepergian, '' jawab Khadijah sambil menyodorkan roti panggang dan segelas susu hangat untuk Maura.
'' Aku merasa sudah sangat sehat. Bukan kah Ibu sudah janji hari ini akan mengajak ku berziarah ke makam mereka ? Semalam aku mimpi Jeni dan Medina, mereka berdua terlihat sedih. '' Maura meneguk susu sedikit demi sedikit.
Khadijah menyibak kan tirai jendela, menatap langit yang mulai menghitam.
'' Tapi di luar mendung, Nak. Gimana kalau nanti turun hujan, '' ucap Khadijah yang kemudian duduk di sebelah Maura.
'' Kita bisa bawa payung kan Bu, Maura mohon, '' pinta nya.
Dengan berat hati Khadijah mengangguk, mengiyakan permintaan putri nya.
'' Baiklah, tapi sebelum ke pemakaman kita ke rumah keluarga mereka dulu. Kita kan gak tau makam Jeni atau pun Medina, '' ucap Khadijah.
'' Iya, Bu. '' Maura mengulas senyum tipis.
Selepas sarapan, Maura bersiap dengan memakai sweater dan celana jeans. Ia mengikat rambut dan mengenakan selendang hitam sebagai hijab.
Tujuan pertama rumah Medina yang jarak nya lebih dekat dari rumah mereka. Hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit saja dengan menaiki ojek mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan.
Nampak Ayah dan Ibu Medina menyambut kedatangan Maura dan Khadijah. Meski tak dapat di pungkiri suasana duka masih menyelimuti mereka.
__ADS_1
Maura mematung menatap foto Medina yang terpajang di dinding ruang utama saat diri nya di persilahkan masuk ke dalam rumah.
Khadijah mengelus punggung putri nya hingga Maura tersadar dari lamunan.
Setelah menyalami kedua orang tua Medina, mereka pun di persilahkan duduk. Ibu Medina membawakan dua cangkir teh manis dan beberapa makanan untuk kedua tamu nya.
'' Maaf, kami baru bisa datang kesini. Kami turut berduka cita atas kepergian Medina. '' Khadijah membuka percakapan.
'' Iya makasih Bu, Maura. Kami awal nya benar-benar terpukul dengan kepergian Dina, tapi kini kami mencoba mengikhlaskan. Semua sudah menjadi kehendak Allah, '' ucap Ayah Medina.
'' Bagaimana kondisi Maura, sudah baik kan ?'' tanya Ibu dari Medina.
'' Alhamdulillah Bu, Maura sehat, '' jawab Khadijah, sementara Maura masih termangu kembali seakan tak begitu memperhatikan perbincangan para orang tua tersebut.
'' Maura, ikhlas kan teman-teman mu pergi. Biarkan mereka tenang di sana, bantu mereka dengan do'a. Dan kamu sendiri harus melanjutkan hidup seperti biasa nya, masa depan mu masih panjang. Manfaatkan kesempatan yang sudah Allah berikan untuk mu, Nak. '' Ayah Medina seakan mengetahui jika Maura begitu tertekan, bisa ia lihat dari sikap Maura yang tak biasa. Lebih banyak diam dan murung.
Ayah dan Ibu Medina bisa melihat raut kesedihan dari wajah Khadijah karena perubahan sikap Maura yang drastis.
'' I-iya, Bu..Pak, '' kata Maura saat lamunan nya buyar.
Setelah berbincang beberapa saat, Maura dan Khadijah pun pergi berziarah ke makam Medina .
Ibu Medina mengantarkan mereka berdua ke TPU yang jarak nya sekitar 200 meter dari rumah Medina.
Langit masih mendung, gerimis kecil menemani mereka ke tempat peristirahatan terakhir Medina.
Tanah merah yang basah dengan bunga yang masih segar bertabur di atas makam tersebut.
Maura ambruk di hadapan nisan bertuliskan nama sahabat nya. Air mata berdesakan keluar membasahi wajah gadis itu.
__ADS_1
Khadijah dan Ibu Medina mengusap punggung Maura, mencoba membuat nya tenang karena kini Maura semakin terisak.
'' Sudah Nak, kita berdo'a untuk Dina. '' Ibu Medina mencoba lebih kuat, meski tak dapat di pungkiri hati nya kembali sakit melihat kuburan putri tercinta. Apalagi melihat Maura yang terus menangisi makam anak nya itu.
'' Iya Maura, berhenti menangis. Kasihan Medina jika melihat mu bersedih seperti ini, '' ucap Khadijah.
Mereka pun berdo'a di depan makam Medina, sesekali terdengar sesenggukan Maura di sela-sela do'a yang mereka panjatkan.
Maura benar-benar tak menyangka jika diri nya kini hanya bisa melihat kuburan sahabat nya. Selesai berdoa mereka menaburkan bunga di atas makam Medina.
Setelah itu mereka pun pulang. Maura dan Khadijah izin pamit pada orang tua Medina. Mereka akan langsung pergi ke rumah Jeni.
Tiba di rumah Jeni, mereka segera menuju TPU dengan di antar Kakak nya Jeni yang bernama Arman. Kebetulan saat itu orang tua Jeni sedang sibuk mempersiapkan acara tahlilan untuk sore nanti.
Hal yang sama pun terjadi, lagi-lagi Maura tak dapat membendung air mata nya. Apalagi saat Arman menunjukan sebuah foto dari ponsel Jeni.
Foto terakhir yang di ambil saat mereka berada di bis. Rupa nya Medina sempat mengirimkan foto tersebut pada ponsel Jeni.
Tangis Maura kian menjadi mengingat perkataan Jeni waktu itu yang mengatakan pamali jika mereka berfoto bertiga, kata nya salah satu dari ketiga orang itu akan pergi (meninggal). Namun kini yang terjadi justru dua sahabat nya itu yang pergi, hanya tinggal Maura yang tersisa.
Mungkin hanya sebuah kebetulan atau kah firasat dari Jeni sendiri yang bisa merasakan jika azal akan menjemput nya. Wallahu a'lam.
Maura pun menceritakan pada Arman , detik-detik terakhir yang ia ingat sebelum kecelakaan itu terjadi. Arman mengingatkan Maura agar mengikhlaskan kepergian Jeni, nasihat Arman pada Maura serupa dengan apa yang di katakan orang tua Medina. Agar Maura tak larut di dalam kesedihan, dan tak terus terjebak di peristiwa mengenaskan itu.
Maura dan Khadijah kembali pulang setelah mereka berziarah. Nampak Faridah dan Amir menunggu mereka di depan teras rumah.
Maura yang merasa lelah pun langsung masuk ke kamar nya dan beristirahat. Sementara Khadijah, Amir dan Faridah berbincang di teras rumah. Mereka berunding untuk membawa Maura bertemu Ustadz Dzikri yang nanti nya akan membantu Maura terlepas dari gangguan aneh yang di alami Maura akhir-akhir ini.
Mereka harap usaha nya kali ini bisa berhasil dan berjalan lancar. Mereka tak ingin terus menerus melihat Maura tersiksa dan tertekan. Rencana nya esok hari mereka akan menemui Ustadz Dzikri, karena kebetulan hari ini Ustadz tersebut sedang ada keperluan lain yang tak bisa di tunda.
__ADS_1