
Tak perlu waktu lama ia sampai di tanjakan tersebut apalagi saat ini hanya sukma nya saja yang mendatangi tempat itu. Karena jika ia pergi dengan membawa raga nya mungkin agak berabe dan pasti lama sampai, mengingat tubuh nya yang udah tua renta tentu akan mudah lelah saat harus berjalan menuju tempat itu. Terlebih di malam hari seperti saat ini.
Kali ini Sugeni bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam hutan tersebut. Nampak Sewu Ireng menunggu kedatangan nya.
Sewu ireng terlihat garang dan beringas, genderuwo itu tampak marah besar. Kini Sugeni tepat di hadapan nya, ia terlihat seperti kerdil saat berhadapan dengan Sewu ireng yang tubuh nya berapa kaki lebih tinggi di banding Sugeni.
Di sana pun ada Dewi Rengganis istri dari Sewu ireng, juga beberapa dedemit lain yang menjadi prajurit mereka.
Para prajurit itu dalam berbagai bentuk dan jenis, tubuh mereka seukuran manusia namun fisik mereka menyerupai hewan mungkin bisa di bilang mereka itu bangsa siluman.
Sugeni menyatakan maksud keinginan nya untuk bisa membantu dua anak muda yang tempo hari datang pada nya, ia ingin menyelamatkan sukma seseorang yang di yakini terjebak di tempat ini.
Mendengar permintaan Sugeni, Sewu ireng marah besar. Menurut nya Sugeni sudah melanggar perjanjian antara mereka. Beberapa tahun silam, Sewu Ireng meminta tumbal seorang dara atau anak gadis di setiap bulan dan tahunnya untuk menggantikan sukma Wijaya yang di selamatkan oleh Sugeni masa itu.
Sugeni menyanggupi keinginan Sewu Ireng demi menyelamatkan Wijaya. Tumbal para dara atau anak gadis itu merupakan persembahan Sewu ireng terutama untuk Dewi Rengganis, sedangkan tumbal lain nya untuk para dedemit pengikut nya.
Hutan tanjakan merah harus selalu basah oleh genangan darah, karena dari sana merupakan sumber kehidupan bangsa mereka.
Di sana Sugeni melihat satu sukma yang ia yakini masih memiliki raga utuh, sukma Maura lah yang ia temukan. Ia baru tau jika dalam kecelakaan itu, masih ada korban selamat dan saat ini bernasib sama seperti Wijaya. Selain harus membantu Arman dan Syafa menemukan arwah Jeni, ia pun harus menyelamatkan sukma Maura.
__ADS_1
Sewu ireng tau persis apa yang ada di pikiran Sugeni saat ini. Sewu ireng tak akan membiarkan siapapun menghalangi keinginan nya. Tanpa basa-basi Sugeni di serang oleh para dedemit, hingga terjadi pertempuran hebat antara mereka.
Sugeni sedikit kewalahan, untung saja ia memiliki ilmu untuk bisa melawan para siluman itu.
Saat satu persatu prajurit kalah bertempur dengan Sugeni, Sewu ireng pun segera meraih tubuh Sugeni dan melemparkan nya hingga terpental ke sebuah pohon kemudian terjatuh di atas tanah dan bebatuan tajam.
Saat yang bersamaan raga Sugeni yang masih duduk bersila di rumah panggung milik nya pun ikut bereaksi. Tubuh kerontang itu terpental ke belakang, bola mata Sugeni melotot seakan ingin keluar dari tempat nya, menahan sakit yang teramat sangat.
Wajah nya pucat ke biru-biruan, ia memuntahkan banyak darah kental dan segar.
Di tempat lain,
Arman hampir saja akan masuk ke alam mimpi, namun ia terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Awalnya ia enggan keluar dan menunggu ibu atau bapak nya yang membukakan pintu tersebut.
Betapa terkejutnya Arman saat mendapati seseorang yang berdiri di luar sana.
'' Kakek? '' Arman keheranan melihat Sugeni datang ke rumah nya. Untuk apa malam-malam begini Sugeni datang ke rumah nya? Dan darimana kakek itu tau alamat rumah Arman? Tanda tanya memenuhi benak pria itu, ia yang masih syok pun belum sempat mempersilahkan Sugeni masuk.
'' Nak, segera selamatkan teman mu. Dia ada di hutan itu, arwah adik mu juga ada di sana. Mereka butuh bantuan mu, '' ujar Sugeni dengan suara pelan.
__ADS_1
Raut muka Sugeni kali ini terlihat berbeda dengan saat pertama kali bertemu dengan nya beberapa hari lalu.
'' Teman? '' Arman menautkan kedua alis nya.
'' Ada sukma seorang gadis yang terjebak si sana, dan arwah adik mu sedang berupaya menyelamatkan gadis itu namun sepertinya ia tak memiliki kekuatan melawan Sewu ireng dan yang lainnya. Dengan kamu menyelamatkan dia maka semua arwah korban termasuk arwah adik mu akan terbebas dari sana. '' Sugeni menatap lekat mata Arman saat berbicara. Wajah kakek tua itu tampak misterius.
Arman mulai mengerti siapa yang Sugeni maksud. Ia yakin jika gadis itu adalah Maura.
'' Jadi kapan saya bisa kesana kek? Kakek akan mengantar aku dan Syafa ke tempat itu lagi kan? '' tanya Arman.
'' Pergilah sebelum 40 hari kematian adik mu, aku akan membimbing kalian menuju ke sana, '' jawab Sugeni.
Tiba-tiba saja angin berhembus cukup kencang, saat itu pula Sugeni lenyap dari hadapan Arman.
Arman kembali di kejutkan oleh hilang nya Sugeni secara tiba-tiba. Ia celingukan mencari kakek tua itu, tapi sayang nya Sugeni tak bisa ia temukan. Lagi-lagi ia mengalami hal janggal yang sulit di terima logika. Bagaimana mungkin seseorang bisa pergi begitu cepat dari hadapan nya, bahkan lenyap begitu saja .
Arman mengusap tengkuk yang mulai meremang, hawa dingin seakan menyelusup ke pori-pori kulit.
Segera ia menutup pintu dan kembali ke kamar. Rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan hilang begitu saja. Keadaan kian tegang dan mencekam, Arman berharap pagi segera tiba. Ia akan menceritakan semua ini pada Syafa.
__ADS_1
Ia teringat ucapan Syafa yang mengatakan jika suatu hari Sugeni akan datang memberi kabar pada salah satu di antara mereka berdua. Kini ucapan Syafa terbukti, Sugeni memang datang pada nya malam ini dan memberi kabar tentang Maura.
Hari kian larut, ingin sekali Arman menelpon Syafa namun karena sudah larut malam ia pun memutuskan untuk bicara secara langsung dengan Syafa esok hari di tempat kerja.