
Jiwa Maura tertahan di suatu tempat dan di kuasai oleh makhluk gaib. Menurut Ustad Dzikri hal seperti itu bisa terjadi. Keluarnya ruh pada diri manusia bisa menyebabkan kematian sedang keluar nya nafs dari tubuh manusia hanya akan menghilangkan kesadaran. Dan yang menimpa Maura saat ini nafs gadis itu terjebak di alam para dedemit.
Ustad Dzikri menganjurkan Maura agar kembali di rukiyah, selain itu Syafa dan Arman pun akan ikut terlibat dalam proses penyembuhan Maura kali ini.
Beberapa hari setelah mereka berunding untuk memecahkan masalah tersebut, mereka pun mulai melakukan proses penyembuhan pada Maura.
Di kediaman Ustad Dzikri, Maura, Syafa, Arman, dan keluarga Maura berkumpul. Saat ini Maura sudah bersuci dan siap untuk di rukiyah kembali, beberapa santri dan santriwati pun ikut membantu ritual penyembuhan itu dengan bertadarus membaca yasin. Sedang Arman dan Syafa berkonsentrasi karena saat ini sukma mereka di haruskan keluar dari tubuh masing-masing untuk bisa menuju hutan tanjakan merah di desa X.
Hal ini tentu sangat baru untuk Arman, ia tak yakin bisa mengeluarkan sukma dari raga kasar nya. Tapi Syafa terus meyakinkan jika Arman bisa melakukan nya, apalagi Ustad Dzikri akan membantu mereka.
Atas kuasa dan izin Tuhan, sukma Arman pun akhirnya bisa keluar bahkan lebih awal dari pada Syafa.
Sukma Arman kini berada di mulut hutan. Pandangan nya mengedar ke sekeliling, mencari-cari sosok Syafa yang seharusnya berada bersama nya saat ini. Sayang nya ia tak menemukan sukma gadis itu.
Mengingat ia tak bisa berlama-lama keluar dari raga kasar nya. Arman pun bergegas melangkahkan kaki memasuki hutan tersebut.
Keadaan malam tak begitu gelap, cahaya bulan berpendar memberi nya penerangan untuk mulai menelisik kawasan hutan itu.
Suara-suara binatang malam bersahutan menggiring langkahnya. Kian dalam kian pekat, cahaya bulan seakan tak dapat menembus rimbun nya pepohonan di sana.
__ADS_1
Langkah Arman terhenti saat ia berada di satu titik, ia tak tau kemana arah yang harus di lewati.
Kembali pandangan Arman menyapu setiap sisi hutan. Tiba-tiba saja seseorang melesat begitu cepat ke satu arah. Arman tak dapat melihat sosok tadi dengan jelas, namun ia hanya bisa melihat kain yang di pakai orang itu. Pakaian serba hitam mengingatkan nya pada Sugeni. Ya, Arman yakin jika yang tadi adalah Sugeni. Ia teringat Sugeni pernah mengatakan akan membimbing perjalanan mereka menuju hutan.
Tak mau membuang waktu, Arman pun segera mengikuti arah melesatnya bayangan tadi. Setiap Amran terhenti dan kebingungan mencari jalan, maka bayangan tadi akan terus melesat seakan memberikan nya petunjuk jalan.
Arman kembali mengikuti setiap petunjuk yang di berikan sosok tadi. Hingga sampai lah ia di satu tempat penuh kabut. Perlahan Arman menembus kabut tersebut. Hawa kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya.
Terasa begitu dingin seakan menguliti. Arman kembali mengedarkan pandangan nya, keadaan dan tempat yang seakan tak asing untuk nya saat ini. Sepertinya ia mengenali tempat ini, dan pernah singgah sebelumnya. Tapi kapan? Arman mencoba mengingat, hinga akhirnya ia sadar.
Keadaan saat ini sama persis dengan apa yang ia lihat di alam mimpi, bahkan kali ini lebih menyeramkan hingga membuat tengkuk Arman merinding.
Beberapa sosok siluman bermunculan dari balik pohon yang mengelilingi kawasan tersebut. Netra nya pun melihat Maura dalam keadaan terikat di salah satu pohon besar. Gadis itu nampak tak berdaya.
Degup jantung memacu lebih cepat dari biasanya, peluh bercucuran, kaki Arman seakan sulit di gerakan. Ia mematung seolah terpaku di tempat itu, tak seperti dalam mimpi nya ia lari dan menghindar dari raksasa tersebut.
Dentuman langkah raksasa itu membuat pijakan Arman bergetar. Segerombol siluman telah lebih dulu maju ke arah nya, seakan ingin menyerang diri nya. Namun entah apa yang terjadi, para siluman yang hampir mendekat dan menyerang nya tiba-tiba saja terpental dan terbakar sebelum mereka berhasil menghajar Arman.
Telinga Arman seakan mendengar suara tadarus para santri dan santriwati, ia yakin jika lantunan ayat suci dari mereka lah yang menjadi benteng untuk diri nya saat ini.
__ADS_1
Arman mulai bermunajat pada Allah, meminta perlindungan pada Nya. Dalam hati nya mulai melafadzkan doa-doa, hingga memancarkan tujuh cahaya dari tubuh Arman. Setiap lapisan cahaya tadi mengandung ayat Al-Fatihah yang akan membantu nya untuk menghancurkan raksasa tersebut.
Dengan penuh keberanian Arman siap mengahadapi Sewu Ireng dan Dewi Rengganis yang kini juga siap mengeluarkan tenaga dalam mereka untuk menyerang Arman.
Gumpalan asap hitam pekat mulai muncul dari arah dua raksasa tadi. Seketika tujuh cahaya dari tubuh Arman pun langsung berpendar mengepung asap pekat itu. Dua energi tersebut seakan sedang berperang dan saling mendorong.
Tak lama asap hitam itu habis tak bersisa, hanya tinggal tujuh cahaya yang masih memancar di sana. Bahkan kini tujuh cahaya itu mulai mendekat ke arah Sewu Ireng dan Dewi Rengganis, membentuk teralis yang mengurung mereka berdua. Lambat laun dua sosok itu pun lenyap.
Saat yang bersamaan, Syafa muncul berlari melepaskan sukma Maura yang terikat di pohon. Sebilah pedang dengan cahaya putih menyilaukan yang di pakai Syafa untuk menebas ikatan yang melilit di tubuh Maura.
Terdengar suara lengkingan dan jeritan mengerikan setiap kali Syafa berusaha mematahkan ikatan tersebut. Setelah semua berhasil ia tebas, sukma Maura pun akhir nya kembali ke sang empunya raga.
Arman dan Syafa berniat kembali ke raga mereka, menyusul sukma Maura yang sudah lebih dulu kembali. Namun belum sempat mereka beranjak dari sana, banyak arwah yang menangis, merintih dan minta di selamatkan. Mereka adalah arwah yang terbelenggu di sana, para korban kecelakaan tanjakan merah. Keadaan mereka begitu mengenaskan dan mengerikan.
Arman mencari-cari arwah Jeni dan Medina namun ia tak menemukan mereka di antara para arwah itu. Bukankah mereka juga terjebak di sana?
Syafa pun mencoba menyelamatkan mereka dengan di bantu Ustad Dzikri. Mereka membaca doa dan memohon ampunan Allah agar arwah-arwah itu kembali ke alam yang semestinya.
Satu persatu mereka pun lenyap kembali ke alam mereka. Arman dan Syafa pun kemudian pergi dari tempat itu dan kembali ke raga masing-masing.
__ADS_1
Arman membuka mata nya perlahan. Berasa mimpi namun nyata, sulit ia ungkapkan dengan kata-kata apa yang ia alami barusan. Bahkan sulit untuk di mengerti oleh siapapun yang tak mengalami nya. Arman yang masih teringat Jeni pun segera bertanya pada Ustad Dzikri. Pasalnya ia tak menemukan arwah Jeni maupun Medina di sana.
Lalu kemana kah Jeni dan Medina?