40 Hari

40 Hari
Bab 15


__ADS_3

Arman menceritakan kejadian aneh yang ia alami semalam pada kedua orang tua nya, begitu pun tentang isu hantu yang menjadi buah bibir para penduduk di kampung.


'' Jadi menurut mu Jeni jadi hantu gitu? " tanya Pak Jamal sambil melahap goreng uli buatan istri nya.


'' Huss, sembarangan kalau ngomong ! Amit-amit, masa iya anak ku jadi hantu, ngawur, '' gerutu Bu Ningsih istri Pak Jamal.


'' Tapi Pak, Bu, aku beneran liat sosok mirip Jeni di kamar. Apa mungkin Jeni gak tenang ? '' wajah Arman nampak cemas.


Pak Jamal dan Bu Ningsih saling melirik kemudian pandangan mereka tertuju pada Arman.


'' Lebih baik kamu banyak berdoa buat Jeni, hadoroh biar arwah adik mu itu tenang, '' ucap Pak Jamal.


Arman mengangguk memahami nasihat Bapak nya.


'Kalau itu Jeni lantas apa yang membuat nya tak tenang ?' lagi-lagi terbesit rasa penasaran di hati Arman.


Arman akan mencari tau sendiri semua hal janggal yang ia alami, ia juga akan memecahkan isu hantu yang beredar di kalangan masyarakat agar tak jadi fitnah bagi almarhumah Jeni adik nya.


Arman pamit pergi bekerja pada orang tua nya. Di tempat kerja ia bertemu dengan Syafa seorang indigo, Arman memang sengaja ingin meminta bantuan pada teman satu kerja nya itu perihal arwah Jeni yang kemungkinan tidak tenang hingga menampakan diri pada nya dan beberapa orang lain yang juga melihat arwah adik nya itu.


'' Seperti nya ada sesuatu yang ingin ia selesaikan di dunia ini, '' papar Syafa setelah Arman menceritakan kejadian aneh yang ia alami.


'' Apa itu ? '' tanya Arman heran.


'' Aku juga belum tau pasti, apa yang menyebabkan adik mu masih bergentayangan di dunia ini padahal seharusnya dia sudah tenang di alam nya. '' Syafa kembali fokus pada layar laptop, ia mencari sesuatu di sana.


Sementara Arman terus memutar otak, mencari-cari alasan kenapa arwah Jeni masih berada di sekitar tempat tinggal nya.

__ADS_1


'' Tunggu !! Dimana lokasi kejadian kecelakaan itu terjadi ? Adik mu meninggal karena kecelakaan bukan? '' Tiba-tiba saja Syafa kembali berucap setelah beberapa saat sibuk dengan laptop nya.


'' Di jalan perkampungan tepat nya desa X. Memang nya kenapa? '' tanya Arman heran.


'' Yang aku tau, orang-orang yang meninggal karena kecelakaan dan tewas di tempat maka arwah nya itu akan tinggal di sana. Apa mungkin ia ingin kembali ke alam nya namun ia di hadapkan sesuatu yang tak bisa membuatnya kembali ke alam nya? '' Syafa mulai menerka-nerka.


'' Benarkah ? Lalu apa yang membuat nya tertahan di sana ? '' Arman balik bertanya.


'' Itu yang harus kita pecahkan agar bisa menolong arwah adik mu. Waktu kita tidak banyak, hanya 40 hari setelah kepergian nya. Jika tidak,, '' Syafa menghentikan kalimat nya.


Arman menunggu rekan kerjanya itu melanjutkan kalimat nya.


'' Jika tidak, maka Jeni akan terperangkap di sana. Percaya atau tidak percaya, jalanan desa X itu terkenal angker dan banyak terjadi kecelakaan di sana. Beberapa orang yang pernah mengalami kecelakaan di sana dan berhasil selamat pun sempat mengalami hal gaib dan mereka bilang di sana itu ada sebuah kerajaan siluman yang meminta banyak tumbal untuk di jadikan prajurit mereka nanti nya. '' Tatapan Syafa lurus ke depan, benak nya melambung tinggi seakan sukma wanita itu tengah berkelana menyusuri dimensi lain saat ia menutup mata.


Arman hanya menatap wanita bernama Syafa itu, ia tau jika Syafa teman nya seorang indigo namun perkataan Syafa barusan rasa nya sulit untuk di terima logika. Ada hal-hal yang terdengar biasa untuk sekelompok orang yang meyakini nya meski hal tersebut sangat tabu untuk yang lain nya. Apalagi hal yang sangat bersebrangan dengan ajaran agama.


Bukan Arman tak mau percaya ucapan Syafa, ia hanya khawatir jalan pikiran nya sesat karena harus mempercayai hal di luar nalar.


'' Aku tau kamu pasti tak percaya. '' Syafa membuka mata dan menoleh ke arah Arman yang terperanjat heran. Mengapa gadis itu bisa mengetahui keraguan dalam hati nya?


'' Sekarang terserah kamu saja. Aku tidak memaksa mu untuk mempercayai ku, aku hanya mengatakan berdasarkan apa yang ku lihat. '' Jemari lentik nya kembali menari di atas keyboard laptop, ia sibuk menuntaskan pekerjaan nya.


'' A-aku pikir-pikir dulu. Btw makasih ya, '' kata Arman hati-hati agar ucapan nya tak menyakiti Syafa.


'' Ya, sama-sama. Udah, sekarang kerja dulu sana !! " Syafa menyuruh Arman untuk keluar dari ruangan nya.


'' Oke Bu, sekre !! '' kekeh Arman kemudian melengos dari ruangan Syafa.

__ADS_1


Syafa menatap nanar punggung Arman. Ia dan Arman sudah berteman sejak lama, semenjak mereka bekerja di kantor kecamatan di desa tempat tinggal mereka. Ia pun mengenal Jeni adik Arman, dan juga keluarga pria itu . Oleh karena itu, ia ingin sekali membantu masalah yang sedang di hadapi Arman saat ini. Tapi yang ia tangkap, Arman seperti nya tidak yakin akan penerawangan yang ia lakukan.


\*\*\*\*


'' Mbak Dijah, apa kabar ? '' suara Ningsih memanggil Khadijah yang saat ini sedang berbelanja di pasar tradisional.


'' Alhamdulillah baik, Mbak Ningsih sendiri gimana kabar nya ? '' kata Dijah saat tau Ningsih menyapa nya.


'' Alhamdulillah aku juga sehat walafiat mbak. Oh iya, Maura juga sehat kan ? '' tanya Ningsih kembali.


Khadijah terdiam sejenak, ia nampak melamun mengingat kondisi anak membuat Ningsih bisa menangkap bagaimana keadaan Maura saat ini. Dari raut muka Khadijah ia bisa lihat kalau Maura sedang tidak baik-baik saja.


'' Mbak,, '' Ningsih mengejutkan Khadijah, seketika membuyarkan lamunan nya.


'' Eh i-iya. Saat ini saya sedang punya masalah yang cukup rumit. '' Khadijah mulai menceritakan keadaan Maura.


Mereka yang baru selesai berbelanja pun memilih untuk mengobrol sebentar di sebuah warung di pasar itu.


Ningsih sangat iba pada Maura setelah tau kondisi gadis itu dari Khadijah.


Kejadian-kejadian aneh yang di paparkan Khadijah dan dialami keluarga Maura membuat Ningsih teringat peristiwa yang di alami putra nya Arman.


Hingga Ningsih juga bertukar cerita, ia mengatakan kejadian yang Arman alami semalam, juga rumor hantu yang beredar di lingkungan tempat tinggal nya.


Sangat sulit di percaya namun Khadijah mengalami nya sendiri, tentu membuat Ningsih mulai mempercayai apa yang juga di alami oleh Arman. Meski awal nya ia kira Arman hanya mengada-ngada.


'' Aku turut prihatin, semoga Maura lekas sembuh dan masalah mu ini cepat teratasi, '' kata Ningsih.

__ADS_1


'' Iya mbak, makasih. ''


Setelah itu mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Ada hal yang mengganjal di hati Ningsih, rasa nya ia harus mengatakan keadaan Maura pada Arman. Entah dari mana pikiran itu muncul begitu saja, seolah ada yang membisikan pada hati nya jika semua itu ada hubungan nya dengan Jeni.


__ADS_2