40 Hari

40 Hari
Bab 21


__ADS_3

Arman tergesa-gesa menuju ruangan Syafa saat ia baru saja datang ke kantor tempatnya bekerja.


Arman langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hal tersebut membuat Syafa kaget juga kesal.


'' Bisa gak sih permisi dulu kalau mau masuk? '' ujar Syafa.


'' Sorry, aku buru-buru soalnya, '' kata Arman yang langsung duduk di sebrang gadis itu.


Syafa menyipitkan mata, seperti nya Arman ingin mengatakan sesuatu pada nya hingga ia terburu-buru seperti itu. Ekspresi Arman tak biasa hari ini terlihat sedikit aneh.


'' Kenapa ? '' Syafa menutup laptop dan bersandar di kursi kerja.


'' Semalam aku bermimpi mendatangi hutan itu. Kamu tau apa yang aku lihat di sana? Aku lihat Maura terikat di sebuah pohon besar, dan ada satu raksasa yang menjaga nya di sana. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, raksasa itu mengejar ku, '' ucap Arman antusias menceritakan mimpi nya.


'' Maura? Itu nama teman nya Jeni kan? '' tanya Syafa.


'' Ya, Maura juga ikut menjadi korban kecelakaan itu. Dia satu-satu nya korban selamat dalam kecelakaan, '' jawab Arman.


Syafa terdiam, ia mulai berpikir menyambungkan runtutan kejadian yang di alami Jeni dan Maura.


'' Berarti nasib Maura hampir sama dengan nasib kakek Wijaya. Beda nya sukma kakek ku cepat terselamatkan. Apa mungkin ini ada hubungan nya dengan arwah Jeni? '' ucap Syafa.


'' Maksud mu? '' tanya Arman.


'' Kemungkinan Jeni di sana ingin menyelamatkan Maura. Ini baru prediksi ku, bisa jadi ada hal lain yang membuat arwah Jeni terjebak di tempat itu, '' jawab Syafa.


'' Jadi apa rencana kita? '' Arman kembali bertanya, kemungkinan ada benar nya prediksi Syafa.

__ADS_1


Syafa berpikir sejenak, tak mungkin jika ia kembali kesana sementara Sugeni saja belum bisa masuk ke dalam hutan tersebut. Apalagi diri nya dan Arman.


'' Lebih baik kita temui dulu Maura. Kita pastikan kondisi nya, '' jawab Syafa.


'' Oke pulang kerja kita langsung ke sana, '' ajak Arman.


'' Oke. ''


......................


Keadaan Maura masih belum pulih, Khadijah sudah berusaha semaksimal mungkin namun putri nya tak kunjung sembuh.


Tubuh Maura sehat, tapi jiwa gadis itu sepertinya masih tertekan. Ia waras dan tidak gila, hanya saja sebagian lelembut gadis itu hilang.


Saat ini Arman dan Syafa sedang berkunjung ke rumah Maura. Tatapan Maura kosong saat mereka di pertemukan dengan gadis itu.


Arman maupun Syafa tak akan mengatakan perkiraan mereka tentang lelembut Maura yang terjebak di hutan desa x. Mereka harus memastikan terlebih dahulu apa benar perkiraan nya itu?


'' Harusnya setiap malam Maura mengamalkan dzikir seperti yang di perintahkan Ustad itu. Tapi kondisi Maura yang seperti ini tak memungkinkan untuk bisa berkonsentrasi dan membaca amalan yang di berikan Ustad itu, '' lanjut Khadijah.


'' Ibu jangan menyerah membimbing Maura, '' kata Arman merasa iba melihat keadaan gadis itu.


'' Iya nak Arman. Hanya saja kok Ibu merasa raga anak ibu ada di sini tapi jiwa nya seolah berada di tempat lain, '' kata Khadijah.


Arman dan Syafa saling lirik mendengar perkataan Khadijah barusan. Khadijah juga menceritakan berbagai peristiwa aneh yang di alami oleh nya dan Maura akhir-akhir ini.


Syafa semakin yakin dengan dugaan nya, apalagi saat menatap dalam wajah Maura. Ada aura yang menghalangi nya masuk ke dalam pikiran gadis itu. Bahkan mata Maura tiba-tiba saja mendelik ke arah nya, kemudian menyeringai sedikit lalu mimik muka gadis itu kembali datar dan tatapan nya kembali kosong.

__ADS_1


Dalam penglihatan Syafa ia melihat ada roh jahat yang menguasai tubuh gadis itu. Tapi ia tak mengatakan apa yang ia lihat dari mata batin nya pada Khadijah. Syafa tak ingin terlihat mengada-ngada atau memperburuk keadaan Khadijah yang sepertinya sudah mulai kewalahan menghadapi sakit nya Maura.


Setelah cukup menerima info dari Khadijah, Syafa dan Arman pun undur diri.


'' Apa kita harus segera balik ke hutan itu? '' tanya Arman saat di perjalanan pulang.


'' Seperti nya Sugeni menunggu waktu yang tepat, firasatku mengatakan suatu saat dia akan memberi kabar jika waktu nya tiba. '' Syafa menatap jauh lurus, beberapa bayangan melintas di benak nya.


'' Sugeni? Bagaimana bisa dia memberi kabar pada kita, dia kan gak tau rumah kita . Atau kamu sudah memberi nomor telpon pada nya? " tanya Arman heran.


Syafa melihat ke arah pria di samping nya, ia menggelengkan kepala pelan.


Arman makin heran melihat sikap Syafa, pernyataan gadis itu pun sulit di mengerti. Jika bukan lewat telepon lalu bagaimana Sugeni mengabari mereka?


'' Suatu hari dia akan datang pada salah satu di antara kita, '' jawab Syafa nampak misterius saat mengucapkan kalimat itu.


Tak mau banyak bertanya, Arman pun hanya manggut-manggut mesti ia belum mengerti maksud ucapan Syafa barusan.


Sementara itu di desa x,


Cahaya bulan penuh berpendar di antara awan hitam. Terdengar suara jengkrik, katak dan hewan lain yang bersahutan memecah kesunyian desa x.


Rumah panggung Sugeni terlihat sepi seperti kosong di tinggal penghuni nya. Namun sebenarnya Sugeni berada di dalam sana, hanya saja dua hari ini ia tak keluar rumah. Bahkan Sugeni menghindar dari cahaya sinar matahari. Perut nya di biarkan kosong, ia duduk bersila di satu kamar tempat nya biasa bersemedi. Rumah Sugeni agak renggang dengan pemukiman , ia tinggal sedikit terpencil dari penduduk desa x. Keadaan itu ia manfaatkan agar bisa bersemedi di rumah nya tanpa gangguan dari tetangga atau pun orang sekampung nya.


Saat ini ia tengah bersemedi mencari wangsit yang bisa memecahkan masalah para anak muda yang beberapa hari lalu mendatangi nya.


Dua malam berlalu masih bisa ia lewati tanpa bergeming sedikit pun dari tempat nya bersila. Ritual tersebut bukan hal mudah, tapi juga bukan hal baru untuk nya. Hingga ia bisa dengan kuat nya menahan lapar, kantuk atau apapun yang mengganggu secara lahiriah.

__ADS_1


Seketika ia mendengar suara sewu ireng memanggilnya. Suara genderuwo itu sayup terdengar di telinga membuat nya bangun melepas sukma dan mulai berjalan menuju tanjakan merah.


Tak perlu waktu lama ia sampai di tanjakan tersebut apalagi saat ini hanya sukma nya saja yang mendatangi tempat itu. Karena jika ia pergi dengan membawa raga nya mungkin agak berabe dan pasti lama sampai, mengingat tubuh nya yang udah tua renta tentu akan mudah lelah saat harus berjalan menuju tempat itu. Terlebih di malam hari seperti saat ini.


__ADS_2