A Little Cupid

A Little Cupid
34. Minder


__ADS_3

Wow😲






Lily baru pertama kali datang ketempat pemotretan seperti ini. Ia baru kali ini melihat model berpose memamerkan perhiasan milik Varo.


Pria itu terlihat begitu fokus memperhatikan hasil potretan fotografer, sementara Lily duduk disampingnya, sesekali takjub melihat model-model itu.


Ia melihat majalah yang terletak di meja meraihnya dan mengenali bahwa para model tersebut adalah aktris baru yang sedang naik daun di Jepang dan yang di kontrak Varo menjadi model untuk perhiasannya.


Lily menatap penampilannya di pantulan cermin yang berada tak jauh dari sana.


Kacamata besar, baju standar, penampilan minimal. No make up, no aksesoris. Sungguh....biasa saja.😊


🤨."Kamu kenapa??."


"....."


"Senyum-senyum sendiri."


Lily cukup terkejut Varo menyadari kelakuannya tadi. Ia hanya tersenyum malu, lalu membetulkan dasi Varo yang miring.


Wajah mulus, tatapan tajam, jas hitam keren, penampilan menarik. "You Cool😊." Ucap gadis itu santai lalu beranjak pergi meninggalkan Varo yang kebingungan.


Lily akhirnya pergi bersama Arion ke kantor Varo. Ia meletakkan bekal makan siang yang tadi dibawanya, lalu mengajak Arion bermain di samping jendela kaca.



"Tinggi~~."


"Tinggi......cekali😮."


Lily tersenyum mendengar kalimat cadel itu. Setelah kejadian malam itu. Arion jadi benar-benar banyak bicara, apapun yang menurutnya aneh, atau yang membuatnya takjub, si kecil itu pasti langsung mengungkapkannya dengan kata-kata.


"Papamu sepertinya akan terlambat makan siang. Jadi...ayo kita jalan-jalan dulu." Ajak Lily dan langsung di 'iya' kan oleh Arion. Si kecil itu bergegas menggenggam tangan Lily dan menuntunnya keluar ruangan.


Karena seluruh staff di perusahaan sudah diberi tau tentang siapa Lily dan Arion, mereka memperlakukan keduanya dengan hormat. Lily bahkan diizinkan masuk ke ruang properti, di mana disana banyak terdapat benda-benda berharga milik perusahaan.


Dalam ruangan properti yang sangat besar itu terdapat lemari-lemari yang sepertinya sengaja dipisahkan untuk menyimpan segala perlengkapan.


"Woww😮." Lily melepaskan tangan Arion ketika si kecil itu sudah tidak tahan ingin bermain. Si kecil itu berlari ke area yang dipenuhi boneka.



Sedangkan Lily benar-benar takjub melihat yang ada disekelilingnya.





"Kenapa ada alat musik disini??. Apa termasuk properti untuk pemotretan juga??." Lily bertanya sendiri.


Ia berkeliling ruangan dan semakin takjub. Lily ingat dulu Varo pernah memborong boneka di toko boneka, sepertinya separuh dari isi toko itu selain yang ada dirumahnya, ia letakkan disini.


"Bukankah ini adalah impian setiap wanita??, Memiliki barang-barang mewah lengkap dalam satu ruangan." Lily terkekeh sambil memegang salah satu tas branded. Ia menertawakan dirinya sendiri.


Nggak cocok sama sekali.


Punya barang mewah sebanyak ini, dia bahkan bisa bikin butik kan!!.🤨


🌺🌺


Lily dan Arion kembali ke ruangan Varo setengah jam kemudian. Mereka baru saja akan masuk ketika mendengar Varo berteriak kesal.

__ADS_1


"Kontraknya sudah lama ditandatangani, uang muka sudah dibayar. Kenapa kita harus menambah dana yang tidak perlu??. Kita hanya menyewa mereka sebagai model. Kita bahkan menyediakan tempat tinggal untuk mereka??, Kenapa kita harus mengantarkan mereka promosi di setiap stasiun TV, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Dan kenapa kalian asal setuju saja tanpa memberi tahuku??."


"Papa.....mala." Bisik si kecil Arion. Lily hanya tersenyum dan mengisyaratkan si kecil itu untuk tetap diam.


"Dan kapan aku setuju untuk makan malam dengan model itu. Sekali lagi aku tekankan, turuti semua aturan yang aku buat!. Kalau mereka tidak setuju atau menambah permintaan diluar peraturan ku. Walaupun mereka model atau artis yang paling terkenal, jangan tanda tangani kontraknya."


"Pikirkan dengan otak kecilmu itu, kamu yang asal janji. Kamu yang harus bayar uang promosi mereka. Kalau sampai hal ini menjadi masalah. Kalian semua akan ku tuntut. KELUAR!!!!."


"....."


"....."


4 orang pria keluar dari ruangan Varo dengan wajah pucat. Lily bahkan sampai tak berani masuk ruangan.


"Papa....galak😦." Ucap Arion yang mendapat anggukan dari Lily.


Tok...tok...tok...


Lily mengetuk pintu sebelum masuk. Ia dan Arion langsung terkejut ketika tiba-tiba Varo membuang berkas diatas meja ke kotak sampah didekatnya dengan kasar.


Masih ada 2 orang lagi yang berdiri di depan meja kerja pria itu.


"......"Lily yang sudah masuk mematung didepan pintu.


😥"Ka...kami....akan kembali nanti."


"....."


Pintu kembali ditutup sebelum Varo membuka mulutnya untuk bicara. Setelah itu, Lily benar-benar baru kembali 2 jam kemudian.


🌺🌺


"Kamu tau nggak, kalau aku mesti lihat CCTV dulu buat nyariin kamu."


Lily yang kembali ke ruangan Varo karena Arion tertidur itu, langsung mendapat rentetan ucapan dingin dari pria itu.


"......"Emang kenapa??


"......"Oh...


Lily buru-buru tersenyum dan minta ma'af. "Kami tadi sibuk konser😅."


🤨


Melihat tatapan Varo. Lily kembali menjelaskan. "Kami tadi main alat musik di ruang properti, jadi....


"Aku tau. Aku bisa lihat di CCTV." Aku bahkan mengambil rekamannya.


Lily memalingkan muka. Sudah tau kenapa bertanya😑.


"Tapi kamu pergi selama 2 jam dan membuatku melewatkan makan siang."


"Kami juga kelaparan, tapi takutnya masih ada orang di kantor kamu, makanya kami nggak berani ke sini. Kami tadi beli roti di luar." Jelas Lily sambil berjalan menuju meja. Ia membuka kotak bekal, lalu mengajak pria itu untuk makan.


Sesekali Lily melirik kearah Varo yang tidak semangat makan. Ia juga melirik kearah tumpukkan berkas diatas meja. "Mm....masalahnya banyak ya??."


Varo melirik Lily sesaat kemudian mengangguk. "Tumben nanya." Celetuk pria itu.


"Nggak bolehkah??."🙂 Kalau nggak boleh, lain kali aku nggak akan nanya.


"Nggak."


Okee...


Varo menyunggingkan senyum ketika melihat Lily terdiam. "Nggak boleh cuma nanya, mesti kasih solusi."


Oh..."Jadi...apa masalahnya??."


"15 map pertama adalah data 15 manajer toko melakukan korupsi gaji pegawai, 3 bulan ini. Mereka pekerja sama dengan staff bagian keuangan. 10 map kedua, pegawai magang yang mencuri perhiasan. Mereka bahkan masih magang. Dan 6 map terakhir, adalah staff bagian perekrutan model tanpa izin, mengatasnamakan perusahaan dan menjanjikan kontrak ekslusif dengan gaji tinggi yang sama sekali tidak pernah aku setujui."


"......"

__ADS_1


"Bagaimana solusinya??."


Lily bertanya pendapat Varo. "Menurut mu??."


"Pecat saja." Jawab pria itu tegas. "Prosesnya sedang berlangsung sekarang."


"....."Lalu kenapa kamu masih butuh solusi🤨


Lily memberikan potongan buah apel pada Varo yang selesai makan. "Selidiki dulu latar belakang keluarga mereka, bagaimana orang tua mereka, apakah mereka sudah menikah dan punya anak. Kalau kesulitan uang tapi mereka memperlakukan keluarga mereka dengan baik. Sebaiknya jangan dipecat, buat surat perjanjian, beritau aib mereka pada keluarga dan turunkan jabatan mereka. Kalau mereka mengulangi yang kedua kalinya, baru pecat."


Lily menggigit potongan apel ditangannya sendiri. "Tapi kalau keluarganya kaya raya, atau dari keluarga terpandang namun suka melakukan kecurangan. Pecat saja langsung, dan tentu saja umumkan beritanya di media bisnis, biar nggak ada perusahaan lain yang menjadi korban. Itu....harusnya kamu bikin perjanjian kerja seperti itu ketika mereka melamar kerja di perusahaanmu."


Varo terdiam menatap Lily. Ia tidak pernah tau kalau istrinya ini punya pemikiran seperti ini. "Yang melakukan kesalahan rata-rata pegawai lama ayahku, kecuali yang magang."


Lily menoleh. "Kalau gitu upgrade saja peraturannya. Buat semua staff tanda tangan surat perjanjian baru dan berikan bonus tinggi pada siapa saja yang berhasil meningkatkan pendapatan perusahaan juga membongkar aib staff yang merusak citra perusahaan, tentunya setelah kamu selidiki terlebih dahulu. Bukankah itu jadi sama-sama menguntungkan."


"Kamu dengar itu."Varo berkata pada orang yang berdiri di belakang Lily.


"Sejak kapan....." Lily bahkan tidak mampu bicara jelas.


"Beri panggilan untuk semua manajer toko juga cabang di luar kota dan negeri. Aku ingin meeting diadakan 15 menit lagi." Varo memberi perintah dan asistennya yang entah sejak japan berdiri dibelakang Lulu mengangguk dan keluar.


Varo kembali tersenyum kearah Lily. "Terima kasih solusinya." Pria itu memberikan ciuman kilat di pipi Lily. "Bereskan ini dan istirahatlah. Aku akan kembali bekerja. "


Varo kembali ke meja kerjanya. Menuliskan syarat-syarat perjanjian baru sesuai dengan yang disyaratkan Lily, menambahkan beberapa syarat tambahan dan menyuruh asistennya tang lain untuk mengetikkannya.


🌺🌺


"Apa kamu lihat tadi, mereka masuk ruang properti lagi dan udah tiga kali."


"Iya, kali ini bawa tas lagi. Awas aja pas ada barang yang hilang, pasti kita yang kena imbasnya."


"....."Lily yang sedang berada dalam salah satu toilet mendengarkan percakapan para staff yang sepertinya bergosip tentangnya.


"Pak direktur juga pasti akan melakukan hal yang sama, ingat pegawai di bagian resepsionis waktu itu, mereka dipecat tanpa sempat memberikan pembelaan."


"Eh tapi apa kamu lihat penampilannya, nggak berkelas banget, udik. Wajar sih dari gosip yang beredar dia dari kalangan bawah."


"Wajahnya juga standar, cantikan gue malah, heran Pak direktur naksir dari sudut mananya, hahaha."


"Denger-denger dari asistennya nih, itu bekal makan siang buatan istrinya. Tau gitu gue belajar masak aja, terus godain Pak direktur dengan makanan, atau kalau nggak ngundang pak direktur ke jamuan-jamuan gitu."


"Eeh...anak siapa nih??." Salah satu wanita itu melihat Arion masuk ke toilet wanita.


"Bukannya ini anak kecil yang wanita itu, benar...wajahnya mirip."


"Jangan-jangan.....


Lily akhirnya keluar dari salah satu kamar toilet. Ia dengan santainya cuci tangan pura-pura tidak peduli dengan 3 wanita yang menatapnya terkejut. Setelahnya Lily pergi sambil menggandeng tangan Varo.


"Gimana nih???, Kayaknya dia dengar semua omongan kita tadi." Salah satu wanita itu tampak ketakutan.


"Biar aja, kita bicara fakta kok. Lagipula ayahku salah satu pemegang saham di perusahaan ini. Kalaupun ingin memecat, setidaknya pak direktur harus memikirkan sahamnya dulu."


"Benar juga, ibuku juga pemegang saham dan kontribusinya banyak membantu perusahaan ini. Kamu tenang aja, aku akan bilang kalau kamu sepupuku." Ucap wanita lainnya dan mereka pergi dengan santainya.


Lily merenung di ruangan Varo yang kosong. Arion tertidur dipelukannya.


"Benar juga. Lama-lama aku jadi manja." Lily meletakkan Arion di tempat tidur lalu keluar dan duduk di sopa.


Gadis itu mengeluarkan buku catatan kulinernya dan mulai menulis random.



"Tapi aku bisa masak, bisa jagain anak, bisa bersih-bersih rumah, bisa....kenapa malah terdengar seperti pembantu😕😕??." Lily menghela nafas dalam.


"Pokoknya setelah ini aku harus kerja.  Kalaupun tampang pas-pasan tapi skill ku tidak buruk. Aku pasti bisa menghasilkan uang setidaknya jauh lebih besar dari gaji karyawan disini. Lalu kita lihat, apa nanti aku masih tidak pantas bersanding dengan pria perfect ini."


Lily kembali berkutat dengan buku catatannya. Menyusun strategi membangun cafetarianya. Melupakan rasa minder yang terbersit dipikirannya tadi.


🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2