
Teriakan tukang sayur membangunkan ketiga gadis yang sedang tidur itu. Para gadis itu pun bangun, karena mereka tak ingin melewatkan seseorang yang sudah mencuri hati mereka.
Mereka adalah Grizelle Jovanka, Nayara Maheswari, dan satunya lagi Amelia Putri.
Mereka bertiga siswi kelas 3 di SMA Sejahtera. Yang mengontrak tak jauh dari sekolahnya. Sebenarnya mereka bertiga termasuk anak orang kaya, tapi karena alasan ingin lebih mandiri, orang tua mereka mengizinkannya.
Padahal orang tua mereka mengusulkan untuk tinggal di apartemen saja jika ingin belajar mandiri. Namun mereka menolak, karena alasan yang sebenarnya. Mereka ingin bisa lebih dekat lagi dengan seorang pemuda yang berprofesi sebagai tukang sayur.
Dengan saling berdesakkan, mereka bertiga ingin membasuh wajah di kamar mandi yang hanya muat untuk dua orang itu. Kontrakan mereka terdiri dari tiga ruangan. Depan ruang tamu, ruang tengah untuk tidur mereka dan ruangan ketiga ada kamar mandi dan tempat untuk memasak.
"Duh.. Kalian ini bisa nggak sih abis aku. Ntar ke buru bang Barry lewat!" seru Grizelle.
"Aku duluan dong," timpal Nayara.
"Aku dulu lah.." balas Amelia.
Dengan akal bulusnya Grizelle mengerjai kedua sahabatnya itu.
"Eh, ada yang ngetuk pintu tuh. Bang Barry kali ya," ucap Grizelle berpura-pura.
"Mana-mana!" seru Nayara dan Amelia sambil menengok ke arah pintu.
Dengan cepat Grizelle membasuh wajahnya, lalu pergi keluar melewati kedua sahabatnya itu.
"Grizelle... Awas kamu ya!" Nayara dan Amelia berteriak lantaran tertipu oleh Grizelle.
Sedangkan Grizelle hanya cekikikan, mendengar teriakan kedua sahabatnya itu.
Setelah Grizelle keluar terlihatlah seorang pemuda tampan yang berprofesi sebagai tukang sayur itu.
"Yur.. Sayur Sayur," Begitu kiranya suara teriakan tukang sayur itu yang bernama Alexi Barry.
"Bang Barry.." panggil Grizelle ketika Barry beberapa langkah terlewat darinya. Yang di panggil pun berhenti. Grizelle lalu menghampirinya.
"Hai, bang Barry," sapa Grizelle. Barry hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Kedua sahabat Grizelle pun datang.
"Elle.. Kamu nih ya, kebiasaan suka ngibulin kita!" seru Nayara dengan tampang kesalnya, begitu juga Amelia.
"Iya nih. Aku kan pengen nyapa bang Alex duluan," timpal Amelia.
"Hih... Ngubah-ngubah panggilan orang aja kamu Mel," ucap Grizelle.
"Dih, serahku dong. Bang Alex aja nggak keberatan. Yakan bang ganteng," balas Amelia seraya mengedipkan sebelah matanya ke Barry. Sedangkan Barry hanya garuk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia selalu bingung jika harus menghadapi ketiga gadis yang di depannya itu.
"Dasar belut selokan," ejek Grizelle. Amelia mendelik mendengar ejekan dari Grizelle. Sedangkan Nayara mulai memilih belanjaannya.
"Bang, udah sarapan belum? Kalau belum aku buatin sarapan yuk," ajak Nayara yang sudah selesai memilih belanjaannya.
__ADS_1
"Udah neng Nay," jawab Barry. Sedangkan Nayara langsung terharu mendengar suara Barry yang lembut itu. Hatinya berasa meleleh di buatnya. Sedangkan Grizelle langsung ikutan nimbrung begitu juga Amelia.
"Bang, Elle minta tolong dong," ucap Grizelle yang sudah di samping Barry.
"Minta tolong apa neng El,"
"Tolong pilihin bahan makanan buat makan malam kita nanti," ucap Grizelle. Barry langsung bingung di buatnya.
"Huu... Modus aja kamu El. Jangan di dengerin bang. Mending bantuin aku aja milihin bahan-bahan masakan buat ibu abang di rumah," timpal Amelia. Grizelle dan Nayara langsung menoyor kepala Amelia secara bersamaan.
"Sialan, kalian ini!" umpat Amelia seraya mengelus kepalanya yang di toyor oleh kedua sahabatnya itu.
"Kalian tiap hari belanja banyak. Apa yang kalian beli kemarin udah habis semua?" tanya Barry.
"Udah bang. Kan kita tiap hari selalu masak. Ke sekolah juga selalu bawa bekal. Makanya cepat abis bahan-bahannya bang." jawab Grizelle.
"Bener tuh bang yang di bilang Elle," timpal Nayara.
Padahal bahan-bahan makanan yang mereka beli selalu di antar ke rumah mereka sehabis pulang sekolah, oleh supir rumahnya masing-masing. Dan sebenarnya juga mereka bertiga tidak ada yang bisa memasak. Jadi semua itu hanya akal-akalan mereka saja.
"Bang Ar," tiba-tiba seseorang memanggil Barry. Grizelle tahu siapa orang itu. siapa lagi kalau bukan Alya Danita. Seorang mahasiswa jurusan kebidanan. Perempuan berjilbab itu bukan hanya cantik, namun juga sangat ramah dan lemah lembut.
"Eh, neng Alya," ucap Barry. Ia tersenyum kepada perempuan yang di depannya itu.
Grizelle yang melihat Barry tersenyum kepada Alya, merasa cemburu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena ia bukan siapa-siapanya Barry.
"Seperti biasa ya bang, lama di sini. Padahal udah di tunggu tuh, sama ibu-ibu yang di depan sana," ucap Alya. Entah sengaja menyindir Grizelle dan kedua sahabatnya atau tidak. Tapi Grizelle yang mendengarnya merasa kesal. Begitu juga Nayara dan Amelia.
"Maksudnya apa, ngomong begitu mbak Alya!" seru Nayara. Yang memang sifatnya gampang marah.
"Em.. Nggak ada maksud apa-apa kok Nay. Mbak cuma ngomong yang sebenarnya. Tuh liat ke depan," jawab Alya seraya menunjuk ke arah depan. Dimana para ibu-ibu sudah menunggu kedatangan Barry.
"Halah.. Alasan. Kamu nyindir kami kan!" Nayara mulai emosi.
"Udah Nay. Yang di bilang mbak Alya bener kok. Maafin Nay mbak Alya," ucap Grizelle mencoba menengahi. Walaupun ia juga kesal mendengar perkataan Alya, tapi ia tahu. Jika Alya memang bicara yang sebenarnya dan tidak bermaksud untuk menyindir.
"Nggak apa-apa El. Mungkin kata-kata mbak aja yang salah. Kalau gitu aku permisi ya, bang Barry, makasih," ucap Alya. Barry hanya mengangguk, ia merasa tak enak berada di situasi saat ini. Alya pun pergi.
"Dasar, mau cari muka dia itu," ucap Nayara.
"Hush.. Nggak boleh gitu Nay. Lagian mbak Alya emang bener kok. Kamu nggak liat ibu-ibu yang di sana," timpal Grizelle. Sedangkan Nayara tak peduli dan langsung masuk ke dalam kontrakan dengan membawa belanjaannya.
"Oii.. Nay. Kalau marah ya marah aja. Tapi di bayar dulu dong belanjaanmu," seru Amelia. Nayara pun keluar lagi dan menghampiri Barry lalu membayar belanjaannya.
Tanpa bicara apa-apa, Nayara langsung masuk lagi ke dalam.
"Anak itu, kalau udah marah seenaknya aja," gerutu Amelia.
__ADS_1
"Udah biarin aja. Palingan marahnya bentaran doang. Kayak nggak tahu Nay aja," ucap Grizelle seraya memilih belanjaannya.
Amelia pun juga mulai memilih.
"Berapa bang Barry?" tanya Grizelle. Terlihat lumayan banyak yang di ambilnya
"Bentar ya, di hitung dulu," jawab Barry. Ia pun mulai menghitung seraya menaruh di kantong plastik.
"Totalnya 250 ribu neng," sambung Barry. Grizelle lalu membayarnya dengan lebih.
"Kembaliannya buat bang Barry aja," ucap Grizelle.
"Tapi, ini kebanyakan neng," ucap Barry.
"Nggak apa-apa bang. Dan manggilnya nama aja dong bang. Nggak usah ada embel-embel nengnya. Kan udah sering aku bilangin," balas Grizelle.
"Tapi.."
"Nggak ada tapi-tapian. Dah El mau masuk dulu. Takut ibu-ibu yang di sana ngamuk, karena kelamaan nungguin bang Barry," ucap Grizelle. Lalu masuk ke dalam kontrakan dengan membawa belanjaannya. Barry tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan Grizelle.
"Dih.. Pada ninggalin. Bang Barry, semuanya berapa?" tanya Amelia. Barry di buat geleng-geleng kepala lagi melihat belanjaan Amelia yang lebih banyak dari Grizelle.
Setelah selesai menghitung semuanya, Amelia membayarnya dan mulai membawa belanjaannya dengan dua kali bawa.
"Makasih abang ganteng," ucap Amelia seraya mencolek pipi Barry, lalu dengan buru-buru masuk ke dalam karena merasakan hawa di sekitarnya terasa tidak enak.
Bagaimana tidak. Bahan-bahan yang ada di gerobak Barry hampir ludes, karena Grizelle dan kedua sahabatnya itu.
Alhasil, ketika Barry mendatangi ibu-ibu yang menunggunya. Bahan-bahannya hanya tersisa sedikit.
"Aduh.. Cah bagus. Kalau cuma sisa segini, apa yang mau di beli," ucap ibu-ibu yang memakai daster motif bunga.
"Iya nih. Mau masak apa kalau begini. Daripada nggak makan. Mending makan Barry aja deh," timpal janda genit yang belum memiliki anak itu.
Dan yang lainnya pun ikut nimbrung. Barry tambah pusing di buatnya. Mendengar celotehan ibu-ibu yang mulai mengerubunginya itu.
'Aduh.. Ibu-ibu ini apa nggak takut ketahuan suaminya, mengerubungi tukang sayur dan berceloteh ria begini. Huft,' batin Barry.
Ia pun hanya bisa pasrah. Pesona tukang sayur yang satu ini memang luar biasa.
Begitulah kira-kira yang ada di pikiran ibu-ibu itu.
**
Support dari kalian sangat saya butuhkan. Jadi beri saran dan kritikannya juga yah. Agar saya bisa memperbaiki cerita ini menjadi lebih baik lagi 😊
Jangan lupa untuk rate, like, serta tinggalkan jejak setelah membaca cerita ini. Ingat juga untuk vote, vote, vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Terima kasih 😊🤗