
Jam menunjukkan pukul 16:55 petang. Grizelle, Nayara, dan juga Amelia sudah berada di kontrakannya. Setelah puas bermain, shopping, nonton bioskop dan mencicipi berbagai kuliner. Mereka bertiga bergegas pulang, karena jam 7 malam nanti mereka bertiga akan pergi ke rumah Nayara untuk makan malam bersama dengan keluarga Nayara. Tadi saat Nayara sedang memilih baju, bundanya menelpon. Beliau berkata untuk mengundang kedua sahabatnya itu untuk makan malam di rumahnya. Tentu saja Nayara langsung mengiyakannya.
"El, kamu kok semenjak dari toilet tadi jadi agak pendiam. Ada apa sebenarnya El?" tanya Nayara yang memang merasakan perubahan sikap Grizelle. Amelia pun jadi ikut memerhatikan Grizelle.
"Iya El, padahal kalau sudah menyangkut soal makanan kamu langsung semangat. Tapi tadi, kamu keliatan lesu dan seperti sedang memikirkan sesuatu." timpal Amelia.
Grizelle hanya diam, dan tetap menyimpan perasaan kecewanya sendirian. Ia tak ingin kedua sahabatnya jadi ikutan sedih, jika tahu tentang apa yang sedang ia pikirkan.
"Nggak apa-apa kok. Mungkin aku lagi kurang enak badan aja, tadi abis dari toilet perutku masih berasa nggak enak. Makanya aku kurang semangat," jelas Grizelle berbohong seraya tersenyum tipis.
"Yakin El? Kalau memang lagi kurang enak badan, kita batalin aja pergi makan malamnya." ucap Nayara.
"Iya. Nggak apa-apa Nay, nggak enak aku sama bunda kalau sampai nggak datang. Dan lagi pula aku juga kangen sama bunda, udah lama juga nggak makan masakan bunda," balas Grizelle.
Nayara tersenyum mendengar perkataan Grizelle, ia tahu jika Grizelle sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi ia tak mau memaksa Grizelle untuk bercerita. Ada kalanya jika Grizelle akan bercerita tanpa di minta.
"Ya udah. Kalau gitu aku mandi duluan ya," ucap Nayara lalu bergegas ke kamar mandi.
"El, jika ada yang mengganjal di hatimu, cerita aja ke kita. Jangan menyimpannya sendiri, kita sebagai sahabat akan selalu mendengar semua keluh kesahmu. Bukannya kita juga begitu El, bahkan Nayara mau bercerita tentang masalahnya." kata Amelia seraya memegang kedua bahu Grizelle.
"Kami akan siap menunggu, sampai kamu benar-benar mau cerita ke kita. Jangan merasa sendiri, karena kami akan selalu ada untukmu," imbuh Amelia.
Grizelle terharu mendengar perkataan Amelia. Bagaimana bisa Amelia yang suka bertingkah, yang paling menyebalkan, dan yang paling manja bisa mengatakan hal seperti itu. Dirinya benar-benar merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Nayara dan Amelia.
"Makasih Mel, kalian memang sahabatku yang paling keren dan yang paling hebat. Bahkan kamu yang suka lamban berpikir bisa mengatakan hal sedewasa itu," balas Grizelle dengan mata yang sudah berembun.
"Kamu ini El, awalnya muji. Ujung-ujungnya ngatain juga," Amelia mencebik.
"Ulu..Ulu.. Amel yang paling cantik.. Tapi boong hahahha.." ucap Grizelle seraya tertawa.
"Ish.. Kamu El, ngeselin!" balas Amelia merajuk.
"Becanda lah unyuku. Jangan marah ya," ucap Grizelle seraya memeluk Amelia yang sedang manyun. Walau begitu Amelia tetap membalas pelukan Grizelle.
'Hatiku masih merasa gundah memikirkan bang Barry dan mbak Alya. Bagaimana jika mereka berdua memang mempunyai hubungan, apa aku harus mundur? Tidak-tidak sebelum semuanya jelas aku akan tetap mendekati bang Barry." batin Grizelle mencoba menyemangati hatinya.
***
Saat ini mereka bertiga sudah berada di depan pintu rumah Nayara. Segera Nayara mengetuk pintu. Pintu itu pun terbuka dan keluar wanita paruh baya yang masih terlihat memukau, beliau adalah bundanya Nayara.
__ADS_1
"Bunda... El kangen banget sama bunda," seru Grizelle dan langsung memeluk bunda Nayara.
"Amel juga bunda," timpal Amelia yang juga ikut memeluk bunda Nayara.
"Kangen-kangen tapi jarang main kesini," balas bunda Nayara seraya membalas pelukan Grizelle dan Amelia.
"Yang anak di sini siapa sih! Kok malah aku yang di sisihkan. Kalian berdua juga, main peluk bundaku aja," cebik Nayara sambil melipat kedua tangannya.
"Adudu.. Anak bunda ngambek, sini sayang bunda peluk juga." ucap bunda Nayara. Alhasil mereka berempat berpelukan.
"Sudah-sudah, bunda engap nih," imbuh bunda Nayara. Mereka pun melepaskan pelukannya.
"Bunda tambah cantik aja," ucap Amelia.
"Ma.."
"Tapi masih cantikan Amel dong," ucap Amelia narsis seraya memotong perkataan bunda Nayara.
"Kamu ini Mel, masih aja nggak berubah." balas bunda Nayara seraya mencubit pipi Amelia.
"Iya itu, Bun. Malah tambah parah lagi si Amel," timpal Grizelle.
"Kalian ini. Ayo, masuk. Apa mau di sini terus?" ucap bunda Nayara.
"Masuk dong Bun." jawab ketiga gadis itu serempak.
Akhirnya mereka berempat masuk ke dalam, dan menuju ke meja makan. Di sana sudah ada ayah Nayara dan Andrew yang sedang menunggu mereka berempat.
"Pasti ngobrol dulu," ucap ayah Nayara.
"Biasa lah yah, Grizelle sama Amelia nyari perhatian dulu." balas Nayara seraya duduk di samping kiri Andrew.
"Yee.. Bilang aja kamu cemburu," sahut Amelia. Grizelle dan Amelia duduk di hadapan Andrew dan Nayara, sedangkan bunda Nayara duduk di samping kanan Nayara.
"Ogah banget cemburu sama kalian berdua," ucap Nayara.
"Halah.. Palingan dalam hatinya, awas kalian kalau sampai ngerebut bundaku," timpal Grizelle yang menirukan gaya bicaranya Nayara.
"Bunda..." rengek Nayara.
__ADS_1
"Sudah-sudah, Naraya tetap yang pertama di hati bunda kok." ucap bunda Nayara seraya mengelus puncak kepala Nayara. Sedangkan Nayara langsung menjulurkan lidahnya, mengejek Grizelle dan Amelia.
"Terus ayah yang ke berapa bunda," ucap ayah Nayara.
"Iya, Andrew juga jadi yang ke berapa?" timpal Andrew.
"Haduh.. Kalian ini malah ikut-ikutan. Sudahlah kita mulai makannya," balas bunda Nayara yang merasa terpojok. Mereka semua pun tertawa.
Andrew mencuri pandang ke Grizelle, terlihat Grizelle sedang tertawa renyah dan itu menambah poin kecantikannya tersendiri. Bahkan Andrew tak berkedip ketika memandangi Grizelle.
Grizelle yang merasa di perhatikan pun melihat ke arah Andrew, dan benar saja. Pemuda itu sedang memandanginya tanpa berkedip, hal itu sukses membuat Grizelle menjadi salah tingkah.
"Ekhem.. Udah kak memandangi keindahan ciptaan Tuhan," ucap Nayara seraya menyenggol lengan andrew.
"Apa sih," balas Andrew.
"Ayo El, Mel. Kita mulai makannya," ajak bunda Nayara.
"Iya bunda," jawab Amelia. Sedangkan Grizelle hanya mengangguk.
Mereka memulai makan malam bersama, terdengar percakapan ringan di antara mereka. Bahkan guyonan dari mereka pun terdengar sangat akrab, sesekali Andrew melirik ke Grizelle. Ia makin terpesona dengan Grizelle, bahkan sudah sekian tahun ia tak melihat Grizelle langsung. Namun ternyata kecantikan Grizelle menambah rasa cintanya yang selama ini ia simpan.
Sedangkan Amelia, ia juga sesekali melirik ke arah Andrew. Ia merasa aneh ketika melihat Andrew, apalagi ketika Andrew tersenyum. Ia semakin betah untuk melirik ke arah Andrew.
Grizelle tak menghiraukan tatapan dari Andrew, bahkan Grizelle seperti memikirkan sesuatu. Apalagi jika bukan tentang Barry, bahkan bayangan pemuda tampan itu selalu ada di benaknya. Hatinya sedang gundah, memikirkan Barry, semakin ia ingin melupakan bayangan Barry dari benaknya, tetapi ,semakin jelas pula bayangan itu.
'Aku pasti sudah gila karena cinta," batin Grizelle.
Nayara memerhatikan kakaknya serta kedua sahabatnya itu, ia merasakan ada yang aneh. Namun segera ia tepis perasaan itu.
'El, andai saja kamu tahu. Perasaanku masih sama seperti dulu, bahkan perasaan itu kian menambah. Ku harap, kamu bisa membuka hatimu untukku,' batin Andrew.
'Ketika aku melihat kak Andrew, kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh. Ada apa denganku,' batin Amelia.
**
Support dari kalian sangat saya butuhkan. Jadi beri saran dan kritikannya juga yah. Agar saya bisa memperbaiki cerita ini menjadi lebih baik lagi 😊
Jangan lupa untuk rate, like, serta tinggalkan jejak setelah membaca cerita ini. Ingat juga untuk vote, vote, vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Terima kasih 😊🤗