Abang Tukang Sayur I Love You

Abang Tukang Sayur I Love You
Maafkan Aku


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, ayah dan bunda Nayara bersantai di ruang tengah. Sedangkan Grizelle, Nayara, Amelia, dan Andrew memilih untuk bersantai di gazebo yang berada di dekat kolam renang. Terdapat taman mini juga di dekat kolam renang dan gazebo itu.


"Kakak rencananya mau stay di sini atau balik ke Los Angelas?" tanya Amelia seraya memakan buah apel.


"Sepertinya kakak bakal tetap di sini, dan bantu ayah kakak di perusahaan. Dan juga mau ngawasin Nayara, biar nggak kabur." jawab Andrew menahan senyumnya.


"Siapa juga yang mau kabur," balas Nayara mencebik.


"Kamu lah, dan pasti kamu pernah kepikiran buat kabur. Iya kan.." ucap Andrew seraya menoel pipi kanan Nayara.


"Sok tahu," balas Nayara. Padahal yang di katakan kakaknya memang lah benar.


"Heleh.. Jadi kamu terima nih perjodohannya?" tanya Andrew.


"Ya.. Ya gitu deh. Udahlah ganti topik," jawab Nayara yang mulai malas membahas perjodohannya.


"El, kamu diam aja. Kenapa?" tanya Andrew. Grizelle yang merasa sedang di ajak bicara pun langsung terfokus.


"Eh, nggak apa-apa kak. Butuh yang anget-anget nih kak," jawab Grizelle.


"Ya udah aku bikinin teh dulu ya, kak Andrew mau kopi atau teh?" ucap Nayara.


"Kopi aja, tapi jangan terlalu manis." balas Andrew. Nayara mengangguk lalu pergi ke dapur untuk membuat teh dan juga kopi.


"Kak Andrew di sana nggak ada yang di taksir?" tanya Amelia mencoba mendekati Andrew.


"Nggak ada Mel. Kakak di sana fokus belajar, karena memang tujuan kakak hanya itu. Agar bisa membantu ayah kakak di perusahaan. Sepertinya kakak yang bakal ngehandle perusahaan yang ada di sini." jawab Andrew seraya tersenyum. Amelia yang melihat itu jadi merasa deg-degan.


Tiba-tiba handphone Amelia berdering menandakan ada telepon masuk. Ternyata mamanya yang menelpon.


"Aku angkat telpon dulu kak, El," ucap Amelia seraya menjauh agar nyaman berbicara dengan mamanya.

__ADS_1


Terjadi keheningan di antara Grizelle dan Andrew. Grizelle yang sedang memainkan handphonenya, sedangkan Andrew sibuk memikirkan apa yang harus ia katakan pada Grizelle.


"El," panggil Andrew. Grizelle yang merasa di panggil pun menoleh.


"Iya kak." jawab Grizelle.


"Gimana sekolah kamu, lancar? Bentar lagi ujian kelulusan kan," tanya Andrew mencoba menghilangkan keheningan di antara mereka berdua.


"Iya kak. Nggak berasa sebulan lagi ujian kelulusan, pasti bakal kangen sama masa-masa SMA." jawab Grizelle seraya tersenyum.


"Memang kita pasti bakal kangen sama masa-masa putih abu-abu, tapi kita juga pasti mempunyai teman baru saat kuliah nanti. Mungkin sahabat baru juga," balas Andrew.


"Sahabat ya. Mungkin enggak, karena aku nggak akan pernah menemukan sahabat terbaik seperti Nayara dan Amelia," ucap Grizelle seraya menatap Andrew.


"Kalau kekasih," Andrew menatap mata indah Grizelle. Mata yang selalu membuatnya enggan untuk berpaling. Ia melihat ada perasaan sedih dan juga kerinduan di mata Grizelle.


"Em.. Entahlah kak." jawab Grizelle seadanya. Ia pun berpaling memandang ke sembarang arah.


"El, kamu tahu bukan. Jika kakak masih menyimpan rasa ini untukmu, bahkan perasaan ini kian membesar El. Walaupun kita jauh pun kakak nggak bisa ngelupain kamu. Apakah hatimu masih belum terbuka untukku El?" kata Andrew seraya memegang tangan Grizelle.


Grizelle perlahan mengendurkan pegangan tangan Andrew. " Maaf kak, aku masih belum siap untuk menerima cinta kakak. Aku tahu perasaan kakak ke El begitu besar, tapi aku masih bimbang dengan hatiku sendiri kak. Carilah perempuan yang bisa mencintai kakak dengan tulus, jangan menungguku kak. Karena kakak pantas mendapatkan kebahagiaan walau itu bukan dariku. Aku akan selalu mengagumimu kak, dan akan selalu begitu." jawab Grizelle. Hatinya terasa sedih mengatakan itu, tapi ia tahu. Jika perasaannya terhadap Andrew hanya sebatas kagum tak lebih, walaupun perasaan sayang itu ada, tapi rasa kagumnya kepada Andrew lebih besar daripada rasa sayangnya. Maka dari itu ia tak ingin menaruh harapan lebih kepada Andrew.


"Aku nggak bisa El, hatiku sudah tertutup untuk yang lain." ucap Andrew.


"Kak, kumohon jangan begini. Aku yang akan merasa bersalah kak, jika kakak menutup hati kakak untuk perempuan lain." balas Grizelle.


"El, namamu sudah terukir indah di hatiku. cintaku ke kamu menyatu dalam jiwa dan ragaku El. Bahkan mata indahmu selalu membuatku jatuh cinta setiap kali melihatnya.


Bahkan jarak jauh di antara kita membuatku selalu merindukanmu. Bagaimana bisa aku mencari perempuan yang bisa memberikan lebih dari itu El?" dengan sendu dan mata sayunya, Andrew berbicara kepada Grizelle tapi, Grizelle enggan melihat ke arah Andrew. Ia tak akan kuat menatap mata Andrew.


"Maafkan aku kak, maafkan aku." lirih Grizelle.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari tak jauh dari sana, ada Nayara yang mendengarkan pembicaraan kakaknya dan juga Grizelle. Ia terenyuh mendengar pengakuan cinta kakaknya yang begitu besar kepada Grizelle, bahkan air matanya sempat menetes. Bagaimana Grizelle menolak perasaan kakaknya, apakah perasaan Grizelle begitu besar terhadap Barry. Bahkan Grizelle tak tahu perasaan Barry terhadapnya bagaimana. Apakah ia harus menyatukan kakaknya dan juga Grizelle, atau mendukung pilihan hati Grizelle terhadap Barry.


'Aku harus mencari tahu perasaan bang Barry terhadap Grizelle. Jika bang Barry juga mempunyai perasaan terhadap Grizelle, maka aku ikhlas merelakan perasaan kakak. Namun bagaimana jika bang Barry tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Grizelle. Sahabatku itu pasti akan sangat sakit hati.' batin Nayara yang sedang bimbang.


Lalu Nayara keluar dari persembunyiannya, menghampiri Grizelle dan Andrew, berpura-pura tak mendengar percakapan mereka berdua tadi. Grizelle dan Andrew pun langsung bersikap biasa, agar tak menaruh kecurigaan terhadap Nayara. Tak selang beberapa menit Amelia kembali dengan lesu.


"Kamu kenapa Mel,?" tanya Nayara.


"Mama dan papa aku nggak jadi pulang. Katanya mereka masih ada urusan," jawab Amelia.


Orang tua Amelia beberapa hari yang lalu pergi ke London untuk menghadiri acara yang ada di sana, mamanya yang berprofesi sebagai model dan penyanyi begitu juga dengan papanya yang berprofesi sebagai aktor dan musisi. Bukan hanya itu, kakaknya Amelia juga mempunyai beberapa bisnis rumah sakit. Tak heran, karena kakak dari Amelia adalah seorang dokter spesialis bedah dan jarang pulang ke rumah. Kakak Amelia lebih sering menginap di rumah sakit, karena di sana juga terdapat kamar pribadi untuk di tinggalinya. Dan juga jarak antara rumah ke rumah sakit cukup jauh sekitar 3 jam perjalanan.


Maka dari itu, Amelia sering merasa kesepian karena kesibukan orang terdekatnya. Ia masih beruntung mempunyai sahabat yang selalu ada untuknya, jadi ia juga memutuskan untuk mengontrak dengan Grizelle dan Nayara. Guna untuk mengisi kesepian itu. Kedua orang tua dan kakaknya pun tak mempermasalahkan, karena mereka percaya jika ada Grizelle dan Nayara maka Amelia akan baik-baik saja.


"Nggak apa-apa Mel, kan masih ada kita." ucap Grizelle.


"Iya El. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti kalian," balas Amelia dengan mata yang mulai mengembun.


"Jangan nangis dong Mel, jelek tahu." timpal Andrew.


"Ih.. Kak Andrew mah," cebik Amelia.


Grizelle, Nayara dan Andrew pun tertawa.


**


Support dari kalian sangat saya butuhkan. Jadi beri saran dan kritikannya juga yah. Agar saya bisa memperbaiki cerita ini menjadi lebih baik lagi 😊


Jangan lupa untuk rate, like, serta tinggalkan jejak setelah membaca cerita ini. Ingat juga untuk vote, vote, vote sebanyak-banyaknya.


Terima kasih 😊🤗

__ADS_1


__ADS_2