
"Hei ternyata kamu jago memasak ya, ini makanan ketiga terenak setelah ibu dan istriku. Kurasa kamu bisa mengajari Cieryl memasak?"
"Saya sudah terbiasa memasak makanan saya sendiri, saya mau bertanya pak?"
"Hei-hei jangan mengalihkan topik pembicaraan"
"Haha, anggap saja ini sebagai upaya agar saya bisa mengenal Cieryl dengan lebih baik. Kemarin kami pulang agak telat, kami pergi melewati Pantai Lokakar"
"Aku sudah selesai"
Mongol meneguk segelas air, kemudian mengelap mulutnya dengan tisu. Akupun langsung merapikan meja, kemudian kembali duduk.
"Dulu aku, Cieryl, dan ibunya sering pergi ke Pantai Lokakar, setiap minggu sore. Namun saat Cieryl berusia 12 tahun, ibunya meninggal karena suatu penyakit. Semakin lama aku semakin sibuk, dan semakin sedikit waktuku untuk menemani Cieryl. Oleh karena itu, saat kemarin aku melihat Cieryl sebahagia itu, aku senang sekali. Jadi aku mohon pertimbangkan lagi, perihal tadi"
Aku hanya diam saja.
"Berapa?"
"Ah tidak usah pak, dan ini, kemarin saya meminjam uang Cieryl, tolong sampaikan rasa terima kasih saya"
"Kamu sungguh anak yang baik, kalau begitu akan aku sampaikan, oh iya, jangan lupa jam sembilan, dia terus memaksaku untuk memerintahmu"
Mongol pun pergi.
"Wanita yang belum dewasa"gumamku sembari tersenyum ringan.
.....
09.00
"Vant, akhirnya kamu datang juga"
"Iya, ini sate ikan Sandennya"
"Wah, terimakasih sangat harum, ayo masuk dulu, kita makan sama-sama"
"Aku tidak membuat banyak, hanya cukup untukmu saja, lagipula aku sudah makan"
"Jangan banyak alasan"
Cieryl menyeretku masuk ke rumahnya yang seperti istana.
"Tunggu disini, aku akan menyiapkannya terlebih dahulu"
"Hei tunggu"
09.08
"Ini dia, silahkan dimakan"
Cieryl mengambil dua buah sate, satu ditangan kanan, satu ditangan kiri, ia langsung memakannya dengan lahap.
"Sebaiknya kamu makan dengan tangan kananmu saja"
"Iya aku tahu, tapi ini benar-benar enak, kamu pandai sekali mengolah ikan Saden ini"
Cieryl terus mengambil sebuah demi sebuah, hingga sepuluh tusuk, habis semua olehnya.
"Hah, aku kenyang sekali, sate ini benar-benar enak"
"Sudah kubilang, ini hanya cukup untukmu saja bukan?"
"Wah, maafkan aku"
Matanya berkaca-kaca, akupun tertawa karena dia terlihat sangat lucu.
"Cieryl, ayo kita berangkat, sudah hampir jam 10"
"Ah iya, sebenarnya aku hari ini tidak ada jadwal, maaf"
Dia menunduk lemah.
"Aku tahu, akan kemana kita hari ini?"
"Kamu tahu, Kenapa tidak bilang dari awal?"
"Aku tidak mempunyai alasan untuk menolak permintaanmu kemarin"
"Dasar Vant"
Aku menggaruk tengkuk ku.
"Oh hei Nak, kamu sudah disini?"
"Pak, ternyata kamu sudah pulang?"
"Hei, kalian nampaknya akrab sekali?"
"Apa salahnya akrab dengan calon menantu, Cieryl?"
"A-apa!?"
__ADS_1
"Hahahaha, Nak, tolong jaga baik-baik anakku"
"Saat saya bersamanya, saya jamin dia pasti aman"
"Terimakasih nak, aku percaya denganmu"
"Ayah, sudahlah, sana pergi kerja!"
"Hahaha, kamu lucu sekali anakku"
"AYAH!!!"
"Baik-baik, ayah akan pergi, sampai jumpa"
"Apa!?, kamu mau menertawaiku juga?"
'Bagaimana seorang gadis manis sepertinya, bisa marah seperti iblis?'
"Hmm Cieryl, jangan marah, bukankah kita akan pergi hari ini?"
Cieryl memalingkan wajah.
"Hah, baiklah, aku akan pergi, aku masih harus menjual Sanden"
"Tunggu"ucap Cieryl lirih.
"Apa?"
"Aku tidak marah, aku hanya malu karena kamu melihatku diperlakukan seperti anak kecil oleh ayahku"
"Itu berarti, beliau tidak pernah melupakanmu, beliau masih tetap menyayangi gadis kecil manisnya"
"Uh, berhentilah, aku tambah malu tahu"
"Hahaha, maaf. Cieryl, aku mau bertanya?"
"Ya?"
"Kenapa kamu melakukan semua ini, kamu tahu, aku pun terkejut, ini..., sangat tiba-tiba?"
"Sudah ku tebak, kamu pasti akan menanyakan hal itu. Baiklah, ayo kita keluar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu di suatu tempat"
"Iya"
Kami pun pergi, selama perjalanan kami hanya diam, tidak berkomunikasi sedikit pun. Hanya hembusan angin pagi yang menemani kami.
Ya, tempat itu adalah Pantai Lokakar. Mungkin karena bukan hari libur, suasana pantai sepi, sarat akan pengunjung. Kami pun berjalan menuju tepi pantai dan duduk menikmati hembusan angin pagi dan sinar mentari yang hangat.
"Vant?"
"Kamu ingin mendengar kisah kecilku dan pantai ini?"
"Maaf, tapi aku sudah mendengarnya"
"Ayah ya?"
"Hmmm"
"Ibuku itu adalah pejuang keras, dia baik, cantik, pandai memasak, dan sangat menyayangi keluarganya, khususnya kepadaku"
"Langsung saja ke intinya, aku benar-benar harus kembali berjualan Sanden"
Cieryl sepertinya terkejut mendengar ucapanku, yah, meskipun nadaku datar, tapi kalimatnya memang sedikit kasar.
Whusssss, angin bertambah kencang. Cieryl menundukkan kepalanya kemudian perlahan-lahan menangis.
"Jangan menangis, jadilah lebih kuat, di masa depan, kamu akan menerima banyak kesulitan, bahkan mungkin, ada saat dimana kamu sudah lelah untuk melanjutkan hidup lagi"
"Pergi!!!, Pergilah!!!, aku tidak ingin mendengar ocehanmu, pergi!!!"
"Jangan terlalu lama berada disini, aku pergi"
Aku pun pergi.
"Sialan!!!"Umpat Cieryl sembari melempar pasir pantai kepadaku.
.....
17.34
"Hah, bagus, daganganku habis terjual. Besok aku akan menangkap Ikan Sanden, atau sekarang saja ya?"
18.56
Setelah menyiapkan beberapa alat, aku pun pergi ke Pantai Lokakar untuk menangkap Ikan Sanden.
.....
"Dia masih disini, aneh kenapa tidak ada orang yang mendekatinya?, tidak ada satupun jejak kaki orang lain, selain jejak kakiku dan Cieryl"
Cieryl sedang melamun, menatap lurus kearah laut. Aku pun pergi menghampiri Cieryl lalu duduk disampingnya.
__ADS_1
"Sudah kubilang jangan terlalu lama disini"
Cieryl melihatku, matanya kembali berair, dan ia menggertakan giginya. Cieryl langsung melempar pasir kepadaku lalu dengan cepat berdiri lalu pergi.
"Cieryl, kamu mau apa?"
Dia terus berjalan, tidak menghiraukanku. Aku mengejarnya.
"Hei, hei, kamu mau pulang?, biar aku antar"
"Kamu ini kenapa Sialan!?, Meninggalkanku lalu kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa?"
"Aku tidak meninggalkanmu, aku pun sudah pamit"
"Berisik!!!, pergi sana jangan pernah ganggu aku lagi, sungguh, kamu lelaki terburuk yang pernah aku temui"
Saat dia akan melangkah lagi, aku menggenggam tangannya.
"Berarti sebelumnya ada lelaki buruk lain yang pernah kamu temui?"
Cieryl terdiam.
"Hiks, hiks, hiks"
"Kemari"
Aku memeluknya erat, menjaganya dari malam yang semakin dingin.
"Terbiasalah dengan hal seperti ini, aku tahu kamu kuat"
"Hiks, hiks, hiks"
Dibawah jutaan bintang, aku terus mengusap kepalanya, tanpa melonggarkan pelukan.
"Vant?, hiks"
"Ya Cieryl?"
"Aku cinta kamu Vant"
"Hmm"
"Hiks, apakah kamu tidak bisa membalas perasa-hiks anku?"
"Tenang dulu, jangan terlalu cepat mengambil keputusan"
"Tapi-hiks, aku-hiks, sangat mencintaimu-hiks"
"Bagaimana aku tahu kamu benar-benar mencintaiku?"
Cieryl tidak menjawab, dan terus menangis. Akhirnya setelah beberapa saat perlahan Cieryl berhenti menangis.
"Aku tidak tahu"
"Tidak tahu?"
Cieryl mengangguk.
"Hahahahahaha"
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya.
"Kenapa?"
"Kalau begitu, ayo kita menikah?"
"Hah-ap-a!?, menikah?"
"Iya, kenapa, tidak mau?"
"Bu-bukannya begitu, tapi kenapa kita tidak mulai dari pacaran dulu, la-lalu kencan?"
"Pacaran itu tidak baik, jika berakhir hanya akan ada kesedihan dan dendam. Lagipula sesuatu yang setengah-setengah sulit untuk menjadi sesuatu yang sempurna"
"Ya, kau benar, jadi-"
"Aku sudah berjanji, kamu tunggu saja"
"Baik"
Aku terus mengusap kepala Cieryl.
Setelah mengantar Cieryl pulang, aku langsung berburu ikan Saden.
23.48
"Hah, tangkapan hari ini cukup untuk seminggu"
Ketika aku akan menggotong hasil tangkapanku, tiba-tiba ada tiga orang laki-laki menghadangku. Mereka membawa golok, dari perangainya mereka adalah perampok.
"Hei, berikan ikan-ikan Sanden itu?"ucap salah seorang yang berdiri di tengah.
__ADS_1
"Oh abang-abang, sudah selarut ini masih saja berkeliaran"
.....