
Mella menahan tawanya saat melihat Chika, Raisa dan yang lainnya menoleh ke arah Mella. Wajah mereka telah menjadi media melukis bagi Jun.
Dengan sesuka hati, Jun melukis di wajah mereka tanpa mereka sadari. Hingga pada akhirnya mereka menjadi bahan tertawaan satu kelas. Bahkan guru bidang studi yang tengah fokus menjelaskan materi ikut tertawa terbahak-bahak.
Chika dan Raisa saling pandang karena mereka bingung dengan apa yang terjadi. Mengapa semua tertawa terbahak-bahak seperti itu.
Dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat wajah yang ada dihadapannya telah berubah dengan riasan seperti seorang badut.
"Aaa ! mengapa wajahmu jadi seperti itu ?." tanya Chika dan Raisa secara bersamaan.
Kemudian mereka langsung mengeluarkan kaca kecil yang selalu mereka bawa untuk memastikan penampilan mereka.
Begitu terkejutnya melihat wajah mereka, keduanya segera berlari keluar menuju ke kamar mandi, mereka ingin membersihkan wajah yang sangat mengerikan bagi mereka.
Sementara Mella tersenyum dan mengacaukan jarinya jempolnya ke arah Jun sebagai tanpa bahwa apa yang Jun lakukan adalah yang terbaik.
Setelah pelajaran selesai, Mella mengendarai mobilnya menuju ke kantor Polisi. Ia ingin segera menemui ibu Della, ia ingin meminta bantuannya untuk membuka kembali kasus ayahnya.
Mella ingin membuktikan kepada seluruh dunia bahwa ayahnya tidak bersalah dan ayahnya adalah korban yang sebenarnya dalam kasus ini.
Setelah menunggu lama akhirnya Mella bisa menemui ibu Della di ruangannya.
"Mella bagaimana kabarmu ?" tanya ibu Della saat Mella telah masuk ke ruang kerjanya.
"Alhamdulillah Mella baik Bu, malah jauh lebih baik. Bagaimana dengan ibu sendiri ?." tanya Mella.
"Seperti yang kau lihat. Apa yang membuatmu datang menemui ibu ?." tanya ibu Della lagi.
"Bu saya ingin meminta tolong kepada ibu, saya ingin membuka kembali kasus ayah saya. Saya ingin mencari keadilan untuk ayah saya dan seluruh keluarga saya."
"Bisakah ibu membantu saya. Saya mempunyai cukup bukti bahwa ayah saya tidak bersalah. Karena saya melihat sendiri semua peristiwa pahit itu terjadi." ucap Mella.
"Apakah kau yakin ?." tanya Ibu Della.
__ADS_1
"Iya Bu, saya sangat yakin sekali. Saya harus mencari keadilan untuk keluarga saya." jawab Mella dengan mantap.
"Baiklah ibu akan membantu mu. Sekarang mari ikut ibu. Agar kasus ini segera ditangani." ucap Ibu Della.
Kemudian mereka keluar dan menuju kesebuah ruangan, dimana Mella membuat laporan dan permohonan untuk membuka kembali kasus yang menimpa ayahnya.
Setelah semua proses telah ia lalui, akhirnya Mella berpamitan pulang kepada ibu Della.
"Ibu terimakasih atas bantuannya, saya permisi terlebih dahulu." ucap Mella dengan sopan.
"Mella, apakah kau siap dengan semua hasilnya nanti ? Dan kau harus ingat, apapun hasilnya nanti tetap tidak bisa mengembalikan semua seperti sedia kala." ucap Ibu Della.
"Iya Bu, Mella siap. Mella telah membulatkan tekad untuk masalah ini. Apapun hasilnya nanti Mella yakin itu yang terbaik bagi Mella." jawab Mella.
Ibu Della tersenyum mendengar jawaban Mella. Beliau menepuk pundak Mella sebagi bentuk dukungan darinya.
Meskipun beliau tidak yakin seratus persen dengan hasilnya. Namun beliau tetap berusaha mendukungnya. Sejauh ini belum ada kasus yang berubah dengan keputusan awal terkait kasus bom bunuh diri.
Setelah sampai seperti biasanya, Mella melakukan rutinitasnya. Setelah selesai barulah ia duduk di ruang keluarga ditemani oleh Jun.
Jin yang ia temui tanpa sengaja dan telah merubah kehidupannya hingga ia bisa mengajukan permohonan untuk membuka kasus yang menimpa ayahnya.
"Jun menurut mu apa yang membuat ibu Della terlihat ragu saat mengetahui bahwa aku ingin membuka kembali kasus ayah ?." tanya Mella.
"Karena selama ini, seseorang yang telah ditetapkan bersalah tidak ada yang bisa merubahnya. Apa lagi kasus yang terjadi pada ayahmu."
"Dan asal kau tau, Jendral bintang 3 seperti bedebah itu, pasti akan menggunakan kekuasaannya untuk membela diri."
"Apalagi kau hanya anak kemarin sore, yang tidak mempunyai apapun. Jangankan kekuasaan keluarga saja kau tidak punya." jawab Jun jujur.
"Jun apakah seperti itu menjadi orang miskin ? apakah seperti ini nasib bagi kami orang-orang miskin yang tidak mempunyai pangkat dan jabatan ?."
"Apakah keadilan itu hanya untuk si kaya saja ? apakah si miskin tidak bisa mendapatkan haknya ?." tanya Mella dengan menitikberatkan air mata.
__ADS_1
Ia ingat betul bagaimana jendral bedebah itu memperlakukan ayahnya. Bahkan saat itu ayahnya langsung divonis bersalah tanpa bisa melakukan sebuah pembelaan.
"Nona jangan sedih, kebanyakan si miskin akan mendapatkan hukuman yang jauh berbeda dengan si kaya."
"Dan untuk di dunia ini tidak ada yang bisa memberikan keadilan yang seadil-adilnya. Karena keadilan yang sesungguhnya hanya milik Allah."
"Tapi percayalah ayah nona akan mendapatkan keadilan itu. Dan nona bisa membuktikan kepada dunia bahwa apa yang mereka lihat tidak selamanya benar dan sesuai kenyataan." jelas Jun dengan bijaksana.
"Terimakasih Jun, aku sangat bahagia bisa mengenalmu." jawab Mella.
Kemudian Mella bersandar di pundak Jun. Sebenarnya ia sangat rapih saat ini. Tapi karena Jun ia bisa berdiri sampai di titik ini.
'Seandainya hal ini kekal, maka aku sangat bahagia sekali, Jun sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Entah kapan hal ini terjadi. Satu hal yang pasti aku sangat mencintaimu.' batin Mella.
'Yes ! Yes ! Yes ! Mella mencintai ku, artinya cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Mella aku juga sangat mencintaimu. Bahkan sangat-sangat mencintaimu.' batin Jun.
Keduanya asik menolong sendiri, tanpa Mella sadari bahwa Jun bisa mendengar suara hatinya. Jun yang mendengar bahwa Mella mencintainya begitu sangat bahagia.
Kini hatinya dipenuhi oleh bunga-bunga asmara. Tangannya memeluk erat tubuh Mella. Seorang gadis yang telah memiliki hatinya.
Mella menyambut pelukan Jun, ia memposisikan dirinya ke posisi yang nyaman agar kehangatan kasih mereka semakin erat.
Tanpa kata yang terucap keduanya saling mencintai dan merasa saling memiliki. Tanpa kata yang terucap mereka berjanji untuk saling mencintai dan saling menjaga kesucian cinta mereka.
"Jun .., " ucap Mella.
Namun kalimat terhenti saat Jun membungkam mulutnya dengan bibir seksinya. Mereka saling mengungkapkan perasaan yang keluar dari lubuk hati yang terdalam, meskipun tanpa kata.
"Mella, biarkan hal ini terjadi lebih lama, aku ingin memelukmu lebih lagi. Jangan pergi dan jangan katakan yang lain." ucap Jun dengan menatap wajah Mella.
Mella tersenyum dan mengangguk, keduanya kembali mencurahkan kasih sayang, melupakan sejenak betapa fana nya dunia ini.
Melupakan sejenak masalah pahit yang Mella hadapi, melupakan kesedihan dan merajut kebahagiaan bersama. Dalam ikatan cinta yang tulus dan suci, meskipun keduanya terpisah oleh dunia yang berbeda.
__ADS_1