
Kedua orang tua Nelly mendatangi rumah Dul, saudaranya sekaligus anak buah orang yang telah menghancurkan dan membunuh Nelly.
Dan Kebetulan saat itu Dul masih berada di rumahnya. Dengan cepat mereka masuk kedalam rumah dan langsung mengutarakan keinginannya.
"Dul sekarang juga antar kami ke rumah orang yang telah membunuh Nelly." ucap mereka secara bersamaan.
"Tenanglah dulu, kalian jangan terburu-buru. Kalian harus ingat siapa orang yang ingin kalian datangi itu." ucap Dul.
"Kami tidak perduli, siapapun dia, dia harus bertanggungjawab atas apa yang telah ia lakukan terhadap Nelly." jawab sang ibu.
"Apa kalian yakin ? taukah kalian beliau adalah seorang pejabat negara. Beliau berpangkat Jenderal ! dengan apa kalian akan meminta pertanggung jawabannya ?." tanya Dul.
"Mau dia pejabat negara, mau Jendral jika bersalah seharusnya mendapatkan hukuman atas kejahatan yang ia lakukan."
"Katakan dimana penjahat itu tinggal kami akan membuat perhitungan dengan mereka." ucap sang ayah.
Beliau telah membulatkan tekad untuk menuntut balas atas perbuatan keji yang Jendral itu lakukan. Sebagai seorang saudara Dul mengingatkan keduanya agar mengikhlaskan saja apa yang telah terjadi terhadap Nelly.
Jangan pernah mengusik Jendral Pranoto, karena itu akan berakibat buruk terhadap mereka dan juga keluarganya. Mereka harus memikirkan nasib Gani. Gani masih membutuhkan mereka.
Tapi amarah dan dendam telah menguasai mereka, mereka begitu marah dan kecewa menerima jasad sang putri yang begitu mengenaskan. Menjadi pelampiasan nafsu seorang lelaki psikopat.
Entah bagaimana kelakuan penjahat itu, sehingga putrinya sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Orang tua yang mana yang akan diam saja melihat sang putri diperlakukan seperti itu.
Pergi dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, ketika kembali sudah tak bernyawa lagi karena dijadikan pelampiasan nafsu hidung belang.
Tanpa mendengarkan larangan Dul, mereka berdua berusaha mencari sendiri keberadaan Jendral Pranoto. Mereka harus menuntut balas atas kematian anaknya.
Waktu telah berlalu, silih berganti tanpa bisa dihentikan. Tiba saat dimana Jendral Pranoto bertemu dengan kedua orang tua Nelly.
Kebetulan saat itu hendak mengirimkan barang haram kesatu tempat. Tanpa berfikir dua kali kedua orang tua Nelly menghampiri mereka semua.
__ADS_1
Melakukan kerusuhan, tak cukup sampai disitu. Mereka menyiramkan bensin pada barang-barang yang sudah mereka masukkan kedalam sebuah kontainer.
"Bajingan ! apa yang mereka lakukan ? berani sekali mereka mengusikku." ucap sang Jendral dengan amarah yang membara.
Bagaimana ia tidak terbakar amarah, Narkoba yang sudah siap kirim itu dengan sengaja mereka siram dengan bensin. Jelas sekali kerugian yang akan ia alami.
"Cepat tangkap mereka berdua dan bawa kehadapan ku sekarang juga !." perintah Jendral Pranoto.
Anak buah Jendral Pranoto langsung bergerak dan segera meringkus perusuh itu. Tangan keduanya di ikat dan mereka berdua dipaksa untuk berlutut di hadapan Jendral Pranoto.
"Siapa yang telah menyuruh kalian untuk menghancurkan Bisnisku ?." tanya Jendral Pranoto.
"Tidak ada orang yang menyuruh kami. Kami ingin menuntut balas atas kematian anak kami." jawab keduanya.
"Apa hubungannya kematian anak kalian dengan ku ?." tanya Jendral Pranoto.
"Kau yang telah membunuh anak kami dengan cara melampiaskan nafsu mu !." jawab wanita itu tanpa rasa takut.
Kemudian salah satu anak buah Jendral Pranoto membisikkan sesuatu. Ia menjelaskan bahwa dia orang yang ada dihadapannya adalah orang tua dari gadis yang mereka berikan untuk Mr.R dan akhirnya meninggal dunia waktu itu.
"Seandainya kian tidak mengusikku dan membuat aku rugi ratusan juta, maka aku akan memberikan kalian ganti rugi atas apa yang terjadi pada anak kalian."
"Asal kalian tau, anak kalian telah memberikan pelayanan yang terbaik bahkan sampai saat ini aku masih ingat bagaimana nikmatnya bercinta dengannya." ucap Jendral Pranoto.
"Cuih ! Dasar kau bajingan kau tidak layak untuk hidup kau harus mati !." ucap ibunya Nelly sambil meludahi wajah Jendral Pranoto.
"Brengsek ! berani sekali kau meludahi wajah ku. Beri ia pelajaran agar ia ingat untuk selamanya." ucap sang Jendral memberi sebuah perintah.
Salah satu dari mereka maju dan menampar wajah wanita agar hingga darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya.
Dengan sekuat tenaga sang suami mencoba melindungi istrinya namun apalah daya ia juga mendapatkan perlakuan yang sama.
__ADS_1
Tubuh lemah yang sudah terikat itu mereka jadikan bulan-bulanan bak sebuah permainan. Jerit tangis dan rintihan mereka bagaikan sebuah alunan musik yang merdu.
"Ya Allah tolonglah hamba, selamatkan istri hamba." ucap sang suami ditengah-tengah penderitaan yang dialaminya.
Hahaha
"Teruslah memohon kepada tuhanmu, tapi harus kau ingat yang bisa menolong kalian saat ini hanyalah Jendral Pranoto." ucap salah satu dari mereka di iringi gelak tawa.
"Lebih baika aku mati dari pada harus meminta pertolongan pada bajingan seperti dia." ucapnya tanpa rasa ragu.
"Baiklah jika itu keinginan kalian." jawab Jendral Pranoto.
Ia lalu mendekati tubuh lemah itu, dengan sesuka hati ia melakukan penyiksaan demi penyiksaan agar lelaki yang sudah dalam keadaan tak berdaya itu memohon pengampunannya.
Namun lelaki itu tetap diam, hanya berdoa dan mengucapkan doa-doanya dengan penuh keyakinan. Hal itu tentu saja membuat sang Jendral terbakar api amarah.
Mungkin setan yang telah menguasainya merasa terbakar dengan doa-doa yang diucapkan manusia lemah dihadapannya itu.
Sehingga ia berpindah menyiksa wanita yang merupakan istri dari lelaki itu. Jeritan dan rintihan dari sang istri bagaikan sebuah pisau yang menyayat hatinya.
Pendirian yang awalnya begitu kuat perlahan mulai tergoyahkan dengan jerit tangis sang istri. Lelaki itu berusaha menolong sang istri dan hendak memohon pengampunan dari Jendral Pranoto.
Namun ia malah disiksa kembali oleh sang Jendral dan juga anak buahnya. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar jeritan dan tangis manusia lemah dihadapan mereka.
Mereka telah kehilangan hati nurani, bahkan seekor binatang sekalipun tidak akan ada yang tega melihat salah satu dari mereka disiksa dan di aniaya.
Jika binatang itu tidak bisa menolong maka mereka lebih baik pergi karena tidak sanggup melihat salah satu dari mereka menderita.
Tapi berbeda dengan manusia-manusia yang kini tengah tertawa diatas penderitaan manusia lain yang mereka anggap bukan bagian dari mereka.
Sungguh manusia lebih mengerikan dari binatang buas sekalipun. Disaat seperti itu tiba-tiba datang seorang lelaki yang menggunakan sebuah peci dan jubah.
__ADS_1
Wajahnya yang teduh penuh dengan kasih sayang. Tanpa pikir panjang beliau menolong seorang wanita lemah yang sedang di siksa itu meskipun mereka tidak saling mengenal.
"Tolong selamatkan istri saya." ucap sang suami saat melihat ada seseorang yang datang ingin menolong mereka.