
"Jun aku serius, aku bukan sedang bercanda." ucap Mella.
"Aku juga serius. Ah maksudku tempat ini berada di dunia kami. Dunia yang belum pernah nona datangi." jawab Jun.
"Apa kau yakin ?." tanya Mella.
Jun tersenyum, kemudian ia menutup kedua mata Mella dengan satu tangan dan tangan yang lainnya membimbing Mella untuk berdiri dan berjalan.
Mella menurut seperti anak kecil. Ia berjalan dengan mata tertutup sedangkan tangannya memegang erat lengan Jun.
"Lihatlah nona, saat ini kita berjalan di atas air terjun. Jika ini taman yang ada di dunia manusia pasti nona akan terjatuh dan basah kuyup." ucap Jun sambil membuka tangannya.
Mella membuka kedua matanya, ia melihat kebawah dan benar saja ia berada di atas air terjun yang sangat jernih.
Di Kelilingi bunga-bunga yang berwarna-warni dengan keharuman yang sangat luar biasa. Mella berjalan mengikuti aliran air.
Ia kemudian duduk mencoba menyentuh air tersebut, alangkah senangnya ia karena air tersebut layaknya air pada umumnya.
Dengan cepat ia memercikkan air tersebut kearah Jun. Spontan hal itu membuat Jun terkejut, namun dengan cepat ia membalas perbuatan Mella.
Kedua kembali berlari-lari kecil, saling kejar dan sesekali memercikkan air kearah lawan. Mereka tertawa begitu bahagia.
Keduanya kemudian merebahkan tubuh mereka di atas rumput nan hijau. Melihat awan yang indah sebagi penghias langit yang berwarna biru.
"Jun, apakah aku boleh tinggal di sini ? tempat ini begitu indah. Disini begitu tenang dan damai." ucap Mella sambil menatap kearah Jun yang masih tersenyum melihat awan.
"Nona, kau tidak boleh tinggal di dunia kami. Dunia kita berbeda. Nona akan lebih baik jika tinggal di dunia nona sendiri." jawab Jun dengan sedikit kecewa.
"Apakah kau keberatan jika mengajak ku tinggal di sini bersama mu ?." tanya Mella lagi.
__ADS_1
"Bukan itu maksudnya, nona harus tetap tinggal di dunia nona. Karena takdir nona adalah menjadi manusia, bukan seperti kami."
"Kalau bisa memilih, aku akan sangat senang hati membawa nona tinggal di sini bersama. Menghabiskan waktu bersama." jawab Jun dengan menatap wajah cantik didepannya.
"Jun, apa yang harus aku lakukan ? aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Semua orang melihatku dengan sebelah mata. Seandainya aku bisa memilih aku lebih baik pergi bersama dengan keluarga ku "
"Akan lebih baik jika aku pergi meninggalkan dunia yang penuh dengan kebohongan dan kebencian itu. Aku ingin hidup dengan damai dan tenang." jawab Mella dengan setitik air mata dipeluk matanya.
"Jangan sedih nona, hidup nona akan bahagia. Percayalah itu. Dan satu hal lagi, kita jalan-jalan kalo ini untuk menghilangkan dan melupakan sejenak masalah yang ada."
"Bukannya kita lari, namun kita hanya butuh waktu sejenak untuk melupakan masalah dan beban hidup kita ini. Kita berhak untuk bahagia." jawab Jun sambil mengusap air mata yang hampir terjatuh itu.
Keduanya saling tatap kemudian tersenyum, Mella meraih tangan Jin dan menggunakannya sebagai bantal. Kedamaian mulai ia rasakan, perlahan namun pasti kedua matanya mulai terpejam.
Ia tertidur dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya itu. Jun tersenyum melihat wajah Mella yang begitu meneduhkan itu.
Sebuah maha karya yang sangat luar biasa, begitu indah dan sempurna. Jun memandangi wajah itu tanpa pernah puas dan jenuh.
Perlahan Jun membaringkan tubuh Mella di atas ranjang, kemudian menyelimutinya. Ketika hendak pergi, tiba-tiba Mella menangis pilu, sambil menyebut kedua orang tuanya dan juga kakaknya.
Mella berteriak kemudian ia terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Dengan cepat Jun memberi Mella segelas air putih.
Mella langsung meminum air tersebut dengan sekali teguk. Nafasnya memburu dan ia terengah-engah. Dengan sabar Jun membelai wajah Mella dan menepuk pundaknya pelan-pelan.
"Apakah kau bermimpi buruk ?." tanya Jun.
"Kejadian itu selalu muncul dalam mimpiku, kejadian dimana keluargaku pergi untuk selamanya." jawab Mella.
"Apakah kau selalu bermimpi tentang hal itu ?." tanya Jun dengan sedikit penasaran.
__ADS_1
"Iya, kenangan pahit itu selalu muncul dalam mimpiku. Seolah-olah aku masih berada di situasi saat itu. Sangat jelas sekali dalam ingatanku setiap detik dan peristiwa pahit saat itu." jawab Mella.
'Apakah sebenarnya yang terjadi ? Sampai peristiwa itu begitu membekas di alam bawah sadar gadis ini.' batin Jun.
"Lebih baik kau ambil air wudhu, dan berdoalah agar hati mu lebih tenang." ucap Jun dengan tulus.
"Terimakasih Jun, kau selalu ada buatku. Tapi bukankah kita tadi sedang berjalan-jalan disebuah taman yang sangat indah ?."
"Apakah hal itu juga hanya sebatas mimpi ? Atau hanya ilusi yang kau ciptakan untuk menghibur ku ?." tanya Mella sambil menatap wajah Jun.
Jun tersenyum melihat tingkah Mella, bagaimana itu sebuah mimpi atau ilusi. Itu adalah sebuah kenyataan indah yang pernah Jun rasakan. Bahkan saat ini ia bersyukur bisa menjadi jin yang dipertemukan dengan Mella.
Seorang gadis yang begitu baik, bahkan ketika ia mengabulkan permintaannya untuk mempunyai harta yang berlimpah. Ia tetap memilih hidup sederhana dengan kesendiriannya.
"Mengapa kau tersenyum ?." tanya Mella.
"Apakah kau menganggap peristiwa tadi hanya sebuah mimpi ?." tanya Jun tanpa menjawab pertanyaan Mella.
"Entahlah yang aku ingat tadi kita pergi ke sebuah tempat, tapi kini kita sudah berada di dalam rumah. Dan aku bermimpi tentang peristiwa pahit itu." jawab Mella dengan jujur.
"Baiklah nona, jika kau sudah tidak capek kita akan melanjutkan rencana kita selanjutnya." ucap Jun kemudian pergi melangkah meninggalkan Mella.
Sementara Mella hanya bisa menatapnya dengan bingung. Ia tidak mengerti dengan semua ini. Mimpi atau kenyataan, yang pasti Mella sangat bahagia bisa melihat taman seindah itu.
Setelah itu Mella bangkit dan segera membersihkan diri. Menjalankan rutinitas seperti biasanya. Sementara Jun hanya duduk termenung.
Ia masih mengingat peristiwa yang mereka lewati bersama di taman tadi. Begitu indah, ini untuk pertama kalinya ia merasa sangat bahagia menjadi jin.
Ya, sejak ia menjadi jin karena kutukan dan hukuman dari kesalahannya dimasa lalu, ia sangat membenci keadaannya. Apalagi setelah ia dikurung selama beberapa tahun dalam sebuah guci yang sangat kecil.
__ADS_1
Namun, nasib baik menghampirinya. Ia dipertemukan dengan seorang gadis cantik seperti Mella. Gadis Sholehah yang tanpa sengaja mengeluarkannya dari guci itu.
'Sayang sekali, Mella hanya mengganggap itu hanya sebuah mimpi. Padahal aku masih bisa merasakan debaran jantungku saat ia terpejam di sampingku dan menggunakan tanganku sebagai bantal, dan ia tersenyum manis tepat dihadapan wajahku.' batin Jun.