
Riani berjalan dengan setengah berlari ,ia mengejar bus yang hampir berjalan ,ia takut terlambat,karna bosnya,sangat pemarah dan matanya yang setajam elang itu kalau melihatnya membuat nyalinya ciut.
"Mati aku!,kalau sampai terlambat kemarin bos yang menyebalkan itu menatap tajam dirinya dan saat berpapasan,ia melihat dengan pandangan dingin. kearahnya"
Riani bicara di dalam hati,ia melihat jam tangannya,ia agak merasa legah. Riani melihat hp,ia tersenyum saat membaca isi wa dari temannya,ia membalanya dan lagi lagi ia tersenyum sendiri,orang yang berada di di sampingnya melihat dengan heran,ketika ia melihat ada hp ditangannya orang itu tersenyum sambil mengelengkan kepala.
Saya kira mengapa cewek ini tertawa sendiri,rupanya sedang melihat hp,pantas!. anak mudah zaman sekarang memang banyak yang aneh"
Riana menoleh pada pemilik suara,dilihatnya seorang ibu melihat padanya,ia menganggukan kepala dan tersenyum malu.
"Buk"
Riani menyapa ibu tersebut,ibu mengangguk dan tersenyum.busl telah sampai di halte ,halte itu besebrangan dengan kantor Riani.Riani turun,ia menuju kantornya .
sampai di kantor temannya sudah banyak datang ,untung sat ini ia tidak terlambat,saat akan masuk keruangannya ia berpapasan dengan bosnya,bos melihat tajam padanya,Riani gugup ia salah tingkah,untung ia teringat untuk menyapa bosnya.
"Selamat pagi pak?."
""Pagi!."Bos berhenti sebentar
"Antarkan kopi keruang saya,cepat karna saya tidak suka menunggu!." bos menyambungnya.
Riani terkejut,ia melihat pada bosnya,lalu ia melihat pada teman temanya.
"Hai,,apa yang kamu tunggu!."Suara bos agak meninggi,karna Riani belum bergerak
Riani terkejut lagi,walau begitu ia bergegas pergi membuatkan minum,sampai di pantri,ia mengomel ia kelihatan kesal.
"Saya di buatnya seperti ob saja,saya diterima di sini sebagai karyawan bukan sebagai ob,menyebalkan sekali punya bos seperti dia."
Riani masih mengomel.
Riani berhenti mengomel kita ia melihat ob yang berada disana,ob melihatnya,ia menyapanya,
"Buk ,ada apa ibu kesini,apa yang bisa saya bantu ,ibu seperti sedang kesal,ada apa buk?."
Riani tersenyum mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari ob tersebut.
"saya mau buat kopi mbak,saya lupa,dimana letak gula dan kopi mbak."
"Untuk bos lagi mbak".Ob bertanya
Riani mengangguk,saat ia akan mengambil cangkir,ob itu mencegahnya.
__ADS_1
"Biar saya saja yang membuatnya,lalu ibu yang antar,kalau saya yang antar nanti bos marah kepada ibu."walau kesal Rianti tersenyum.
setelah selesai membuat kopi ob tersebut memberikan secangkir kopi pada Riani.
"saya harus banyak bersabar menghadapi bos mbak itu."
Ob tertawa mendengar ucapan Riani,Riani walau kelihatan kesal ia ikut tersenyum.
"buk,bukan bos saya sendiri tapi ,bos ibu juga."
Riani mengerlingkan matanya pada ob tersebut dan ia berlalu dari hadapan ob itu,ob tersenyum melihat Riani berlalu..Teman satu kantor memperhatikan Riani yang membawa secangkir kopi,mereka tersenyum pada Riani,ada yang menggodanya.
"Wah!,sayang sekali sama bos,sampai sampai minumannya di hantar,kami ingin juga dibuatkan minuman Riani."
Riani menatap Santi,ia kelihatan kesal,temanya dikantor tertawa.karna kesal ia tak melihat siapa yang datang,minuman kopi tumpah didepan Riani, untung tak mengenai badan orang itu,saat Riani melihat orang itu,ia terkejut,Bosnyalah yang ada di depannya, air kopi berserakan di lantai,Bos itu kelihatan sangat marah,ia menatap tajam ke Riani,Riani takut sekali menatap Bosnya,ia tertunduk.
"Hei!,angkat kepalamu!."
Riani sangat takut ia cepat mengangkat kepalanya,bosnya menatap tajam dan tak berkedip,mukanya merah ia sangat marah.Temannya yang melihat itu diam dan cepat cepat mengerjakan sesuatu.
"Kamu datang kekantor ini kerjanya mau menyiran saya ya!."
"Tidak pak,saya minta maaf pak."
"Hai,kamu menganggap enteng saya ya!,bicara dengan saya tapi,tak mau melihat pada saya,kamu tidak menghargai saya ya!"
Riani gemetar ia memaksakan melihat pada Salim sang bos besar.
"Saya tidak memandang enteng bapak ,sunggu!,saya takut pada bapak.".
Saat melihat Rosi gemetar Salim diam beberapa saat.Salim sudah agah meredah emosinya,saat melihat pada Riani natanya sudah berkaca kaca.
"Sekali ini kamu saya maafkan,kalau kamu ulang lagi kamu silakan angkat kaki dari kantor ini,nah!, sekarang bersihkan lantai ini,setelah itu cepat bekerja,jangan banyak gosip."
Salim berkata sambil melihat karyawan yang lainnya.Salim berlalu,hati Riani baru merasa legah,ia langsung mencari pel dan cepat cepat mengepel di bantu cleaning service,teman sekantor melihat itu hanya diam nereka takut pada bos besar mereka.
Riani baru saja tiba dirumahnya ia melihat hari jam enam sore,setelah mandi ,Riani menolong ibunya memotong ubi untuk di jadikan keripik balado,ibunya menjual lontong sayur di depan rumahnya.langganan ibunya banyak di waktu pagi, bapaknya pekerjaanya bertani, yang di garap bapaknya sawahnya sendiri.
"Riani, setelah memotong keripik kamu kacau lontong ya,biar ibu yang meneruskan mengoreng keripik dan memberi cabenya."
Ibunya menyuruh Riani memotong keripik
Riani mengangguk,itulah pekerjaan Riani sehari hari,setiap ia pulang berkerja akan membantu ibunya di dapur.Hanya hari minggu ia bisa bebas untuk berjalan bersama temannya.Setelah menolong ibunya ia masuk ke dalam kamarnya.Ketika ia akan melihat hp ,teleponya itu berdering,Riani melihat siapa yang telepon,temannya Yanti menelepon,mereka satu universitas dulu dan juga sama sejak di SMA.
__ADS_1
"halo Yan,ada apa,apa kita jalan ke pantai,baik lah hari minggu ya,ya,asalammualaikum.".
Riani menutup teleponya,ia kelihatan mengantuk hari itu ia nampak letih,ia menaiki tempat tidur dan dan tertidur.
Riani pergi ke pantai bersama Yanti dan zul,juga alvian.mereka dulu waktu kuliah sangat akrab,Alvian menaruh hati pada Riani,Alvian dan zul sama sama ganteng Alvian badanya agak tinggi dari Zul.
"Riani kabarnya kamu sudah bekerja,sudah lama kita tak berjumpa,waktu saya di bawah oleh yanti untuk ketemu kamu, saya tidak bisa menolak"
Riani melihat pada Zul dan Yanti,
"Saya sudah bekerja Alvian,tapi bos nya ngeri sekali, kalau berjumpa dengan dia,ia main perintah saja."
"Mumgkin ia naksir kamu Riana."
Riana terkejut ia lalu tertawa,mendengar ucapan Avian."
"Naksir kamu bilang ,itu tak mungkin !,orangnya sombong sekali dan bicaranya agak kasar,berada dekatnya saya ngeri alvian ia terlalu ,susah saya mengatakannya,saya bisa mati berdiri kalau sering bersama dia."
"Biasanya kalau seperti itu,mereka berdua akan saling tertarik." Zul menambahkan,Riani mencibir
"Kita bicara topik lain saja,kerna gaji besar saja saya mau bertahan kerja di sana,Zul."
Zul tersenyum mendengar ucapak Riani
"Riani apa kamu sekarang sudah punya pacar?,kalau belum ,pacaran sama saya saja,saya masih jomblo Riani."
Riani mencibirkan mulutnya dan tersenyum
"Malas sama kamu,kita berempat sudah seperti saudara,kalau kita pacaran,dan putus pertemanan kita akan berakhir,saya tak mau seperti itu."
Zul tersenyum pada Alvian.
"Kamu itu dari dulu mengejar,Riani terus,kan sudah dia katakan ,kamu itu sudah seperti saudara,kita ini saudara Riani,paham kan?."
"kalau seperti itu,apa boleh buat,tak jadi pacar ,jadi saudara pun tak apa apa"
Alvian berkata dengan nada yan di buat sedih, Zul danYanti tersenyum.
Riani berseru,
"kita sudah sampai di tepi pantai,mari kita kesana," Riani menunjuk pantai
Mereka berempat berlari kepantai,mereka dikira dua pasang kekasih .Mereka saling kejar ,Alvian selalu berada dekat Riani,mereka menghadap laut,ketika ombak datang Riana dan Yanti berlarian meninggalkan ombak,mereka takut badah kena air laut,mereka tertawa bersama.
__ADS_1