
Riani,asik mengerjakan pekerjaanya,tiba tiba ia dipanggil untuk ke Ruangan Salim,Riani meninggalkan pekerjaanya,ia menuju ruang Salim, Riani mengetuk pintu,setelah di suruh masuk ia masuk ke ruangan salim
Dilihatnya Salim sibuk memeriksa berkas,Riani berdiri disamping Salim.Salim melihat padanya.
"Tolong belikan saya makanan,dan seperti biasa,buatkan juga saya kopi."
Salim berbicara tanpa menoleh pada Riani
"Satu lagi,pakai uang kamu dulu beli tiga bungkus nasi,terserah nasi goreng atau pical lele,nanti saya ganti,saya tidak ada uang kecil"
Salim masih tidak menoleh pada Riani,Riani kesal,ia mencibirkan mulutnya pada Salin ,pria itu tak menyadarinya.
Riani berjalan menuju kantin.Lusi masuk kedalam gedung,ia menuju Ruangan Salim,karyawan di kantor Salim banyak yang mengenali Lusi,karna lusi sudah sering membantu pekerjaan Salim.Setiap ada karyawan berpapasan dengan lusi mereka mengangguk hormat padanya.Ketika Lusi tiba di depan ruangan Salim,ia mengetok pintu.
"Tok,tok,tok"
Salim melihat pada pintu
"Masuk!!"
Lusi masuk, dilihatnya Salim sedang sibuk,dengan berkas berkasnya.
"Mas kok mas tidak nenyambut karyawan mas sih! " Lusi tampak kesal.
Salim tersenyum,ia istirahan dari pekerjaanya.
Salim menuju kursi tamu dimana Lusi telah terlebih dahulu duduk.
"Kamu kok terlambat dek,kalau kamu sering terlambat ,gaji kamu saya kurangi,dan kalau seperti uni terus ,kamu memberi contoh yang tak baik pada karyawan lain".Salim berbicara sambil menatap Lusi,Lusi tersenyum manja pada masnya .
Mas,saya mau makan perut saya lapar Saya makan kemarin,hari ini belum,tadi saya tergesa gesa menjemput teman saya,eee,yang di jemput telah terlebih sahulu pergi kerja." Salim tersenyum.
Pekerjaan kamu ganda ya sekarang,jadi penjemput orang sekarang.
Lusi tersenyum.
Yang saya jemput tadi spesial mas,nanti mas akan mengucapkan terima kasih pada saya.
Salim tersenyum,ia sepertinya menyembunyikan sesuatu.
Sebentar lagi karyawan yang membelikan nasi datang,nanti kita makan bersama di sini
Lusi mrngangguk,ia tersenyum manis pada masnya.
"Mas ruangan saya dimana,apa masih di tempat yang dulu?"
Ya,tempat itu kalau kamu tidak ada ,tidak ada yang menghuninya. Salim berkata sambil melihat adiknya.
Riani terlihat berjalan santai membawa sekantong plastik makanan.,Dengan tenangnya ia mengetuk pintu.
Lusi melihat pada masnya,mas melihat dengan wajah tersenyum.
"Masuk!.
Salim menyuruh yang mengetuk pintu masuk
Riani masuk keruangan tersebut dan meletakan makanan.Lusi terkejut melihat Riani.
"Riani!' lusi terpekik, Riani terkejut,melihat itu Salim tersenyum.
Riani menoleh pada lusi,ia pun terkejut.
"Lusi!" Seperti lusi ia terpekik juga
__ADS_1
Lusi dan Riani bersamaan saling memandangi Salim,ia melihat laki laki itu cengar cengir.
'Mas telah mengerjai teman saya ya,saya tak sangka." Lusi menatap tajam kakaknya
Salim senang melihat Adiknya terkejut dan kesal.
"Riani jadi selama ibu kamu bekerja dengan mas Salim,dan kerja kamu di suruh untuk beli makanan,saya tak sangka mas saya yang ganteng ini mengerjaimu Riani."
"Saya tidak mengerjai Riani saya hanya minta tolong supaya dia membeli makanan untuk teman akrabnya."
Mas memang pandai bicara.Riani ayo sini kita makan makanan yang kamu beli,saya sudah lapar.
"Eee..saya yang beli makanan mengapa kamu tidak menghargai mas mu ,tunggu dulu kita makan bersama sama."
Lusi tidak menghiraukan Salim,ia mengajak Riani duduk di sampingnya
"Riani kamu bawahan saya bukan bawahan Lusi."
Mendengar ucapan Salim Riani melihat pafa Lusi.
"Dia teman saya,mengapa mas jahat pada Riani,tenang saja Riani mulai hari ini saya bekerja di sini,kamu biar satu ruangan saja dengan saya.
"Hai! memangnya perusahaan ini milik kamu,kamu jangan sok berkuasa."
Salim protes ,Lusi tersenyum ,dan ia tertawa,Riani tampak tertunduk.
"Saya tahu ini perusahaan mas,tapi saya tidak suka mas berbuat begini pada Riani,kalau mengungkapkan suka bukan begini caranya."
Mendengar ucapan Lusi merah muka Salim,tanpa sengaja pandangan mereka beradu,Salim langsung membuang muka ,sedang Riani grogi di lihat begitu.
"Mas,pertimbangkan orang yang ada di depan mas,pakai salah tingkah segala."
Lusi terus mengoda manya.
"Awas ya nanti kamu di rumah."
Lusi tersenyum,melihat wajah kakkanya
"Memangnya kenapa kalau di rumah,mau kasih saya hadiah karna telah mendekatkan mas sama Riani."
Riani tampak malu sama Salim.
"Katanya lapar,cepatlah makan saya juga lapar." Salim mengalihkan pembicaraan
Mereka akhirnya makan bersama. Salim mencuri pandang sama Riani,Lusi memperhatikan masnya,ia tersenyum.
"Ciee..ciee ada yang memperhatikan Riani."
Lusi tak bisa menahan tawanya,Salim nampak malu karna Lusi melihat ia memperhatikan Riani.Sedang Riani terbatuk saat makan,lusi cepat memberikannya air minum.
"Hati hati makannya Riani jangan pikir yang lain saat makan."
Riani mencubit pinggang Lusi.
"Aduuuh!" Lusi memekik menahan sakit.
"Sakit Riani,kalau mencubit jangan keras keras" Sepertinya Lusi benar benar kesakitan.
"Kalau makan jangan bicara,kamu membuat saya malu di depan masmu."
Riani berkata sambil berbisik di telinga Lusi.
Salim mendengar bisikan Riani hanya tersenyum..
__ADS_1
"Kamu kalau berbisik jangan sampai di dengar mas Salim,lihatlah ia senang mendengarnya."
Riani melihat salim yang kebetulan memandangnya,Riani tampak malu,ia tertunduk..
"Kamu selalu begitu kalau berada di dekat pria,tersipu malu,sama sama mau tapi malu."
Muka Riani semakin bersemu merah mendengar ucapan Lusi, sedang Salim seperti tidak mendengat ucapan Lusi.
"Kamu benar benar ya,mengapa kamu bicara begitu,kamu permalukan saya."
"Untuk apa malu,kakak saya juga kakak kamu,cuek saja,lagi pula kakak saya suka sama kamu. Lusi bicara berbisik entah di dengar Salim atau tidak."
"Kamu bisa saja,saya takut dengan kakak kamu itu,tingkahnya menyeramkan." Riana bicara berbisik pula.
Salim melirik pada Lusi dan Riana,tapi ia tak berkata kata,ia baru selesai makan.
"Kamu tenang saja,kartu as mas saya itu ada pada saya."
Salim memperhatikan kedua wanita yang ia sayang brrbicara berdua,walau tak tahu apa yang mereka bisikan berdua ia tersenyum melihat mereka.
"Mas jangan senyum senyum saja sendiri nanti bisa begini.."
Lusi meletakan telunjuk di kening masnya,dengan posisi telunjuk miring,sambil tersenyum.
Salim melihat sesaat pada Riani lalu pada adiknya.
"Kamu kira saya gila,enak saja,masnya seganteng ini di bilang gila"
Lusi mencibir masnya,melihat itu Salim tertawa sambil melihat Riani.
Cie..cie,mencuri pandang ni,pura pura jadi "bos pemarah,padahal hatinya merindu."
Lusi masih mengoda,ia kelihatan senang mengoda ke duanya.
Salim mendekati lusi ia menjewer kuping adiknya,lusi terpekik,Riani tersenyum malu malu,ia pun kelihatan geli melihat kakak beradik itu.
"Kamu mengoda mas nomor satu,cobalah kamu senangi bos kamu ini."
"Iya booos,perintah bos akan kami turuti.."
Lusi berbicara sambil menyatukan kedua tangannya serta kepala di tundukkan.
Salim terkekeh melihat kelakuan adik kesayangannya.
Setelah Salim selesai makan,ia berdiri.
"Lusi mas mau keluar dulu,mau menemui rekan bisnis,mungkin mas pulang malam,hati hati di rumah nanti.."
Saat salim mau keluar dari ruangannya.
"Mas,kamu tidak minta izin pada teman saya?"
Salim melihat sesaat pada Riani,
"Tidak mungkin saya minta izin pada bawahan saya adiku sayang.."
"Sebentar lagi kan Riani ini akan jadi kakak ipar..lusi tak mau kalah berkata pada masnya.
Riani malu mendengar ucapan Lusi,saat ia melihat Salim,Salim sedang melihat padanya.
"Saya mau keluar,nanti saya terlambat,saya hampir terlambat,padahal saya yang menetapkan jam tadi."
Setelah berkata begitu Salim meninggalkan mereka,Riani mencubit pinggang Lusi,gadis itu terpekik,mereka berdua saling pandang, mereka berdua tertawa.
__ADS_1