
"Bagi uang gajimu, lima ratus ribu saja. Vita sama ibu mau belanja!" Mas Alvin mengatakan itu dengan entengnya
Mengapa minta uang gajiku Mas? Kan uang gajiku sudah di gunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah ini mas. Dan uangku cuma sisa satu juta, itupun harus dicukupkan sampai nanti waktu gajian lagi mas," jawabku
"Ah kamu ini banyak omong, Cepat berikan. Kasihan mereka Sudah menunggu di luar.
Pakai uangmu dulu saja mas, Kan uangmu utuh tak pernah kau Berikan kepadaku. Uang satu juta Ini aku harus cukup cukupkan Memenuhi kebutuhan rumah ini Untuk dua minggu kedepan, Untuk uang transportku mas. Belum lagi untuk uang saku dan
keperluan kuliah Vita yang kadang Mendadak,"
Jangan banyak omong kamu itu. Gajiku ya aku berikan pada Ibukulah, kan baliau yang sudah mengasuh Dan Merawat aku
Selama ini, jadi ibu yang berhak Benerima gajiku bukan kamu!" Mata mas Alvin melotot sambil Menunjuk ke wajahku
Baik mas. Tapi jangan Lima ratus ribu ya. Dua ratus ribu saja," Kataku sambil mengeluarkan dua lembar pecahan seratus ribuan Dari dompetku.
"Huh bayak omong kamu ini, Mau jadi istri durhaka! Cepat berikan Yang ibu minta tadi, lima Ratus rupiah! Atau aku ceraikan kamu sekarang juga, Biar tahu rasa kamu jadi janda?"
Katanya sambil merebut dompetku, dan mengambil Tiga lembar lagi.
Mendengar kata 'cerai' dan Juga 'janda' selalu membuat Nyaliku ciut dan akhirnya aku
Selalu menuruti semua Permintaanya dan keluarganya.
"Jangan lupa kamu haru Bersihkan kamar ibu dan Vita Sebelum kamu berangkat kerja."
"Tapi ini kan udah siang mas, Aku nanti terlambat. Kenapa Tidak meminta Vita saja untuk membersihkan kamar ibu dan kamarnya Sendiri?"
"Mereka kan mau belanja. Tahu sendirikan merka akan Marah jika kamar Meraka Masih
berntakan. Sesudah jangan banyak omon Lagi, aku mau berangkat narik Dulu. Inget kalau aku nanti mendengar keluhan meraka karena kamarnya kamu Bersihkan maka aku akan jatuhkan Talak tiga langsung padamu!"
Mengalah dan terus mengalah Itulah yang terus ku lakukan dan Rasa trauma menjadi se orang janda
Ya aku memang trauma Dengan julukan 'janda' bukan Karena aku pernah mengalaminya, Tapi karena menyandang setatus itu Ibuku akhinya depresi dan bunuh
diri di sebuah rumah saki jiwa. Sejak mekergian ibu aku hidup Sebatang kara. Ayahku ku Anggap sudah mati. Karena dia
Sudah meninggalkan ku dan ibuku Di saya aku berusia delapan Tahun.
Dulu waktu pertama kali aku Bertemu mas Alvin, aku merasa Di adalah orang baik yang
Bener bener menyangiku. Hingga aku menceritakan semua Trauma yang aku alami dan Menerima pinangannya walau Baru kenal selama satu bulan.
Pertemuan pertama kami Adalah di tempat kerja ku. Dulu aku Bekerja sebagai admin sebuah Koperasi simpan pinjam, dan mas Alvin sebagai nasabah di sana. Saat itu di memiliki usaha toko Pakayan yang letaknya berdekatan Dengan terpat kerjaku.
__ADS_1
Awal pernikahan kami Berjalan baik baik saja mas Alvin Memboyongku kerumahnya dan Tinggal bersam ibu dan adiknya. Mas Alvin juga memintaku Berhenti bekerja dan Membantu jualan di pasar.
Dua bulan pernikahan, aku Merasa mas Alvin dan Keluarganya selalu menyayangiku Dan saat itu aku berpikir memang Tak salah menerima pinangannya Mas Alvin.
Namu musibah terjadi pada Bulan ketiga pernikahanku. Saat Itu usaha mas Alvin karena Kebakaran di pasar. Meskipu mendapatkan uang Asuransi. Namun tidak manpu untuk menutup hutangnya di sebuah bank besar. Ternyata semua modal usaha dari
Pinjaman bank tersebut. Dan Rumahnya pun masih kredit, belum Lagi dia butuh banyak uang untuk Biaya kuliah Vita adiknya
Semua upaya sudah Sudah di lakukan. Namun saya semuanya Tidak bisa di selamatkan. Akhirnya Mas alvin harus merelakan tempat
Usahanya disita oleh pihak bank
Karena sudah menunggak selama Empat bulan. Demikian pula dengan rumah yang saat ini kami Tempati, karena sudah tidak
Mampu membayar, mas alvinpun Mengembalikan keluhan Developer.
"Sebaiknya kita sekarang Pulan kerumah ku saja mas, Di samakan ada tiga kamar, pas Untuk kita semua. Aku juga akan Kembali untuk membantuk Uang kuliah Vita." Ucapku saat itu Pada mas Alvin dan keluarganya.
"Apa kita tidak merepotkan mu nak? Ibu dan alvin Vita akan merasa sangat Malu jika menumpang Di rumahmu". Bu Dewi, ibu mertuaku, Berkata sambil menangis.
Sementa itu Vita dan mas Alvin hanya duduk sambil Tertunduk.
"Bu jangan bicara seperti itu. Kalian semua adalah keluargaku. Jadi jangan sungkan. Anggap saja Itu Rumah kalian sendir ", kata ku Sambil memeluk ibu mertua.
Setiap hari kerjaannya cuma tidur, Main game dan mancing saja .
Sementara Vita tetep Melanjutkan kuliah menggunakan Motorku setiap hari. Aku rela
Menjual perhiasanku untuk biaya Kuliah Vita.
Aku kembali bekerja lagi. Sebenarnya tempatku bekerja dulu Memperbolehkan aku untuk Bekerja di sana lagai. Tapi mas Alvin
Melarangku dengan alasan terlalu Jauh dari rumah dan uang akan Habis banyak untuk transport. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan Di sebuah toko elektronik, yang letaknya tidak jauh dari rumah. Aku bekerja dari pukul Sembilan pagi hingga pukul tujuh
Malam.
Entah apa yang membuat sikap Mereka bertiga berubah ke pada ku. Mereka menjadikanku layaknya
Seorang pembantu di rumahku sendiri. Pada awalnya aku mengira Mereka masih syok karena kehilangan Semua yang meraka miliki.
Hingga akupun ikhlas Melayani merek . Tapi mereka malah memanfaatkanku.
Ibu dan Vita tidak pernah mau Membatu pekerjaan rumah, Bahkan baju merekapun aku yang Mencucinya. adi sebelum aku berangkat kerja Semua Harus sudah bersih dan makanan pun Harus sudah siap di meja makan. Begitupun ketika aku pulang kerja,
Masih banyak pekerjaan yang Menantiku Di rumah. Mencuci Piring yang menumpuk bekas mereka Bertiga makan, menyetrika baju, Dan masih manya lagi pekerjaan Yang aku lakukan untuk mereka .
__ADS_1
Mas Alvin pun jarang Memperhatikanku, dia asyik Dengan dunianya sendiri. Dia Malah mendukung kelakuan ibu Dan adiknya itu. Jika aku membuat Sedikit kesalahan saja atau tak Menuruti permintaan mereka . Mas Alvin mengancam akan Menceraikan aku.
Itulah senjata mereka agar Aku mematuhi perintah mereka. Menjadi mesin pencetak uang dan Menjadi pembantu di rumahku
Sendiri.
Sebenarnya aku ikhlas Melakukan semua ini bahkan Menafkahi mereka, tapi tolong Setidaknya hargai aku yang lelah Seharian bekerja dan mengerjakan Pekerjaan rumah.
Tiga bulan yang lalu akhirnya Mas alvin mulai mau bekerja. Meskipun hanya sebagai tukang
Ojek online. Setiap dia Mendapatkan uang pasti akan Diserahkan separuh kepada ibu Dan separuhnya lagi untuk dirinya Sendiri. Sedangkan aku tak pernah Diberi sepeser pun.
Pagi ini seperti biasanya setelah Semuanya bersih makasan sudah siap Dimeja makan. Ku lihat jam Dingding Menunjukan pukul delapan pagi. Aku harus segera membersihkan kamar
Ibu dan Vita, Kalau tak mau nanti terlambat
Masuk kerja.
Kamar ibu dan Vita seperti Kapal pecah. Aku pun langsung Cepet cepet membersihkannya. Setelah selesai aku seger mandi Dan berangkat kerja.
Saat aku keluar rumah kulihat Motor mas Alvin masih terparkir Di depan rumah.
'Ide bagus nih, siapa tahu dia Mau mengantarkan aku kerja' pikirku.
Namun saat aku akan melangkah Ke arah mas alvin kudengar ia memanggil Seseorang dengan panggilan "yank" melalui Ponselnya. Akupun berusaha Menguping.
"Iya yank pokonya kamu Tetap tercantik dan nomor satu Di dunia ini," Kata mas Alvin.
"Yasudah aku berangkat dulu Ya, kita ketemu ketempat biasa. Aku sayang kamu emmuuach,"
Saat itu terasa disambar petir
Di siang hari dadaku pun terasa Sesak, Aku tak percaya suamiku Tega menduakanku. Seseorang Yang di sebut "yank" pasti adalah
Selingkuhannya.
Tega sekali kamu mas Melakukan semua ini padaku. Setelah semua pengorbanan yang
Aku berikan untukmu dan dan keluargamu.
•
•
Bersambung ....
__ADS_1