AKU BISA HIDUP TANPA MU

AKU BISA HIDUP TANPA MU
BAB 02


__ADS_3

"Mas lagi terlponan sama siapa? mesra banget, pakai panggil yank segala?" mas Alvin terlihat kaget dan salah tingkah melihat kedatanganku yang tiba tiba.


"Apan sih kamu bikin kaget aja!"


"Katakan padaku mas, siap dia? Selingkuhanmu kan?"


"Jangan ngarang kamu! nuduh sembarangan nggak ada bukti!"


"Aku tidak menuduh mas, aku mendengar semua percakapanmu tadi lewat ponsel, apa itu bukan bukti? tega sekali kamu mas kepadaku!"


"Lancang kamu sekarang sudah berani menguping pembicaraan suami. Mau jadi istri durhaka kamu! jangan sekali kali kamu ikut campur urusanku atau kamu akan ku ceraikan dan menjadi janda! nasibmu akan sama seperti ibumu mati sia sia hahaha".


"Makanya ngaca! kamu itu banyak kekurangannya, kurang cantik, kurang seksi, kurang bisa menyenangkan hati suami! dan satu lagi jangan kau ungkit ungkit semua jasa dan pengorbananmu untuk keluargaku dan kepadaku!"


"Jahat kamu mas. Aku menjadi jelek seperti ini juga karena kamu, yang tak pernah memberi nafkah kepadaku dan menjadikanku pembantu dan mesin pencetak uang saja!"


"Plaakk!"


Sebuah tamparan mendarat di pipiku sebelah kiri.


"Sudah ku bilang jangan durhaka kepada suami. Ingat kalau kamu masih seperti ini, jangan salahkan aku kalau aku akan bener bener menceraikanmu!"


Mas Alvin kemudian pergi mengendarai motornya dengan kencang, meninggalkan aku yang masih menangis di teras.


Aku bingung harus bagai mana? Sakit rasanya hati ini di perlakukan seperti ini. Ketika semua pengorbananku di balas dengan perselingkuhan. Jika hanya di hina atau di peras tenaga dan uangku, masih bisa aku terima. Tetapi ketika suami selingkuh, sungguh aku tak bisa terima.


Hari ini aku putuskan tidak masuk kerja, perasaan hatiku tidak karuan. Jika aku paksaan untuk bekerja takutnya nanti tidak fokus dalam bekerja. Akupun menghubungi bosku  untuk meminta izin tidak masuk kerja hari ini.


Tak henti hentinya aku mengucapkan astaghfirullah menyebut asma Allah. Ku coba kembali mengurai benang kusut yang selama ini membelenggu. Kenapa aku harus takut menjadi janda? Apa karena aku takut bernasib sama seperti ibuku? Bukankah nasib orang tadak sama semua sudah di gariskan oleh Allah sajak kita berada di dalam kandungan?


Kenapa aku selama ini bodoh? Karena selalu mepertahankan pernikahan yang tidak sehat lagi demi menjauhi setatus sebagai janda.

__ADS_1


Tidak, aku harus bangkit dan tidak takut menjadi janda, lebih baik perpisahan daripada aku harus tersiksa raga dan batinku. Apalagi mas Alvin sudah mulai bermain api di belakangku.


Selama ini aku mampu menghidupi tiga nyawa, berarti aku bisa menghidupi diriku sendiri Jiak nanti aku harus hidup sendiri. Percuma aku punya suami, Jika tidak bisa mengayomi dan menghargai aku sebagai seorang istri tapi malah memanfaatkanku saja.


Mulai sekarang aku tak akan menjadi orang yang lemah lagi. Mereka yang selama ini memanfaatkanku tidak akan ku biarkan lagi. Mas Alvin  dan keluarganya tak akan kubiarkan menyakitiku lagi.


Perselingkuhan yang mas Alvin lakukan membuka mataku, bahwa tak selamanya pengorbanan yang kita lakukan akan dibalas dengan kebaikan. Aku harus bisa menemukan bukti yang kuat atas peselingkuhan yang mas Alvin  lakukan.


Suara motor berhenti di depan rumah. Berarti mertua dan iaparku  sudah pulang. Aku harus memakai motor itu sekarang juga menuju pangkalan ojek mas Alvin, bayak hal yang haru aku ketahui sekarang juga.


"Heh, kamu sara kok nggak kerja sih? Malah enak enakan tidur dikamar !" Kata ibu mertuaku saat melintas di depan kamarku.


"Lagi pingin libur Bu, capek aku kerja terus," Jawabku cuek.


"Apa kamu bilang cape? Mau makan apa kita kalau kamu nggak kerja?" Ibu mertuaku itu berkacak pinggang dengan mata melotot kearah ku.


"Ya makan nasi toh Bu, masak makan tanah dan batu!"


"Sudah berani menjawab kamu sekarang! Pake alasan capek segala, padahal kamu malas bekerja kan. Aku adukan kamu sama Alvin baru tahu rasa kamu biar langsung di ceraikan kamu!"


Saat aku hendak keluar beliau malah menjambak rambutku.


"Aw sakit Bu, apa apaan ini? Tolong jangan main kasar!"


Aku mencobak melepaskan tangannya dari rambutku.


Karena mungkin aku lebih muda dan tenaga masih kuat, akhirnya aku berhasil lepas darinya.


"Jangan pernah kasar apalagi main tanang kepadaku Bu, atau aku akan laporkan perbuatan ibu kepada polisi!" Ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi.


Sepertinya ibu mertuaku syok mendengar perkataanku, karena selama ini aku tidak pernah melawan ketika ibu menjambak atau mencubitku. Dan aku akan memohon agar beliau melepaskan tangannya dari rambut atau dari tubuhku.

__ADS_1


Maaf Bu. Bukanya aku tidak sopan pada orang tua, Namun sikap kalian sudah keterlaluan kepadaku, dan mulai hari ini sarah yang dulu lemah itu sudah mati. Berganti Sarah yang kuat yang bisa membalas perbuatan orang yang menyakitinya dan tidak takut lagi mendengar


Kata 'cerai' dan 'janda' aku tak membiarkan mereka menyakiti dan menginjak nginjak harga diriku lagi. Sudah cukup kesabaranku menghadapi mereka. mereka pikir mereka siapa ini rumahku mereka hanya menumpang.


Seharus mereka bersyukur aku masih punya rumah untuk mereka tinggal, apalagi aku masih mau menghidupi mereka. Jika tidak ada rumahkh ini mungkin kitasemua menjadi gembel


Dan tinggal di kolong jembatan dan hidup dari belas kasihan orang lain


"Mbak buatin aku mie goreng dong, pake cabe satu saja ya!" Ucap Vita merintah.


"Ibu juga buatin sekalian sar! Yang kuah ya, jangan pakek lama". Ibu mertu pun tak mau kalah dengan anak perempuannya.


Langsung saja aku buatkan pesenan mereka, tapi kali ini  aku akan membuatkan mie yang sangat spesial untuk mereka.


Setelah mie siap, aku pun mengantarkan  keruang keluarga, Tampat di mana mereka berdua sedang duduk santai sambil memainkan ponsel. Kuletakan makanan itu di atas meja lengkap dengan Dua gelas teh hangat, kemudian aku masuk lagi untuk mengambil kunci motor.


"Sarahhh mie apa ini? Kamu mau membunuh kami!" Teriak ibu mertua.


"Sudah pedes, asin banget lagi!" Vita tak kalah keras teriakannya


Aku hampiri mereka keruang keluarga, sambil menahan tawa.


"Aduh maaf ya, tadi aku lupa masukin bumbunya. cepet minum teh hangatnya biar rasa pedenya berkurang Bu, Vit," perintahku pada mereka.


Mereka pun segera mengambil gelas dan meminum teh tersebut. Namun ketika mereka berteriak sambil terbatuk.


"Bener bener kurang ajar kamu Sarah!" Kata ibu mertuaku sembari berjalan menuju kulkas, yang di ikuti oleh Vita.


Aku yang melihat tingkah mereka itu, tertawa terbahak - bahak. Sungguh lucu tingkah mereka, setelah mencoba mie dan teh hangat yang telah aku campur dengan bubuk cabe dan garam. Rasain!


__ADS_1



Bersambung ....


__ADS_2