
"Aku kan cuma meniru perbuatan kalian kepadaku. Biar kalian tahu bagaimana rasanya jika menjadi aku. Dan mulai saat ini aku bukan lagi pembantu kalian lagi. Mulai saat ini kalian yang harus melayani aku, karena aku pemilik rumah ini!"
"Mbak Sarah nggak bisa seenaknya gitu dong, kan kami ini keluarga mas Alvin suami mbak!" Tambah Vita.
"Terus aku harus gimana? Tetap setia menjadi pembantu kalian gitu? Nggak lah ya! Kalian berdua dan mas Alvin sama saja. Parasit!" Kataku emosi.
"Kamu sebagai istri wajib menghormati suami dan keluarganya! Jangan seperti ini dong!"
"Apa? Menghormati? Apa kalian salama ini juga menghormati aku sebagai istri dan menantu di rumah ini? Tidak kan! Kalau kalian tidak suka dengan aturanku dirumah ini, silahkan angkat kaki dari sini. Pintu rumahku terbuka lebar untuk kalia!"
"Kalau kami pergi dari rumah ini berarti Alvin juga akan pergi! Apa kamu tidak takut diceraikan dan menjadi janda seperti ibumu dulu?" Tanya mertuaku lagi.
"Sudah aku bilang, ibu mertuaku yang cantik. Aku sekarang tidak takut hidup menjanda, karena hidup sendiri itu lebih baik dari pada hidup dengan manusia-manusia yang tidak tahu terimakasih seperti kalian!"
Akupun segera masuk kedalam kamar dan menutupnya pintu rapat-rapat.
"Mbak Sarah! Kuci motornya dimana? Aku mau keluar nih!" Teriak Vita.
Bener-bener moka tembok ternyata dia ini tidak tahu malu.
"Sudah kubilang tak ada lagi yang boleh memakai motor itu, selain aku!"
Tak ku hiraukan lagi Omelan mereka, aku kembali keluar untuk mengambil air wudhu. Kurasa dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an bisa membuat hatiku jadi lebih tenang. Tak akan kubiarkan air mataku jatuh dihadapan mereka.
Saat ini yang masih menjadi pikiranku, bagaimana kelanjuta hubungan rumah tanggaku dengan mas Alvin, haruskah aku berpisah? Ataukah aku harus memberi kesempatan padanya untuk yang kedua kali.
"Sarah buka pintunya cepet!"
Ketukan dan teriakan mas alvin itu. Sontak membutku terbangun dari tidurku yang baru beberapa saat.
"Buka cepat atau aku dobrak pintu kamar ini!" Teriaknya lagi.
__ADS_1
Dengan malas aku buka pintu, dari pada harus mendengar teriakannya itu.
"Apa sih, ganggu orang tidur saja!" Ucapku.
"Kamu ini jadi istri macam apa? Berani sama suami! Durhaka sama suami!" Teriaknya.
"Ingat ya mas sejak kamu ketahuan selingkuh, aku sudah menganggapmu bukan suamiku lagi!" Ucapku sambil melotot ke arahnya.
"Kurang ajar kamu? Sampai kapanpun kamu tetap istriku, dan aku tak akan pernah mencarikanmu!" Katanya sambil berusaha melayangkan tangannya kepadaku, tapi aku berhasil aku tepis.
"Jangan macam-macam kamu mas! Jika tamganmu menyentuhku, kupastikan kamu menyesal!"
Mendengar ucaanku barusan, mas alvin tertawa keras seperti mengejekku.
"Kamu itu cuma wanita lemah Sarah, nggak mukin bisa melakukan apapun, hahaha paling bisamj hanya menangis!" Sudah jangan banyak omong siapin makanan sekarang aku lapar, dosa besar seorang istri membiarkan suaminya kelaparan.
"Dasar laki-laki benalu tak tahu malu, sekarang juga angkat kaki dari rumahku, jangan lupa ajak keluargamu itu!"
Saat aku bersitegang dengan suamiku, terlihat mertuaku dan iaparku sedang tersenyum mengejekku didepan kamar.
"Terserah kamu bilang apa saja, yang pasti sekarang kita bercerai. Dan segeralah kian pergi dari rumahku ini!"
"Hahahaha rumahmu? Ngimpi kamu!" Mas alvin menertawakanku lebih keras lagi.
"Apa kamu lupa mas, delapan bulan lalu aku yang mengajakmu dan juga keluargamu hidup di rumah ini, rumah peninggalan orang tuaku!"
"Ya rumah ini memang peninggalan orang tuamu. Tapi itu dulu, sekarang rumah ini bukan milikmu lagi!"
"Apa maksudmu? Sampai kapanpun rumah ini tetap bilikku, karena aku tak akan pernah menjual rumah ini kepada siapapun! Sekarang jangan banyak omong, pergi dari rumahku!"
"Kamu itu yang jangan banyak omong tunjukan buktinya kepadaku bahwa rumah ini rumahmu! Tapi jika kamu tidak bisa menunjukan bukti itu, maka kamu yang harus pergi dari rumah ini!"
__ADS_1
Aku tak tahu kenapa mas Alvin berani bicara seperti itu, sedangkan jelas rumah ini adalah milikku. Akupun akhirnya masuk kembali ke kamar membuka lemari dan mencoba mencari sertifikat rumah yang selalu aku taruh sini. Di pojok lemari sebelah kiri, di dalam amplop berwarna coklat bersama surat-surat lainnya yang aku miliki. segera ku ambil amplop itu dan mebawanya ke meja makan. Mas Alvin kemudian mengikuti dan duduk di kursi makan.
"Cobak tunjukkan padaku mana sertifikat atas namamu itu? Kalau memang sertifikat itu ada dan namamu, maka aku akan segera angkat kaki dari sini!"
Kenapa mas Alvin seperti menantangku kali ini, seharusnya dia takut kuminta dia pergi dari sini. Ku bolak balikan isi amplop itu tatapi tidak aku temukan apa yang aku cari. Hingga aku keluarkan semua yang ada di dalam amplop itu di atas meja makan, namun tetap tidak aku temukan sertifikat itu. Mertuaku dan Vita kini ikut duduk di kursi meja makan, sepertinya mereka juga penasaran. Namu mas Alvin terlihat santai saja, dan tersenyum.
"Bagaimana? ada nggak? Atau kau coba cari di tempat lain, mungkin kamu lupa menaruhnya. Cepet cari sekarang juga!" Bentaknya
Aku masuk ke kamar lagi, Mencari keberadaan sertifikat itu, dibawah tempat tidur, didalam laci, dan lemari, tetapi nihil tidak menemukanny. Sedangkan aku sangat yakin kalau aku menyimpan damalam amplop coklat itu, dan aku tak pernah memindahkannya sejak terakhir kali aku mengambil kartu keluarga, lalu enam bulan yang lalu. Lalu aku kembali lagi keruangan makan, kali ini tiga parasit itu duduk tersenyum sambil menatapku.
"Gimana? nggak ada kan? Sekarang duduk dan baca ini!" Kata mas Alvin sambil memberiku map berwarna biru
Dengan perasaan yang masih bingung, aku pun segera membuka map tersebut. Ternyata isinya adalah sertifikat tanah atas nama alvin Prasetyo.
"Jadi kamu beli tanah mas?" Sambil menutup kembali map itu.
"Baca yang bener, jangan buru-buru ditutup mapnya. Buka dan baca teliti lagi!"
Ku buka kembali map itu dan ku baca lagi, dan betapa terkejutnya aku, ketika alamat dari sertifikat adalah rumah yang sekarang aku tempati ini. Tapi kenapa nama pemiliknya berpindah menjadi nama mas Alvin?
"Kenapa tanah dan bangunan ini bisa beralih nama? oh berarti kamu yang telah mengambil sertifikatku mas!" Teriakku.
"Hahahaha sekarang siapa yang benalu? Siapa yang numpang? Dan siapa yang wajib angkat kaki dari rumah ini?" Ucap mas Alvin dengan sombongnya.
Mas Alvin mereput map itu dari tanganku, kemudian ketiga orang itu tersenyum kepadaku, senyum licik atas kemenangan mereka.
"Jahat kamu mas! Kenapa kamu tega melakukan semua itu? Sedangkan aku selama ini aku rela berkorban segalanya untukmu dan keluargamu!" Teriakku.
•
•
__ADS_1
Bersambung ....