
Setelah mengakhiri panggilan itu, aku segera meluncur menuju rumahku, sebelum mas Doni datang, aku harus sudah sampai disana.
"Eh, ngapain mbak Sarah kesini, mau minta makanya!" Ucap Vita sinis, ketika melihatku memarkirkan motor di depan rumah.
"Sok tahu kamu Vit!" Jawabku.
Sambil duduk di kursi yang berada diteras.
" Eh, ditanyain nggak jawab, malah enak-enak duduk disini!" Kutelponin mas Alvin baru tahu rasa!" Ancam Vita.
Kebetulan sekali, kalau mas alvin tidak ada dirumah, eksekusi bisa cepet dilakukan, saat itu dua mobil pick up berhenti di depan rumah. Masa Dion langsung menghampiriku bersama ke lima anak buahnya.
"Mana nih, yang mau kami angkut sar?" Tanya mas Dion kepadaku.
"Apa saja yang bisa jadi uang mas, tapi sisakan lemari pakaian dan tempat tidur. Cepat lakukan sebelum larut malam, jawabku Tampa memperdulikan wajah Vita yang nampa kebingungan.
Mas Dion segera memerintahkan anak buahnya untuk segera bertindak cepat. Barang pertama yang mereka naikan ke pick up adalah sofa ruang tamu dan juga buffet pajangan. Aku masih saja duduk diteres begipun Denan vita yang masih begong sambil berdiri di sampingku.
"Eh....eh! Ada apa ini? Kok semua di angkut keluar sih!" Teriak ibu mertua dari dalam.
Lalu di apun keluar dan berdiri disamling Vita.
"Ini semua pasti ulahmu! Kamu kan sudah pergi dari sini? Kenapa masih mengambil barangku?" Ucapnya sambari memandang kearahku.
"Apa nggak salah tuh, Bu? Itukan barang-barang ku, nggak bisalah tiba-tiba berubah kepemilikannya," ucapku dengan santai.
Wajah ibu mertuaku itu, tampak kesal sekali dengan jawaban yang aku berikan tadi. Saat tangannya terangkat sepertinya hendak melukaiku. Namun hal itu terhenti ketika tetangga berdatangan menghampiriku. Seketika wajah benalu itu berubah menjadi sok ramah.
__ADS_1
"Loh kok, diangkutin semuanya sar? Mau pindahan ya?" Tanya seorang tetanggaku.
"Enggak ko bu, cuma mau ganti perabotan yang baru saja," Jawabku ramah.
Para tetangga menungguiku, bahkan ada yang membantu sampai proses pengangkatan perabot selesai.
"Sudah selesai sar, aku pergi dulu," akupun menjawab hanya dengan anggukan saja, dan untuk pembayaran sudah kusepakati untuk diantar langsung di kostan ku saja.
Lantas aku masuk kedalam rumahku dan melihat keadaan rumahku yang kosong malempong. Ruang tamu, ruang tengah dan ruang makanpun kini bersih semua, di dapur LPG dan kompor juga kulkas telah dibawa serta. Bener bener kerja bagus yang di lakukan mas Dion dan teman-temannya.
Para tetangga mulai pulang kerumah masing-masing dan hanya menyisakan aku dan kedua benalu itu.
"Aku pergi dulu ya Bu, maaf aku mengambil semua perabotan, inget Bu ini baru awal loh, selanjutnya akan ada banyak lagi kejutan untuk kalian!" Ucapku pada mereka.
"Oh iya aku hampir lupa, bilang sama kakakmu ya Vit, jika ingin beli motor untukmu, jual saja organ tubuhnya biar bisa cepet dapat uang secara instan! Hehehehe
Jangan pernah menganggap remeh seorang wanita yang lemah sepertiku, jika aku sudah berontak, maka kalian akan tertinggal jauh dibelakangku.
Ternyata hasil penjualan perabotan itu lumayan banyak juga. Alhamdulillah bisa untuk tambahan uang tabunganku, dari pada dipakai cuma-cuma oleh para benalu itu, mending di uangkan saja.
"Kamu bener-bener hebat sar, masih bisa sabar menghadapi para benalu itu, semoga nanti kamu mendapatkan suami yang bener-bener mencintai kamu dan mengayomi kamu, bukan malah memeras dan mendapatkanmu. Kamu juga harus hati-hati jangan sampai kamu terbujuk lagi oleh rayuan mereka itu," pesan mas Dion saat pamit tadi setelah mengantar uang hasil penjualan perabotan
Mas Dion memang bukan saudaraku, dulu waktu aku masih sekolah, dia sering membantuku karena aku anak yatim piatu. maka dari itu banyak orang yang membantuku, salah satunya mas Dion, yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri.
Selepas shalat isya, aku ingin segera tidur dikasur busa yang tersedia di kost ini, hari ini, banyak sekali kejadian yang dalam sekejap mata berubah hidupku, namun kupastikan Jika perubahan yang terjadi adalah perubahan untuk menjadi lebih baik. Dan sungguh Allah sayang padaku, menunjukan semuanya padaku sebelum terlambat.
Sebuah panggilan masuk ke ponselku, dan membuyarkan lamunanku saat ini, ternyata panggilan itu dari mas Alvin, pasti dia mau protes tentang perabotan rumah yang habis aku jual langsung.
__ADS_1
"Assalamualaikum mas, ada apa?" Tanyaku dengan nada tenang, saat mulai percapan melui ponsel itu.
"Nggak usah sok lugu kamu! Kenapa kamu bawa isi rumah ini!" Mas Alvin langsung emosi saat itu, jadi terdengar lucu sekali.
"Ya wajarlah mas aku bawa, Semua kan itu punyaku! Sudah seharusnya aku bawa enak saja kalian pakai gratisan!" Ucapku dengan nada tinggi pula.
"Kurang ajar sekali kamu! Kembalikan semua barang-barang itu secepatnya.
"Dasar kamu tak tahu malu ya mas! Makanya kalau pingin punya apa-apa itu kerja! Jangan mau enaknya saja, maunya kok gratisan!"
"Awas kamu ya! Jangan kira kamu sudah menang hari ini, ingat ya rumahmu saja bisa aku kuasai. Jadi kapan saja aku bisa lebih menyakitimu, jika kamu sok pintar! Jadi perempuan itu yang pintar dikit, biar nggak gampang ditipu sama laki-laki. hahahaha!"
"Sombong sekali kamu mas, aku nggak taku semua ancamanmu itu! Ingat dan dengar baik-baik secepatnya aku akan mengambil kembali semua hakku yang kamu ambil!"
"Hahaha, memangnya wanita lemah dan bodoh seperti kamu bisa berbuat apa? Paling bisanya cuma nangis saja! Aku yakin setelah kamu pergi hidupmu akan lebih menderita, apalagi setelah kamu aku ceraikan nanti, kamu akan menyandang status janda yang mengenaskan, hahaha!" Ucap mas Alvin semakin sombong.
"Jangan salah mas, justru aku dengan pergi darimu, aku akan menemukan kebahagiaan hidup. Daripada hidup denganmu yang hanya membuatku menderita dan bodoh! Saat ini aku menunggu setatus janda itu!" Kataku mantap.
"Hahaha, Oke kita lihat saja nanti, aku atau kamu yang hidupnya akan lebih menderita! Secepatnya, surat cerai akan sampai ditangan!"
"Oke aku terima tangtangamu itu mas! Lebih cepat lebih baik surat cerai itu aku terima!"
Panggilan itu aku akhiri, tak perlu ngobrol lama-lama dengan lelaki benalu itu. Akan kubutikan pandanya, aku bisa sukses walaupun tampanya lagi. Untungnya lagi saat ini aku belum hamil, jadi tidak akan ada anak yang menjadi korban perceraian. Memang selama ini aku di buatkan oleh cinta. Namun saat ini rasa cinta itu telah hilang, saat aku tahu dia tega menduakan aku, di saat aku bener-bener rela mengabdi kepadanya dan keluarganya, rasa cinta itu sekarang berubah menjadi benci.
•
•
__ADS_1
Bersambung ....