AKU BISA HIDUP TANPA MU

AKU BISA HIDUP TANPA MU
BAB 05


__ADS_3

"sudah kamu jangan teriak-teriak, malau di denger tetangga. Sekarang kamu tahu kan siapa yang numpang disini, Jai sudah wajar jika kalau selama ini kami menjadikanmu pembantu, Hitung-hitung Sabai ganti uang sewa. Sekaran aku beri pilihan kepadamu, pergi dari sini sekarang juga? Atau tetep disini dan melayani kami!" Ucap mas Alvin.


Dilema yang aku rasakan saat ini, jika aku pergi dari rumah ini, berarti mereka menang dan mendapatkan rumah ini secara gratis. Tapi jika aku tetap di sini maka aku harus rela menjadi budak selama hidupku.


Keputusanku hari ini aku pergi dari rumah ini, namun bukan pergi untuk selamanya, tapi pergi untuk kembali dan mengambil semua yang yang seharusnya jadi milikku. Mungkin bagi mas Alvin aku wanita lemah dan bodoh, yang dengan mudahnya percaya dengan apa yang baru saja aku lihat.


Aku tahu tidak mudah dan betapa sulitnya memindah tandatangan sebuah sertifikat, dan aku tahu bahwa sertifikat yang di tunjukan kepadaku itu, adalah palsu, aku yakin pasti sertifikat yang asli masih ada dan mereka simpan di suatu tempat. Semua tidak semudah membalikan telapak tangan, kebeneran selalu menang. Tak akan kubiarkan meraka seenaknya mengakui yang bukan miliknya, dasar benalu, suatu saat nanti mencelakai inangnya.


Biarlah saat ini mereka menang, dan biarkan mereka terbuai menikmati kemenangan sesaat ini. Karena jika aku melawan pasti aku akan kalah dan percuma, jumlah mereka lebih banyak. Apalagi keluarga mereka sangat licik sekali. Jadi lebih baik aku mundur untuk sementara waktu sembari memikirkan menyerang balik mereka.


"Kenapa kamu diam saja? Syok ya? Hahahaha makanya jangan sok berkuasa kamu. Cepet katakan pilihanmu, sebelum aku tambah murka!" Ucap mas Alvin sambari menggerbrak meja


"Cepet jawab! jangan lembek gitu, kayak tadi ituloh bentak-bentak aku dan Vita!" Timpal ibu mertuaku sengit.


"Saranku sih lebih baik tinggal disini saja mbak, dari pada pergi mau tinggal dimana, bisa-bisa jadi gembeel. Mending disini jadi pembantu gratisan kami, hahahaha enjek Vita!"


Bener-bener ibu sama anak, semua sama saja. Sama-sama kurang ajar dan tidak tahu terimakasih.


"Aku akan pergi dari sini mas," ucapku lirih, sambil berpura-pura sedih.


"Oh bagus lah kalau begitu. Aku sudah muak dengan muka jelekmu. Sudah sana pergi, biar aku bisa segera membawa kekasihku kesini!" Bentak mas Alvin.


Suami macam apa yang tega berkata seperti itu, pada istri yang telah mengapdi dengan ikhlas padanya selama ini. Rasanya aku sudah tidak membutuhkan laki-laki semacam ini. Nanti setelah aku mendapatkan kembali rumah ini, aku akan seger mengajukan gugatan cerai kepadanya. Meskipun aku jelek aku tidak Sudi hidup bersama manusia sampah seperti dia.


Aku segera masuk kedalam kamar, memasukan beberapa baju kedalam tas dan barang-barang pribadiku.


Untung saja aku masih mempunyai tabungan yang tak diketahui oleh mas Alvin. jadi aku tidak bingung harus kemana aku tidur malam ini.


Tampa pamit aku langsung keluar rumah dan menyalakan motorku.

__ADS_1


"Hey tunggu dulu! Kenapa motornya di bawa?" Ujar vita yang mengikutiku ke depan.


"Ini motorku, kenapa aku haru tinggal? Enak saja!" Jawabku sengit.


"Mas...! Ini, mbak Sarah mau bawa motornya terus kalau aku kuliah gimana naik apa!" Teriak Vita.


Mendengar adik kesayangannya, sontak mas Alvin dan ibu pun keluar rumah.


"Apaan sih Vit? teriak-teriak malu Sam tetangga!" Ujar mas Alvin


Meskipu para benalu jahat padaku, tapi mereka berusaha menunjukkan sikap baik pada semua tentanggaku, semacem toping menutupi kelakuan mereka yang jahat dan licik. Suatu hari, ini bisa aku jadikan senjata untuk menyerang  mereka untuk mengambil kembali milikku.


"Motonya itu mas. jangan dibawa dong! Itukan kendaraanku untuk kuliah!" Rengek Vita.


Mas alvin hanya diam mihat tingkah adiknya itu.


"Kok bisa sih ibu berkata seperti itu? Kok nggak tahu malu sama sekali, meminta yang bukan haknya. Rumahku kalau sudah kalian ambil masa motor mau kalia embet  juga! Nggak bakal ya."


Mendengar ucapanku itu ketiga manusia licik itu terdiam sambil menunjukan wajah keselnya kepadaku.


"Sudahlah vit, kamu jangan merengek terus. Besok kita jual perabotan yang ada di rumah ini, buat beli motor untuk kamu. Sudah ayok masuk, biarin sibuluk jelek rupa ini pergi! Toh kita sudah punya rumah ini. Bisa kita jual kapan saja kalau kita butuh uang!" Ucap mas Alvin sambil mengajak kedua wanita itu masuk kedalam rumah.


Jangan harap aku bakal diam saja, mendengar semua itu mas, lihat saja apakah besok kamu masih bisa membelikan motor untuk adikmu yang sok cantik itu.


Aku pergi untuk kembali, dan pasti membuat kalaian merasakan apa yang pernah aku rasakan karena kelakuan kalian. jangan pikir aku wanita, aku menjadi lemah dan tak bisa hidup tampamu.


Setelah meninggalkan rumah, aku langsung menyari tempat kost, setelah berputa-putar dan bertanya, akhirnya aku menemukan sebuah tempat yang pas dan tidak terlalu jauh, sekitar setengah jam dari rumahku. Alhamdulillah meskipun harganya murah aku mendapatkan bangunan mungil dengan ruangan yang pas untukku.


Untungnya lagi semua perabotan sudah tersedia disini, jadi aku tinggal masuk saja. Siang ini aku tidur sejenak untuk mengistirahankan tubuh dan pikiranku. semua kejadian selama delapan bulan ini yang membuat aku berada di tempat ini sekarang.

__ADS_1


Jika saja aku dulu aku bersikap tegas pada ketiga benalu itu. Mungkin aku tidak terusir dari rumahku sendiri. Tapi sudahlah semua telah terjadi, tak lama lagi rumah itu akan kembali kepadaku sebagai pemilik yang sebenarnya. Aku tidak boleh putus asa, aku harus bisa bangkit dan menunjukkan kepada mereka aku bukanlah wanita lemah dan bodoh seperti yang mereka pikirkan.


Kumandang suara adzan membagunkanku dari tidur yang nyenyak. Kukira ini adzan ashar, namu saat aku lihat jam, ternyata ini sudah magrib.


"Astaghfirullahaladzim, ternya sudah magrib, padahal tadi aku belum shalat ashar," gumamku sendiri.


Lekas akupun mengambil wudhu dan melaksanakan shalat magrib. Entah kenapa akhir-akhir ini badanku terasa gampang lelah, lemas dan sering mual. Mungkin aku terkena anemia, atau aku masuk angin, tapi belum datang bulan.


"Setelah shalat aku menghubungi seseorang, kenalanku yang punya usaha barang bekas. Sekali teken, ternyata panggilanku langsung dijwab olehnya.


"Mas Doni, bisa nggak kamu beli semua perabotan yang ada dirumahku?" Ucapku mengawali pembicaraan lewat sambungan telepon dengannya.


" Tentuh bisa sar, eh tapi memangnya kenapa kok kamu mau jual semua perabotan rumahmu?" Tanya mas Dion heran.


Aku kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpaku, karena mas Dion memang lebih tau dariku, dan dia suka membantuku.


"Oke, kamu sekarang ada dimana? Biar aku jemput, sekalian bawa pick up terus kita langsung kerumah kamu!" Ucap mas dion lagi


"Mas Dion langsung ke rumahku saja, aku pasti udah di sana.


"Oke kalau begitu, sekarang juga aku kesana, kamu hati-hati ya."


"Iya mas. Terimakasih."




Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2