AKU BISA HIDUP TANPA MU

AKU BISA HIDUP TANPA MU
BAB 03


__ADS_3

"Dasar menantu durhaka! Akan aku adukan Alvin kamu nanti!" Mertuaku itu terus mengomel dengan mulut yang terus berdesis kepedasan, begitu juga dengan Vita.


"Adukan saja Bu aku tidak takut. Ingat kalian di sini cuma menumpang jangan sok berkuasa. Sudah tinggal dan makan gratis masih saja sok. Mulai sekarang aku tidak mau lagi menjadi pembantu kalian, mau makan ya masak sendiri. Dan satu lagi aku tak akan memberikan uangku sepeserpun pada kalian!"


Ku langkahkan kaki keluar rumah meninggalkan mereka yang masih bengong dan mungkin heran dengan jawaban yang baru saja aku berikan segera ku naiki motor dan memakai helm, tujuanku kali ini adalah pangkalan ojek mas Alvin.


"Eh mbak Sarah mau kemana? Sembarangan saja pakai motor. Mau ku pakai main ketempa temenku!" Ucap Vita dari depan pintu.


"Suka suka akulah? Kan ini motorku. Ingat ya Vit, mulai sekarang motor ini tak boleh dipakai siapapun kecuali aku!"


"Terus aku kuliah pakai apa? Lagian STNK nya masih ada sama aku, hehehe" Vita tersenyum jahat.


"Kata siapa ada sama kamu? Nih lihat sekarang sudah aku pegang. Terserah kamu mau kuliah naik bus atau jalan kaki emang gue pikirin!"


"Dasar pelit? Jadi mbak Sarah sudah berani mengambil STNK itu dari tasku?


"Ya iya lah? Lagian yang ku ambil barang pribadiku kok. Kamu saja yang nggak tahu malu. Sudah aku mau pergi dulu. Ingat nanti aku pulang, tak boleh ada piring kotor di dapur, semua harus bersih! Daa Vita cantik," ucapku berlalu sambil melambaikan tangan kearahnya.


Terlihat Vita sangat kesal dengan semua ucapku tadi. Kutancap gas menuju Tempak pangkalan ojek yang biasanya mas Alvin dan teman temanya nongkrong disana. Jangan ditanya ini? Ya karena aku sering melewainya, kebetulan searah dengan tempat aku bekerja.


Ku taruh motor di pinggir jalan, dan turun kemudian melangkah ke warung kopi yang ada dipangkalan ojek itu. Hanya ada seorang penarik ojek disini yang sedang makan. Lalu dimana suamiku? Sedangkan motornya saja tidak terlihat terparkir disini.


"Mas liat Alvin gak? Tanyaku pada peria yang sedang makan tadi.


"Mbak ini siapa? Jawabnya sambil makan.


"Temennya mas, saya punya pekerjaan untuk alvin."


Terpaksa aku berbohong, jika aku mengaku kalau aku istrinya mas Alvin, pasti pria ini tak akan memberitahuku.


"Tuh di dalam sana. Biasa jam segini dia lagi pacaran," katanya sambil menunjuk keruang tamun di rumah penjual kopi itu.


Akupun langsung masuk kedalam. Pandangan didepanku bener bener di luar akal sehat.


Alvin dan selingkuhannya  sedang bercumbu di atas kursi. Spotan ku lempar helm yang dari tadi aku pegang.


"Brakkk"

__ADS_1


Dan spotan mengenai tubuh mereka


"Aduh sakit apaan ini!" Perempuan itu memakik kesakitan sambil memegang kepalanya yang terkenal lemparan helm.


"Oh maaf sakit ya? Dasar pelakor tak tau malu kamu, bermesraan dengan suami orang!" Ucapku.


Mendengar suaraku Alvin pun langsung kaget


"Sarah ngapain kamu kesini?"


"Ngapain kamu bilang? Harusnya aku yang tanya ngapain kamu di sini dengan perempuan ini, jadi ini selingkuhanmu!"


"Plaakkk"


Sebuah tamparan dilayangkan Alvin dan mendarat dengan keras dipipi kiriku.


"Pergi sekarang juga! Ini bukan urusanmu!


"Ini urusanku, karena kita masih sah menjadi suami istri dan kamu pelakor. Di mana harga dirimu sebagai seorang wanita!"


Aku mendekati perempuan itu, geram rasanya melihat dia yang dari tadi menggenggam tangan suamiku. Ingin aku jambak rambutnya dan kucakar wajahnya.


"Silahkan cearikan aku sekarang juga! Aku tidak takut menjadi janda. Bahkan hidupku akan lebih bahagia bisa bebas dari parasit seperti kamu.


"Kurang ajar kamu! Dasar istri durhaka. Ingat Rido tuhan ada pada suami!


"Jangan bawa bawa nama tuhan mas! Perbaiki ahlakmu baru ceramah. Oke aku pergi dari sini. Dan kamu pelakor, silahkan ambil Alvin, sampah memang seharunya berada di tempat sampah!"


Akupun meninggalkan pasangan haram itu. Sudah tak ku pedulikan lagi berapa pasang mata menatapku.


Sedih, marah dan juga bahagia bercampur jadi satu. Sedih dan marah karena mengetahui suami yang selama ini aku puja dan aku cintai sepenuh hati, tega bermain api di belakangku. Bahagia karena dengan mengetahui ini semua bisa bisa membuat wanita yang teguh dan pemberani.


Tak ada yang perlu di sesali semua sudah terjadi dan tak akan bisa kembali seperti semula. Kini aku akan berdiri tegak diatas kakiku sendiri, menatap masa depan Tampa alvin .


Kembali kuarahkan motorku pulang kerumah. Ingin rasanya menumpahkan segala  beban yang aku pikul dan semua kesedihan yang saat ini aku rasakan saat ini kepada Allah. Hanya dialah tumpuan dan tempatku bersandar saat ini.


Ketika sampah kerumah, kulihat Vita dan juga mertuaku sedang menonto tv. Pemandangan yang aku lihat setiap aku pulang kerja

__ADS_1


"Loh makanan dimeja kok masih utuh? Kenapa nggak di makan mubadzir tau!" Kataku sambil menutup tudung saji.


"Makanan nggak bisa di makan gitu kok di sajikan untuk kami, dosa kamu dari tadi ngerjain orang tua!"


"Memangnya masakanku kenapa? Jangan samakan dong dengan mie satan tadi!" Ucapku.


"Sama saja! Makanan semua asin banget mbak!" Ucap Vita sambil merenggut.


"Wkwkwkwk iya iya aku inget sekarang tadi pas belanja kebetulan aku beli garam banyak, dari pada mubadzir aku banyakin saja garamnya di masakanku," ujarku sambil meledek.


"Ya sudah kamu makan sendiri sana semua masakanmu!"


"Nggak ah malas aku! Lagian aku tadi juga sudah makan di luar kok. Nasi Padang rendang daging sapi, rasanya hmmm mantap deh". Sengaja aku berbohong agar mereka semakin kesal.


Padahal aku dari tadi pagi belum makan, dan tadi saat keluar juga tidak beli makanan apapun. Dan tadi saat memasak memang aku sengaja semua makanan aku taburi banyak garam.


"Tega sekali kamu sama kamu, sar. Ena-enakan makan diluar sementara kami disini kelaparan!"


"Tadi kalian kan habis belanja? Pake uangku itu loh lima ratus ribu rupiah! Kok kelaparan masak iya tadi nggak beli makanan diluar?"


"Enggak lah mbak, kan uangnya kami buat belanja semua. Lagian dirumah kan ada makanan, nggak perlu beli diluar !" Ucap Vita ketus.


"Tumben adik ipar pinter. Udah ah aku mau bobok siang dulu".


Akupun berjalan menuju kamar. Dengan sedikit mengerjai mereka aku sedikit jadi terhibur.


Hitung-hitung balas dendam atas apa yang mereka lakukan kepadaku selama ini.


"Lalu makan apa kami sar hari ini?" Tanya mertuaku sebelum aku sampai di kamar.


"Makan apa? makan saja yang ada di meja makan  itulah? atau masak sendiri sana, itu di kulkas kan masih banya bahan makanan! Sudah jangan ganggu aku mau tidur!" Ucapku.


"Kok kamu jadi jahat sama kita sih, sar ?" Tanya mertuaku lagi.



__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2