
Cloralista Anatasya, biasa dipanggil Clora. Seorang gadis berumur 19 tahun, yang saat ini sedang menjalankan kuliahnya di salah satu Universitas terkenal di London. Clora adalah gadis mandiri, dan terkenal periang oleh teman-temannya. Namun banyak yang tidak tahu, tentang kehidupan Clora yang sebenarnya.
Selepas dari kampus, dirinya pun langsung kembali ke rumahnya, saat ia melangkahkan kakinya. Clora justru masuk ke dalam sebuah hutan, bukan ke dalam rumahnya, ia hanya bisa terdiam menatap sekitarnya.
"Di mana ini? Kenapa aku tiba-tiba ada di dalam hutan?" gumamnya.
Clora pun berjalan mencari jalan keluar dari hutan itu, dirinya terus berjalan lurus, hingga di tengah perjalanan, sepatunya menyentuh sesuatu. Clora menunduk, dan melihat benda yang membentur sepatunya itu, ia kemudian mengambil benda tersebut. Betapa terkejutnya ia, saat dirinya menemukan sebuah pedang berukuran sedang, dengan ukiran yang sangat indah--berada di tengah-tengah pedang tersebut.
"Pedang? Tidak terlalu berat."
Akhirnya, Clora membawa pedang tersebut bersamanya. Setelah lama berjalan menyusuri hutan, ia pun akhirnya melihat banyak rumah warga di sana. Tidak mau berlama-lama lagi, Clora berjalan dengan santainya dengan membawa sebuah pedang di tangannya.
"Ini di masa lampau? Apa London dulu seperti ini?" gumam Clora yang masih memikirkan tempat tersebut.
Beberapa warga yang melihat Clora hanya memasang raut wajah heran, bagaimana tidak! Di sana Clora memakai pakaian Long Coat, topi, sepatu, dan tas punggung, serta pedang di tangannya. Clora yang melihat beberapa warga hanya bisa tersenyum, sembari mengamati pakaian yang dikenakan oleh penduduk sana.
"Ini di Korea, Jepang, atau Cina ...."
Jika dilihat dari segi pakaian yang mereka kenakan, membuat Clora mengerti di mana dirinya saat ini berada.
"Ternyata ini di Cina kuno, kenapa bukan di London saja ... agar aku bisa bertemu dengan Iron Man hihihi," guraunya.
Clora yang sedang menikmati suasana di sana, tiba-tiba mendengar suara keributan dari arah salah satu rumah warga, yang ada di depannya. Ia pun segera bergegas ke sana, dengan pedang yang masih berada di genggamannya itu.
Aku bisa mengerti bahasa mereka ..., batin Clora.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" pekik anak laki-laki yang berusia 8 tahun.
"Heh! Berikan aku uangmu dulu! Baru aku akan melepaskanmu," ucap pria berbadan besar itu, sembari mengangkat baju bagian belakang anak laki-laki tersebut.
"Lepaskan anak itu, atau kulubangi kepalamu ini," ancam Clora, yang meletakkan ujung pedang tepat di depan kepala pria besar itu.
Bahkan aku bisa berbahasa seperti mereka, batin Clora tidak percaya.
Pria tersebut kemudian melepaskan anak laki-laki itu, dan berbalik menghadap Clora yang sudah memasang wajah sangarnya, dengan ujung pedang berada di depan keningnya.
"Pergilah dari sini!" usir Clora, namun pria itu justru menyeringai.
"Kau kira aku akan mengikuti ucapanmu? Dasar gadis bodoh!" pria itu langsung bergerak mundur dengan cepat, dan melawan Clora menggunakan pedang yang ia bawa.
__ADS_1
SRING!
ZRAAAK!
TING!
Clora pun meladeni perlawanan pria tersebut, hingga perlawanan itu berakhir dengan kemenangan di tangan Clora, pria yang kalah itu pun segera pergi dari sana, menjauhi tempat tersebut. Sementara di balik pohon besar, seorang pria sejak tadi memperhatikan pertarungan Clora dan pria jahat itu.
"Luar biasa," gumam pria yang bersembunyi itu, sembari tersenyum saat melihat keberanian Clora, dan pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.
Anak laki-laki yang di tolong oleh Clora, terus saja menatap gadis itu, ia tampak terlihat kagum akan keberanian yang dimiliki oleh seorang gadis yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya, kepada anak laki-laki tersebut, sembari mengulurkan tangannya untuk membantu anak itu untuk berdiri.
"Terimakasih, aku tidak apa-apa," jawabnya, sembari menerima uluran tangan Clora.
"Kenapa pria itu meminta uang kepadamu? Padahal kau masih sangat kecil."
"Ibu dan Ayahku, padahal mereka sudah membayar hutang-hutang mereka kepada Tuan Yong, aku tidak tahu kenapa mereka masih meminta uang kepadaku."
Clora mengerti maksud ucapan anak laki-laki itu, sungguh rakus sekali orang yang meminta uang kepada keluarga yang sudah melunasi hutang tersebut.
"Aku Shing Hongli, kau bisa memanggilku Shing.
"Senang berkenalan denganmu, Shing."
"Nona, namamu sangat asing di telingaku, kau berasal darimana? Pakaianmu juga terlihat sangat aneh, dan itu apa yang ada di atas kepalamu? Dan juga yang ada di punggungmu?" pertanyaan Shing yang dilontarkan kepadanya, membuat Clora tersenyum dan terkekeh pelan.
Di sana Clora menjelaskan apa yang ia pakai kepada Shing, "aku berasal dari tempat yang sangat ... jauh ... sekali, kau tidak akan tahu di mana tempat itu."
"Wow! Boleh aku ikut denganmu? Jika kau kembali ke tempat asalmu," ucap Shing.
"Bagaimana dengan Ayah dan Ibumu? Mereka pasti sangat khawatir padamu."
Raut wajah Shing berubah menjadi murung, kepalanya pun menunduk ke bawah, Clora yang melihat Shing seperti itu. Merasa ada yang tidak beres, dan sesuatu yang terjadi menimpa Shing.
"Ayah dan Ibuku ... mereka sudah meninggal pagi tadi, aku pun diusir oleh Paman dan Bibiku dari rumahku sendiri, aku hanya memiliki empat koin emas milik Ayahku," lirihnya, sembari mengeluarkan koin emas dari saku celananya.
"Aku turut berduka cita, sekarang kau mau tinggal di mana? Aku juga tidak tahu harus tinggal di mana?" Shing hanya menggelengkan kepalanya, di sana Clora tampak sedang memikirkan sesuatu. "Shing, bagaimana jika kita membeli tenda saja," usul Clora, mendapatkan persetujuan dari Shing.
__ADS_1
Anak laki-laki itu terlihat sangat bersemangat dan senang, lantaran dirinya tidak sendirian di sana. Mereka berdua pun pergi ke pasar untuk membeli tenda, untuk mereka gunakan sebagai tempat tinggal sementara. Clora yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di pasar, ia terkagum sekaligus senang, baginya ... pasar lebih seru daripada Mall. Di sana, Shing mengajak Clora ke toko perlengkapan senjata dan berbagai perlengkapan lainnya, termasuk tenda.
"Kak, bagaimana dengan yang ini?" tanya Shing.
"Eumm ... aku rasa itu terlalu besar untuk ukuran dua orang." Shing oun mencari tenda yang lain.
"Bagaimana dengan yang ini?"
"Nah! Ini cukup untuk kita."
Mereka akhirnya membeli tenda yang berukuran sedang, emas yang dibawa oleh Shing masih ada 3 dan yang lainnya sisa kembalian membeli tenda tadi. Sisa dari membeli tenda tadi, mereka belikan
"Kak, sekarang kita akan membangun tenda di mana?" tanya Shing, Clora pun berpikir.
"Shing ... apa kau tahu? Di mana tempat yang dekat dengan sungai? Dan jauh dari perumahan warga."
Mereka berdua pun berjalan menuju hutan yang berada di dekat tepi sungai, suasana di sana juga terlihat sangat tenang dan sejuk. Sesampainya di tempat tujuan, mereka berdua mendirikan tenda, selesai mendirikan tenda mereka berdua membagi tugas. Clora mencari kayu bakar, sementara Shing menangkap ikan di sungai untuk makan malam mereka.
Malam pun tiba, mereka berdua tengah menikmati ikan bakar hasil tangkapan Shing.
"Kak, pedang yang kau bawa terlihat tidak asing bagiku, kau dapat darimana pedang itu, Kak?" tanya Shing, yang sedang mengamati pedang berada di samping Clora.
"Aku menemukannya di dalam hutan, mungkin saja seseorang tidak sengaja meninggalkan pedang ini, aku akan mengembalikan pedangnya jika ada orang yang mencarinya." Shing hanya manggut-manggut sembari melahap ikan bakarnya itu.
Selesai makan, Clora menyuruh Shing untuk tidur lebih dulu, sementara dirinya masih duduk di depan tenda, dan sesekali mendongak ke atas--menatap langit malam yang dihiasi oleh banyak bintang. Kemudian, Clora menoleh ke belakang menatap tubuh kecil yang sedang terlelap di alam mimpinya.
"Shing, kita bernasib sama ... hanya saja ... kedua orangtuaku masih hidup. Tapi, mereka berdua sudah menganggapku tidak ada di dunia ini," lirih Clora.
Clora sejak berumur 2 bulan diasuh oleh asisten rumah tangga, tapi perlakuan asisten rumah tangganya itu selalu bersikap kasar padanya. Ayah dan ibu Clora memberikan rumah mewah untuknya, saat Clora berumur 1 bulan, dan setelah memberikan rumah tersebut. Kedua orangtuanya meninggalkan dirinya bersama asisten runah tangga itu.
Dan saat dirinya menginjak umur 18 tahun, Clora diusir oleh asistennya sendiri, rumah yang Clora miliki kini beralih ke tangan asisten tersebut. Di sana Clora hanya bisa merenungi nasibnya, sembari memegang foto kedua orangtuanya yang pergi meninggalkannya sendiri.
Clora yang saat itu tinggal di rumah temannya, berusaha untuk mencari pekerjaan untuk membeli rumah sendiri, dan dirinya juga mengikuti tes beasiswa masuk Univeristas terkenal di London. Berkat kegigihannya, Clora mendapatkan pekerjaan walau menjadi pelayan di restoran, dan dirinya pun diterima masuk di Universitas di sana.
Setelah berhasil membeli rumah sendiri, dan Clora pun mulai mencari keberadaan kedua orangtuanya melalui media sosial. Cukup lama mencari kedua orangtuanya di media sosial, akhirnya ia pun menemukan akun keduanya. Clora terlihat sangat senang, lantaran dirinya berhasil. Tapi, di sana Clora sangat terkejut, ternyata kedua orangtuanya sudah berpisah selama 19 tahun.
"Bahkan saat kutemui keduanya, mereka terlihat tidak mau mengakuiku, justru mereka sangat bahagia dengan keluarga mereka masing-masing--" lirih Clora. "Lebih baik aku memulai hidup baru di sini, bersama dengan Shing," lanjutnya.
Tbc
__ADS_1