Aku Dan Guru Besar

Aku Dan Guru Besar
8


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Pengawal Zhang belum juga mengetahui keberadaan Clora, hampir semua wilayah di lembah Youyang ia telusuri, tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan jejak perginya gadis tersebut. Tetapi, Zhang tidak menyerah dirinya terus mencari keberadaan Clora, ia tidak akan kembali ke Perguruan Wuzang sebelum menemukan gadis itu.


Saat Zhang sedang menyamhar untuk mencari Clora, tiba-tiba dirinya melihat dua orang dengan mengenakan pakaian serba hitam, serta terlihat begitu tergesa-gesa. Melihat hal tersebut, Zhang pun kemudian mengikuti dua orang mencurigakan itu, Zhang yang terus mengikuti mereka berdua, akhirnya ia berhenti tidak jauh dari lokasi rumah Nenek Clora dulu. Ia pun mengendap-endap di balik dinding luar rumah, sembari mencari tahu siapa dua orang tersebut.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa menemui gadis itu," ucap salah satu pria yang berpakaian serba hitam.


"Bodoh! Kalian tidak bisa menangkap kelinci kecil itu!" mendengar bentakan tersebut, bisa dikatakan bahwa ia adalah seseorang yang menyuruh anak buahnya untuk menangkap seseorang.


SRING!


"Kalian benar-benar tidak berguna! Mati saja kalian," ucap pemimpin mereka.


"Tunggu Tuan," salah satu pria berpakaian serba hitam mencegah pemimpinnya itu. "Kemarin saya melihat kereta Kerajaan Phoenix melewati hutan di sekitar desa ini, saya rasa gadis itu masuk ke dalam kereta kerajaan," sambungnya.


Jadi, gadis itu berada di kerajaan Phoenix? batin Zhang.


"Kau tahu? Kerajaan Phoenix tidak akan membiarkan siapa saja menyusup ke dalam kereta mereka, apalagi masuk ke kerajaan mereka, kalian berdua benar-benar bodoh! Lebih baik kalian mati!"


SRAK!


Akhirnya, kedua orang tersebut dibunuh oleh pemimpin mereka sendiri. Pria tersebut terlihat sangat marah akibat kecerobohan anak buahnya, kemudian ia pergi meninggalkan rumah tersebut bersama dengan pengawalnya.


Sementara Zhang, ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, dan kembali ke Perguruan Wuzang untuk memberitahu kepada Lan Lianxia.


Selama di perjalanan, Zhang merasa tidak asing dengan suara pemimpin pembunuh tersebut, sayang sekali ia tadi tidak dapat melihat wajah pemimpin tersebut. Dirinya merasa jika pria tadi memiliki hubungan dengan Lan Lianxia, untuk apa mencari gadis yang sama sekali tidak memiliki apa-apa.


Sesampainya di Perguruan Wuzang ....


Zhang langsung mencari keberadaan Lan Lianxia, ia pun berjalan cepat menuju kediaman ketuanya itu. Saat dirinya sampai dikediaman Lan Lianxia, ia melihat pria tersebut sedang menulis.


"Salam Tuanku," ucap Zhang sembari membungkukkan tubuhnya.


"Bagaimana Zhang, apa kau sudah mengetahui keberadaan Clora?" tanya Lan Lianxia.


"Saya tidak yakin dengan keberadaan Nona Clora, saya dengar gadis itu berada di Kerajaan Phoenix."


"Siapa yang mengatakan hal itu?"


Di sana Zhang pun mulai menceritakan apa yang ia dengar tadi di rumah Neneknya Clora, mendengar hal tersebut Lan Lianxia hanya bisa diam dan memasang ekspresi wajah yang dingin.


"Baiklah Zhang, terima kasih sudah memberitahukan hal ini, kau boleh pergi," perintah Lan Lianxia.


"Baik Tuanku."


"Perempuan itu merepotkan sekali," gumam Lan Lianxia.

__ADS_1


...•••...


Di Kerajaan Phoenix ....


Clora yang sedang asik mengobrol dengan pelayannya tersebut, tiba-tiba didatangi oleh calon istri dari Pangeran Changling.


"Salam Yang Mulia," ucap pelayan yang duduk di samping Clora.


Clora yang tidak tahu dengan aturan di Istana hanya bisa diam saat melihat pelayan membungkuk kepada wanita arogan yang ada di hadapannya itu, toh! Kalaupun dia mendapat hukuman mati dirinya tidak akan takut, bagi Clora hidupnya sama sekali tidak berarti.


"Siapa kau! Berani sekali mendekati calon suamiku," ucap wanita tersebut.


Di sana Clora hanya bisa tersenyum menahan tawa, wanita di hadapannya ini sangat lucu, apakah wajahnya ini seperti para pelakor-pelakor yang ada di luaran sana, harga dirinya sangat tinggi untuk merebut pria milik orang lain.


Clora berjalan mendekati wanita tersebut, kemudian ia berhenti tepat di hadapannya. "Aku adalah manusia biasa yang memiliki harga diri tinggi, tidak seperti dirimu yang sembarangan menuduh orang lain tanpa bukti. Kau itu seorang Putri, seharusnya kau bersikap bijaksana saat berbicara dengan orang lain—" Clora mendekatkan bibir tepat di sampinh telinga Putri tersebut, sembari melanjutkan ucapannya tadi, "jika kau merasa memiliki harga diri."


Kemudian Clora menjauhkan dirinya dari sang putri. Putri tersebut terlihat geram setelah mendengar ucapan Clora, dirinya secara tidak langsung dipermalukan di hadapan para pelayannya. Merasa tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan kepadanya, Putri itupun menampar Clora dengan cukup keras.


PLAK!


Clora hanya bisa diam saat dirinya mendapat tamparan yang begitu keras. "Dengar! Jika kau masih mendekati Pangeran Mahkota, kau akan menyesali perbuatanmu, ingat itu!"


Setelah kepergian sang Putri beserta pelayannya, pelayan Clora berlari mendekatinya dan mengajak Clora untuk duduk, sementara dirinya mengambil kotak obat.


"Haha, aku sudah lama tidak merasakan tamparan ini, aku harap orang itu mati mengenaskan." orang yang dimaksud Clora adalah asisten rumah tangganya yang serakah, dirinya selalu disiksa dan mendapatkan perlakuan tidak baik.


"Sshh!" rintih Clora.


"Maaf kalau sedikit sakit."


"Tidak apa-apa. Ah! iya Yingying, aku hari ini akan pulang ke rumah," ucap Clora secara tiba-tiba membuat Yingying merasa sedih, dirinya sudah merasa nyaman berteman dengan Clora. Melihat raut wajah Yingying yang sedih, membuat dirinya bertanya-tanya kenapa gadis di hadapannya sedih, "ada apa Yingying? Kenapa kau sedih?"


"Clora, aku senang bertemu denganmu, aku merasa sedih karena kau akan pergi meninggalkan istana," ucap Yingying, di sana Clora hanya tersenyum sembari menggenggam tangan Yingying.


"Dengar, aku akan kembali ke sini."


"Sungguh?"


"Iya, jadi tenanglah. Lagi pula ... aku memiliki hutang dengan Pangeran Mahkota."


"Hutang?"


"Sudahlah, jangan dipikirkan," ucap Clora, enggan memberitahu hutangnya kepada Pangeran Changling.


Di sana Pangeran Changling masuk ke kediaman Clora, dirinya akan membawa Clora keluar dari Istana. Saat Pangeran Changling mendekati Clora, ia melihat sebuah luka serta pipi gadis di hadapannya yang terlihat membengkak dan memerah.


"Siapa yang melakukan ini padamu?!" tanya Pangeran tersebut dengan nada marah.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, tadi ada sesuatu di pipiku dan aku menampar diri sendiri dengan sangat keras," bohongnya.


Pangeran Changling tahu begul kalau gadis di hadapannya itu berbohong kepadanya, lebih tepatnya ia tahu siapa yang berani melakukan hal tersebut kepada Clora. Tetapi dirinya hanya bisa diam dan pura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, lantaran ia tidak ingin membuat Clora takut jika dirinya akan memarahi Putri  tersebut.


"Apa kau masih ingat jalan pulang?" tanya Pangeran Changling kepada Clora.


"Tenang saja, aku masih ingat." padahal Clora sama sekali tidak ingat.


"Baiklah, aku akan mengantarmu keluar Istana."


Clora beralih ke Yingying, dirinya tersenyum menatap temannya itu sembari menggenggan erat kedua tangannya. "Jaga dirimu baik-baik, aku akan segera kembali dan menemuimu," ucap Clora membuat Yingying tersenyum dan mengangguk.


Pangeran Changling dan Clora pun berjalan menuju pintu keluar istana, mereka berdua terlihat sangat akrab, sampai-sampai Pangeran yang lain diam-diam memata-matai mereka berdua.


"Kalian sedang apa?" ucap seseorang dari balik tubuh Pangeran ke sembilan bernama Jingmi. Suara yang tiba-tiba itu membuat kedua pangeran tersebut terkejut.


"Kau mengagetkanku saja Kak," ucap Pangeran Jingmi.


"Kau ingin membuatku mati muda ya?!" sergah Pangeran keempat bernama Fu Hsi.


"Ahahaha maafkan aku, lagi pula kenapa kalian mengendap-endap seperti maling?" tanya Pangeran kedua bernama Feng, seperti namanya ia memiliki wajah yang sangat tampan.


"Kami berdua penasaran dengan gadis yang sedang bersama Kakak pertama," ucap Pangeran Jingmi.


Feng memandang gadis yang sedang berjalan bersama kakaknya itu, dirinya penasaran dengan sosok gadis tersebut, baru kali ini dirinya melihat Pangeran Cangling berjalan dengan seorang gadis yang selama ini belum pernah ia lihat.


"Sudahlah, ayo kita pergi menemui Ibu, beliau sudah menunggu kita sejak tadi," ajak Pangeran Feng.


"Yah ... sayang sekali aku tidak bisa melihat perempuan itu lebih dekat," ucap Pangeran Jingmin merasa kecewa.


"Aku pun merasa begitu," sahut Pangeran Fu Hsi.


Pangeran Feng tersenyum melihat raut wajah lucu adik-adiknya itu. "Nanti aku tanya kepada Kakak pertama, kalian tenang saja," ucap Pangeran Feng.


Kembali kepada Pangeran Changling dan Clora, mereka berdua pun sampai di luar pintu istana. Di sana lah mereka berdua akan berpisah, di sana Pangeran Changling meminta kepada Clora untuk menemuinya lagi di hutan, di mana awal mereka bertemu.


"Sampai jumpa Pangeran Changling, terima kasih banyak atas tumpangannya," ucap Clora sembari melambaikan tangannya, Pangeran tersebut membalas lambaian tangan Clora.


Di sana diam-diam Putri dari Kerajaan Wen melihat keduanya dari kejauhan diikuti dengan senyuman liciknya.


Selama di perjalanan hanya bisa meratapi kebodohannya, ia tidak tahu jalan pulang, dan bodohnya lagi ia tetap berjalan tanpa arah. Tanpa Clora sadari, ada dua orang asing mengikutinya dari belakang, dua orang tersebut terlihat sedang membawa sebuah pisau di tangannya. Semakin lama Clora berjalan, ia merasa kalau dirinya sedang diikuti oleh seseorang, kemudian ia pun lari dengan sekencang-kencangnya, dan dua orang tersebut juga ikut berlari mengejar Clora yang berlari menjauhi mereka.


Tiba-tiba ... seseorang menarik tangan Clora dengan sangat cepat, gadis itu pun memberontak agar dirinya lepas dari orang tersebut.


"Lepaskan aku! Lepaskan!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2