Aku Dan Guru Besar

Aku Dan Guru Besar
9


__ADS_3

"Ssttt! Diam lah," ucap laki-laki tersebut membuat Clora berhenti memberontak, dirinya ingat dengan suara itu. Ya, itu adalah suara milik Lan Lianxia.


Clora diam-diam menatap Lan Lianxia yang berada tepat di hadapannya, bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas laki-laki yang sedang memeluknya itu. Merasa diperhatikan, Lan Lianxia pun menatap Clora, dan pada akhirnya tatapan keduanya pun bertemu. Tidak lama kemudian, Clora mengalihkan pandangannya dari wajah Lan Lianxia.


"Di mana gadis itu!" ucap seseorang yang mengikuti Clora.


"Sial! Kita kehilangan jejak, bisa-bisa kita dibunuh jika kita tidak menemukan gadis itu," ucap seseorang yang berbeda.


"Siapa mereka?" bisik Clora kepada Lan Lianxia.


"Aku tidak tahu."


Setelah cukup lama mereka bersembunyi, kedua orang tadi mengikuti Clora akhirnya pergi. Di sana Clora merasa sangat lega—dirinya bisa bebas dari orang asing tersebut, tetapi tubuh Clora masih tetap berada di pelukan Lan Lianxia. Ia kemudian melepaskan pelukannya dari Lan Lianxia, dan melihat keadaan sekitar untuk memastikan dirinya sudah aman.


"Huft! Akhirnya bebas juga haha," ucap Clora merasa lega, ia pun menatap Lan Lianxia, tetapi yang ditatap justru memasang ekspresi dingin.


"Kau harus dihukum," ucap laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Mata Clora langsung membulat lebar, ia sama sekali tidak tahu apa kesalahannya, bisa-bisanya laki-laki yang ada di hadapannya itu main hukun dirinya.


"Hukum?! Aku tidak salah apa-apa," ucap Clora berusaha untuk bebas dari hukuman Lan Lianxia. "Hey! Kau dengar aku? Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan."


Lan Lianxia masih diam dan tidak menghiraukan ucapan Clora, ia pun menarik gadis itu untuk kembali ke Perguruan Wuzang.


Sesampainya di Perguruan Wuzang ....


"Baca buku ini sampai selesai, agar kau tahu aturan di Perguruan Wuzang," perintah Lan Lianxia dengan tatapannya yang dingin.


Lagi-lagi Clora dibuat terkejut serta matanya itu melotot akibat melihat puluhan buku yang bertumpuk di hadapannya, gadis itu pun mengambil satu buku yang ada di hadapannya, kemudian ia membuka perlembar halaman buku tersebut, dirinya langsung dibuat bingung dan tidak mengerti apa isi dari buku yang ia buka.


Apa ini? Aku hanya bisa berbicara bahasa mereka, tetapi aku tidak bisa mengerti tulisan yang ada di buku ini, batin Clora.


"Selesaikan, aku akan pergi," ucap Lan Lianxia.


Baru saja ia hendak berjalan menuju pintu keluar, dirinya tiba-tiba mendengar ucapan Clora dan membuatnya berhenti melangkah.


"Tunggu."

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Lan Lianxia sembari membalikkan tubuhnya menghadap Clora.


"Kau tahu? Aku sama sekali tidak mengerti tulisan ini, aku tidak bisa membaca," jawab Clora dengan nada kesalnya.


"Aku akan mengajarimu setelah urusanku selesai," ucap Laki-laki tersebut, kemudian ia pergi meninggal Clora sendiri di sana.


"Sial! Aku belajar dari awal lagi," gumam Clora.


Di sana Clora mengeluarkan giok merah ia temukan saat di rumah neneknya, ia pun duduk dan berpikir kenapa pembunuh itu ingin menggunakan dirinya. Belum ada sebulan ia berada di sini, dirinya sudah menjadi target para pembunuh dan terjebak dalam sebuah masalah. Tapi bagaimana pun juga, Clora merasa jika dirinya lebih baik tinggal di sini, daripada harus kembali di kehidupannya yang tidak mendapat pengakuan dari keluarganya sendiri, dan harus hidup sebatang kara.


Gadis itu pun keluar dari perpustakaan, dirinya hendak kembali ke kediamannya karena merasa sangat lelah hari ini, jadi ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya itu. Saat di tengah perjalanan, ia melihat seseorang berjalan dengan sangat mencurigakan, seolah-orang orang tersebut akan melakukan sesuatu. Clora kemudian mengurungkan niatnya untuk kembali ke kediamannya lantaran rasa penasarannya begitu besar, akhirnya ia mengikuti orang mencurigakan tersebut dari belakang, sampai pada akhirnya ia sampai di sebuah dapur yang cukup besar.


Pria yang diikuti Clora secara diam-diam, pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya, pria tersebut memberikan kepada seorang pelayan yang kemudian pelayan itu memasukkan sesuatu ke dalam sebuah cangkir berisikan air.


"Itu racun?" gumam Clora.


Tidak lama, pria itu kemudian berjalan menuju pintu keluar, Clora pun segera bersembunyi agar dirinya tidak diketahui oleh pria tersebut. Setelah pria itu pergi, Clora mengikuti pelayan yang memasukkan sesuatu ke dalam cangkir tadi, dan sampai pada akhirnya ia sampai di kediaman Lan Lianxia.


"Ooo mungkin karena sifatnya yang membuat orang lain kesal, makanya banyak orang yang ingin membunuhnya—" ucap Clora dengan polosnya, "tapi dia laki-laki yang baik," lanjutnya.


Saat pelayan tersebut memasuki kediaman Lan Lianxia, Clora pun ikut masuk secara diam-diam, ia hanya ingin memastikan bahwa laki-laki itu tidak benar-benar meminumnya. Pelayan itu kemudian meletakkan secangkir minuman di atas meja Lan Lianxia, tanpa ada rasa curiga sedikitpun laki-laki itu mengambil cangkir tersebut dan hendak meminumnya. Clora yang melihat Lan Lianxia langsung keluar dari persembunyianya, dan mencegah laki-laki itu untuk meminum air tersebut.


Sementara Lan Lianxia hanya diam dan melihat kedua perempuan itu saling adu mulut.


"Maaf Nona, pelayan dilarang untuk meminum milik Tuan mereka," ucap pelayan tersebut.


"Tidak apa-apa 'kan? Lianxia? Jika kau memberikan minumanmu kepada seorang pelayan?" tanya Clora.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Clora kemudian mengambil cangkir yang berada di tangan Lan Lianxia, saat dirinya hendak menyodorkan minuman tersebut kepada pelayan, tiba-tiba pelayan tersebut menarik tangan Clora dan membuat tubuh gadis itu didekap dari belakang, pelayan tersebut langsung mengeluarkan pisau dari belakang bajunya, kemudian menodongkan pisau tersebut tepat di leher Clora. Gelas yang Clora pegang seketika jatuh ke lantai, membuat dirinya terkejut.


"Diam di sana, jika kau bergerak sedikit saja, maka gadis ini akan tewas!" ancamnya.


Lan Lianxia justru tersenyum, hal itu membuat Clora bingung dan ingin membunuh laki-laki yang sedang tersenyum itu, bisa-bisanya Lan Lianxia tersenyum saat dirinya berada di ambang kematian.


"Lakukan saja jika kau berani," ucapnya dengan santai.

__ADS_1


Laki-laki ini benar-benar gila, batin Clora.


Dari arah belakang pelayan tersebut terlihat Zhang sudah siap untuk membunuh pelayan itu, Zhang menodongkan pedangnya tepat di punggung si pelayan.


"Lepaskan dia atau kau akan kubunuh," ucap Zhang.


Pelayan itu dengan cepat menggoreskan pisau di leher Clora, dan membuat gadis itu itu meringis kesakitan, "akh!"


JLEB!


Saat itu juga Zhang langsung menusuk pelayan tersebut hingga tewas di tempat, sementara Clora menyentuh lehernya yang terluka tidak begitu dalam akibat dari sayatan pisau tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Lan Lianxia.


"Jelas-jelas aku terluka, pertanyaanmu sungguh sangat aneh," ucapnya kesal. Clora terus menahan darahnya, tetapi darah itu terus saja mengalir.


"Zhang, cepat panggilkan tabib," perintah Lan Lianxia.


"Baik Tuan."


Tabib? Batin Clora.


Tidak lama, Zhang pun kembali bersama dengan seorang tabib yang akan mengobati luka Clora.


"Salam Tuanku," ucap si tabib.


"Segera obati lukanya, jangan sampai lukanya semakin parah," perintahnya.


Ooo dokter, batin Clora.


"Baik Tuan, mari Nona ikut saya," ajak tabib tersebut


"Tunggu dulu. Lianxia, itu tadi minumanmu ada racunya," ucap Clora, membuat tabib dan Zhang terkejut mendengar gadis itu memangil tuan mereka langsung namanya.


"Aku tahu," jawabnya tanpa dosa.


Karena malas memperpanjang masalah, Clora akhirnya mengajak sang tabib untuk pergi dari temoat tersebut.

__ADS_1


"Lianxia sialan," umpat Clora, masih bisa di dengar oleh si tabib.


TBC


__ADS_2