Aku Membalas Pengkhianatan Suamiku Dengan Berselingkuh.

Aku Membalas Pengkhianatan Suamiku Dengan Berselingkuh.
Arya Cemburu Kepada Pemuda Yang Mencoba Menggoda Istrinya


__ADS_3

Mereka pun mulai menaiki eskalator yang ada di mall. Akan tetapi Arya terus bertanya kepada Airin tentang sosok laki-laki tersebut.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Sayang. Apakah kau mengenal pemuda?" tanya Arya.


"Sayang. Aku bahagia tentang kecemburuanmu. Sebab cintamu itu besar kepada diriku. Asal kau tahu saja. Aku bahkan tidak mengenal sosok laki-laki tadi. Aku baru menemuinya hari ini." jelas Airin yang terpaksa berbohong.


"Baiklah. Sayang. Aku sungguh minta maaf. Sebab hampir meragukan dirimu." jawab Arya ketika merangkul istrinya dan berjalan menuju pusat perbelanjaan busana.


Sementara Airin yang melihat seluruh busana, dan ia pun memilih busana yang begitu indah dipandangnya. Akan tetapi Arya dengan tanpa sengaja melirik ke arah seseorang dan menghampiri orang itu.


"Sayang. Kau pilih terus semuanya. Nanti aku yang bayar. Aku kesana sebentar!" perintah Arya saat mendatangi wanita itu.


"Baiklah. Cepatlah kembali." ucap Airin yang berjalan ke arah lain.


"Hey nona. Apa yang kau perbuat disini?" tanya Arya penasaran.


"Kau. Bukankah kau ini suaminya Airin?" tanya perempuan misterius itu.


"Bagaimana kau mengenal istriku?" tanya Arya.


"Ya ampun. Apakah kau lupa pertemuan kita saat di rumah Airin? Dan bahkan aku di mall ini untuk berbelanja hari kelahiranku nanti. Apakah Airin tidak memberitahumu?" tanya perempuan misterius itu.


"Sudah. Dia sudah mengatakan hal ini kepadaku. Aku pikir sahabatnya yang lain berulang tahun. Jadi kau nona cantik yang berulang tahun." ucap Arya saat menjabat tangan wanita itu.


"Sebaiknya kau pergi. Aku tak mau Airin melihat kita." ucap perempuan misterius itu ketika mendorong badan Arya.


"Oh iya. Sebelum kita berdua berpisah disini. Aku ingin mengetahui namamu." ucap Arya.


"Baiklah. Aku Riska Khairunnisa." ucap Riska yang membalas jabat tangan Arya dan berlalu pergi.


"Boleh ku bantu bawa barangmu." tawar menawar Arya kepada Riska.


"Tidak perlu. Nanti istrimu malah mencurigai kita. Dan aku pun bersama saudara laki-lakiku." tambah Riska dan berlalu pergi.


"Hey. Aku Arya. Apakah kita akan bertemu lagi?" teriak Arya ketika memanggil dirinya.


Riska Khairunnisa hanya tersenyum tanpa melirik ke arah Arya, dan ia pun menuruni eskalator sambil berjalan ke arah kasir pembayaran. Namun Airin yang telah selesai berbelanja itu pun langsung mencari Arya, dan ia pun menghampiri suami yang sedang melirik ke arah seseorang berjalan.


"Sayang. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Airin penasaran.


"Tidak ada. Hanya saja menunggu dirimu berbelanja. Sayang. Apakah kau telah selesai berbelanja?" Arya bertanya balik kepada istrinya.


"Seperti yang kau lihat. Semua belanjaanku tampak banyak. Ayolah. Katanya mau bayar." jelas Airin ketika menarik lengan suaminya untuk pergi ke tempat kasir.


"Iya. Sayang." jelas Arya dan berlalu pergi.


"Pelayan. Berapa semuanya?" tanya Arya.


Mereka pun mulai menghitung totalnya.


"Jumlahnya 1.560.000 tuan." ucap pelayan mall.


"Baiklah." jawab Arya ketika menyerahkan kartu ATM miliknya kepada pelayan.

__ADS_1


Ketika pelayan itu selesai, dan mereka pun mengembalikan kartu ATM milik pelanggannya.


"Terima kasih tuan. Nona. Telah mengunjungi mall kami." sapa pelayan itu.


"Sayang. Mari kubantu." tawar menawar Arya ketika meraih belanjaan milik Airin dan berlalu pergi.


"Ya Allah. Suamiku ini baik sekali. Beruntung aku mengenal dirinya." Airin berkata dalam hatinya sambil memperlihatkan senyuman ke arah Arya dan berjalan menuju lobi mobil.


Namun waktu telah menunjukkan pukul 15.00 sore. Sementara Arya yang melihat keanehan sang istri ketika tersenyum seorang diri dalam mobil, dan ia pun mulai bertanya.


"Mengapa kau tersenyum seperti itu saat menatapku? Apakah ada yang aneh?" tanya Arya bingung.


"Ya. Aku bahagia saja. Sebab kau masih peduli kepadaku. Dan mencintaiku dengan apa adanya? Sayang kalau kita adopsi anak. Apakah mama akan menyayangiku?" tanya Airin.


"Ya aku setuju. Namun urusan mama tentang mengurungmu di kamar mandi akan ku urus hari ini." tegas Arya sambil mencium tangan istrinya.


"Namun aku rasa itu tidak perlu sayang. Sebab mama akan semakin benci kepadaku." ucap Airin.


"Sayang. Kau tenang saja. Aku tak mau kejadian ini terulang kembali." ucap Arya.


"Sayang. Awas di depan ada bocah kecil." teriak Airin saat menghentikan kecepatan mobil suaminya.


Arya pun langsung menghentikan secara mendadak, dan ia pun keluar dari mobil tersebut.


"Sayang. Kau tunggu disini!" perintah Arya ketika keluar dari mobil.


"Baiklah. Tapi kau harus berhati-hati." ucap Airin.


Arya pun berjalan ke arah bocah itu.


"Aku tidak apa-apa paman. Mereka sudah meninggal saat dulu. Kini aku menetap di sebuah panti asuhan." ucap bocah laki-laki kecil itu.


"Paman sungguh minta maaf ya." ucap Arya ketika memeluk bocah laki-laki kecil itu.


"Sepertinya ini jawaban doa istriku telah di dengar Allah." Arya berkata dalam hatinya dan membawa anak itu masuk mobil.


"Sayang. Siapa bocah ini? Mengapa kau membawa masuk mobil kita? Hey. Anak manis. Apakah kau terluka?" tanya Airin.


"Tidak tante. Aku baik-baik saja." ucap bocah laki-laki kecil itu.


"Sayang. Kita akan mengantar bocah ini ke panti asuhan. Sebab besok kita akan kembali ke tempat itu." ucap Arya ketika memasuki mobil dan berlalu pergi.


"Siapa namamu anak manis?" tanya Airin.


"Orang memanggilku Bagas." ucap bocah laki-laki kecil itu.


"Nama yang bagus. Dimana keluargamu?" tanya Airin penasaran.


"Pihak panti asuhan bilang. Mereka telah meninggal ketika aku masih bayi. Tante." ucap Airin ketika berbincang dengan bocah laki-laki kecil itu dalam mobil.


Akan tetapi Arya yang sedang fokus dalam menyetir di perjalanan itu. Namun dalam beberapa menit kemudian mobil itu pun tiba di sebuah panti asuhan "KASIH BUNDA". Arya langsung mengeluarkan Bagas dari mobilnya, dan Bagas pun dijemput oleh ibu panti asuhan.


"Ya tuhan. Bagas. Kau dari mana? Siapa paman ini?" tanya ibu panti asuhan.

__ADS_1


"Saya orang yang menemukan Bagas. Lalu ku bawa anak ini kemari. Bagas. Apakah kau mau menjadi putraku?" tanya Arya dan berlalu pergi.


"Terima kasih anak muda telah mengantar bocah ini." ucap ibu panti asuhan.


"Paman. Aku mau menjadi anakmu. Besok paman kemari lagi." teriak Bagas dan berlari memeluk Arya dari belakang.


"Mengapa aku merasa tersentuh kepada anak ini?" Arya bertanya dalam hatinya dan menoleh ke belakang.


"Iya. Paman akan menjemputmu besok." ucap Arya dan memeluk erat Bagas dan melepaskan pelukannya dan berlalu pergi.


Ibu panti asuhan pun membawa Bagas masuk ke dalam. Sementara Arya yang telah meninggalkan panti asuhan itu dengan menancapkan gasnya.


"Sayang. Anak itu manis sekali. Rasanya aku tak mau berpisah dengannya." ucap Airin saat merangkul lengan suaminya.


Pada akhirnya mobil itu pun berhenti di hadapan gerbang rumah Arya Hadi Kusuma. Sementara Arya membunyikan klakson mobilnya.


"Cepat kau buka pintu gerbang!" perintah Arya.


"Baik bos." ucap security ketika berlari membuka pagar dan pagar itu pun terbuka.


Arya pun langsung memarkirkan mobilnya di lobi rumahnya, dan ia pun langsung turun dari mobil bersama istrinya dan berjalan memasuki rumahnya dalam keadaan marah.


"Sayang. Tunggu!" perintah Airin ketika menarik lengan suaminya.


"Sayang. Kau tenang saja ya." ucap Arya ketika melepaskan tangan istrinya dan berlalu pergi.


"Ma. Mama." teriak Arya ketika memasuki rumahnya.


"Mengapa kau berteriak anakku?" tanya mamanya Arya ketika menghampiri putranya dari ruang tamu.


"Apa yang telah mama perbuat kepada istriku?" tanya Arya.


"Sudah kuduga. Wanita sialan ini mengadu kepada suaminya." ibu Arya berkata dalam hatinya.


"Tunggu. Mama tidak mengerti tentang kau ucapkan?" tanya ibunya Arya kembali.


"Mengapa mama masih menipuku?" tanya Arya yang sedang marah.


"Wanita jahanam kemari kau. Apa yang telah kau katakan kepada putraku?" tanya ibunya Arya ketika menampar menantunya.


Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 sore, dan Airin berjalan menuju kamarnya sambil menangis.


"Sayang bersiaplah karena kita akan pergi ke tempat ulang tahun sahabatmu!" perintah Arya.


"Ma. Mengapa mama menamparnya?" tanya Arya bingung.


"Itulah mama tidak menyukai pilihanmu. Yang pertama kita butuh keturunan yang meneruskan perusahaan ayahmu. Dan kedua dia tidak bisa memberimu anak." ucap ibunya Arya.


"Maka oleh sebab itu mama sudah memilih calon istri yang tepat untukmu."


"Mama. Aku tak mungkin mengkhianati Airin yang sebaik itu. Percuma aku berkata kepada mama." ucap Arya dan berlalu pergi memasuki kamarnya untuk bersiap mandi.


"Anak itu setelah mengenal wanita itu. Dia telah berani kurang hajar kepada ibunya sendiri." ibunya Arya berkata dalam hatinya dan berlalu pergi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2