
Kediaman orang tua Arya.....
"Nyonya. Makanan sudah siap!" perintah pelayan.
"Sudah ku bilang. Saya tidak ingin memakan apa pun." tegas ibunya Arya.
"Nyonya. Nanti tuan muda akan memarahi saya. Jika nyonya sampai sakit." ucap pelayan.
"Biarkan saya mati. Jika aku tiada. Nanti anak durhaka itu akan kembali!" perintah ibunya Arya.
"Arya. Anakku. Pulanglah kau kemari." keluh ibunya Arya.
Namun tiba-tiba ibunya mau melangkahkan kakinya di kamar mandi, dan ia pun terpeleset sehingga kepalanya terantuk semen yang membuat dirinya terluka sambil berteriak.
"Aaaa. Tolong." teriak ibunya Arya sebelum pingsan.
"Sepertinya ada yang berteriak di ruangan nyonya besar." ucap pelayan ketika terkejut mendengar hal itu sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan ibunya Arya.
"Ya Allah. Madam. Apa yang terjadi?" tanya pelayan ketika melirik ke arah ibunya Arya yang pingsan.
"Sebaiknya aku menghubungi tuan Arya." pelayan itu bergumam dalam hatinya sambil meraih ponsel untuk menelpon seseorang.
Di rumah sakit....
Mobil Arya memasuki halaman rumah sakit Jakarta, dan ia pun langsung mengeluarkan istrinya sambil meneriaki dokter.
"Dokter. Dokter." teriak Arya dengan menggendong istrinya saat berada di dalam rumah sakit.
"Apa yang terjadi tuan dengan wanita ini?" tanya perawat.
"Suster. Tolong selamatkan istriku. Berapa yang kalian inginkan akan ku bayar!" perintah Arya.
Mereka pun membawa Airin ke ruang pemeriksaan sambil diikuti oleh Arya.
"Tuan. Tuan. Tunggu disini. Izinkan dokter memeriksa pasien!" perintah perawat.
"Baik dokter. Pokoknya selamatkan istriku. Aku akan marah pada diriku. Jika terjadi sesuatu pada dia." ucap Arya sambil menduduki dirinya di kursi ruang tunggu.
Sementara dokter menutup rapat ruangan pasien. Namun dalam beberapa menit kemudian setelah Airin diperiksa dokter, dan sang dokter pun menemukan kejanggalan pada kelopak mata Airin sampai mengatakan berita buruk ini kepada Arya. Arya pun langsung bangkit dari tempat duduk itu saat melirik ke arah dokter yang keluar dari ruangan pasien.
__ADS_1
"Dokter. Bagaimana keadaan istriku? Apakah terjadi sesuatu padanya?" tanya Arya panik.
"Begini tuan. Sebenarnya ada pecahan kaca yang mengenai kelopak mata istri anda. Namun saya tidak bisa memastikan tentang istri anda buta atau tidak. Tunggu sampai pasien sadar untuk mengeceknya lagi." jelas dokter itu.
"Apa dokter? Pecahan kaca? Bagaimana itu bisa terjadi pada istriku?" tanya Arya.
"Sebaiknya anda tenangkan diri sambil berdoa untuk kesehatan istrimu tuan. Jika begitu kami permisi dulu tuan. Sebab masih ada pasien lain!" perintah dokter itu dan berlalu pergi.
"Aku yakin. Pasti terjadi sesuatu disana. Sampai Airin tiba-tiba meninggalkan pesta itu. Sebaiknya aku harus kembali kesana." Arya berkata dalam hatinya dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju rumah Riska.
Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam.
Disisi lain kediaman Riska Karmila...
Riska bertanya pada Ardian tentang kejadian malam ini. Ardian pun menjelaskan hal itu kepada Riska tanpa ada kebohongan.
"Sekarang kau jelaskan tentang kejadian malam ini? Sebab kau hampir merusak rencanaku untuk merebut Arya dari Airin?" tanya Riska.
"Aku sungguh tidak sengaja dengan hampir menciumnya tadi. Namun dia langsung menamparku. Dan bahkan mendorongku sampai berlari keluar seperti orang gila." ucap Ardian.
"Apa? Apakah kau sudah kehilangan akal sehat? Bukankah kau juga bisa mendapatkan Airin saat mereka berpisah? Bahkan mereka tidak tahu tentang kebenaranmu yang bukan saudara kandungku melainkan kekasihku sendiri?" tanya Riska sambil menampar Ardian.
"Ya tuhan. Sayang. Mengapa kau menamparku? Bukankah aku berkata jujur?" Ardian bertanya balik.
"Sekarang rencana kita apa?" tanya Ardian.
"Dan kau harus memastikan kondisi Airin baik-baik saja besok. Dan kau harus buat Arya jatuh cinta kepada mu dengan rasa bersalah mu. Sementara aku akan mengambil perhatian Arya untuk jatuh cinta kepadaku." ucap Riska.
"Baiklah sayang. Sebelum aku pergi. Aku minta kecupanmu." ucap Ardian sambil di dorong oleh Riska.
"Cepat keluar. Sebelum ada yang lihat. Berhenti kau membuat aku gila." ucap Riska sambil mendorong Ardian.
Akan tetapi Arya tiba-tiba datang menghajar dirinya. Ardian pun membalas pukulan Arya dengan menendang dada bidangnya karena kesal.
"Apa-apaan kau ini. Datang-datang ke rumah orang langsung memukul ku. Kau pikir aku tak bisa membalasnya." jelas Ardian ketika menendang dada bidang Arya.
Arya pun langsung bangkit saat ingin memukul untuk kedua kalinya sambil menanyakan tentang kejadian di pesta ulang tahun tadi.
"Cepat katakan. Apa yang telah kau perbuat kepada istriku? Jika tidak. Maka aku akan menghabisi dirimu!" perintah Arya sambil memukul wajahnya Ardian.
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apa pun pada wanita itu. Istrimu itu memang wanita murahan." tambah Ardian yang hendak pergi meninggalkan kediaman Riska sambil menipu Arya.
"Apa kau bilang?" tanya Arya yang semakin kesal.
"Cukup Arya. Ardian. Aku bilang berhenti. Ardian kalau kau ingin meninggalkan rumah ini. Silahkan pergi. Arya sekarang kamu tenang kan diri. Coba cerita kan tentang apa yang terjadi pada Airin!" perintah Riska sambil menduduki Arya di kursi tamu.
"Kau tunggu disini. Aku akan membawa segelas air putih untuk mu. Agar kau lebih tenang!" perintah Riska dan berlalu pergi ke dapur.
Namun dalam beberapa menit Riska pun datang dengan menyerahkan minuman untuk Arya, dan ia pun dengan lahapnya menghabiskan air putih itu. Arya pun mulai menceritakan tentang kondisi Airin kepada Riska yang berkhianat.
"Sekarang kau jelaskan semuanya!" perintah Riska.
"Jadi. Begini saat aku menemukan istriku. Dan dia sudah mengalami kecelakaan. Lalu aku pun membawanya ke rumah sakit. Kemudian dokter mengatakan tentang permasalahan pada kornea mata Airin. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya. Aku rasa. Aku tidak pantas menjadi suaminya." jelas Arya yang tiba-tiba menyesal sambil ingin mengkhianati Airin.
"Apakah ada kemungkinan Airin mengalami kebutaan?" Riska bertanya dalam hatinya.
"Sudahlah. Ini bukan kesalahanmu. Lagian itu hanya musibah saja. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu." ucap Riska sambil menggenggam tangan Arya.
Namun tiba-tiba ponsel Arya berbunyi yang menandakan adanya panggilan dari pelayan rumahnya.
Triririringgggg..... triririringgggg....
"Sebaiknya kau jawab dulu panggilanmu!" perintah Riska.
Arya pun menerima panggilan tersebut.
"Iya. Assalamu'alaikum." jawab Arya saat mengobrol dalam telpon.
"Tuan. Nyonya." tangis seseorang dalam telpon tersebut.
"Ada apa dengan ibuku? Sebaiknya kau tenangkan diri. Agar aku bisa memahami ucapanmu!" perintah Arya kepada pelayan.
"Tuan. Nyonya mengalami kecelakaan." jelas pelayan sambil terus menerus menangis.
"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi? Sekarang bagaimana kondisi mama? Baiklah. Kalian tunggu disana karena aku akan kembali." ucap Arya saat menutup ponselnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 malam, dan ia pun langsung bangkit dari tempat duduk itu sambil berjalan ke arah luar yang dimana mobilnya terparkirin.
"Aku harus pergi. Besok aku akan mengunjungimu lagi!" perintah Arya dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Baiklah. Kau harus berhati-hati." ucap Riska ketika melirik ke arah Arya.
Bersambung....