Aku Tergoda Pembantu Seksi

Aku Tergoda Pembantu Seksi
POV Namira


__ADS_3

POV Namira


Hati wanita mana yang tak merasa sakit, terluka dan kecewa saat tahu sang suami yang amat di cinta ternyata tega mendua. Menghadirkan orang baru di antara kami, menghadirkan madu untuk ku tanpa seizin ku. Dan dengan tega nya ia membohongi aku habis-habisan.


***


Hari itu, setelah pulang dari perusahaan Mas Emran, entah kenapa perasaan ku menjadi tak enak. Aku merasa ada yang tidak beres melihat gelagat Mas Emran, Mama mertua serta Ayu.


Sore harinya Mas Emran mengirim pesan kepada ku, mengatakan kalau dia tak akan pulang, dia akan lembur.


Aku tak lantas percaya begitu saja dengan apa yang di katakan olehnya. Karena sudah enam tahun lamanya kami berumah tangga, selama itu tak pernah Mas Emran lembur di kantor. Sesibuk apapun dirinya, dia pasti akan menyempatkan diri untuk pulang. Berbeda dengan sekarang. Semenjak aku pulang dari rumah sakit Mas Emran banyak berubah. Aku tahu itu, karena aku begitu mengenal nya. Sudah enam tahun lamanya kami menjalani hari-hari bersama.


Setelah Mas Emran mengabarkan tidak akan pulang, aku meminta seseorang untuk mengikuti mobil suami ku, dan benar saja, setelah di ikuti, orang itu melaporkan kepada aku, bahwa Mas Emran tidak lembur di kantor, tapi dia pergi ke suatu tempat. Ke kompleks perumahan yang tidak jauh dari rumah ku.


Aku meminta orang suruhan ku menyelidiki lebih lanjut, ke rumah siapa Mas Emran.


Dan setelah diselidiki, sungguh berulangkali aku menggeleng kepala, merasa tak percaya, dada ku terasa sesak, tapi semua foto yang ditunjukkan oleh orang suruhan ku sudah jelas untuk menjelaskan kecurangan yang dilakukan oleh Mas Emran serta Ayu, mantan pembantu rumah tangga kami.


Dari foto yang diambil dari jarak cukup jauh, aku melihat Ayu menyambut kedatangan Mas Emran di depan pintu. Mereka berpelukan serta, ah . . . Sudahlah. Sakit sekali hatiku. Tega sekali mereka mengkhianati aku saat aku tengah berjuang menahan sakit di rumah sakit.


Iya, aku yakin sekali, mereka sudah lama mengkhianati aku, buktinya perut Ayu sudah menonjol. Aku yakin Mas Emran sudah menghamili wanita kampung itu. Wanita tak tahu terimakasih.


***

__ADS_1


Malam harinya, aku pura-pura menyusul Mas Emran ke kantor, bukan apa-apa, aku hanya ingin menggertak nya, membuat dia panik.


Dan benar saja, saat aku sudah sampai di rumah, Mas Emran pun sudah berada di rumah dengan penampilan yang bersih serta rambut yang basah. Dia pasti baru selesai mandi dan dia sepertinya juga baru selesai bercinta dengan gundik nya itu. Sakit sekali hatiku ketika mengingat Mas Emran bergumul mesra dengan wanita lain di atas ranjang, dia sudah membagi tubuhnya dengan wanita lain, dan aku yakin, cinta nya pun sudah terbagi.


Saat Mas Emran terlelap, aku memandang wajah tampannya lekat, sungguh aku sangat mencintai suamiku. Pria yang beberapa tahun lalu berjanji akan menjaga diriku dan akan tetap setia dengan ku. Takkan aku biarkan Ayu merebut Mas Emran dari ku. Apapun alasannya. Aku egois? Iya, aku memang egois, karena aku sudah tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini selain Mas Emran.


Tapi, mungkin, Ayu yang memiliki wajah cantik serta lekuk tubuh yang menggoda membuat Mas Emran tergoda. Secara, aku hanyalah wanita sakit-sakitan dengan tubuh kurus kering, mungkin karena itu Mas Emran berkhianat.


Tapi aku berjanji setelah ini aku akan merawat tubuh ku dan aku akan menerapkan pola hidup sehat, supaya Mas Emran betah berlama-lama berada di sisi ku.


Aku juga akan meminta Mas Emran mencampakkan Ayu. Aku akan meminta Mas Emran memilih antara aku atau wanita kampung tak tahu diri itu.


***


Pagi hari, saat Mas Emran pamit ke kantor, aku membuntuti mobil nya dari belakang, dan, ternyata sebelum benar-benar ke kantor, Mas Emran mampir dulu di rumah Ayu. Rumah yang di huni oleh Ayu lebih besar dari rumah yang aku huni.


Sekitar sepuluh menit lamanya, akhirnya Mas Emran keluar dari rumah Ayu, lalu mobilnya melaju meninggalkan rumah itu.


Dan tanpa menunda-nunda lagi, aku langsung saja turun dari mobil, aku mengetuk pintu rumah Ayu, dan saat melihat ku, wajah Ayu terlihat kaget dengan mata melotot.


''Bu-bu Namira, sama siapa ke sini?'' tanya nya gugup.


Aku tak menjawab, aku masuk ke dalam rumah nya, berjalan melewati beberapa ruang, dan dia terus mengikuti langkah ku dari belakang. Saat sudah sampai di ruang keluarga, aku melihat foto pernikahan Ayu dan Mas Emran terpampang jelas tergantung di dinding ruang keluarga. Foto yang tentu sangat sejuk di pandang mata, karena sepasang pengantin itu tersenyum simpul. Terlihat sangat serasi, cantik dan tampan.

__ADS_1


Tapi tidak dengan diriku, rasanya aku ingin menghancurkan foto itu. Bisa-bisanya mereka berbahagia tanpa memikirkan perasaan aku.


''Sejak kapan Ayu?'' bergetar suaraku. Aku menatap Ayu tajam.


''Mbak,'' lirihnya, netra nya berkaca-kaca, tangannya memilin ujung piyama yang di pakai.


''Aku bukan Mbak mu. Tetap panggil aku Bu Namira!'' tegas ku dengan jari telunjuk menunjuk wajah nya yang sok polos. Sungguh, munafik sekali wanita muda yang ada dihadapan ku. Kecil kecil sudah jadi pelakor.


''Bu Namira, maaf, ini semua bukan ingin ku. Bukan aku yang memulai, tapi Mas Emran, dia yang memaksa agar aku melayani nya malam itu, dia memeluk tubuh ku dari belakang dengan begitu erat, aku sudah mencoba memberontak, tapi Mas Emran begitu kesetanan, ia ingin menyalurkan hasratnya kepada ku, alasannya karena Bu Namira sudah lama tidak bisa melayaninya. Malam itu Mas Emran mengiba, memohon, hingga aku terbujuk rayuan nya,'' jelas Ayu terisak-isak.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ayu, lagi-lagi membuat hati ku begitu sakit. Aku merasa tidak berguna menjadi seorang istri.


''Tinggalkan suami ku, pergi yang jauh dari hidup kami. Sekarang aku sudah sehat, aku sudah bisa melayani suami ku dengan baik,'' ujar ku lagi.


''A-aku tidak bisa melakukan itu, Bu. Karena sekarang aku tengah mengandung anak Mas Emran. Anak yang sudah begitu ia nanti-nantikan kelahiran nya,'' jawab nya.


''Pergi, Ayu! Bawa anak itu bersama mu!'' bentak ku lagi. Aku tak mau di bantah sama anak bau kencur.


''Aku tidak bisa, Bu! Aku juga berhak atas Mas Emran, karena kami sudah menikah secara sah. Baik agama maupun negara. Tidak bisakah Bu Namira menerima aku sebagai madu Ibu. Tidak bisakah kita berdamai dengan keadaan ini. Tidak bisakah kita bekerjasama untuk membahagiakan suami kita.''


Plak!


Repleks tangan ku melayang pada pipi basah yang ada dihadapan ku. Lancang sekali dia berkata seperti itu. Sampai kapanpun pun aku tidak akan pernah sudi di madu.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, aku menarik paksa tangan Ayu, kalau tidak bisa dengan cara baik-baik, baiklah, maka akan aku beri dia pelajaran yang menyakitkan, biar dia kapok dan menyerah dengan sendirinya.


Bersambung.


__ADS_2