
Semakin hari, aku merasa semakin iri melihat keromantisan antara Mas Emran dan Ayu. Apalagi keromantisan mereka yang terpampang nyata di depan mata.
Mereka sama sekali tidak merasa sungkan berciuman ataupun berpelukan saat aku sedang berada di dekat mereka. Saat aku sedang menjaga anak mereka.
Penyamaran ku masih aman-aman saja. Mas Emran seperti belum menyadari siapa aku sebenarnya, seperti apa wajah yang ada di balik cadar.
* * *
Malam hari, saat hujan turun dengan begitu derasnya. Entah kenapa aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Padahal jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas malam.
Aku berbaring dengan gelisah, merebahkan tubuh ku ke kiri ke kanan, terlentang serta menelungkup, tetapi tetap saja aku tak bisa masuk ke alam mimpi.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamar, aku berjalan ke kamar Faiq, aku akan melihat, apakah anak tampan itu tidur dengan lelap.
Meskipun aku membenci kedua orangtuanya, tetapi aku sama sekali tidak merasa benci terhadap Faiq. Faiq masih kecil, dia tidak tahu apa-apa dengan apa yang terjadi pada orang dewasa di sekitarnya.
Aku sudah mulai menyayangi nya.
Syukurlah, Faiq masih terlelap dengan begitu pulas. Aku tersenyum melihat wajahnya yang begitu menenangkan.
Setelah itu, entah kenapa, tiba-tiba aku penasaran, sedang apa Mas Emran dan Ayu di jam jam seperti ini. Apakah mereka sudah tidur, atau . . . Ah, lebih baik aku mencoba menguping.
Aku berdiri di depan pintu kamar Mas Emran dan Ayu, lalu aku menempelkan telinga ku di pintu. Dengan sangat hati-hati. Jangan sampai ketahuan oleh sepasang suami istri tersebut.
Aku sudah bisa mendengar apa yang terjadi di dalam kamar. Suara lenguhan dan des*han yang keluar dari mulut Ayu. Ah, sakit sekali rasanya hatiku. Saat ini sepasang suami istri tersebut sedang meneguk kenikmatan duniawi. Mas Emran pasti sedang menggerayangi tubuh Ayu dengan begitu buas nya. Seperti apa yang pernah dia lakukan kepada ku dulu. Rasanya aku masih belum bisa melupakan rasanya, rasanya saat mulut serta lidah Mas Emran menyapu setiap lekuk tubuh ku dengan begitu lembut.
Dan yang paling membekas adalah, goyangan Mas Emran. Sungguh rasanya nikmat tak tertahankan.
Aku tak sanggup berlama-lama lagi menguping kegiatan suami istri tersebut, akhirnya aku membawa langkah ku menjauh dari pintu.
__ADS_1
Aku berjalan dengan langkah kaki gontai. Dulu aku adalah seorang Nyonya nya Emran, tetapi sekarang aku hanyalah seorang baby sitter yang menyamar, baby sitter yang menyedihkan yang masih terperangkap di kehidupan masa lalu.
Duduk aku di kursi yang ada di dapur, lalu aku meneguk segelas air putih. Tenggorokan aku yang tadi terasa kering, kini sudah basah terkena siraman air. Sedikit lega. Tetapi tidak dengan hati ku. Entah sampai kapan hati ku akan sembuh dari luka masalalu.
Semakin aku dekat dengan orang-orang yang ada di masa lalu, semakin aku merasa terluka hati ku.
Aku tak boleh berlama-lama di dalam kondisi seperti ini, aku harus bergerak cepat untuk menggaet Mas Emran.
Saat ini aku sudah benar-benar sembuh, dan paras ku juga sudah terlihat semakin cantik dari dulu.
Waktu aku tinggal di rumah Zahra, ada banyak lelaki yang datang ingin melamar ku, tapi aku tolak, karena aku tidak ingin memulai hubungan baru dengan orang yang baru. Entahlah, rasa trauma karena dikhianati itu masih membekas, sehingga aku memutuskan untuk kembali ke kehidupan Mas Emran dan Ayu. Untuk apa lagi kalau bukan untuk merusak rumah tangga mereka.
Orang jahat adalah berasal dari orang baik yang di sakiti.
Dan aku rasa, kata-kata itu memang benar adanya.
"Bella, kamu belum tidur? Ngapain kamu di sini?'' aku menoleh ke arah sumber asal suara. Tidak jauh dari ku, Mas Emran berdiri dengan piyama tidur yang membaluti tubuh atletis nya.
''Pak Emran, em aku tadi merasa haus, makanya aku di sini, aku habis minum,'' kata ku berusaha bersikap biasa saja.
''Oh, kalau begitu sama dong,'' ucap Mas Emran santai. Lalu ia membuka kulkas, mengambil air dingin yang terdapat di dalam botol.
Mas Emran haus pasti karena itu, ya karena apalagi.
Tanpa aku duga, tiba-tiba Mas Emran menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di sebelah ku.
Aku menatap nya, pesona masih sama, saat minum pun ia terlihat sangat menawan.
''Bu Ayu sudah tidur?'' tanya ku.
__ADS_1
''Sudah,'' jawab nya singkat.
Dan aku mengangguk kecil.
''Bella, kamu tahu tidak, suara mu itu mengingatkan aku sama suara seseorang,'' ucap Mas Emran, dan aku sedikit kaget mendengarnya.
''Emang suara aku mirip sama suara siapa, Pak?'' tanyaku.
''Mirip sama suara seseorang yang begitu berarti di dalam hidup ku. Seseorang yang merupakan cinta pertamaku, dan sampai saat ini aku masih mencintai nya, tetapi aku tidak tahu di mana dia berada sekarang,'' Mas Emran berkata lirih dengan tatapan lurus ke depan, seperti tengah menerawang ke masa lalu. Mendengar itu, dada ku tiba-tiba sesak. Air mata ku berlomba-lomba ingin keluar rasanya, tetapi sebisa mungkin aku tahan. Aku tak mau penyamaran ku terbongkar malam ini juga.
''Maaf lancang, Pak. Kalau boleh aku tahu, emang sebelum nya Pak Emran pernah punya hubungan khusus dengan seorang perempuan selain Bu Ayu?'' tanya ku hati-hati.
''Iya, aku sudah pernah menikah dengan wanita lain. Tapi sayangnya hubungan kami harus kandas karena kesalahan fatal yang telah aku lakukan. Dia marah besar, susah payah aku membujuk nya, tetapi sepertinya kesalahan yang telah aku perbuat tak dapat di maafkan lagi, hingga ia memilih pergi,'' serak suara Mas Emran berkata. Ya ampun, sudah setahun lamanya, dan aku tidak menyangka, nama ku masih tetap abadi di ingatan Mas Emran, selain itu, ternyata cinta nya pun masih tersisa untukku.
''Pak, seandainya mantan istri Bapak kembali lagi ke kehidupan Bapak, maka apa yang akan Bapak lakukan?'' tanya ku lagi. Aku rasa pertanyaan ku sudah sedikit lancang, tetapi aku tak peduli, karena aku hanya ingin mendengar jawaban yang keluar dari mulut Mas Emran.
''Entahlah. Aku tak punya nyali untuk menghadap nya. Dan aku juga tak punya keberanian untuk meminta nya kembali. Walaupun aku tahu, Bu Ayu pasti akan menerima nya, tetapi aku rasa dia tidak. Dia sudah sangat sangat membenci aku, karena aku telah mengkhianati cinta kami,'' tutur Mas Emran lagi yang semakin membuat dada ku terasa sesak.
Aku menunduk, diam. Dan menahan tangis agar tak pecah.
''Ya sudah Bella, kalau begitu aku ke kamar dulu. Kamu tidur lah, masuk ke kamar mu. Malam sudah semakin larut,'' kata Mas Emran, dan aku mengangguk.
Setelah itu Mas Emran berlalu dari hadapan ku.
Setelah punggung Mas Emran benar-benar tak terlihat lagi.
Akhirnya aku melepaskan tangis ku, aku menangis terisak, tak menyangka mantan suami ku masih mencintai aku.
Bersambung.
__ADS_1