
Rasanya ingin ku membuka cadar yang menutupi wajah Bella, aku ingin melihat seperti apa parasnya. Tapi aku tak punya hak untuk melakukan itu, bisa-bisa Bella minggat dari rumah ku kalau aku bersikap lancang.
Setelah memandang Bella cukup lama, akhir nya aku beranjak menuju kamar ku.
Lagi-lagi Ayu tak mengangkat panggilan dari aku, aku menghubungi ponsel nya lagi dan lagi, tetapi tetap saja tidak diangkat.
Sebenernya Ayu ada di mana? Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi ia tak kunjung pulang.
Apa dia tidak ingat, di rumah ada anak dan suaminya yang harus di perhatikan.
Aku membaringkan tubuh di atas kasur, lalu mulai memejamkan mata.
* * *
Pagi-pagi sekali aku terbangun dari tidurku, dan saat aku membuka mata, aku melihat Ayu tengah terlelap di samping ku.
Ya ampun, kapan Ayu pulang tadi malam? Kenapa aku tak menyadari kepulangan Ayu.
Aku berjalan ke kamar mandi, aku tak membangunkan Ayu, karena kelihatannya dia capek sekali. Sampai-sampai suara dengkurannya terdengar jelas.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, aku mengambil pakaian kerja ku sendiri di dalam lemari, aku menyiapkan semua nya sendiri, karena Ayu masih tak kunjung bangun.
''Sayang,'' aku menggoyang kecil tubuh Ayu, memintanya agar segera bangun, aku ingin dia menemani aku saat sarapan pagi.
Tapi apa jawaban nya.
''Aku masih ngantuk banget, Mas. Please . . . Biarkan aku tidur lebih lama lagi,'' kata nya dengan mata masih terpejam.
Aku menghembus nafas kasar.
''Memangnya tadi malam kamu pulang jam berapa?'' tanyaku lembut.
''Jam 1 malam, Mas. Tadi malam ada party di rumah temen aku, 'kan enggak enak kalau aku pulang lebih awal,''
''Aku enggak kedengaran saat kamu menelpon, soalnya ponsel aku ada di dalam tas, dan musik di dalam ruangan tempat aku berada juga keras banget. Maaf,'' sahut nya lagi. Masih dengan mata terpejam.
Dan aku akhirnya beranjak dari kamar. Entahlah, aku rasa akhir akhir ini Ayu sedikit berubah. Dia lebih senang berada di luar di bandingkan di rumah. Dia seperti lebih mementingkan teman-teman baru nya. Usia Ayu memang masih cukup muda, mungkin karena itulah dia merasa ingin lebih bebas sekarang.
Bahkan, dia membiarkan Faiq bersama Bella dari kemarin.
__ADS_1
* * *
Duduk aku di meja makan, tidak jauh dari aku, Bella tampak sedang menyuapi Faiq, ia berkata dengan riang saat berbicara dengan Faiq, Faiq pun merespon dengan celotehan serta tawa kecil yang berderai.
Melihat itu, aku jadi senyum-senyum sendiri.
Lalu aku mulai memasukkan makanan ke dalam piring ku, aku makan dengan pelan, karena aku ingin berlama-lama melihat kebersamaan Bella dan putra ku. Ada ketenangan yang aku rasa saat melihat mereka, seketika rasa dongkol ku terhadap Ayu menguap sudah.
Ayu bisa tidur berlama-lama karena semua pekerjaan di rumah sudah ada yang menghandle. Aku memang telah memberikan apapun yang Ayu minta, tetapi kenapa sepertinya ia semakin ngelunjak.
''Papa berangkat kerja dulu, ya, Sayang,'' aku mengecup gemas pipi bulat anakku. Kini, Faiq sedang berada di dalam gendongan Bella.
''Iya, Papa. Salim sama Papa dulu anak baik,'' sahut Bella. Bella lalu mengangkat kecil tangan kanan Faiq, mengajarkan kepada Faiq bagaimana caranya bersalaman.
Aku pun mengambil tangan Faiq.
Dan Faiq tertawa kecil. Eh, entah kenapa, tiba-tiba aku ingin menyalami tangan Bella, Bella menepisnya cepat.
''Maaf, Pak. Kita bukan muhrim, tidak baik bersentuhan,'' kata Bella. Dan aku jadi salah tingkah karenanya. Aku pun cepat-cepat melangkah menuju mobil.
__ADS_1
Ah, apa-apaan ini? Jangan sampai aku terjebak lagi sama yang namanya pembantu atau baby sitter.
Bersambung.