
Mama dan Papa Emran merasa begitu senang mendengar perceraian antara Emran dan Namira, karena memang hal itu yang mereka inginkan selama ini.
Sekarang mereka memperlakukan Ayu dengan sangat istimewa.
Sudah dua bulan lamanya, dan sejak saat itu Emran sudah tidak pernah lagi bertemu dan melihat Namira. Kabar tentang Namira seakan hilang ditelan bumi.
Rumah yang ditinggali oleh Namira selama ini selalu di rawat oleh pembantu yang bekerja di sana. Kata sang pembantu, Namira tak pernah lagi menjenguk rumah itu, pernah sekali ia ke sana hanya untuk mengambil barang-barang berharga miliknya.
Emran selalu mengunjungi rumah itu setiap minggunya, ia juga yang membayar gaji pembantu dan dua security yang masi bekerja menjaga rumah.
Sebenarnya Emran merasa kehilangan Namira, dia tidak tahu Namira di mana sekarang, tapi yang pasti dia selalu mendoakan yang terbaik untuk Namira. Rasa bersalah masih sering ia rasa, tapi semua sudah terlanjur terjadi, tak perlu di sesali setiap keputusan yang telah di ambil.
Emran sudah mengurus surat-surat gugatan cerai di pengadilan agama, dia dan Namira tidak perlu hadir di sidang, supaya proses perceraian mereka cepat selesai.
* * *
__ADS_1
"Sayang, kira-kira Mbak Namira di mana sekarang, ya? Aku sungguh merasa bersalah kepada nya,'' ucap Ayu pada malam hari saat dirinya dan Emran tengah berbaring di atas kasur empuk.
''Mas juga tidak tahu dia ada di mana sekarang. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan nya, di mana pun dia berada. Kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu, karena kamu tidak bersalah dalam hal ini, Sayang,'' ucap Emran lembut.
Tangan Emran membelai perut Ayu yang sudah membuncit. Di perkirakan beberapa hari lagi ia akan melahirkan.
Akhir-akhir ini Ayu sungguh merasa tak karuan, pinggangnya sakit, tidur tak nyenyak, dan bayi yang ada di perut nya suka menendang perut nya dengan keras. Tapi kendati demikian, Ayu merasa senang, mengingat sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu dan ia merasa senang karena bayi yang ada di dalam perut nya tumbuh dengan aktif.
"Sayang, tidurlah. Kamu jangan nakal di dalam perut Mama. Kasihan Mama tidak bisa tidur,'' kata Emran, ia meletakkan telinga dan tangan nya di dekat perut Ayu, sehingga dia bisa merasakan tendangan kecil kaki sang bayi.
Impian yang sudah begitu lama ia dambakan, akhir nya tidak lama lagi dia bisa juga memiliki keturunan dan memberikan ke dua orangtuanya cucu.
Tidak lama setelah itu Ayu dan Emran terlelap dengan saling berpelukan.
Tapi, baru sekitar satu jam mereka terlelap, tiba-tiba Ayu terbangun dari tidurnya, karena ia merasa perut nya yang mendadak mulas dan teramat sakit.
__ADS_1
''Mas,'' lirih Ayu sembari mengguncang kecil bahu Emran. Dan pada akhirnya Emran terbangun.
''Iya, ada apa Sayang?'' tanya Emran panik melihat wajah Ayu yang seperti menahan sakit. Keringat pun sudah membasahi keningnya.
''Rasanya aku akan segera melahirkan, Mas,'' ucapnya dengan suaranya yang serak dan dalam. Ayu sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Mendengar itu, dengan cepat Emran menggendong tubuh Ayu ke dalam mobil. Emran juga memanggil seorang pembantu rumah tangga untuk membantu memegang tubuh Ayu.
Di dalam mobil, selama dalam perjalanan, Ayu merintih menahan rasa sakit yang teramat sangat.
''Ya ampun, Pak, darah Pak,'' sang pembantu berujar kaget ketika melihat darah bercucuran dari ************ Ayu.
Padahal perjalanan masih butuh waktu dua puluh menit lagi.
Mendengar hal itu, rasa panik begitu kentara di rasakan oleh Emran. Ia semakin melaju kencang laju kendaraan roda empat miliknya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa kepada sang istri dan bayi nya.
__ADS_1
Bersambung.