Aku Tergoda Pembantu Seksi

Aku Tergoda Pembantu Seksi
Talak


__ADS_3

Pov Namira


Aku membawa Ayu ke rumah kosong yang ada di pinggir kota. Rumah yang aku dan Mas Emran beli beberapa tahun yang lalu.


Aku mengurung Ayu di dalam sebuah kamar pengap. Tak aku hiraukan teriakan nya yang minta di bukakan pintu. Ia menggedor-gedor pintu cukup keras, tapi aku sama sekali tak peduli.


Hingga beberapa saat hening, Ayu tak lagi bersuara. Aku yang merasa curiga lalu berjalan ke arah pintu kamar, telinga ku aku dekatkan di daun pintu, mencoba menguping.


Dan, aku bisa mendengar, Ayu sedang berbicara sama seseorang lewat sambungan ponsel.


Berani sekali dia. Ah, kenapa aku bisa lupa, kenapa aku tidak mengambil ponselnya.


Aku membuka pintu dengan kasar, lalu merebut ponsel nya dengan kasar pula. Aku putuskan sambungan telepon yang masih terhubung.


Ternyata Mas Emran lah yang menghubungi Ayu. Tanpa pikir panjang aku lempar benda pipih milik Ayu ke dinding, hingga benda pipih tersebut hancur berderai.


Ayu berteriak kencang dengan tangisnya yang berderai. Ia mengatakan kalau aku adalah wanita gila, wanita jahat. Tapi aku sama sekali tak peduli. Jahat mana aku dibandingkan dia. Dia masuk ke rumah ku sebagai pembantu, lalu keluar sebagai madu. Licik memang, dia pasti sengaja menggoda serta menjebak Mas Emran. Secara suami ku kan tampan, aku tahu banyak sekali kaum hawa yang tergila-gila sama Mas Emran selama ini, tapi tak ada satupun yang membuat Mas Emran tertarik untuk mengkhianati aku, karena dia begitu mencintai aku. Aku yakin, Ayu telah mengguna-guna suami ku.


''Mbak, kalau Mbak pikir dengan cara begini akan membuat Mbak merasa senang, merasa menang, maka lakukan sesuka hati Mbak! Tapi ingat, Mbak, Mas Emran tidak akan pernah suka dengan apa yang Mbak lakukan ini. Mbak bersiap-siap saja akan kehilangan Mas Emran, karena aku yakin sekali, Mas Emran akan memilih aku dibandingkan Mbak. Begitu juga Mama dan Papa Mas Emran, mereka juga akan berpihak kepada aku, karena aku sekarang sedang mengandung anak Mas Emran,'' racau Ayu.


Mendengar itu, lagi-lagi aku melayang telapak tangan ku ke pipinya. Dada ku turun naik menahan emosi akibat perkataan Ayu. Percaya diri sekali dia. Meskipun memang aku akui, mungkin semua orang akan berpihak kepadanya, karena dia bisa mengandung, sementara aku? Ah, sakit sekali hatiku. Ini bukan mau ku, aku juga ingin mengandung, tapi aku belum di kasih kesempatan untuk itu.


Akhirnya aku menghubungi Mas Emran, meminta agar dia menemui kami.


Semuanya harus jelas malam ini juga, di hadapannya, aku akan meminta dia akan memilih aku atau Ayu. Aku yang sudah membersamai nya selama enam tahun, atau ia akan memilih Ayu yang baru di kenalnya selama enam bulan.


Baiklah, akan aku uji sebesar apa rasa cinta yang Mas Emran punya untukku.


***


Setelah hampir satu jam lamanya aku menunggu, akhirnya Mas Emran datang. Deru mobilnya bisa aku dengar.


Aku membuka pintu, begitu pintu terbuka, Mas Emran langsung menanyakan di mana keberadaan Ayu.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak menanyakan bagaimana perasaan aku setelah aku tahu dia telah mengkhianati aku.


Aku tak menjawab pertanyaan nya, dia berjalan keruangan demi ruangan yang ada di dalam rumah dengan suaranya yang berseru memanggil nama Ayu.


''Ayu, di mana kamu . . .''


''Ayu!'' teriak nya tanpa sungkan dengan diriku.


Hingga pada akhirnya dia temukan juga keberadaan Ayu. Dia mendorong pintu kamar dengan kasar, setelah itu, mereka berpelukan di depan mataku.


Gemetar tubuh ku, lunglai persendian ku, tega sekali Mas Emran bermesraan dengan wanita lain tanpa memperdulikan keberadaan aku, tanpa memikirkan perasaan aku.


''Mas,'' lirih ku. Hingga berhasil membuat pelukan mereka terlepas.


Mas Emran melirikku, lalu ia berucap.


''Namira, maaf, maafkan Mas. Mas yang bersalah di dalam hal ini, Mas lah yang harus kamu hukum, kamu sakiti, bukan Ayu. Dia tidak tahu apa-apa. Jangan kamu sakiti dia, karena saat ini dia sedang mengandung anak Mas, anak yang begitu Mas harapkan kehadiran nya di dunia,'' katanya. Ia memegang kedua bahu ku dengan pelan.


''Tega kamu, Mas. Tega sekali kamu membela wanita lain di hadapan aku!'' ucapku lantang sembari memukul dada bidangnya. Kini, air mataku telah meluncur dengan deras membasahi pipi. Aku menangis, Ayu menangis. Tak ada yang bahagia kalau suami diam-diam mendua. Tak ada yang bahagia bila sang suami membagi cinta.


''Aku tak pernah sudi di madu, Mas,''


''Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Aku tak mungkin menceraikan Ayu,''


''Kalau begitu ceraikan aku, Mas,'' ucap ku lantang.


''Tidak Namira. Kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kalau aku menceraikan kamu, siapa yang akan menemani kamu?'' ujar Mas Emran lagi. Oke. Kini baru aku sadari, selama ini Mas Emran tidak benar-benar mencintai aku, dia hanya merasa kasihan kepada aku, si wanita mandul dan sakit-sakitan.


''Kamu tidak usah memikirkan aku, Mas. Aku bisa hidup sendiri. Ceraikan aku sekarang juga, aku sudah tidak ingin hidup bersama pria yang tak mencintaiku lagi,''


''Tidak Namira,'' Mas Emran menggeleng kecil.


''Mbak, Mas Emran tidak perlu menceraikan Mbak. Karena aku rela di madu, Mbak,'' timpal Ayu.

__ADS_1


''Alaaah, enggak usah sok baik kamu Ayu. Semua ini kerena kamu, kamu lah biang masalahnya. Sebelum kamu hadir di kehidupan kami, hidup kami baik baik saja, kami saling mengasihi dan kami tidak pernah bertengkar sekali pun. Semua ini karena kamu Ayu!'' aku menunjuk wajah sok polos Ayu. Sungguh, aku merasa menyesal karena telah masukkan Ayu ke rumah ku beberapa bulan yang lalu. Kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan mau membawa pembantu muda dan cantik ke rumah. Pembantu yang telah berhasil membuat suami ku tergoda.


''Berhentilah menyalahkan Ayu, Namira!''


''Bela terus!''


''Bukan begitu,''


''Ceraikan aku sekarang juga Mas,''


''Baiklah kalau itu mau mu,'' bergetar suara Mas Emran berucap.


''Lakukanlah,'' ucap ku yakin.


''Namira, mulai saat ini dan detik ini juga, aku jatuhkan talak satu kepada mu. Kamu bukan lagi istri ku dan bukan lagi tanggung jawab ku,'' ucap Mas Emran dengan tangan berada di kepala ku.


''Terimakasih Mas,'' lirih ku dengan tangis tertahan.


''Maaf. Jaga diri mu baik-baik setelah ini,''


''Itu pasti. Oh ya, jangan pernah kamu menduakan kan Ayu dengan wanita lain seperti kamu menduakan aku, karena rasanya sungguh sakit,''


''Namira, kamu terima ini. Ini, tadinya Mas ingin memberikan kalung ini secara baik-baik kepada kamu dan kepada Ayu, tapi siapa sangka semua berakhir seperti ini,'' Mas Emran membuka kotak beludru bewarna silver, di dalamnya terdapat kalung dengan liontin berlian. Indah sekali.


''Maaf aku tidak bisa menerima nya,'' tolak ku.


''Ambil lah. Aku membeli nya khusus untuk mu,'' Mas Emran sedikit memaksa. Dan mau tidak mau akhirnya aku mengambil kalung tersebut. Kalung yang akan menjadi hadiah terakhir yang Mas Emran berikan kepada ku.


Setelah itu, Mas Emran dan Ayu berlalu dari hadapan ku.


Kini, tinggallah aku sendiri di rumah sepi ini. Tubuh ku melorot lalu jatuh terduduk di lantai. Aku menangis kencang, meluapkan rasa sakit yang sungguh sakit.


Kini, aku sudah resmi menjadi seorang janda. Mas Emran lebih memilih wanita itu dibandingkan aku.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2