Al Bahri : Ocean Sultan

Al Bahri : Ocean Sultan
Ocean Sultan


__ADS_3

Pagi yang sangat tenang dan sunyi di istana Atlantis. Seorang pria dengan perawakan gagah dan tampan, berambut putih dan bermata hijau. Memakai pakaian kebesaran berwarna biru tua, menandakan bahwa dirinya adalah seorang penguasa. Sebuah mahkota indah berhiaskan zamrud dan permata tersemat di kepalanya.


Saat itu dia sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah di depan sebuah pintu kamar. Pintu kamar tersebut terbuat dari kristal berwarna biru tua dengan sebuah lambang kerajaan Atlantis di bagian atas gagang pintu. Pinggir pintunya di hias oleh garis-garis putih yang membentuk seperti gelombang lautan.


Detik demi detik, di laluinya dengan gelisah dan tegang, wajahnya pucat, membuat kulitnya yang sudah pucat semakin bertambah pucat. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Hingga akhirnya, kesunyian itu pecah oleh tangisan seorang bayi. Pintu kamar tersebut terbuka dan keluar seorang wanita berumur 20 tahunan, dengan gaun dan penutup kepala yang menjuntai hingga ke bawah berwarna merah muda. Sebuah ikat pinggang berwarna emas melilit di pinggangnya. Wanita tersebut keluar sembari menggendong seorang bayi laki-laki yang tampan, bayi tersebut di bungkus oleh kain putih lembut.


“Selamat Yang Mulia King Arthur III, anak Yang Mulia telah lahir dengan sempurna.” Ucap wanita tersebut dengan raut wajah gembira. Wanita tersebut adalah Valide Halime Hatun, putri seorang penguasa paling berpengaruh di daratan, Ottoman Chalipate dan juga Istri dari adik King Arthur, Prince Harits.


“Selamat ya kak!” Ucap Prince Harits, ia adalah seorang pemuda berusia sebaya dengan istrinya Halime Hatun, dengan perawakan yang hampir menyamai kakaknya, King Arthur, dan memakai pakaian kebesaran yang persis dengan King Arthur namun tidak memiliki atribut selengkap yang ada di pakaian King Arthur, sebuah tiara biru muda tersemat di kepalanya.

__ADS_1


King Arthur segera mengambil puteranya dan mengecup dahinya. Hatinya sangat bahagia karena puteranya lahir dengan selamat. Namun kebahagian tersebut tidak berlangsung lama, bahkan K. Arthur belum sempat memberi nama puteranya—seorang prajurit datang dengan langkah tergesa-gesa.


“Yang Mulia! Hamba datang untuk melapor, saat ini kerajaan kita sedang di serang oleh kakak anda Prince Charles...dan lebih parahnya lagi, sebagian pasukan kita berkhianat!!” Lapor Prajurit tersebut.


“Bagaimana dengan General Richard?! Dimana dia?! Apa yang sedang dia lakukan sekarang?!!” Tanya King Arthur murka.


“Apaa!!, sepertinya tahtaku begitu menggiurkan, sehingga banyak yang mengkhianatiku!!” Teriak King Arthur murka—benar-benar murka. Lalu ia menoleh kepada adiknya, Prince Harits.


“Harits! Kutitipkan puteraku, bawalah ia pergi dan besarkan ia di wilayahmu! Jangan pernah engkau biarkan tangan-tangan kotor menyentuhnya! Lindungilah ia dengan nyawamu! Sekarang segeralah pergi Harits!!” Perintah King Arthur.

__ADS_1


“Baik Kakak!” Prince Harits beserta Istrinya bergegas pergi meninggalkan Atlantis Kingdom. Pagi itu, Prince Charles berhasil menggulingkan tahta sang adik dan membunuhnya. Bayi yang malang tersebut kehilangan kedua orang tuanya. Bapak dan Ibunya di bunuh secara keji oleh kakaknya sendiri, Tyrant King Charles II.


“Oh Harits, lihatlah anak yang malang ini! Matanya hijau dan rambutnya putih. Persis seperti Ayah dan Ibundanya.” Ucap Halime Hatun dengan sedih.


“Iya, kalau rambutnya yang putih dan matanya yang berwarna hijau zamrud ini turun dari ayahnya, sedangkan garis wajahnya yang tangguh dan tampan ini, sudah pasti dari Ibundanya.” Sambung Prince Henry.


“Kira-kira, kamu mau memberinya nama siapa?” Tanya Halime.


“Akan kunamakan, Al Bahri Barbarossa Ocean Sultan.”

__ADS_1


__ADS_2