
“Waah indahnya! Inikah daratan!” Ucap Al Bahri terpesona oleh keindahan pemandangan di sekitar pulau Kalimantan.
“Al Bahri, ucapkan Masya Allah ketika melihat sesuatu yang indah!”
“Iya Bibi, Masya Allah...”
“Karena Allahlah yang menciptakan segala sesuatu di dunia ini. Lautan, daratan, udara hingga alam semesta beserta seluruh penghuninya—Allahlah yang menciptakan dan mematikan kita.” Jelas Halime panjang kali lebar.
“Jadi Allahlah yang menciptakan Tyrant King dan mematikan paman Harits?” Seketika raut wajah Al Bahri berubah muram dan sebuah pertanyaan terlontar dari mulutnya dengan nada ketus.
“Memangnya mengapa Al Bahri sayang, bukankah Allah juga menciptakanmu! Dan Insya Allah kelak Tyrant King akan Allah matikan melalui dirimu!” Al Bahri terdiam setelah mendengar penjelasan dari Bibinya, ada sebuah rasa yang membuncah dari relung hatinya.
“Lalu sekarang, ikuti Bibi! Hirup udara dengan hidungmu lalu hembuskan secara perlahan. Ulangi terus hingga kamu bisa Al Bahri.” Perintah Halime Hatun sembari mempraktekkan cara menghirup dan menghembuskan napas. Al Bahri menuruti perintah Bibinya. Ia melakukan hal tersebut hingga matahari terbenam kembali.
__ADS_1
“Bibi, Mengapa tubuhku lengket dan bau?” Tanya Al Bahri sembari mengibaskan tubuhnya.
“Itu biasa terjadi bagi manusia darat, sekarang ikuti Bibi!” Halime melangkah dan segera di ikuti oleh Al Bahri. Halime membawa Al Bahri masuk semakin dalam menuju hutan, sesampainya di sana ternyata tempat yang di tuju oleh Halime adalah sebuah telaga.
“Mandilah di sini Al Bahri! Ini pakaian untukmu, buang saja pakaian sisikmu itu!” Perintah Halime seraya menyodorkan sepasang baju dan celana khas Ottoman Empire beserta atributnya.
“Bibi, Mandi itu apa?”
“Mandilah sekarang! Bibi akan mencarikan makanan untuk kita makan malam ini.” sambung Halime. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Halime berbalik badan dan pergi.
Al Bahri melakukan hal yang di perintahkan oleh Bibinya, Valide Halime Hatun. Setelah mandi dan memakai pakaiannya—ia merasa badannya kembali segar seperti semula.
Selang beberapa menit kemudian Halime telah datang sembari menggendong seekor kambing liar. Setelah menyembelih dan membersihkan dagingnya, Halime membuat api unggun, lalu memanggang daging kambing tersebut. Lalu membawanya menuju Al Bahri. Setelah makan mereka beranjak tidur.
__ADS_1
...〰️AL BAHRI : OCEAN SULTAN〰️...
Keesokan harinya Halime bangun dan panik, karena Al Bahri tidak ada di sampingnya. Halime semakin panik ketika teringat bahwa semalam ia lupa memberikan ramuan karena terlalu lelah setelah berenang seharian. Namun Halime terkejut ketika—ia menemukan Al Bahri dalam keadaan baik-baik saja.
“Bibi, aku sudah dapat bernapas menggunakan hidung!” Kata Al Bahri ceria.
“Al Bahri, mari kita makan terlebih dahulu! Tadi saat Bibi mencarimu. Bibi berhasil menangkap dua ekor kelinci.” Ajak Halime Hatun.
“Baiklah!” Jawab Al Bahri.
Setelah makan Halime menjelaskan cara bertahan hidup di daratan. Beberapa hari kemudian, Halime mengajarkan cara membuat rakit hingga kapal. Al Bahri pun memahami dan meniru hal yang di ajarkan oleh Halime. Halime juga memberitahu makanan yang boleh dan bisa di makan.
Setelah sebulan di Kalimantan, Halime mengajak Al Bahri berlayar menuju Istanbul untuk menemui Ayah dari Halime. Sesampainya di sana Ayah Halime memberi perlengkapan yang di butuhkan oleh Halime dan Al Bahri, serta 3 Prajurit Elit Ottoman Empire, Janissary sebagai pengawal. Valide Halime Hatun kembali berlayar menuju Aljazair untuk menemui Heyreddin Barbarossa. Halime Hatun hendak memintanya untuk mengajari Al Bahri berenang dan segala hal tentang kelautan.
__ADS_1