Al Bahri : Ocean Sultan

Al Bahri : Ocean Sultan
Pelarian


__ADS_3

“Yang Mulia Tyrant King Charles II, sebagian besar pasukan kita yang berada di ruang singgasana ini tewas dan sisanya terluka parah! Karena tindakan pasukan Harits!” Kata General Richard menjelaskan.


“Apaa! Sialan! Anak itu lolos dan setengah dari seluruh pasukan kita hancur!” Teriak Charles kesal.


“Akan tetapi yang terpenting Harits telah tiada! Kini saatnya menyerang Marmara Sultanate!” Usul Richard.


“Aku setuju dengan pendapatmu! Kita akan menyerang Marmara Sultanate, setelah itu kita sudah menguasai seluruh lautan!” Charles dan Richard tertawa terbahak-bahak.


...〰️AL BAHRI : OCEAN SULTAN〰️...


Sore Harinya


''Drap drap draap'' Derap langkah kaki seorang penjaga datang mendekati Valide Halime Hatun dan Al Bahri.


“Lapor Yang Mulia Ratu! Pasukan Tyrant King sudah mengepung kesultanan kita! Sultan Harits telah syahid! Sebaiknya Yang Mulia segera pergi!” Lapor penjaga tersebut.

__ADS_1


“Harits...”


“Paman...paamaaan.” Tangis Al Bahri setelah mendengar kabar dari prajurit tersebut sembari memeluk bibinya, Halime Hatun.


“Baiklah, prajurit! Ini adalah perintah terakhirku! Perintahkan kepada seluruh pasukan beserta petinggi di Marmara Sultanate untuk berpencar dan bergerilya! Karena kami akan membutuhkan kalian suatu saat nanti!” Perintah Halime Hatun.


“Untuk saat ini, kunci seluruh pintu gerbang dengan rapat dan pergilah kalian!” Sambung Halime Hatun.


“Siap Yang Mulia!” Penjaga tersebut berbalik lalu bergegas melaksanakan perintah Halime Hatun.


“Al Bahri, ayo kita pergi sekarang! Kita akaaan...”


“Tetapi aku telah membuat Paman Stephen dan Paman Harits mengorbankan diri untukku.” Al Bahri kembali tertunduk lesu, air matanya mulai meleleh—membasahi pipinya yang tembem.


“Andai saja, aku tidak lari dari Paman Stephen...mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Bibi maafkan aku!” Tangis Al Bahri.

__ADS_1


“Sudahlah nak, Bibi maafkan, sekarang kita akan berenang menuju daratan.” Hibur Halime Hatun.


“Daratan?”


“Iya, nah sekarang minumlah ini terlebih dahulu! Agar nanti kamu mampu bernapas dan tidak kepanasan.” Halime merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan sebotol ramuan.


“Baik Bibi!” Jawab Al Bahri senang. Halime mengandeng tangan kiri Al Bahri dan berenang menuju suatu tempat. Bocah berumur 10 tahun tersebut terkejut. Karena tempat yang dituju oleh Bibinya adalah Atlantis.


“Bibi, bukankah ini tempat aku di tangkap tadi?” Tanya Al Bahri takut.


“Iya, akan tetapi kita tidak menuju kesini. Kita akan ke atasnya—kita akan menuju permukaan laut.” Jawab Halime menjelaskan tujuan mereka. Agar tidak terlihat dan ketahuan oleh anak buah King Charles, mereka menyelinap dari satu puing bangunan ke puing yang lain. Hingga akhirnya mereka tiba di permukaan dengan selamat.


Sebuah pulau besar nampak di hadapan mereka setelah mereka tiba di permukaan. Lautan pasir pantai berwarna putih membentang indah, menjadi pembatas antara daratan dengan lautan. Pasir pantai tersebut terlihat berkilauan di terpa oleh sinar matahari yang perlahan terbit. Di seberang mereka—di batasi oleh pasir pantai. Terdapat hutan yang sangat lebat.


“Al Bahri, ayo ikuti Bibi! Kita akan menuju pulau itu! Segera sebelum kapal milik Portugis atau Spanyol melihat kita!” Perintah Halime yang bergegas keluar dari air dan berlari menuju pulau seraya menggandeng tangan Al Bahri.

__ADS_1


“Bibi, Saat ini kita sedang berada dimana? Dan juga siapakah Spanyol dan Portugis itu?” Tanya Al Bahri setengah panik. Namun Halime mengacuhkan pertanyaan Al Bahri, ia terus berlari sembari menggandeng lengan Al Bahri. Setibanya di hutan dan mereka tertutupi oleh lebatnya pepohonan. Halime Hatun mulai menjelaskan.


“Saat ini kita sedang berada di pulau Kalimantan, salah satu pulau di kepulauan Nusantara. Lalu Portugis dan Spanyol adalah penjajah yang menjajah berbagai pulau di kepulauan Nusantara ini. Mereka adalah musuh-musuh ayahku, Sang Penguasa Ottoman Empire.” Al Bahri ber-ooh panjang.


__ADS_2