
5 Jam Kemudian
Al Bahri terbangun karena samar-samar suara dengungan yang terus bersahut-sahutan. Perlahan dia berusaha bangkit. Dia mengawasi sekelilingnya dan mencari tahu sumber dengungan. Dengungan tersebut berasal dari sebuah kerang yang sangat besar. Al Bahri yang penasaran—beranjak bangun mendekati sumber dengungan. Dengungan tersebut terdengar semakin jelas.
“Subhanallahu wa bi hamdihi, subhanallah il adzim.” Suara dengungan di dalam kerang raksasa tersebut kini telah terdengar sangat jelas di telinga Al Bahri. Al Bahri melangkah semakin dekat dengan kerang.
“Apakah ada orang di dalam?” Tanya Al Bahri sembari mengetuk kerang raksasa tersebut. Suara dzikir yang bersahut-sahutan tersebut berhenti.
“Siapakah Tuhanmu?” Tanya sebuah suara dari dalam kerang.
“Sama sepertimu Allah.” Jawab Al Bahri.
__ADS_1
“Lalu siapakah Nabimu?” Mendengar itu Al Bahri terdiam sejenak. Dia berusaha mengingat yang sudah di ajarkan Halime dan Harits. Selang beberapa detik kemudian, Al Bahri berhasil mengingatnya.
“Muhammad.” Jawab Al Bahri mantap. Setelah Jawaban terakhir Al Bahri terucap, kerang tersebut terbuka. Tampak seorang Pemuda sedang duduk bersila di dalamnya. Ia menatap Al Bahri.
“Sudah kuduga, kamu pasti bukan Sulaiman alaihis salam. Karena ia sendiri adalah seorang Nabi. Namun yang tidak kusangka—ternyata engkau adalah seorang anak kecil.” Kata Pemuda tersebut terheran-heran. Tercium aroma sedap dan lezat saat kerang tersebut terbuka. Membuat Al Bahri merasa lapar.
“Siapakah Paman? Apakah Paman memiliki makanan untukku? Aku lapar sekali.”
“Aku? Bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Jika kamu lapar, makanlah ini. Insya Allah setelah memakannya kamu tidak akan merasa lapar lagi—untuk selamanya.” Kata Pemuda tersebut sembari menyerahkan sebuah mutiara. Mutiara tersebut lembut dan kenyal. Al Bahri segera menerima dan memakan mutiara tersebut dengan lahap.
“Subhanallahu wa bi hamdihi, subhanallah il adzim.” Tubuh Al Bahri perlahan terangkat. Mengambang menuju permukaan air. Al Bahri terus mengucapkannya hingga sampai di permukaan.
__ADS_1
Begitu Al Bahri sampai di permukaan, dari kejauhan terlihat samar-samar sebuah titik hitam yang semakin membesar. Ternyata itu adalah sebuah galleon. Al Bahri menghela napas lega ketika melihat bendera di kapal tersebut sama dengan bendera milik Bibinya.
“Bibi! Engkaukah itu?” Teriak Al Bahri. Terlihat dua-tiga kepala bertonjolan. Mereka terlihat sedang berbicara dengan satu sama lain, lalu mereka pergi. Tidak lama kemudian terlihat 4 sosok manusia. Halime dan kedua Janissary yang senantiasa mengawalnya dan setia, juga seorang Pria tampan dan berbadan tegap di samping mereka.
“Bibi Halime!” Teriak Al Bahri girang. Dari kapal tersebut terulur sebuah tali yang memanjang dari atas kapal hingga ke hadapan Al Bahri. Al Bahri bergegas memanjat melalui tali yang di ulurkan.
“Oh Anakku, Al Bahri. Bibi khawatir sekali hingga harus memanggil Laksamana Heyreddin untuk mencarimu.” Halime memeluk erat Al Bahri, seperti anaknya sendiri.
“Mohon maaf Valide, bukankah kamu menemuiku agar memintaku untuk mengajarinya berenang? Lalu bagaimana caranya sampai di permukaan jika tidak dapat berenang?” Tanya Laksamana Heyreddin heran.
“Aku hanya berdzikir dan tubuhku perlahan mengambang ke atas.” Jawab Al Bahri.
__ADS_1
“Ey !, Masya Allah nak, sesuai namamu, Al Bahri. Lautan itu sendiri adalah dirimu sendiri! Lalu siapakah nama lengkapmu?” Tanya Heyreddin dengan raut wajah kagum.
“Al Bahri Barbarossa Ocean Sultan.” Jawab Al Bahri mantap.