Anak Kita

Anak Kita
BAB 3. Malam Kelam


__ADS_3

Lean yang merasa tidak tenang, srtelah mengantar Guzel pulang dia kembali lagi ke tempat pesta dan mencari keberadaan Ciana. Kesana kemari mencari dan menelpon namun tak kunjung diangkat oleh Ciana semakin membuat Lean khawatir.


Entah sejak kapan dan mengapa dirinya seperti seorang sedang mengkhawatirkan orang yang dia cintai, sementara selama ini baik dirinya maupun Ciana hanya selalu bekerja sama dalam tim. Namun mungkin karena terlalu sering bersama, kedua orangtuanya juga sering bertanya mengenai perasaannya dirinya memang memiliki perasaan lebih terhadap teman satu tim nya itu. Entahlah yang jelas saat ini akhirnya perasaannya lega melihat Ciana depan matanya walau akhirnya dia kaget saat melihat wajah pucat Ciana.


"Len hey lu kenapa? Lu sakit? Len jawab gue jangan bikin gue khawatir" Lean menepuk pipi Ciana namun gadis itu tetap diam dengan mata terpejam.


Tangan Ciana terangkat kemudian mengelus pipi Lean dengan hangat "Tolong aku Lean, panas" Tapi setelahnya dia merasa saat bersentuhan dengan Lean dirinya merasa sedikit sejuk, ibarat api yang tersiram air.

__ADS_1


Setelah mengelus pipi Lean dengan gemetar Ciana masuk dalam pelukan Lean, memegangi dada Lean "Please Lean tolong gue, gue gatau kenapa bisa jadi kayak gini, tapi saat gue sentuh elu kok rasanya kayak gue sedikit terobati."


Tanpa pikir panjang Lean membopong tubuh Ciana dan membawanya kedalam mobil, didalam mobil Lean menahan amarah dia tau apa yang dialami Ciana karena pengaruh obat perangsang dan entah siapa orang yang tega berbuat seperti itu pada Ciana.


"Lean lu jangan diem aja, tolongin gue please" Ciana memohon entah sudah keberapa kalinya namun Lean tetap saja diam hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti di salah satu hotel keluarga Lean.


Lean membawa Ciana ke kamar pribadinya di hotel tersebut, didalam kamar Lean masih bingung entah apa yang harus dia lakukan. Pada akhirnya Lean masuk ke kamar mandi mengisi penuh air ke dalam bathtub, yang dia pikirkan mungkin dengan berendam pengaruh dari obat itu akan hilang.

__ADS_1


Sesaat Lean terpaku dan bingung harus bagaimana, dalam pikirannya yang dirinya tau cara mengobati pengaruh obat perangsang itu hanya dengan satu cara yaitu ahh apa yang ada dalam otaknya, Lean hanya menggelengkan kepalanya "Tidak mungkin aku dan Rolen harus melakukan itu, kami belum menikah masih kecil dan berdosa pastinya".


"Lean jangan menghampiriku tolong, aku harus gimana ini? Rasanya aku mau mati saja" Ciana berbicara dengan histeris dan menangis.


Lean yang semakin kasihan melihat Ciana yang seperti itu kemudian memeluknya dari luar selimut, dan dia terkejut dengan reaksi tubuhnya yang justru ikut bernafsu kala melihat wajah pucat, dan sembab milik Ciana.


Dengan tatapan sayu mereka saling memandang dan saling menganggukkan kepala, kemudian perlahan Lean mengecup bibir mungil milik Ciana. Walaupun dalam hati keduanya menolak namun hawa nafsu lebih menguasai keduanya, keduanya mengikuti naluri berdosanya untuk melakukan hal diluar batas.

__ADS_1


Terdengar suara menahan jeritan dan sakit keluar dari mulut Ciana saat keduanya bersatu menyatukan tubuh mereka, hal yang mereka sadari bahwa itu dosa tetapi akibat obat perangsang itu, mereka menghabiskan waktu sejam untuk menghilangkan pengaruhnya.


Nafas keduanya terengah saat setelah selesai melakukan dosa itu, mereka sama sama terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Aku akan bertanggungjawab Len" ucap Lean.


__ADS_2