Anak Kita

Anak Kita
BAB 5. Pergi


__ADS_3

"Ciana mohon yah jangan, Ciana akan tanggung semuanya Bu. Ciana hanya meminta restu ayah dan ibu, setelahnya biarkan Ciana belajar dan memahami kehidupan dengan takdir yang sudah digariskan padaku" Ciana tetap kekeuh dengan pilihannya dia tidak mau melibatkan siapapun dalam masalahnya.


"Baiklah Ciana, Ayah akan ikuti semua keinginanmu. Tugas kamu disana belajar dan lulus dengan nilai yang baik apapun yang terjadi itu akan menjadi resiko atas pilihanmu. Mari Bu kita antarkan saja Ciana ke L.A malam ini dan kedepannya tidak usah ada yang tau dimana Ciana berada" Ayah kembali kedalam kamar untuk bersiap mengantarkan Ciana ke L.A.


"Sayang bahkan Ciana belum genap 17 tahun, apa dia tidak akan kesulitan nantinya?" ibu memeluk suaminya dan menangis.


"Kita akan pantau terus Bu secara diam-diam, hati ayah hancur melihatnya ayah gagal mendidiknya tapi inilah resiko atas pilihan yang dia ambil. Kita ikuti saja keinginannya" ayah berusaha menenangkan istrinya yang terlihat sangat terpukul tas kejadian ini.


........


Disinilah sekarang mereka berada, bandara internasional Soekarno-Hatta. Ciana sudah berada di dalam pesawat, Dia menatap keluar jendela "Semua akan baik-baik saja, InsyaAllah" ucap Ciara lirih

__ADS_1


Ciara memeluk lengan sang Ayah kemudian tertidur, mata ayah berkaca-kaca melihatnya. Betapa hancur hati seorang ayah melihat anak gadisnya tidak anak perempuannya memiliki nasib seperti ini. Ayah kecup pucuk kepala Ciana kemudian membelainya teringat kenangan massa kecil Ciana yang begitu menggemaskan juga sangat pintar.


Perjalanan yang cukup panjang dilalui Ciana dengan hanya tidur dan melamun, pikirannya masih kacau semua hal masuk kedalam pikirannya.


"Sayang sudah sampai ayo kita masuk, kak Ciara masih ada kelas jadi kita langsung masuk saja" tangan ibu merangkul bahu Ciana dan membawanya masuk kedalam apartemen milik Ciara.


"Ciara langsung ke kamar aja Bu, mau beresin pakaian terus istirahat. Ayah dan Ibu juga harus istirahat" Ciana mengecup pipi ibunya kemudian masuk kedalam kamar.


"Sudah sayang, Ciara berjanji akan menjaga adiknya sebaik mungkin" jawab ayah kemudian mengajak ibu untuk istirahat.


.......

__ADS_1


Di salah satu kamar hotel Lean masih termenung memikirkan ucapan Rolennya itu, iya Rolennya karena setelah malam itu Lean mengklaim bahwa Rolen adalah miliknya, hanya miliknya entah apa yang akan terjadi kedepannya yang jelas dalam hatinya hanya akan ada Rolen.


"Bagaimana bisa kamu bilang lupakan Len? bahkan darah di atas sprei ini tidak akan hilang, dan akan aku simpan selamanya" akhir-akhir ini Lean memang sering tidur dikamar pribadinya yang berada di hotel Xander milik keluarganya.


"Bagaimana kalau kamu hamil Len? Ya Allah apa yang harus aku lakukan? kenapa aku ga bisa nahan diri untuk tidak melakukannya? tapi saat itu kasihan Rolen yg sudah sangat tersiksa" Lean masih berbicara dengan dirinya sendiri.


Beberapa hari tidak pulang ke rumah membuat kedua orangtua Leander terpaksa mendatanginya dan menginterogasi apa yang sebenarnya terjadi. Dengan santai Lean hanya menjawab sedang sibuk mengurusi administrasi masuk kampus di Inggris nanti.


"Kemungkinan Minggu depan Lean udah harus ke Inggris pa, ma" ucap Lean pada orangtuanya.


"Kalo Ciana lanjut kemana sayang? jangan-jangan bareng kamu lagi di Inggris juga" tanya mama Nia pada putra sematawayangnya.

__ADS_1


Lean kembali berpikir mengenai Ciana, mengapa dia tidak tau kemana Ciana melanjutkan studinya dan mengapa dirinya tidak bertanya pada Ciana sebelumnya. Betapa bodohnya dia "cckkk" Lean merutuki kebodohannya.


__ADS_2